
Aku mulai menepuk nepuk kapala Kak Liam.
"Akhir akhir ini Aku sulit tidur" Kata Kak Liam yang memejamkan matanya.
Aku melihat lengan Kak Liam yang sedikit terbuka dan perban dilengannya sedikit terlihat dimataku.
"Kak, kenapa Kakak selalu memakai perban didada dan dilengan Kakak ?" Tanyaku.
"Kau ingin tau ?" Tanya Kak Liam sambil membuka matanya.
Aku mengangguk.
Kak Liam duduk dan membuka baju kaosnya.
Sedikit bercak darah yang masih basah terlihat dibeberapa bagian ditubuhnya.
"Itu kenapa Kak ?" Tanyaku.
"Inilah yang terjadi padaku bila Aku tak kehutan" Kata Kata Kak Liam.
"Apa hubungannya hutan dengan Kak Liam ?" Tanyaku.
"Tidak tau. Setiap malam, Ibu selalu menyuruhku kehutan sejak usiaku 6 tahun" Jawab Kak Liam.
"Apa, itu sebuah luka kak ?" Tanyaku.
Kak Liam membuka perbannya.
Luka seperti goresan kuku yang lancip terlihat di sekujur tubuh Kak Liam.
"Setiap Pagi, luka ini menghilang tanpa bekas. Tapi, nanti bakalan muncul lagi dimalam hari" Kata Kak Liam.
"Bila Aku tak kehutan, luka ini akan terasa sangat sakit dan terkadang kareana luka ini Aku merasa kehausan. sampai sampai Air laut ingin kuhabiskan sendirian" Kata Kak Liam sambil menutup kembali perban kainnya.
"Kenapa Kakak tidak minum air Es saja ?" Tanyaku.
"Kau lucu sekali. Saat Aku meminum Air biasa, tenggorokan dan lidahku terasa pahit dan panas" Jawab Kak Liam.
"Dulu, warna rambut dan pupilku seperti Kalian, sama sama hitam. Aku dulu pernah terlibat kecelakaan saat mau berangkat di hari pertama Aku ke Asrama dan saat itu usiaku 6 tahun. Aku tidak ingat apa yang terjadi dan Aku bangun bangun sudah begini" cerita Kak Liam.
Aku memang sempat diceritai oleh Ibu kalau Kak Liam pernah terlibat kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya.
Saat itu, usia ku masih empat tahun.
Jadi, Aku tak terlalu ingat dengan cerita Ibu tentang Kak Liam.
Yang paling kuingat dari cerita ibu tentang Kak Liam yaitu, Warna pupil Kak Liam, itu adalah kelebihannya.
Aku jadi membayangkan, kalau kelebihan yang Ibu maksud adalah bisa melihat segalanya dengan tembus pandang.
"Kak, Apa Kakak bisa melihat sesuatu yang tembus pandang ?" Tanyaku.
"Hah?" Tanya Kak Liam.
"Ya, cuma tanya doang Kak" Kataku.
"Ini sudah terlalu larut. Tidurlah, besok Kau harus berangkat ke asrama keputrian" Kata Kak Liam.
"Baik kak" Jawabku dan langsung tidur.
...***...
Keesokan harinya,
Aku membuka mataku.
Aku membelalakan mataku karena terkejut ada bahu Kak Liam yang membelakangiku.
Ya, Aku sempat lupa dengan kejadian tadi malam.
Aku langsung duduk membelakangi Kak Liam yang membelakangiku.
Aku langsung beranjak berdiri dan mandi.
Selesai sarapan, Aku langsung berangkat di Academi Keputrian.
Di nergi Ardan, Academi Keputrian terdapat tujuh cabang yang hanya berada diKerajaan besar.
Salah satunya berada diKerajaan tanah lahirku ini.
Pusat dari Academi Keputrian berada kota Beryl atau bisa disebut juga dengan Ibu Kota Kerajaan Dynantya.
Dynantya adalah kerajaan yang termakmur dingeri Ardan dan Kerajaan yang memimpin seluruh kerajaan yang berada di Negri Ardan.
Kerajaan Dynantya adalah kerajaan yang menjadi penengah kerajaan lainnya.
Serta, Kerajaan Dynantya disebut juga dengan Ayahnya para raja yang ada dinegri Ardan.
Hal itu, disebabkan karena Keturunan wanita dari Kerajaan itu banyak sekali yang menjadi Istri dari raja kerajaan lain.
Termasuk Ibuku, Ibuku adalah Putri terakhir dari Ratu Dynantya yang dijodohkan dengan Ayahku.
Kalau Ayahku sendiri, beliau keturunan asli dari Raja Nelzefvia sebelum Ayah yang hanya beranak tunggal.
Kemudian, Beryl adalah Ibu kota dari kerajaan Dynantya yang merupakan pusat dari Academi dan Asrama keluarga golongan menengah hingga keatas.
Jarak Kerajaan Dynantian dengan Kerajaan Nelzefvia kurang lebih 2 hari perjalan bila menggunakan Kereta Kuda.
Tapi untung saja, Ayahku menyuruhku untuk sekolah di academi ini.
Dua bulan lagi, adalah hari kelulusanku.
Aku keluar dari kereta kuda.
Dan Kusir menjalankan Kereta Kudanya.
"Putri, Bagaimana kabar Anda" Tanya sosok perempuan didepan pintu kereta kuda.
"Saya, sehat dan sangat bug..." Jawabku belum usai.
"Sreeet!" Perempuan itu menjambak rambutku.
Tidak heran bila Dia melakukan ini padaku.
Dia, adalah Putri Alter Zenovia.
Dia adalah adik dari Putra Mahkota Alter.
"Apa salah Kakakku ?" Tanyanya sambil mendekatkan telingaku dimulutnya.
Aku menahan rambutku yang dijambak olehnya.
"Saya tidak paham maksud Anda" Kataku.
"Karenamu. Ibuku juga harus mati" Kata Putri Alter itu.
Aku malas sekali berurusan dengannya.
Aku sedikit meregangkan tanganku dan mengambil ancang ancang.
"Ibu Anda meninggal karena salahnya sendiri. Dia telah membunuh Ayah saya. Duaghh!" Jawabku sambil menghentakkan keatas dagu Putri Alter itu dengan telapak tanganku dengan keras dan kuat.
"AAAAAA!!!! SAKIT TAU!!!!" Teriaknya sambil melepas jambrakannya dan langsung menutup mulutnya.
"Baru kali ini ajarannya Kak Liam bermanfaat. Biasanya sesat"
Aku tersenyum pada Putri itu yang meludah darah.
Ya, mungkin lidah Dia tergigit sendiri.
"Lain kali bila Anda begini lagi, Saya tak segan untuk mengeser tulang rahang Anda" Kataku dambil tersenyum padanya.
"Kalau begitu, sampai jumpa lagi" Kataku sambil berkipas dan pergi meninggalkannya.
Haha, Aku sebenarnya takut.
Tanganku yang memegang kipas masih bergetar setelah Aku meninggalkan Putri Alter itu.
Hari hariku di Academi Keputrian seperti biasa.
Aku, diajari tentang adat istiadat Kerajaan, etika dan sopan satun, menenun, menjahit, sejarah kerajaan, pola yang baik sebagai seorang putri dan masih banyak lagi.
Tapi untung saja, hari ini hanya teori mengenai sejarah kerajaan.
Hari ini, Guruku menyinggung tentang Penyihir Arlo.
"Lagi lagi Dia"
"Jadi, Para Putri sekalian ! Penyihir Arlo itu memang ada di hutan itu! Sekarang lihat lah. Gambar ini, adalah ilustrasi yang berhasil dibuat oleh para penyidik profesional dari Kerajaan Dynantya" Guru Perempuan berambut pirang dengan bola mata berwarna hijau itu menunjukkan ilustrasi Arlo.
Ilustrasi itu hampir mirip dengan aslinya.
"Madam! Bukan kah itu ilustrasi Pangeran Nelzefvia Liam ?" Tanya Gisel.
Aku langsung melihat Gisel.
"Benar, Itu mirip sekali dengannya" Kata beberapa temanku dikelas.
Itu memang mirip dengan Kak Liam tapi, mereka berbeda.
"Saya ulangi lagi, Ini hanyalah ilustrasi dan tim penyidik tidak menyangkut pautkan hal ini dengan Pangeran Nelzefvia. Bila dalam ilustrasi ada kemiripan, itu adalaj hal yang wajar" Kata Guru wanita itu.
"Madam, Lalu bagaimana dengan warna rambut Pangeran Nelzefvia itu bisa berwarna putih dan berbeds dengan warna rambutnya sendiri ?" Tanya Putri Alter.
"Dia ini...." Batin ku yang geram.
"Putri Nelzefvia, bolehkah Saya menjawab pertanyaan Putri Alter ?" Tanya Guruku.
"Tentu saja Madam" Jawabku sambil tersenyum padanya.
"Pangeran Nelzefvia, pernah terlibat kecelakaan saat Beliau akan berangkat dihari pertama penerimaan siswa di Asrama yang ada diKerajaaan Dynantya. Saat itu, usia Beliau kurang lebih 6 tahunan, kalau tidak salah. Kemudian, ada dugaan kalau Pangeran Nelzefvia dan kusir, serta tiga prajurit yang mengantarkannya diserang oleh hewan hutan" Cerita Guruku.
"Tapi, setelah Pangeran Nelzefvia di bawa ke Rumah Sakit terdekat. Kemudian, para tim penyidik dikerahkan oleh Raja Dynantya yang merupakan Kakek dari Pangeran Nelzefvia untuk mengusut kejadian yang sebenarnya, yang terjadi pada Pangeran Nelzefvia" Lanjutnya.
"Setelah Para tim penyidik dikerahkan, Kami, menemukan sisa energi sihir dari luka luka yang ada ditubuh Pangeran Nelzefvia"
"Para tim penyidik langsung menyimpulkan, Kalau ini ada campur tangannya dengan penyihir Arlo" Lanjut Guruku.
"Ah, pantas saja, Kak Liam selalu kehutan untuk menghilangkan rasa sakitnya. Apa dia bertemu dengan Penyihir Arlo?" Tanya batinku.
"Setelah Para tim penyidik menyampaikan hal itu kepada para atasan dan Keluarga Kerajaan Nelzefvia, Mereka langsung menutup kasus ini dan tidak memperpanjang lagi" Cerita Guruku.
"Nah! Setelah Pangeran Nelzefvia yang rambutnya masih berwarna hitam dibawa pulang di Kerajaannya untuk dirawat pribadi. Pangeran Nelzefvia, keluar keluar sudah berambut putih. Mungkin, perubahan rambut Pangeran Nelzefvia itu, bisa diakibatkan oleh reaksi tubuh Pangeran Nelzefvia pada obat yang dikonsumsinya" Cerita Guruku usai.
"Madam, Bagaimana Anda bisa tau banyak ?" Tanyaku.
"Karena saat itu, Madam adalah Anggota tim penyidik yang mengusut kasus kecelakaannya Pangeran Nelzefvia" Jawabnya.
"Berarti, perubahan pupil Kak Liam bisa juga karena reaksi yang diberikan oleh obat yang Ia konsumsi" Batinku.