
"Baiklah Akihiro, Hari ini Kau rivalku. Kau tidak akan kubiarkan melangkah sesenti didepanku" Ancam Kak Liam.
"Ah, Sa... Saya juga.... ti tidak akan mem..membiarkan An..da melangkah leb...bih jauh lagi..." Hiro berkata dengan terbata bata dan memukul pelan dada Kak Liam.
"Itu tidak mungkin, Aku pasti yang lebih terdepan" Kata Kak Liam sambil melepas kera Hiro.
"Benarkan Laura ?" Tanya Kak Liam sambil menunjukan jari jarinya yang membentuk hati padaku.
"Astaga..... Kak Liam salah paham" Batinku.
"Iya Kak" Jawabku sambil membalas jari bentuk hati Kak Liam.
...***...
Keesokan harinya, pertarungan keenam Pangeran secara bersamaan akan berlangsung.
Aku sangat menunggu nunggu hal ini.
"Laura, siapkan hadiahnya ya...." Ingat Kak Liam sambil berjalan menjauh.
"Ugh.... Kupikir Dia sudah lupa" Lirihku.
"Hadiah apa yang Liam minta padamu, Nak ?" Tanya Kakek disebelahku.
"Ah, itu ya Kek, sedikit memalukan kalau mengatakannya" Jawabku.
"Tidak apa apa, katakan saja. Kakek janji tidak akan mengatakannya pada Liam" Kata Kakek.
"Kak Liam minta pelukan besar dan hangat" Aku tidak bilang permintaan Kak Liam yang lainnya.
"Hahahaha.... Liam kalau padamu, sangat manja ya...., Hah.... Pantas saja Dia sangat bersemangat untuk mengikuti hal yang tidak Ia sukai. Ternyata ada hadiah dari adik tersayangnya" Kata Kakek sambil tertawa.
Tadi malam, tumben Aku tidak melihat Arlo dan Kak Liam.
Mungkin saja Arlo sedang mencari orang yang menirunya sedangkan Kak Liam, sedang beristirahat untuk hari ini.
Kak Dera juga begitu, Akhir akhir ini Aku tidak melihatnya.
Pada Akhirnya, Pelayan kepercayaan Ayahlah yang mengirimkan makanan untukku.
"Laura, Kau tau kusir pribadimu ?" Tanya Kakek.
Aku langsung melihat Kakek.
Entah kenapa Ia selalu tau dan bertanya tentang apa yang ku batinni.
"Iya kenapa Kek ?" Tanyaku.
"Dia dan Ayahnya menghilang dari Istana" Jawab Kakek.
"Degh!"
"Apa ? Bagaimana bisa ?" Tanyaku.
"Tadi subuh Liam mencarinya. Dia hanya menemukan sepucuk surat dikereta kuda yang biasanya Ia pakai" Kata Kakek dengan Lirih dan memberiku surat itu.
"Aku akan pergi bersama Ayahku. Aku tau Keluarga mu memiliki hubungan dengan Arlo. Terutama Liam" Isi surat itu.
"Haha, Ini tidak masuk akal. Suratnya terdengar terlalu kekanak kanakan tidak seperti Kak Dera" Kataku dengan sedikit tertawa.
"Liam berkata kalau surat ini adalah surat yang dibuat buat. Kusir pribadi Nelzefvia itu bisa bertarung dan dididik untuk menjadi Prajurit yang mampu melindungi anggota kerajaan. Nak Dera itu, sudah terpilih diantara para prajurit terbaik yang mendaftar menjadi kusir anggota kerajaan. Kekuatan seorang kusir pribadi anggota kerajaan itu hampir setara dengan kekuatan kepala prajurit" Kata Kakek.
Aku baru tau ini, Kupikir seorang kusir hanya kusir saja yang tidak bisa bertarung yang kerjaannya hanya mengantar dan menjaga kuda.
Ternyata, Aku terlalu meremehkan pekerjaan Kak Dera.
"Maafkan Aku Kak" Batinku.
"Kemudian, bila terjadi sesuatu dengan Dera, Dia pasti akan mengirim atau membuat beberapa simbol yang hanya diketahui oleh prajurit terpilih" Lanjut Kakek.
"Tadi pagi, Liam menyampaikan Kalau Dera sempat bertarung dengan orang yang memiliki kekuatan sihir. Sebab, Ia menemukan sisa energi sihir yang berterbangan didalam kamar Dera dan Ayahnya" Kata Kakek.
"Apakah Arlo yang menyerang Kak Dera ?" Tanyaku.
"Itu tidak mungkin, Dia sudah menjalin perjanjian denganku untuk tidak menyerang orang orangku" Kata Kakek.
"Tenang saja nak, Bila orang yang menyamar menjadi Arlo itu Dera. Berarti sekarang Dera berada dihutan" Kata Kakek.
POV AUTHOR
Ditempat lain kemarin malam,
"Sudah kuduga, ini akan berjalan sesuai rencanaku" Kata sosok berambut hitam dengan bola mata merah dan pakaiannya yang berwarna hitam.
"Ukhuk!" Suara batuk dibelakang pria itu.
"Apa Kau sudah mau mati Dera ?" Tanya sosok itu yang hanya terlihat siluetnya saja karena cahaya bulan yang mengenainya itu.
"Bebaskan, Ayah Saya...." Lirih Dera dengan suara yang terdengar sangat sesak.
"Bebaskan Ayah Saya...." Sosok itu meniru gaya bicara Dera.
"Ayahmu sudah mati bodoh! Mayatnya sudah kubuang di sungai. Tak Lama lagi Kau akan menjemputnya. Mau kan ?" Tanya sosok itu sambil menarik dagu Dera yang penuh dengan darah.
"Kenapa Anda begini Pangeran ?"
**KEMBALI KEWAKTU SEKARANG DITEMPAT LAURA.
Masih pov Author**.
"Pertarungan Antar Pangeran akan dimulai. Diharapkan para Pangeran bersiap dan memasuki lingkaran yang telah disiapkan" Ucap lantang prajurit didekat lingkaran para Pangeran bertarung.
"Saya akan bacakan beberapa peraturannya. Yang pertama, Dilarang menyerang bagian kepala dan dada. Kedua, Dilarang mendorong Lawan seperti yang dilakukan Pangeran Liam kemarin menggunakan senjata, tapi boleh menendang lawan Anda hingga keluar dari batasnya" Kata Prajurit itu.
"Hahahhaha" Tawa beberapa tamu.
"Dengar itu Liam" Kata Pangeran Gevand yang didekat Liam.
"Baik baik" Kata Liam sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Kemudian, Senjata yang boleh digunakan hanya senjata yang telah kami persiapkan. Bila diantara Pangeran ada yang membawa senjata selain yang Kami persiapkan, akan didiskualifikasi. Keempat, Para Pangeran yang menginjakkan kakinya digaris putih atau diluar dari batasnya, dianggap gugur dan terakhir, Bila Pedang kayu Pangeran patah, Anda boleh merebut pedang lawan anda selama pedangnya tidak berada di luar garis" Lanjut prajurit itu.
"Tanpa basa basi lagi Pertarungan terakhir. Dimulai !" Tegas prajurit itu.
"Drap!" Ke Lima Pangeran langsung berlari kearah Liam secara bersamaan.
" Woi ?! Kenapa Kalian menyerangku bersamaan ?!!!!" Teriak Liam yang sangat terkejut karena Ia langsung diserang oleh Lima Pangeran.
"Setelah Kau gugur Kami akan bertarung dengan adil!" Teriak salah satu dari mereka.
"Duaghh! Brakkk!" Liam Langsung menendang Pangeran Zaverias.
Pangeran Liam melihat kearah Pangeran Gevand.
"Jangan melihatku. Disini Kita lawan" Kata Gevand.
"Sialan Kau Gevand! Drap!" Kata Liam sambil berlari ketengah.
"Ayo! Sekarang maju satu satu jangan keroyokan!" Tegas Liam sambil mengepalkan tangan kirinya dan memperkuat kuda kudanya.
"Pfft...." Raja Dynantya menahan tawa melihat posisi Liam sekarang.
"Kek, Apa Kak Liam akan berhasil ?" Tanya Laura yang mengkhawatirkan Liam diposisi yang seperti itu.
"Tenang saja Laura. Kakek juga tidak tau. Kita lihat saja apa yang akan dilakukan oleh Sosok yang menduduki peringkat pertama ahli pedang dan strategi itu" Kata Raja Dynantya.
"Drap!" Kelima Pangeran berlari bersamaan kearah Pangeran Liam.
"Baiklah! Kalau itu mau Kalian! Majulah semua!" Tegas Liam.
"Prak!!!" Suara Pedang Kayu yang saling menangkis.
"Duaghhh!!!" Liam melesatkan tendangannya tepat diwajah Pangeran Gevand.
"Brakkkk!!!!!" Gevand menabrak Pangeran Zaverias dibelakangnya hingga tangan Pangeran Zaverias keluar garis.
"Pangeran Zaverias gugur!" Teriak Prajurit yang menjaga garis.