
Di tempat Pengeran William dan Pangeran Zaverias.
Mereka berdua langsung teleport di depan gerbang Istana Kerajaan Alter.
Empat Prajurit yang berjaga di sana langsung terkejut.
Dua Pangeran itu langsung berlari Kearah Empat Prajurit yang sedang berjaga itu.
Dua penjaga yang menjaga gerbang depan langsung menutup jalan untuk mereka berdua.
"Izinkan Kami untuk bertemu dengan Yang Mulia Raja Alter" Kata William pada dua Prajurit itu.
"Apakah Anda berdua membawa surat Izin atau sudah ada perjanjian untuk bertemu dengan Baginda Raja ?" Tanya salah satu dari mereka.
"Kami tidak sempat membuatnya. Ini keadaan yang sangat genting. Tolong Izinkan Kami menemui Baginda Raja Alter" Kata Zaverias.
"Tunjukan dulu mana surat izinnya. Kami tidak bisa membiarkan sembarang orang masuk. Walau Anda berdua adalah seorang Pangeran. Tetap saja tidak Kami izinkan" Kata Prajurit itu.
"Raja Dynantya, Charusheel Aelius dan Pangeran Nelzevia Liam mati di bunuh. Bila Kalian tidak mengizinkan Kami masuk, Kami akan pergi. Dan, Kami jamin Kerajaan Kalian akan di serang oleh Orang yang membunuh Raja Dynantya dan Pangeran Nelzevia Liam" Kata William sambil menarik bahu Zaverias.
Ya, mereka terpaksa berbohong walau, sebenarnya Liam dan Aelius mati bukan karena di bunuh oleh Alan.
"Apa ? Baginda Raja Aelius dan Pangeran Liam yang terkenal dengan ahli berpedang serta Ahli Strategi meninggal ? Kalau begitu, Maaf. Mari Saya antar" Kata salah satu dari Prajurit itu sambil membukakan gerbang Istana.
Mereka berdua diantar oleh Prajurit itu menuju tempat Raja Alter berada.
Di tempat Andreas.
Ia dibawa teleport oleh Arlo di rumahnya.
Andreas melihat Laura yang tertidur di anak tangga dan langsung mendekatinya.
"Putri, bangunlah...." Andreas membangunkan Laura perlahan.
Laura membuka matanya, Pandangan mata Laura masih buram.
Ia pikir sosok di depannya adalah Liam.
Laura masih belum sadar sepenuhnya dan langsung memeluk pinggang Andreas yang tidak se ramping Liam.
Andreas membelalakan matanya karena terkejut.
"Kak, jangan jauh jauh" Lirih Laura.
"Putri, Aku Andreas. Bangunlah" Kata Andreas sambil memegang kedua bahu Laura.
Laura yang tersadar langsung membelalakan matanya dan melepas pelukannya.
"Ah ! Maafkan Saya Pangeran. Tolong Maafkan Saya !" Tegas Laura sambil berdiri dan membungkuk.
"Tidak apa apa Putri, Aku pasti begitu bila di posisimu. Kedatanganku kemari untuk menjemputmu dan Aku harap Kau bisa membantuku di Nelzefvia" Kata Andreas.
"Eh ? Bukankah kata Arlo, besok saja kesana ?" Tanya Laura.
"Tidak. Aku berkata kalau lebih cepat lebih baik. Bila kita menunggu besok, Musuh kita bisa saja keadaan tubuhnya kembali Fit. Malam ini, Musuh kita mendapatkan luka yang cukup parah. Dia pasti lemah untuk saat ini. Oleh karena itu, tolong kerja samanya" Kata Andreas sambil mengulurkan tangannya.
"Tentu !" Tegas Laura sambil menerima uluran tangan Andreas.
"Bagus, Ayo berangkat" Kata Andreas sambil menarik tangan Laura dan masuk kedalam lubang sihir yang sudah disiapkan oleh Arlo.
Di tempat Gevand.
Gevand dan yang lain menjalankan rencana tersebut.
Tenda mereka berhasil di dirikan dan mereka mulai menyuruh para warga untuk baris satu persatu, serta masuk.
Mereka membohongi warga untuk masuk kedalam tenda satu persatu, ya padahal tujuan mereka adalah untuk menanggkap musuh yang bersembuyi diantara mereka.
Diantara sepuluh warga yang masuk diawal, semuanya hanya warga biasa.
Arlo menerangkan kepada sepuluh warga yang masuk di awal tadi mengenai rencananya untuk menangkap musuh yang menyelinap.
Kemudian, Arlo membawa mereka berserta satu Pangeran untuk menjaga mereka ke desa paling ujung Kerajaan Dynantya.
Sepuluh orang berikutnya masuk setelah Arlo menutup portal sihirnya.
Arlo merasakan energi sihir diantara sepuluh orang yang masuk.
Ya, memang benar.
Orang yang memegang batu terakhir, itu adalah musuh yang menyelinap.
"Wushhh!!!" Batu itu mengeluarkan cahaya berwarna biru terang dan langsung mengeluarkan tali Mana langsung melilit orang tersebut.
"Apa ?! Apa yang terjadi ?!" Warga banyak yang terkejut termasuk orang tersebut.
Arlo berjalan ke orang tersebut.
"Dia adalah musuh. Hanya ini cara efektif untuk mengalahkan mereka dan membawa kalian ke tempat yang aman tanpa ketahuan. DUAGHH!" Jelas Arlo sambil memukul tengkuk orang itu hingga tak sadarkan diri.
" Aku tidak menyangka masih ada musuh yang mengikuti kita. Tapi, syukurlah" Lirih rakyat.
"Sekarang, Kita sembunyikan orang ini. Dan kalian bersembilan, masuklah kedalam portal ini. Kalian akan langsung berada di Desa ujung Kerajaan Dynantya. Disana sudah ada yang lain dan ada Pangeran Steven yang menjaga di sana. Tolong, jaga sikap Kalian saat berada di sana. Dan ambil hati rakyat desa di sana" Kata Arlo sambil mengangkat kaki orang yang pingsan itu dan mengeretnya dengan santai.
Para rakyat, mengikuti ucapan Arlo.
Tidak sampai 30 menit, semua rakyat sudah selesai di pindahkan oleh Arlo.
Arlo berhasil menangkap 21 orang musuh yang bersembunyi diantara 129 orang.
"Setelah ini, Apa yang harus kita lakukan ?" Tanya Gevand.
"Kau ikutlah denganku. Kemudian Kalian yang tersisa disini, tunggulah di rumahku. Pulihkan tenaga Kalian dulu. Para warga sudah aman di desa itu. Aku akan mencari orang itu di dalam istana bersamamu. Orang yang mengendalikan tubuh Liam, saat ini masih Lemah. Dia bisa saja bersembunyi di dalam istana itu" Kata Arlo sambil membuka sihir teleportnya.
"Baik, Kalian, beristirahatlah dulu. Atau kalau tidak, Kalian bisa menunggu Pangeran William, Pangeran Andreas, dan Pangeran Zaverias di perbatasan Kerajaaan" Kata Gevand.
"Baik, Kami akan menjaga di perbatasan saja. Kami tidak bisa diam dan bersantai di sini" Kata kompak para Pangeran yang lain.
"Kalau begitu, jangan sampai musuh keluar dari Kerajaan ini. Di perbatasan, Aku percayakan pada Kalian" Kata Gevand.
"BAIK! KAMI AKAN MENJALANKANNYA DENGAN BAIK!" Tegas para Pangeran itu dan langsung berlari menuju perbatasan.
Arlo melihat Gevand.
"Dia, bisa di andalkan juga. Pantas saja, Dia yang terpilih menjadi pewaris Tahta Kerajaan Dynantya yang selanjutnya" Batin Arlo.
"Lalu, orang orang itu mau diapakan ?" Tanya Gevand.
"Kita kurung saja mereka. Dinding sihir pengurung, Aktif" Ucap Arlo sambil mengarakan tangannya pada 21 orang yang pingsan itu.
"Keren. Aku ingin bisa sihir juga" Batin Gevand yang melihat dinding sihir berwarna terang yang menyelimuti orang orang itu.
"Selanjutnya, Ayo masuk" Kata Arlo sambil masuk kedalam portal miliknya yang langsung menuju ke dalam Aula Istana Dynantya.
Gevand mengikuti Arlo.
Arlo, melihat kondisi di dalam istana Dynantya telah hancur berantakan.
"Tugasmu, menumpulkan jasad jasad mereka. Terutama, temukan jasad dan kepala Aelius" Kata Arlo sambil melihat Gevand yang berdiri di belakangnya.
"Lalu, Kau mau kemana ?" Tanya Gevand.
"Aku akan mencari Dia. Energi sihirnya samar samar terasa. Bila Dia berada di dekatmu. Panggil namaku, Liamarlo. Ucapkan dengan lantang. Maka, Aku akan langsung datang" Kata Arlo.
"Baik, Aku akan melakukan tugasku dengan baik" Kata Gevand.
"Tetaplah waspada walau Kau tidak melihat musuhmu. Sihir, bisa menyerang dari jarak jauh. Intinya, Kau harus percaya dengan apa yang dikatakan oleh kata hatimu" Kata Arlo.
Gevand mengangguk.