Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Semua Ini Bermula...



Satu tahun yang lalu...


"Tidak! Aku tidak mau dijodohkan! Daddy pikir ini jaman apa? Aku tidak mau!" Suara Daniel menggelegar kala sang ayah ingin menjodohkan dirinya dengan gadis wasiat kakeknya.


"Kakekmu berhutang budi pada kakek gadis itu. Maka dari itu, kakekmu ingin kau bertanggung jawab pada gadis itu." Ayaz menjelaskan dengan hati-hati.


"Tapi kenapa harus dengan pernikahan? Bayar saja dengan uang, beres kan?" kesal Daniel.


"Tentu saja Daddy sudah melakukan itu. Daddy membiayai kuliah gadis itu di Paris."


Daniel geleng-geleng kepala.


"Temui dulu gadis itu dan putuskan! Kau tidak akan mendapatkan hak sebagai pewaris Grup Hazar jika kau tidak menikah dengan Delia!" Ayaz meninggalkan Daniel yang masih mematung.


#


#


#


Daniel menceritakan semuanya pada Delia. Saat ini mereka masih berada di mobil Daniel dan berhenti di tepi jalan.


Daniel terpaksa menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi karena Delia mengancam akan membenci Daniel jika berbohong. Entah kenapa Daniel lemah di depan Delia. Ia takut kehilangan gadis ini.


"Jadi, berapa total semua uang yang sudah kalian keluarkan untuk keluargaku?"


Pertanyaan Delia membuat Daniel mengernyit bingung. "Apa maksudmu?"


"Sudah jelas kan? Kakekku memang menolong kakekmu, dan kurasa dengan membiayai kuliahku, semua itu sudah cukup! Tidak perlu harus menanggung biaya pengobatan ayahku! Jadi, sebaiknya kita perjelas saja semuanya sekarang!" Suara Delia terdengar sangat tegas dan lugas.


"Delia..."


"Mas tidak perlu bertanggung jawab pada hidupku! Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku bisa menghidupi ayah dan ibuku. Jadi, tolong ... jangan lanjutkan perjodohan ini. Mas tidak mencintaiku dan aku juga tidak mencintai Mas. Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak mencintaiku!"


Daniel terdiam. Selama tiga bulan ini ia banyak merenung. Ia merenungi tentang perasaannya pada Delia. Apakah benar cinta, atau hanya obsesi untuk mendapatkan apa yang ia mau, yaitu Grup Hazar. Daniel tidak ingin kehilangan Delia, tapi apa alasannya? Daniel masih belum tahu.


"Bukankah kemarin kau sudah bersedia untuk bertunangan dulu denganku? Kenapa sekarang kau berubah pikiran?"


"Karena aku rasa aku tidak bisa melakukannya! Kita batalkan saja pertunangan kita!"


Daniel menggertakkan gigi. Sulit sekali bicara dengan gadis ini, pikirnya.


"Apa yang dikatakan orang tua kita jika kita membatalkan pertunangan ini?" tanya Daniel mencoba membuat Delia dilema.


"Aku akan bicara dengan ayah dan ibu. Aku yakin mereka akan mengerti!"


Setelah perbincangan itu, Delia memilih turun dari mobil Daniel dan memanggil taksi. Delia harus menyelesaikan semua ini dengan segera. Ia tak mau terus menanggung wasiat hutang budi yang menyesakkan dirinya.


#


#


#


Bima menumpuk berkas milik kliennya di sofa ruang tengah apartemennya. Bima terbiasa mengerjakan pekerjaan di ruang tengah ketimbang di ruang kerjanya.


Meski sudah bukan waktunya jam kerja lagi, Bima memilih menghabiskan waktu dengan membaca berkas perkara kliennya. Isinya rata-rata sama. Bercerai karena kekerasan dalam rumah tangga atau juga alasan ketidakcocokan dan masalah ekonomi.


Bima baru saja selesai membuat kopi ketika bel pintu apartemennya berbunyi. Bima mengerutkan dahi. Pasalnya tidak biasanya ada tamu yang datang di jam segini.


Bima membuka pintu dan melihat Daniel ada disana.


"Hai, buddy. Aku bawa minum untukmu!" sapa Daniel dengan menunjukkan satu kantong plastik berisi bir.


Bima tak kuasa menolak kehadiran Daniel. Tumben sekali Daniel datang, pikirnya.


"Wah, kau bahkan masih bekerja, huu?" tanya Daniel saat melihat meja yang berantakan berisi berkas milik klien Bima.


"Sudahlah! Ada apa kau datang kemari? Tidak biasanya kau datang di malam hari begini."


Bima tersenyum getir. "Lantas kenapa kau tidak bersama dengan wanitamu juga?"


Daniel tidak menjawab dan malah membuka tutup kaleng bir lalu meneguknya. "Minumlah! Kau tidak akan mabuk hanya karena meminum sebotol!" Daniel menyodorkan sebotol bir pada Bima.


"Aku harus bekerja!" tegas Bima.


Daniel mengangguk paham. Ia merebahkan diri di sofa dan memperhatikan Bima yang kembali sibuk dengan berkasnya.


"Apa kau tidak jenuh setiap hari menghadapi masalah orang lain?" tanya Daniel.


Sejujurnya Bima merasa bosan dengan rutinitasnya. Ia juga ingin menghadapi tantangan lain. Tapi, ia tak punya pilihan. Ia harus menggaji para karyawan yang sudah setia mendukung karirnya sejak awal.


"Jika kau mulai jenuh, kau bisa bergabung dengan firmaku. Pengacara hebat sepertimu sangat cocok bekerja disana."


Bima tersenyum kecil. "Akan kupikirkan jika aku sudah benar-benar jenuh."


Daniel mencebik. Susah sekali bicara dengan sahabatnya yang satu ini. Setelahnya tidak ada obrolan lagi diantara mereka.


Daniel menyamankan tubuhnya dengan tertidur telentang di sofa. Tangannya ia gunakan sebagai alas. Ia melamun menatap langit-langit apartemen Bima.


"Apa benar aku dan Delia batal bertunangan? Kenapa aku tidak rela jika Delia pergi?"


Ponsel Daniel tiba-tiba bergetar, sebuah panggilan dari Retno, ibunda Delia. Meski sempat ragu, namun akhirnya Daniel menjawab panggilan itu.


"Halo, Tante..."


Wajah Daniel memucat. Ia langsung bangun dan beranjak berdiri.


"Baik, Tante. Aku akan segera kesana!" Panggilan berakhir.


"Ada apa?" tanya Bima bingung.


"Aku harus pergi, Bim. Thanks sudah menemaniku minum!" Daniel segera berlalu.


Daniel melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia sudah menduga jika keputusan Delia untuk membatalkan perjodohan mereka akan berdampak buruk.


Daniel tiba di parkiran rumah sakit. Ia segera berlari menuju ruang rawat Ciputra. Ya, tadi Retno menghubungi Daniel dan memberitahu jika Ciputra pingsan usai Delia bicara soal pembatalan perjodohan mereka.


Daniel melihat Delia duduk di bangku rumah sakit depan sebuah kamar. Daniel menghampirinya.


"Mas Daniel?" Delia menyadari kehadiran Daniel.


"Hai, bagaimana kondisi ayahmu?"


"Siapa yang memberitahu Mas soal ayah?" tanya Delia tak suka dengan kedatangan Daniel.


"Tidak penting aku tahu dari mana! Aku akan mengurus biaya administrasinya. Bila perlu kita pindahkan ayahmu ke kamar VVIP."


Daniel segera beranjak tapi Delia menahannya.


"Mas tidak perlu melakukan hal ini lagi untuk keluargaku! Aku sendiri yang akan menanggung biaya rumah sakit ayah!" ucap Delia tegas.


"Delia, jangan sungkan. Aku sudah terbiasa..."


"Dan aku tidak mau semua ini menjadi kebiasaan! Sudah cukup Mas menolong keluargaku, sekarang biarkan aku yang mengurus ayahku!" cegat Delia cepat.


"Delia, ayahmu mencarimu!" Suara Retno menghentikan perdebatan antara Delia dan Daniel.


"Kamu juga masuk, Nak Daniel," lanjut Retno.


Delia dan Daniel masuk ke dalam kamar rawat Ciputra. Pria paruh baya itu mengulas senyum melihat Daniel dan Delia datang bersama.


"Nak Daniel, Delia. Ayah mohon... Jangan batalkan perjodohan kalian," ucap Ciputra dengan mata berkaca-kaca.


#tbc