LIAMARLO

LIAMARLO
Maaf, gak dilanjut



"Alan, Kau sudah gila !" Tegas Vian.


"Aku memang sudah gila sejak kecil. Kau kan tau sendiri. Aku monster, bukan manusia. Dan Kau, Adalah Iblis yang menciptakan monster sebagai penghancur mu sendiri" Ucap Alan sambil berjalan kearah prajurit.


"Prajurit, tangkap Dia dan bawa Dia ke sel khusus" Ucap Vian.


Kedua lengan Alan, Di pegang oleh prajurit prajurit itu tanpa perlawanan.


"Aku pastikan ! Semua Raja raja yang ada di negri ini Akan ku bunuh dengan kekuatanku ! Dan sihir akan menjadi bukti sebagai janjiku !" Tegas Alan.


Malam itu, puncak kebencian Alan terhadap seorang Raja sangat meluap luap.


Alan yang dipenuhi dengan kebencian , membuat energi sihir miliknya berubah menjadi pekat.


"Shhhhhh......." Suara Sihir pengikat yang mengikat Alan mulai melenyap.


sekeliling Alan mulai keluar kabut.


Prajurit disana mulai panik dan melepaskan Alan


Bibir Vian terlihat sedikit tersenyum.


Entah apa yang membuatnya tersenyum begitu.


Vian mulai mengeluarkan pedang sihirnya yang panjangnya hampir 1M.


"BRAAAAAK !!!!!!!" Seperti kilatan cahaya berwarna merah di tengah kabut, itu adalah mata merah Alan yang sangat menyala di gelapnya ruangan berkabut sambil melesat tendangannya kearah prajurit yang menangkapnya.


"Traaaasssshhhhhh!!!" Vian tidak melihat apapun, Ia hanya mendengar suara tebasan dan teriakan prajurit di dekatnya.


Vian mulai memfokuskan untuk merasakan Aura Alan.


"WFUUUUUHHHTSSSS....." Tanpa disadari Vian, Mata merah Alan sudah berada di depan matanya.


"Jump !" Vian Langsung melompat kebelakang untuk menjaga jarak.


Alan, seperti bom waktu Vian dan juga, bom bunuh diri untuknya sendiri.


"Jadikanlah ini, pertarungan terakhirku"


Vian mulai mengambil ancang acang dan langsung menyerang Alan yang mengamuk.


Itu, terjadi sangat cepat.


Dalam sekejap, istana Nord hancur.


Wajah Alan yang penuh dengan darah dan diiringi dengan napasnya yang tidak beraturan, membuat Alan merasa sesak.


Vian, jatuh berlutut di hadapan Alan yang ngos ngosan.


Sinar rembulan tertutup dengan awan mendung.


"Kenapa ? Bukankah Kau berkata ingin membunuhku ?" Tanya Vian sambil merentangkan kedua tangannya.


Vian menyeringai sambil melihat ke Alan.


Vian tau kalau orang orang yang ada didalam istana sudah mati semua.


"*Aku Tau bukan Kau yang salah, Kau adalah satu satunya keluarga dan putra yang sangat Ku sayangi. Maafkan Aku karena terlalu keras padamu"


"Aku, sudah terlanjur meminum racun. Hidupku tidak akan lama lagi. Semua ini, Karena tangan kanan ku yang bersekutu dengan Xexilia*"


"BHUUZZZZZZ" Alan menghilangkan pedang sihirny, Ia tidak ingin membunuh Vian.


Seburuk buruknya Vian, Dia adalah sosok yang mengajarkan sihir dan merawat Alan hingga sekarang.


Vian berdiri dari duduknya itu.


"Kenapa ? Apa Kau takut membunuhku ?" Tanya Vian Sambil mendekat ke Alan.


Vian memegang tangan Alan dan menyuruh Alan untuk memegang dadanya.


Tangan kanan Vian menarik leher Alan untuk mendekat kewajahnya.


Dahi Alan dan Vian saling bertemu.


"Bkhuhk!!!!" Dihadapan Alan, Vian batuk darah.


Alan membelalakan matanya.


"Kau adalah Putraku. Di dunia ini,.... tidak akan ada yang bisa mengantikanmu. Aku tidak pernah membencimu sekalipun. Ibumu sangat cantik. Aku sangat mengenalnya. Maafkan Aku kerena tidak bisa melindunginya dan maafkan Aku, Aku tidak bermaksud membuangmu" Ucap Vian sambil menatap mata Alan dari dekat.


"Carilah, sosok dihutan. Dan sampaikan maaf leluhur kita padanya. Jangan membencinya. Dan, Bunuh seluruh Raja raja di negri ini. Mereka semua, menonton Ibumu yang dilecehkan di depan umum hingga ibumu mati" Ucap Vian sambil memegang kepala Alan dan mengalirkan sihir miliknya.


Alan, tidak tau maksud Vian.


"Siapa Kau sebenarnya ?" Tanya Alan yang tidak berani melihat mata Vian.


"Aku, Sahabat Ibumu. Tolong, bunuh raja raja yang melihat Ibumu di lecehkan. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu. Aku, menyayangimu, salayaknya Putra kandungku" Ucap Vian sambil memeluk Alan.


"SRHAAAAAAA" langit mulai menurunkan hujan yang cukup lebat.


"Aku bangga karena bisa bertarung denganmu. Kau,.... satu.... satunya..... put...." Tubuh Vian langsung lemas dan langsung di pegang oleh Alan.


Rambut Alan yang turun karena basa terkena Air hujan, menutupi mata Alan yang Ia pejamkan.


Alan mengeletakkan Vian tanpa ekspresi.


Ia merasakan rasa sesak dihatinya, Ia tidak bisa bernafas dan tanpa ia sadari, air matanya menetes melihat wajah Vian yang pucat.


"Kenapa, Kau mewariskan sihirmu padaku ? Kenapa Kau merawat ku ? Kenapa, Kau seolah olah tampak jahat didepanku ? Kenapa.... Kau tidak jujur padaku ? Ayah..... Kenapa ?"


Alan