LIAMARLO

LIAMARLO
Malam pengangkatan Gevand bag.1



Laura melihat wajah Liam.


"Degh!" Lagi lagi, Laura terkejut.


Mata Liam berubah menjadi merah.


"Grep!" Liam menarik pinggang Laura.


"Jadi Putri, mau berdansa dengaku ?" Tanya Liam sambil menyeringai.


...***...


Laura langsung mendorong dada Liam.


Liam yang memegang dengan kuat pinggang Laura hanya tersenyum dengan tingkah Laura itu.


Laura tidak bisa melepaskan dirinya dari pengangan Liam yang kuat itu.


"Kenapa ? Apa Kau tak suka ?" Tanyanya.


"Lepaskan Aku!" Tegas Laura.


"Kau yang memelukku dulu. Saat Aku membalas pelukanmu Kau ingin Aku melepaskanmu. Kenapa ?" Tanyanya yang masih tersenyum menyeringai.


"Kau bukan Kak Liam !" Tegas Laura sambil berusaha mendorong bahu Liam.


Senyuman Liam menghilang.


"Lah ? Apa Kau tak bisa melihatku ? Aku ini Liam" Jawabnya dengan nada sedikit memelas.


"Padahal, tadi malam Kau membalas ciumanku. Kau tau, jantungku sangat berdebar dengan kencang hingga ingin meledak dan ingin kuutarakan semua perasaanku pada dunia ini" Lanjut Liam.


"Kau gila ! Lepaskan Aku! TAK!" Tegas Laura sambil menginjak Kaki Liam yang bersepatu hitam dengan sepatu sandal hak tingginya.


"AGH!" Liam langsung melepaskan Laura.


"TAK! TAK!" Laura langsung berlari keluar kamarnya.


"Ah.... sudah lama Aku tidak merasakan sakit. Ternyata sakit juga saat kaki terinjak" Lirih Liam sambil mengusap sepatu hitamnya yang membekas injakan sepatu Laura.


Liam berdiri.


"Aku mau keluar, tapi takut dengan warna mataku yang merah ini. Apa Laura punya sesuatu untuk menutup mataku agar tidak terlihat merah ya ?" Batin Liam sambil berdiri dan melihat sekelilingnya.


Ditempat Arlo.


"PRAK!!!!!" Lingkaran sihir yang mengurung Arlo akhirnya pecah.


"Hah! Melelahkan sekali! Bruk!" Teriak Arlo dan tiba tiba terjatuh.


Kaki Arlo sangatlah lemas hingga ia kesusahan untuk berdiri.


Walau Ia bisa menggunakan sihirnya, tapi itu akan percuma saja.


Bila Ia langsung ke Dynantya, ia hanya akan merepotkan orang orang Dynantya.


"Haha... kurasa, Aku memang butuh istirahat sebentar" lirih Arlo sambil duduk.


...***...


Ditempat Dera.


Ia masih tergeletak di tanah sambil memegang kain yang membungkus kepala ayahnya yang telah terpenggal.


Para tim penyidik masih menyusuri di perbatasan hutan.


Mereka tak berani untuk memasukinya.


"Aku akan masuk kemari! Hanya ini jalan satu satunya yang belum kita telusuri !" Tegas ketua tim penyidik gardu empat itu.


"Tapi Ketua! Bila Anda masuk, Anda belum tentu bisa keluar dari sini !" Tegas anggota timnya yang melarangnya untuk masuk.


"Kalian pulang lah. Bila esok pagi Aku tidak kembali, berarti Aku sudah mati" Jawab ketua tim penyidik itu sambil memasuki hutan.


"Ada apa lagi ?" Tanyanya.


"Putri Anda baru siuman. Dokter mengatakan itu pada Saya. Anda pasti tidak taukan ? Sudah, Kita lewati saja hutan ini dan mencari jalan lain!" Tegas rekanya.


Ketua tim penyidik gardu empat terlihat tersenyum.


Ia tak menyangka putrinya yang merupakan satu satunya keluarga baginya itu telah siuman dari komanya yang berlangsung selama hampir lima hari yang diakibatkan oleh peristiwa yang menimpa putri dan istrinya di Nelzefvia.


Peristiwa itu, membunuh Istrinya dan membuat anaknya terluka dibagian belakang kepalanya yang mengakibatkan putrinya itu diharuskan untuk operasi pengangkatan darah yang menggupal dikepala bagian belakangnya.


Oleh karena itu, Ketua tim penyidik gardu empat ingin menemukan sosok yang membuat istri tercintanya mati dan Putri kesayangannya itu koma, untuk membalaskan dendamnya.


"Aku akan tetap masuk kedalam hutan. Aku pasti akan pulang untuk menjengguk putriku" Kata Ketua tim penyidik gardu empat itu sambil menepuk bahu rekannya dan masuk kedalam hutan.


"Aku akan membantu ketua. Kalian bertiga carilah ditempat lain. Bila ada apa apa, Aku akan mengirimkan gagakku pada kalian" Kata salah satu dari empat rekan ketua tim itu.


"Tunggu, bagaimana bila ada sesuatu yang terjadi padamu ?" Tanya seorang wanita yang termasuk salah satu anggota tim penyidik itu yang berambut hitam kecokelatan dan warna bola mata yang gelap.


"Aku tidak memiliki siapa siapa. Lagi pula, santai saja. Hutan ini hanya hutan biasa yang dikelilingi oleh energi sihir. Walau banyak hewan sihir didalamnya, Aku pasti bisa mengatasinya" Kata Dia sambil meringgis dan masuk kedalam hutan.


"Kasihan. Dia masih muda, semoga Dia selamat" Lirih salah satu dari mereka bertiga.


Pemuda tadi, Ia bernama Arche. Ia adalah seorang pemuda yang tinggal di pinggiran perbatasan hutan Kerajaan Alter yang pindah kependudukan karena urusan pekerjaannya di Kerajaan Dynantya. Dia hidup sendiri setelah Ibunya meninggal akibat penyakit pernapasan diusianya yang ke 37 tahun.


Arche, sudah hidup sendirian selama 10 tahun dan kini usianya 22 tahun. Saat ini, Arche tinggal ditemani oleh gagak kesayangannya yang telah Ia latih selama lima tahun lamanya.


Ditempat Gevand.


Gevand melihat kekanan dan kekiri.


"Aku tidak melihat Liam dan Laura. Apa Dia bersama Laura ?" Batin Gevand yang berdiri disamping Raja Dynantya.


Gevand, adalah calon Putra Mahkota Dynantya.


Malam ini, adalah malam pengangkatannya.


Posisi Putra Mahkota, harusnya dipegang oleh Liam. Namun karena Liam mengundurkan diri, akhirnya Gevand yang menjadi penggantinya.


Alasan Liam mengundurkan diri karena, Ia sudah merasa ada yang aneh dengan dirinya sejak luka dipungungnya yang tak kunjung kering dan sosok bermata merah yang selalu Ia temui di mimpinya.


Liam sudah sadar akan hal itu, Ia juga mulai menjauh i Laura sedikit demi sedikit. Namun, itu tidak membuahkan hasil. Semakin Ia menjauh Laura, semakin juga Ia merasa tersakiti.


Ya, saat ini Liam berfikir "Walau Aku dekat dengan Laura, Itu akan tetap terasa jauh. Sebab, Laura menganggap Aku Kakaknya".


Liam memang mencintai Laura tapi, tidak dengan Laura yang hanya menyayangi Liam sebagai keluarganya.


Raja Dynantya yang berada di samping Gevand yang dari tadi celingak celinguk, merasa heran.


"Kenapa Gevand ?" Tanya Raja Dynantya.


Gevand langsung melihat kearah Raja Dynantya.


"Pangeran Liam dan Putri Laura tidak terlihat" Lirih Gevand sambil merapikan dasi merah maronnya.


Raja Dynantya juga baru sadar dan langsung melihat kearah tangga dibelakangnya.


"Ah itu, Laura" Kata Raja Dynantya sambil melihat Laura yang turun dari tangga satu persatu sambil berkipas lemah.


Gevand melihat kearah tangga itu dan Ia langsung membelalakan matanya karena melihat Liam yang baru muncul.


"Eh ? Apa itu Liam ? Kenapa dengan rambutnya ? Dan kenapa menggunakan kaca mata hitam ? Apa bocah itu sudah gila ? malu maluin saja" Lirih Raja Dynantya sambil berancang untuk menemui Liam.


"Tunggu Baginda, Anda mau kemana ?" Tanya Gevand.


"Tentu saja menyuruh Liam untuk melepas kaca matanya dan menghilangkan semir rambutnya itu. Dia selalu saja berusaha untuk membuatku malu dihadapan para tamu" Jawab Raja Dynantya.


"Baginda, biar Saya saja yang mendatanginya" Bujuk Gevand sambil tersenyum.


"Oh, tentu kembalilah dengan cepat. Para tamu sudah mulai berdatangan" Kata Raja Dynantya.


Gevand mendatangi Liam. Ia, tau sesuatu tentang Liam yang berambut hitam.