Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Amy dan Arjuna



Amy masih amat kesal dengan perbuatan Arjuna beberapa waktu lalu. Ditambah lagi kabar perjodohan yang dilakukan sang ayah tanpa sepengetahuan dirinya.


"Hah! Ini semua gara-gara si playboy tengik itu! Hidupku jadi runyam dan tak seindah dulu! Awas saja, aku pasti akan membalas perbuatannya!" Amy tersenyum seringai.


Amy berpura-pura memeriksa berkas di mejanya saat mendengar ketukan di pintu ruangannya.


"Masuk!" ucap Amy.


Delia masuk ke ruangan Amy dengan wajah lesu. Delia mendudukan diri di kursi depan meja Amy.


"Astaga, Del. Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu kusut begitu?"


"Kontrak kerjasama dengan Lynx batal."


"What?! Kok bisa? Apa yang terjadi?"


Delia menatap Amy. Ia ragu untuk bercerita tentang yang sebenarnya mengenai Cassie.


"Del! Come on! Sudah berapa lama kita saling kenal? Kau tidak bisa berbohong padaku!"


Delia mengangguk pasrah. "Baiklah, aku akan cerita semuanya. Tapi, aku tidak mau cerita ini bocor ke orang lain. Kau mengerti?!"


Amy masih tak percaya dengan semua cerita Delia. Bagaimana bisa Delia berputar dengan kehidupan orang-orang sama selama ini.


"Jadi, sekarang kau sudah berpisah dengan Bima?" tanya Amy hati-hati.


"Untuk sementara kami ingin menata hati kami masing-masing. Aku juga butuh waktu untuk sendiri dulu."


Amy mengangguk paham. "Baiklah. Lakukan apa yang menurutmu baik. Tapi, kau harus tetap profesional dalam bekerja."


Delia tersenyum. "Tentu saja, Mbak Boss!"


#


#


#


Sebelum menuju ke ruangan Arjuna, Amy sengaja mematut dirinya di cermin terlebih dulu. Ia juga membubuhkan pewarna bibir yang merah menyala agar Arjuna bisa masuk ke dalam perangkapnya.


Entahlah, siapa yang akan memerangkap siapa. Apakah Amy sendiri siap jika sampai terperangkap seorang Arjuna?


Pintu ruangan itu di ketuk.


"Masuk!"


Amy masuk dengan melenggokkan tubuhnya di depan Arjuna. Amy menatap Arjuna yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya.


Tatapan Amy mengarah tajam kepada Arjuna.


"Awas kau ya, playboy tengik!" Amy membatin.


Tanpa aba-aba Amy langsung menyingkirkan berkas di tangan Arjuna dan duduk dipangkuan pria itu.


"Hei, kau! Apa yang kau lakukan?" tanya Arjuna geram dan sedikit kaget.


Pasalnya aset milik Amy kini menduduki sang Arjuna junior.


"Hei, tuan pengacara! Berani sekali kau mengabaikanku yang datang ke ruanganmu! Kantor ini milikku! Harusnya kau bisa menghargai aku sedikit saja!" kesal Amy tapi dengan suara menggoda. Tangannya melingkar di leher Arjuna.


Arjuna meneguk salivanya. "Nona, apa yang sedang kau lakukan? Ini di kantor. Apa pantas kau berbuat begini, hah?"


"Kau menolakku?" tanya Amy dengan kerlingan menggoda.


"Astaga! Gadis ini benar-benar ya! Bisa-bisanya dia menggodaku begini!" batin Arjuna berperang.


"Tunggu! Apa dia ingin balas dendam karena aku sudah mengerjainya?"


Arjuna berpikir keras sambil menahan hasratnya yang mulai bergejolak.


"Nona, hentikan!" Arjuna mengambil langkah tegas. Ia mendorong tubuh Amy dari pangkuannya.


"Karena ini kantormu bukan berarti kau boleh melakukan apa saja disini. Apalagi perbuatanmu ini sudah diluar batas!"


Arjuna dengan tegas menolak Amy dan memilih pergi. Padahal dalam dirinya ia sangat menginginkan Amy. Tapi ia sadar posisi mereka ada di kantor. Bagaimana jika terjadi gosip yang tak sedap? Arjuna memikirkan nama baik dan reputasi Amy di depan karyawannya.


Dengan menatap kesal dan kecewa, Amy hanya menatap kepergian Arjuna.


"Dasar bodoh!" umpat Amy lirih.


#


#


#


Malam harinya, Amy mengajak Delia untuk menghadiri undangan dari koleganya untuk makan malam. Tapi, Delia menolak dan meminta Amy untuk datang sendiri saja.


Amy mengerti posisi Delia yang masih dalam suasana berduka dengan kisah cintanya. Amy pun pergi sendiri.


Usai makan malam, ternyata beberapa teman koleganya memilih untuk datang ke klub untuk menghabiskan malam mereka. Amy pun menyetujuinya. Baginya penolakan Arjuna membuat hatinya panas dan butuh didinginkan.


"Bersulang!" Suara Amy begitu bersemangat untuk mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.


Amy meneguk wine dengan sekali teguk.


"Aaah! Ayo tuangkan lagi!" seru Amy.


"Wah, Nona Amy. Ternyata kau kuat minum juga ya!" ucap salah seorang kolega bernama David.


"Hmm, tidak juga. Ini hanya kebetulan saja. Ayo tuang lagi!" Amy tersenyum dan kembali meminum cairan berwarna pekat itu.


Dari kejauhan, telinga Arjuna terasa mendengar suara yang tak asing di klub yang biasa ia kunjungi. Pandangan mata Arjuna tertuju pada seorang gadis yang dikelilingi beberapa pria.


Ya, malam ini Arjuna juga ada di klub yang sama dengan Amy. Tawa Amy sungguh mengganggu indra pendengaran Arjuna.


"Akh, sial! Gadis itu kenapa harus minum seperti itu? Apa dia sudah tidak waras? Bagaimana jika pria-pria itu mengganggunya?" batin Arjuna mulai berperang.


Ketika sosok Amy menghilang dari pandangannya Arjuna segera mencarinya. Ia melihat kedua pria tengah memapah Amy yang hampir tak sadarkan diri.


"Lepaskan dia!" seru Arjuna yang melihat Amy akan dibawa masuk ke dalam sebuah mobil.


Pria bernama David menatap Arjuna.


"Dia adalah wanitaku! Jadi, jangan macam-macam dengannya!" Arjuna segera menarik tubuh Amy dari genggaman David.


"Aduh!" Amy mengaduh kesakitan karena tubuhnya menabrak tubuh Arjuna. Aroma maskulin yang ia kenali seketika membuatnya sadar.


"Hei, tuan pengacara! Apa yang kau lakukan? Kenapa menarikku?" Amy masih bisa mengenali Arjuna meski cara bicaranya mulai terbata.


"Ada apa, Tuan Arjuna?" Dua orang security berbadan besar menghampiri Arjuna. Tentu saja Arjuna adalah pelanggan VIP disana.


"Tidak ada apa-apa! Mereka hanya ingin mengganggu gadis ini, jadi aku hanya ingin menyelamatkannya."


Tak ingin berurusan dengan dua pria berbadan besar, David dan salah seorang rekannya pun memilih pergi.


Arjuna bernapas lega karena Amy selamat dari hal yang bisa saja akan ia sesali seumur hidupnya.


"Terima kasih banyak, Pak. Aku akan membawa gadis ini pulang. Aku mengenalnya!"


Dua security itupun mengangguk lalu pergi. Arjuna memapah Amy masuk ke dalam mobilnya.


"Hei, playboy tengik. Kau mau bawa aku kemana? Kenapa kau mengusir David?"


Amy mulai meracau tak jelas. Arjuna dengan santai melajukan mobilnya.


"Kau beruntung karena bertemu denganku! Bagaimana jika kau dilecehkan oleh dua pria itu?"


Amy memukuli lengan Arjuna. "Ini semua karena kau! Kau yang sudah menolakku lalu kenapa sekarang kau menolongku? Dasar playboy tengik! Playboy cap tikus!" umpat Amy dengan terus memukuli Arjuna.


"Hentikan, Nona! Kau mau kita berdua celaka, hah?!"


Arjuna melihat kondisi Amy yang sudah tak sadarkan diri. Ia memijat pelipisnya pelan.


"Tidak mungkin aku membawanya pulang ke rumah dalam kondisi seperti ini. Aku harus bawa dia kemana?" gumam Arjuna.


Tak memiliki pilihan lain, Arjuna membawa Amy ke apartemen Delia.


"Maaf jika merepotkanmu ya, Arjun," ucap Delia setelah membantu Arjuna membaringkan tubuh Amy di ranjang.


"Sama-sama. Maaf aku membawanya kesini. Aku sendiri tidak tahu harus kemana lagi."


"Iya, tidak apa. Lagi pula tuan Erko akan sangat marah jika melihat kondisi Amy yang seperti ini. Sekali lagi terima kasih ya!"


Arjuna berpamitan usai membawa Amy ke tempat yang tepat.


#


#


#


Keesokan harinya, Amy mengetukkan jarinya di meja kerja sambil mengingat semua hal yang diceritakan Delia padanya. Amy masih tak percaya jika Arjuna adalah orang yang sudah menolongnya semalam.


"Hah! Sudahlah! Jangan memikirkan hal itu lagi!" Amy memilih pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya. Sisa-sisa mabuk semalam masih terasa berdenyut di kepalanya.


Amy membasuh wajahnya hingga terasa segar. Ia memoles sedikit make up agar tidak pucat.


Setelahnya Amy keluar toilet. Namun sialnya, lagi dan lagi ia harus bertemu dengan pria yang sudah menolaknya.


"Hah! Dia lagi, dia lagi! Malas banget dah!" Amy melengos pergi ketika tatapan matanya bertemu dengan Arjuna.


Amy mempercepat langkahnya dan tak ingin bertemu muka dengan Arjuna. Tentu saja pria itu tidak membiarkan Amy pergi begitu saja.


Arjuna menarik tangan Amy dan membawanya ke sebuah ruangan kosong.


"Lepas! Kau sudah gila!" seru Amy.


"Kau yang sudah gila! Aku sudah menolongmu semalam tapi kau malah menghindariku. Apa maksudmu, hah?!" Arjuna geram.


"Oh, kau butuh ucapan terima kasih? Baiklah, terima kasih! Sudah cukup kan? Minggir! Aku mau pergi!"


Arjuna yang sudah tak bisa mengontrol emosinya lagi langsung menarik tubuh Amy dan menempelkannya di dinding.


"Aw! Sakit! Apa sih maumu? Kemarin kau menolakku, lalu menolongku. Sebenarnya apa maumu, hah?! Kau sengaja kan ingin mempermainkan aku? Kau selalu berbuat seenaknya pada gadis-gadis yang..."


Ucapan Amy terpotong karena Arjuna segera membungkam Amy dengan bibirnya. Amy yang terkejut berusaha melepaskan diri dari Arjuna tapi ternyata tak mampu.


Sang playboy yang sangat lihai membuat Amy kewalahan. Meski awalnya hanya diam, kini Amy mulai membalas sapuan bibir Arjuna yang begitu memabukkan.


Suara decapan memenuhi ruangan yang digunakan sebagai gudang itu. Amy pasrah. Dan Arjuna sangat ketagihan dengan bibir Amy.


Napas mereka terengah ketika ciuman itu berakhir. Amy menatap Arjuna dengan mata berkaca-kaca.


"Kau hanya ingin mempermainkanku saja kan?" ucap Amy dengan suara bergetar.


Arjuna merangkum wajah Amy yang memerah. Ia menggeleng.


"Tidak! Sejak awal aku tidak ingin mempermainkanmu. Aku menginginkanmu, Amy Anastasya. Entah sejak kapan, aku sendiri tidak tahu. Tapi aku tidak pernah bermain dengan gadis lain setelah hari itu."


"Hari itu?" Amy mengerutkan kening.


"Ya, hari itu. Hari dimana kamu mengatakan jika aku adalah calon suamimu."


Mata Amy membola. "Tidak mungkin!" Amy menggeleng kuat.


"Terserah kau percaya atau tidak. Tapi aku akan membuktikannya padamu!"


"Bagaimana caranya agar aku bisa percaya padamu? Kau bahkan sudah terang-terangan menolakku!"


Arjuna menghela napas. "Aku tahu! Tapi itu adalah cara agar aku meyakinkan diriku apakah aku bisa lepas darimu atau tidak. Tapi ternyata tidak! Aku tidak bisa melepaskanmu, Amy."


Amy berpikir sejenak. Sungguh ia bingung harus bersikap bagaimana. Satu sisi ia ragu dengan sikap Arjuna. Tapi sisi lainnya ia menerima Arjuna dengan semua masa lalunya.


"Jangan bingung! Kau bisa menilainya sendiri mulai dari sekarang!"


Arjuna menyeka air mata Amy yang mengalir tanpa permisi.


"Lihat ketulusanku, Amy. Lihat itu dengan hatimu."


Mata Amy kembali terpejam kala merasakan benda lembut nan kenyal itu kembali menempel di bibirnya. Untuk beberapa saat, mereka saling meluapkan rasa masing-masing. Mereka bahkan tak mengindahkan ponsel mereka yang terus bergetar.


"Ck! Kemana sih Amy? Bukannya harusnya rapat sudah dimulai ya? Ini juga, si Arjuna ikut-ikutan ngilang. Kemana sih mereka?" gumam Delia menggerutu sambil terus menghubungi kedua orang yang dicarinya.


#bersambung...