
Tak Lama kemudian, di tempat Arlo.
Arlo berdiri dari duduknya.
Energi sihir Arlo telah pulih. Ia merasakan adanya aura kehidupan yang memasuki hutan dan aura kehidupan yang samar samar.
"Apa yang mereka lakukan diwilayahku ? Apa mereka orang orang Dyantya ?" Tanya Arlo.
"Wosh!" Arlo langsung menghilang untuk kembali kerumahnya terlebih dahulu.
...***...
Arche dan Ketua TP gardu 4 mulai menyusuri hutan secara bersamaan dan memutuskan untuk tidak mencari sendiri sendiri.
Dera yang mengalami dehidrasi mulai bergerak untuk mencari mata air dan Dia melihat rumah tua tak jauh dari Ia berdiri.
Dera melewati semak semak digelapnya malam tanpa alas kaki sambil membawa kepala Ayahnya yang masih terbungkus dengan kain baju miliknya.
Dera membuka semak yang menjulur kebawah.
Ia sampai disebuah rumah tua yang merupakan rumah milik Arlo.
Dera melihat ada kolam kecil yang airnya sangat jernih.
Dera sangat bersyukur menemukan air ditengah hutan itu dan langsung meminum air itu untuk menghilangkan dahaganya dimalam yang mendung ini.
"Oi!" Panggil sesorang di belakang Dera.
"Khuk!" Dera yang sedang meminum air langsung tersedak.
"Maafkan Saya, Saya sangat kehausan jadi, Saya meminum air kolam Anda tanpa Iz..." Kata Dera sambil membalik badannya dan langsung melihat kewajah sosok itu.
Sosok laki laki berambut putih, dan mata merah, serta bajunya yang terdapat sisa darah terlihat dimata Dera.
Dia adalah Arlo.
"Ar... Arlo ?!" Dera sangat terkejut hingga ia tergelagap untuk berbicara.
Arlo berjongkok disebelah Dera dan membasuh wajahnya yang sedikit terluka dengan air kolam itu.
"Kalau mau berendam, berendamlah. Air ini, memiliki kekuatanku untuk mempercepat penyembuhan. Kau terlihat sangat mengerikan" Kata Arlo.
"Mengerikan ?" Tanya batin Dera.
Arlo melihat kearah Dera yang seluruh tubuhnya penuh dengan luka dan memar.
"Apa yang terjadi denganmu ?" Tanya Arlo.
Dera sedikit mewaspadai Arlo.
"Apa Kau takut denganku ?" Tanya Arlo.
"Ah! Saya sempat mengalami kesulitan disini dan terjebak dihutan ini kurang lebih tiga malam" Jawab Dera.
"Eh ?" Arlo sangat terkejut.
"Apa Kau diculik lalu terjebak dihutan ini ?" Tanya Arlo.
"Ya, Saya diculik kemudian diselap di gubuk didalam hutan di sana" Jawab Dera.
"Eh ? Siapa yang menyekapmu ?" Tanya Arlo.
"Pangeran Liam" Jawab Dera.
"Liam ? Kakaknya Laura ?" Tanya Arlo yang tidak menyangka akan hal itu.
"Iya, Dia tiba tiba menyerang Saya dimalam hari. Wujud dan auranya sangat berbeda dengan Dia yang Saya kenal selama ini" Jelas Dera.
"Apa maksudmu dengan wujud dan auranya ?" Tanya Arlo.
"Dia berambut hitam dengan mata yang merah. Aura yang Dia keluarkan terasa lebih kental dan menyeramkan" Jawab Dera.
"Rambut hitam ? Mata merah ? Oh, Dia tidak berbahaya" Kata Arlo.
"Apa ?" Tanya Dera yang terkejut mendengar perkataan Arlo.
"Dia telah memenggal kepala Ayah Saya. Dan kenapa Anda sekarang berkata Dia tidak berbahaya ?" Tanya Dera.
"Memenggal ? Itu tidak mungkin. Apa Kau melihatnya memenggal kepala Ayahmu ?" Tanya Arlo.
Dera memang tidak melihat Liam memenggal kepala Ayahnya.
"Tapi, Dia membawa kepala Ayah Saya!" Tegas Dera sambil menunjukkan kepala Ayahnya yang dibungkus oleh kain.
"Dia berkata, kalau kepala Ayah Saya dibuang disungai" Jawab Dera.
"Buka kain yang membungkus kepala Ayahmu itu. Aku ingin melihat tebasannya" Kata Arlo sambil mengubah posisi jongkoknya.
Dera menuruti ucapan Arlo dan membuka kain yang membungkus kepala Ayahnya itu.
Rasa takut Dera mulai menghilang.
Arlo mengambil kepala Ayahnya Dera dengan santainya dan langsung melihat bagian leher kepala itu yang sudah mulai membusuk dan mengeluarkan aroma tam sedap yang sangat menyengat di hidung Arlo.
Arlo melihat sisa energi sihir dari sisa tebasan itu.
"Oh, ini bukan sihirku. Jadi, bukan Liam pelakunya" Kata Arlo.
"Apa ?" Tanya Dera.
"Berterima kasihlah pada Liam. Dia telah berhasil membawa kabur kepala Ayahmu yang telah terpenggal dari orang yang meniruku" Kata Arlo sambil mengangguk angguk.
Salah satu keburukan Arlo yaitu, Dia tidak bisa melihat keadaan.
"GREP!" Dera sangat naik pitam langsung menarik kera Arlo yang sedikit basah.
"Apa Kau tidak bisa mendengarku ?! Aku sudah berkata kalau Dia! Telah memenggal kepala Ayahku! Dan kenapa Kau malah mengangguk angguk seperti orang bodoh ?!" Tanya Dera yang sangat marah.
"Aku memang bodoh. Tapi, Apakah seorang bocah kemarin sepertimu pantas berkata begitu padaku yang telah berpengalaman dalam hal sihir ?" Tanya Arlo.
"Aku melihat Dia bisa menggunakan sihir ! Apa hal itu tidak cukup membuktikan kalau Dia yang membunuh satu satunya keluargaku yang tersisa ?!" Tanya Dera dengan marah.
"Aku juga bisa sihir. Apa Kau tidak menyalahkan Aku juga ?" Tanya Arlo sambil melepaskan tangan Dera yang menarik keranya.
"Kau sedang depresi. Ada baiknya Kau istirahat dulu. Jangan langsung menyalahkan orang lain. Sebab, bukti bisa dibuat buat dan belum tentu benar" Ucap Arlo sambil berdiri.
Dera terkejut mendengar perkataan Arlo yang sedikit masuk akal.
"Tolong maafkan Saya" Kata Dera.
"Jangan bicara Formal denganku, informal saja. Aku lebih nyaman seperti itu" Kata Arlo.
"Baik" Dera mulai menenangkan pikirannya.
"Setelah ini ayo pergi ke Istana Dynantya. Disana ada orang yang memang benar benar berbahaya. Aku akan mengambilkan pakaian untukmu" Kata Arlo.
"Terima kasih Tuan Arlo, lalu kenapa Kau sangat yakin kalau bukan Pangeran Liam yang bersalah ?" Tanya Dera sambil kembali membungkus kepala Ayahnya.
"Sebab, sihir yang ada di Liam adalah seperemat dari sihirku" Kata Arlo sambil pergi masuk kedalam rumahnya.
"Apa ?!" Dera sangat terkejut.
...***...
Ditempat Archie dan Ketua TP² gardu 4.
"Srak!!" Suara semak yang ditebas.
"KWAK!" Gagak Archie yang Ia lepas kembali sambil membawa batu sihir milik Arlo yang berwarna biru dari kamar Arlo.
Gagak itu mendarat dibahu Archie sambil memberikan batu biru yang mirip dengan batu gelang milik Laura.
"Apa yang dibawa oleh burungmu itu ?" Tanya Ketua TP gardu 4
"Batu permata ? Tapi ini aneh sekali " Kata Archie sambil melihat batu yang dibawa oleh gagaknya dari bawah.
"Coba kulihat" Pinta Ketua TP itu.
Archie memberikannya dan Ketua TP itu langsung membelalakan matanya.
"Ini batu sihir. Dari mana gagakmu mendapatkannya ?" Tanya Ketua TP.
Archie langsung melepaskan gagaknya dan gagaknya terbang.
"Mari ikuti gagak Saya ketua" Kata Archie sambil mempersilahkan Ketua TP untuk berjalan terlebih dahulu.
Mereka berdua mulai mengikuti gagak itu yang terus terbang dan memberi tanda disetiap jalan yang mereka lewati agar tidak tersesat, hingga sampai dirumah Arlo.
"Rumah tua apa ini ?" Tanya Ketua TP itu sambil melihat Archie yang memberi kacang tanah pada gagaknya sebagai upah.
"Saya juga baru melihatnya. Apa yang akan Kita lakukan Ketua ? Kita sudah terlalu dalam memasuki hutan" Tanya Archie.
"Kita cek rumah itu. Siapa tau disana ada bukti tentang pembunuhan yang terjadi dengan orang yang dikenal oleh Yang Mulia Raja" Kata Ketua TP sambil melihat Archie yang mengangguk.
2 : Tim Penyidik