
DI RUMAH ARLO
Kondisi rumah Arlo sangat berantakan.
Arlo menunggu kedatangan Aelius.
Ia meletakkan Liam yang tak sadarkan diri di lantai.
Sesekali ia melihat Liam yang teringat dengan peristiwa yang terjadi pada Dynantya dan Aneria enam tahun yang lalu.
Arlo mengambil batu sihir yang digunakan Liam sebagai kalung dan memasukan energi sihir kedalam batu itu lagi.
Liam langsung terbangun dan terkejut ada sosok bermata merah dengan rambut putih di hadapannya.
Arlo bersikap santai.
"Si.... siapa Kau ?!" Tanya Liam sambil mundur ke belakang.
"Namaku Arlo. Tak perlu takut denganku, Kita punya kesamaan yang sama. Sama sama bisa sihir" Kata Arlo sambil mengeluarkan energi sihirnya yang ia bentuk seperti kupu kupu bercahaya biru keluar dari telapak tangannya.
"Wah!" Liam yang masih berusia enam tahun takjub melihatnya.
"Bagimana caranya ?! Ajari Aku !" Tegas Liam sambil menunjukkan wajahnya yang sangat senang pada Arlo.
"Ya, sekejam apapun bocah berusia 6 tahun, tetaplah bocah" Batin Arlo sambil tersenyum.
"Bayangkan saja apa yang akan Kau buat. Lalu tuangkan apapun yang kau pikirkan itu pada telapak tanganmu, kemudian padatkan Mana⁴ mu dan jadi sudah" Singkat Arlo.
Liam langsung mencobanya.
"Apa lukamu itu sangat sakit ?" Tanya Arlo.
Liam mengeleng sambil mencoba sihirnya.
"Lalu, kenapa Kau membunuh orang lain ? Hidup itu hanya sekali. Kau anggap apa nyawa mereka itu ?" Tanya Arlo.
Liam menaikkan dan menurunkan bahunya.
"Apa ada orang yang menyuruhmu ?" Tanya Arlo.
Liam mengangguk.
"Sialan ! Apa bocah ini bisu ?" Batin Arlo yang mulai geram.
Mengobrol dengan anak kecil bukan ke ahlian Arlo.
Tapi, Arlo harus bersabar sambil menunggu kedatangan Aelius.
"Siapa Dia ?" Tanya Arlo
"Mata merah sepertimu. Dia orang baik" Jawab Liam.
"Siapa namanya dan dimana Dia ?" Tanya Arlo.
"Dia berkata untuk merahasiakan namanya. Dia ada di sini" Kata Liam sambil memegang kepala dan dadanya.
"Apa maksud bocah ini ?" Batin Arlo.
"Kenapa Dia disana ?" Tanya Arlo.
"Tidak tau. Dia bilang, Dia akan pulang nanti malam tapi sebelumnya, Dia akan meninggalkan ingatan dan tujuannya padaku untuk diteruskan" Jawab Liam sambil mencoba sihir yang baru di keluarkan oleh Arlo itu.
"Ingatan ? Tujuan ? Jangan jangan......" Batin Arlo.
"Apa tujuannya ?" Tanya Arlo.
"WUSH!" Sihir yang di ciptakan oleh Liam langsung melenyap.
"HUH! Dasar Kakek Tua ! Mata Merah ! Banyak Tanya !" Liam marah pada Arlo karena banyak tanya terus dari tadi.
Liam membelalakan matanya karena di bentak oleh anak kecil.
"Kakek Tua ?" Batin tanya Arlo.
Arlo langsung diam dan menunggu kedatangan Aelius.
Ia berdiri di ambang pintu.
Rasa gatal di bahu Liam muncul lagi.
Ia mengaruknya dengan kasar.
Bau darah manis mulai tercium dihidung Arlo.
Taring Arlo memanjang karena seketika Ia merasakan kehausan.
Arlo, terakhir kali menghisap darah sekitar enam tahun yang lalu.
Ia langsung melihat ke Liam yang mengaruk bahunya hingga terluka.
Arlo yang melihatnya, langsung menarik tangan Liam.
Liam melihat Arlo.
Taring Arlo yang panjang terlihat di mata Liam.
"Wah... Apa ini sejenis sihir juga ?" Tanya polos Liam sambil mendekatkan wajahnya pada mulut Arlo untuk melihat taring Arlo.
"Apa gigiku bisa seperti itu ?" Tanya Liam sambil melihat Arlo dan menunjukkan gigi giginya yang kecil.
"Bocah ini...." Batin Arlo yang tidak menduga kalau Liam sepolos itu.
"Gigi ini adalah gigi kutukan. Kau tidak boleh mengeluarkan darah saat berada di dekatku. Aku bisa menghisap darahmu kapan saja" Jawab Arlo.
Liam menarungkan alisnya dan berdiri.
"Apa Kau Arlo yang ada di cerita Ibu ?" Tanya Liam sambil memegang rambut putih Arlo dan memberantakannya.
"Hah ?" Tanya Arlo.
"Kata Ibu, Kau orang jahat yang membuat ibumu mengutukmu. Kata ibu, Itu tidak baik. Apa enak kalau bisa hidup selamanya ?" Tanya Liam.
"DEGH!" Pertanyaan Liam membuat Arlo sedikit mengingat masa lalunya.
"Hidup selamanya dan sendirian itu tidak enak. Oleh karena itu, Kau harus menjadi orang baik. Kau tidak boleh membunuh orang lain seenaknya sendiri" Kata Arlo.
"Tapi, kayaknya hidup selamanya itu menyenangkan sekali. Aku bisa melakukan apapu tanpa takut mati" Kata Liam.
"Kau masih kecil. Jadi, Kau tidak akan tau bagaimana rasanya hidup sendirian" Kata Arlo sambil mengendong Liam dan menaruhnya di pungungnya.
Arlo membawa Liam keluar rumahnya.
"Mau kemana ?" Tanya Liam.
"Aku punya kolam ajaib yang bisa menutup luka dan meminimalisir rasa sakitnya" Kata Arlo.
"Apa ada Putri duyung juga di kolam ajaib mu ?" Tanya Liam.
Arlo sampai dikolam kecilnya yang hanya muat satu orang saja dan menurunkan Liam.
"Ini kolam ajaibnya ?" Tanya Liam dengan nada sedikit mengejek.
Arlo mengangguk dan menyuruh Liam untuk berendam disana.
"Kenapa kolamnya sangat kecil dan kolamnya terlihat seperti kolam biasa yang tidak ada gemerlapnya ?" Tanya Liam.
Arlo memegang kedua bahu Liam.
"Berendam saja atau mau kuhisap darahmu sampai Kau tinggal tengkorak saja ?" Tanya Arlo sambil tersenyum paksa pada Liam.
Liam menganggu angguk dan langsung mencebur di kolam itu tanpa melepas pakaiannya sehelaipun.
Liam menyadari rasa sakit disekujur tubuhnya mulai menghilang.
Liam langsung melihat wajah Arlo dengan tatapan tidak percaya.
"Bagaimana ?" Tanya Arlo sambil tersenyum pada Liam.
"Hebat ! Bagaimana bisa ?" Tanya Liam sambil melihat luka di lengan kanannya yang mulai menghilang.
"Air ini, mengandung energi sihir milikku yang digunakan untuk mempercepat penyembuhan luka luar dan mengurangi rasa sakitnya. Kau boleh menggunakannya mulai sekarang. Tapi, berjanjilah untuk tidak membunuh orang lain" Kata Arlo.
Liam mengangguk.
Tak lama kemudian Aelius datang sendirian di rumah Arlo.
Aelius melihat Liam yang berendam di kolam itu yang di jaga oleh Arlo.
"Kenapa Dia berendam Arlo ?" Tanya Aelius.
"Hanya untuk mengurangi rasa sakitnya. Mau di mulai sekarang ?" Tanya Arlo.
Aelius mengangguk.
Liam mendengar ucapan mereka.
"Kakek, Kakek kenal dengan Dia ?" Tanya Liam.
"Iya" Jawab Aelius.
"Dia hebat kek ! Giginya tadi bisa memanjang segini" Kata Liam sambil memunjukkan pajang gigi taring Arli dengan kedua jari telunjuknya.
Aelius melihat Arlo seakan bertanya apa Kau menghisap darah putraku ?
"Aku tidak menghisap darahnya sedikitpun" Kata Arlo yang paham dengan tatapan Aelius.
"Kita melakukan itu disini saja. Sekarang teteskan darahmu di air kolam ini" Kata Arlo.
Aelius mengeluarkan pedang kecilnya dan langsung mengores telapak tangannya dengan pisau itu hingga terluka.
Arlo yang mencium bau darah Aelius, taringnya langsung memanjang.
"Tuh ! Liat Kek ! Taringnya !" Kata Liam sambil menunjuk Arlo.
Arlo mengigit ibunya sendiri hingga terluka dan meneteskan darahnya di kolam tersebut sambil mengucapkan mantranya.
Dari bacaan sihir yang dikeluarkan oleh Arlo, bacaan bacaan itu keluar dalam bentuk mana yang padat dan mengeliling tubuh Liam.
Liam pikir, itu adalah sebuah pertunjukan yang dikeluarkan oleh Arlo untuknya.
Itu memang untuknya tapi, itu bukanlah sebuah pertunjukan.
"Ikat" Ucap Arlo sambil mengepalkan tangan kanannya.
"Wush!" tulisan dari bacaan Arlo yang mengelilingi Liam langsung melilit disekujur tubuh Liam.
Liam sangat terkejut karena tubuhnya tidak bisa bergerak.
"Kakek !! Apa yang Dia lakukan ?!" Tanya Liam yang sangat terkejut.
"Ini, untuk kebaikan Kita semua nak" Lirih Aelius sambil melihat Liam yang menatapnya.
Arlo memasukan sebagian kecil energi sihirnya pada Liam untuk menyegel energi sihir yang ada pada diri Liam.
"ARGGGGHHHHH!!!!!!" Dada Liam terasa sesak dan kepala Liam terasa sangat sakit.
Aelius memegangi Liam yang berada di dalam kolam itu.
"Kakek !!! Sakit !!!!!!" Teriak Liam sambil berusaha melepaskan sihir yang mengikat dirinya.
Arlo menutup matanya dan berusaha mencari dimana inti energi sihir Liam berasal.
Dari tubuh Liam, Arlo melihat cahaya berwarna merah berada di dada Liam dengan mata batinnya.
Arlo membuka matanya dan mengarahkan jari telunjuknya yang terdapat energi sihir miliknya pada dada Liam.
"Segel!" Ucap Arlo sambil menyentuh dada Liam dengan jari telunjuknya itu.
"BATZZZZZ......." Energi sihir milik Arlo terhisap banyak kedalam tubuh Liam.
Arlo membelalakan matanya karena hal yang sangat tidak terduga dan jauh dari pikirannya itu.
"ARRRRGGGGHHHHHHH!!!!!!" Liam berteriak dengan kencang karena rasa sakit yang sangat luar biasa Ia rasakan dari dalam tubuhnya.
Liam merasakan seakan tubuhnya akan meledak.
"AELIUS ! KELUARKAN DIA DARI DALAM AIR !!!" Tiba tiba Arlo berteriak seperi itu pada Aelius.
Aelius langsung mengangkat Liam keluar dari dalam Air.
Tubuh Liam masih menghisap energi sihir milik Arlo.
Rambut Liam mulai memutih karena efek dari sihir Arlo.
"ARLO ! Apa yang terjadi ?!" Aelius sangat terkejut melihat banyaknya energi sihir milik Arlo yang terhisap di dalam tubuh Liam dan rambut Liam yang memutih.
"AELIUS ! MENJAUH !" Tegas Arlo sambil membuat simbol kunci pada jari jarinya.
Aelius langsung menjauh dari Liam dan Aelius.
"Dinding sihir" Arlo mengaktifkan dinding sihir yang mengelilinginya dan Liam yang tidak sadarkan diri.
Arlo merasakan banyak sekali energi sihirnya yang terhisap kedalam tubuh kecil Liam.
"MELEDAK!" Tegas teriak Arlo.
"PRACCCKKKKKKKK!!!!!!" Arlo meledakkan dirinya sendiri untuk memutuskan energi sihirnya pada Liam.
Tubuh Arlo berceceran dimana mana.
"ARLO!!!!!" Aelius langsung berteriak dan tidak menduga kalau Arlo akan meledakkan dirinya sendiri untuk memutuskan energi sihirnya.