
Daniel merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Seharian ini rasanya tubuhnya begitu kelelahan dan tak bersemangat.
Selina yang melihat gelagat aneh dari suaminya segera mendekati Daniel.
"Sayang, kau kenapa? Kau sudah makan? Atau kau mau mandi dulu?"
Daniel memutar bola matanya malas. "Aku tidak ingin apapun. Aku ingin tidur!"
"Tapi setidaknya kau ganti bajumu dulu, sayang."
Setelah menikah, Daniel memutuskan untuk pindah ke rumah baru bersama Selina. Tentunya Daniel tidak ingin orang tuanya banyak mengatur rumah tangannya.
"Sayang, aku siapkan air mandi dulu ya!" Selina sudah banyak berubah. Ia menepati janji untuk bersikap baik pada Daniel agar pria itu tidak melirik perempuan lain lagi. Tentunya Selina tahu seperti apa kehidupan seorang Daniel. Apalagi lingkungan pertemanan Daniel yang kebanyakan adalah pria penyuka hubungan satu malam. Meski tidak semuanya begitu, tapi tetap saja Selina merasa khawatir.
"Ayo sayang! Kau harus mandi dulu! Setelah itu kau baru boleh pergi tidur!" Selina mendorong tubuh Daniel hingga masuk ke dalam kamar mandi.
Usai membersihkan diri Daniel langsung menuju ke atas tempat tidur. Daniel malah tak peduli jika Selina akan tidur atau tidak.
Selina menghela napas. Ia harus sabar menghadapi Daniel. Ia percaya jika kesabarannya akan berbuah manis.
#
#
#
Keesokan harinya, Daniel yang baru saja terbangun dari tidurnya tiba-tiba merasakan mual teramat sangat. Ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan cairan bening yang membuat tenggorokannya terasa pahit.
"Astaga! Apa yang terjadi denganku? Apa aku sakit?"
Daniel keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Selina panik karena mendengar suara Daniel di kamar mandi.
Daniel menggeleng. "Entahlah. Aku tidak enak badan."
"Aku akan panggilkan dokter saja ya!"
"Terserah kau saja!" Daniel kembali merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.
"Sayang, setidaknya makanlah sesuatu dulu sebelum kau tidur lagi. Aku akan ambilkan makanan untukmu."
Daniel hanya mengangguk pasrah. Rasanya tubuhnya benar-benar tidak bisa ia kontrol.
Selina kembali dengan membawa nampan berisi makanan di tangannya. Baru saja mencium aromanya, Daniel sudah merasa mual kembali.
Daniel berlari ke kamar mandi. Ia kembali muntah di wastafel. Selina hanya menatap nanar pada suaminya.
"Sayang, sebaiknya kau istirahat saja. Aku akan telepon dokter!" Selina membantu Daniel merebahkan diri.
Selina menyingkirkan makanan yang sudah susah payah dimasaknya pagi ini. Ia tak ingin kondisi Daniel makin parah karena aroma makanan yang ia masak.
Dokter Simon tiba di rumah Daniel setelah Selina meneleponnya. Simon adalah kawan SMA Daniel.
"Dia baik-baik saja!" ucap Simon.
Selina mengerutkan kening.
"Dia hanya mengalami kehamilan simpatik. Ketika istri mengandung, ada kalanya gejala-gejala yang harusnya terjadi pada istri malah terjadi pada suami. Jadi ya... Beginilah." Simon mengulas senyumnya.
Selina membalas senyuman Simon.
"Aku akan meresepkan vitamin saja untuk Daniel. Karena dia masih belum mau memakan apapun."
Daniel hanya mengangguk pasrah.
"Selina!" panggil Daniel.
"Iya sayang. Apa kau butuh sesuatu?" Selina duduk di tepi ranjang.
Daniel mengangguk. "Aku ingin makan masakan yang dibuat oleh Delia. Dia sangat pandai membuat capjay yang enak."
Selina mendelik. Mana mungkin Daniel malah meminta hal yang mustahil.
"Tapi..." Selina menatap Simon. Dokter muda itu malah mengangguk setuju.
Selina menghela napas. "Haah! Baiklah. Aku akan meminta tolong pada Delia. Tapi, aku tidak bisa janji membawanya kemari. Karena belum tentu Delia bersedia kemari."
Daniel kembali mengangguk. Ia memejamkan mata berusaha untuk tidur. Sepertinya untuk beberapa hari ke depan ia akan izin tidak masuk kantor.
#
#
#
"Apa?!" Delia sangat kaget ketika Selina mendatanginya dan meminta tolong padanya. Tentunya ada hal yang tak biasa ketika Daniel malah menginginkan memakan masakan buatan dirinya.
"Kenapa harus aku?" tanya Delia yang masih tak paham dengan kondisi Daniel.
"Dokter bilang Daniel mengalami kehamilan simpatik. Jadi, bukan aku yang merasakan ngidam tetapi dirinya," jelas Selina.
Delia hanya diam. Ia berpikir sejenak. Rasanya terlalu aneh jika dirinya masuk ke dalam rumah tangga Daniel dan Selina.
"Aku akan memikirkannya. Sebaiknya mbak Selina pulang saja dulu. Aku akan mengabari jika memang aku bersedia."
"Delia, aku minta tolong padamu. Daniel tidak bisa memakan apapun. Kondisinya sangat lemah. Siapa tahu saja setelah kau memasak untuknya, dia jadi berselera untuk makan."
#
#
#
Dengan berat hati Delia datang ke rumah Daniel setelah pulang bekerja. Sebelumnya ia sudah membeli bahan makanan untuk ia masak di rumah Daniel.
"Terima kasih karena sudah bersedia datang, Delia." Selina sangat berterimakasih pada Delia.
"Iya, Mbak. Kalau begitu aku langsung memasak saja ya!"
Setelah berkutat di dapur selama hampir satu jam, Delia menyiapkan semua makanan di meja makan. Selina menghampiri Delia.
"Terima kasih banyak, Delia. Kalau begitu aku akan membawa makanan ini ke kamar. Daniel masih terlalu lemah untuk berjalan kemari."
Delia mengangguk. Ia melirik jam tangannya. Sudah pukul tujuh malam. Seharusnya ia sudah kembali ke apartemennya.
"Del, Daniel tidak mau makan. Dia ingin kau menemaninya makan." Selina kembali memohon.
Delia memutar bola matanya malas. "Astaga, Mbak! Apa aku harus menemaninya makan juga?" Delia menggelengkan kepala.
Tapi apa mau dikata. Delia akhirnya menurut. Dengan wajah sumringah, Daniel terlihat sangat bahagia bisa melihat Delia.
"Aku hanya ingin memastikan jika Selina tidak berbohong," ucap Daniel.
Delia tersenyum kecut. "Mas, makanlah! Setelah ini aku harus pulang."
"Tolong suapi aku, Del!" pinta Daniel.
Entah seperti apa perasaan Selina sekarang melihat suaminya begitu manis di depan mantan calon istrinya. Selina hanya bisa menahan diri.
Setelah selesai, Delia segera berpamitan. "Aku tidak akan melakukan hal ini lagi, Mas. Mas harus bisa menjaga perasaan Mbak Selina. Yang sedang hamil adalah dia, jadi Mas jangan bersikap begini lagi."
"Delia, aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku begini." Daniel membela diri.
"Sudahlah, kalau begitu aku permisi."
Delia segera keluar dari kamar Daniel. Baginya Daniel hanyalah masa lalu. Dan perasaannya terhadap Daniel juga sudah hilang.
#
#
#
Delia tiba di parkiran basement apartemennya. Ia berjalan menuju kearah lift.
"Sudah selesai urusannya?"
"Mas Bima?" Delia terkejut melihat kedatangan Bima. "Mas disini?"
Bima tersenyum. "Aku merindukanmu..."
Kalimat Bima membuat Delia tersipu. Mereka berdua masuk ke dalam lift. Bima menggenggam tangan Delia erat.
"Ingat! Tidak ada lain kali!" ucap Bima dengan suara tegasnya.
"Iya, Mas. Aku juga tahu diri. Aku tidak mau terlibat dengan mereka lagi."
Bima mendekat dan memeluk Delia. "Baguslah! Aku akan cemburu jika kau terlalu dekat dengan Daniel atau pria manapun."
Delia terkekeh. "Dasar posesif!"
Pintu lift terbuka, Delia dan Bima kembali berjalan menuju unit apartemen Delia.
"Hmm, apa aku perlu pindah juga kemari?" ucap Bima.
"Eh? Untuk apa?"
"Agar aku bisa tiap hari melihatmu!"
Delia kembali terkekeh. "Gombal!"
Dengan tawa yang renyah, Delia dan Bima masuk ke dalam apartemen.
"Kau sudah makan, Mas?"
"Belum. Aku akan pesankan makanan saja, kau pasti lelah setelah memasak di tempat Daniel!" seru Bima lalu merebahkan diri di sofa.
B e r s a m b u n g
*Eh, Mak. Bima-Delia udah jadian?
#Hooh
*Lah kapan jadiannya?
#nanti yes kita flashback 😘