Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Melamar Pekerjaan



Perebutan kursi kepemimpinan Antara Grup masih terjadi diantara Bima dan Dina. Dina dengan caranya mencoba mendekati para pemegang saham untuk mendukung dirinya sebagai presdir berikutnya menggantikan sang kakak.


Begitu juga dengan Bima yang sama-sama meminta dukungan. Meski ia masih baru dalam hal bisnis, tapi Bima berjanji akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan ke depannya.


Ketika Bima sedang sibuk untuk mengambil hati para pemegang saham, Delia juga sibuk untuk mempersiapkan diri melamar pekerjaan yang baru.


Delia berpamitan pada Retno dan Ciputra.


"Doakan aku supaya bisa diterima di perusahaan ini, Yah, Bu."


Delia mencium punggung tangan kedua orang tuanya seraya meminta restu.


"Ibu doakan semoga kamu berhasil, Nak!"


Delia pergi dengan hati yang gembira. Ia mengendarai mobilnya sendiri menuju ke gedung yang dituju. Sebelumnya Delia juga sudah mengirim pesan pada Bima.


Saat sedang berkendara dengan santai, tiba-tiba mobil di depan Delia berhenti mendadak, membuat Delia harus menginjak rem secara mendadak pula. Namun nahas, mobil Delia tetap menabrak mobil berwarna putih yang ada di depannya. Alhasil suara tabrakan kecil yang terjadi membuat kedua mobil harus terhenti.


Delia yang kesal langsung turun dari dalam mobilnya. Delia mendatangi pengemudi mobil sedan berwarna putih itu.


Delia mengetuk kaca mobil itu.


"Hei, kau! Keluar! Bisa menyetir tidak? Berhenti mendadak hingga membuat bagian depan mobilku rusak!" seru Delia yang tak ada takut-takutnya.


Si pengemudi yang adalah seorang pria muda seketika menatap Delia dengan tak suka.


"Dengar dulu penjelasanku, Nona. Tadi itu ada kucing tiba-tiba melintas di depan mobilku, aku kaget, makanya aku mengerem mendadak."


"Halah, alasan saja! Sekarang kau harus tanggung jawab! Mobilku rusak!" Delia masih kesal.


"Hei, Nona. Apa kau tidak lihat jika mobilku juga rusak. Kau juga harus tanggung jawab! Kau yang menabrak mobilku lebih dulu!" Pria muda itu tak mau kalah.


"Itu karena kau berhenti mendadak, makanya aku menabrak mobilmu. Kalian semua yang ada disini melihatnya sendiri kan? Pria ini yang jelas-jelas salah." Delia meminta dukungan dari warga sekitar.


Warga hanya saling bergumam. Tak ada yang bisa memastikan siapa yang salah dan siapa yang benar, karena lalu lintas sedang padat tadi.


"Sebaiknya kalian ke kantor polisi saja untuk menyelesaikan hal ini," sahut salah seorang warga.


"Kantor polisi?" Delia menggeleng. Ia melirik jam tangannya. "Tidak bisa, Pak. Saya ada wawancara kerja hari ini. Dan kau!" Delia menunjuk si pria muda.


"Berikan nomor teleponmu! Aku akan menghubungimu untuk meminta pertanggungjawaban. Mengerti?" Delia menengadahkan tangannya meminta nomor ponsel si pemuda itu.


"Ck! Astaga! Ini baru hari pertama aku berkendara disini dan sudah terjadi masalah. Sial sekali!" Pemuda itu meraih dompetnya dan mengeluarkan kartu namanya.


Dengan kasar Delia merebutnya. "Baiklah! Terima kasih atas kerja samanya. Kuharap kau tidak mengingkari tanggung jawabmu!"


Delia segera masuk kembali ke dalam mobilnya dan melajukannya. Beruntung dirinya tepat waktu tiba di gedung brand Mrs. Zie.


Delia mengagumi arsitektur bangunannya yang cukup estetik. Ia masuk ke dalam gedung itu dan bertanya pada resepsionis.


Delia diarahkan ke ruangan para pelamar.


"Wah, ternyata banyak juga yang melamar ya. Apakah aku bisa lolos?" gumam Delia mulai pesimis.


Delia teringat kembali dengan kartu nama si pemuda yang bersitegang dengannya tadi. Delia merogoh sakunya.


Delia membaca nama yang tertera pada kartu itu.


"Reinhard Adisatya." Delia mencebik. "Namanya bagus juga!"


Tak lama kemudian, satu persatu pelamar dipanggil untuk mengikuti sesi wawancara. Delia menetralkan degup jantungnya yang tak beraturan.


"Silakan masuk!"


"Terima kasih."


Delia membuka pintu dan menyapa seseorang yang sedang berdiri membelakanginya.


"Selamat pagi, Pak."


Mendengar suara yang menyapanya, pria berjas rapi itu membalikkan badan.


"Kau!" pekik Delia sambil menunjuk pria itu yang adalah orang yang tadi bersitegang dengannya.


"Astaga! Dunia sangat sempit ya! Ternyata kau melamar kerja disini."


Reinhard berjalan menuju kursi kebesarannya dan duduk santai disana.


"Apa yang kau lakukan disini?"


Pertanyaan Delia membuat Reinhard tertawa.


"Kau ini sungguh lucu! Apa kau tidak lihat papan namaku?"


Reinhard menunjuk dengan ekor matanya kearah papan nama di atas meja kerjanya.


"Hah?! CEO? Jadi... Pemilik brand Mrs. Zie adalah kau?"


Delia merasa mati kutu sekarang. Ia benar-benar malu dan tak enak hati. Tapi, saat ini bukan waktunya untuk menunjukkan gengsi. Delia butuh pekerjaan ini.


Reinhard masih tetap tenang dan membuka lembar biodata milik Delia. Matanya membola ketika membaca nama Delia.


Reinhard ingat apa yang dikatakan Bima tentang gadis yang bernama Dewi Mulia Agung. Bima memintanya untuk menerima nama itu sebagai karyawannya.


"Ehem!" Reinhard berdeham terlebih dahulu. Tentunya ia harus menguji kemampuan Delia.


"Ceritakan tentang pekerjaanmu yang sebelumnya!"


Delia mengangguk dan mulai bercerita. Sementara Reinhard menyimak dengan tatapan mengarah pada Delia.


"Cukup! Kurasa saya bisa mempertimbangkan kamu untuk bekerja disini."


"Hah? Serius, Pak?" Mata Delia berbinar.


"Iya, saya serius. Saya juga serius jika harus mempertanggungjawabkan perbuatan saya tadi."


"Eh? Itu... Itu... Tidak perlu, Pak." Delia akhirnya memilih untuk berdamai.


"Tidak apa. Saya akui itu adalah kesalahan saya. Saya akan tetap bertanggung jawab!" tegas Reinhard.


Usai melakukan wawancara, Delia undur diri dari ruangan Reinhard. Sedangkan Reinhard mematung melihat kepergian Delia.


"Sepertinya dia gadis yang unik. Ada hubungan apa dirinya dengan Bang Bima?" gumam Reinhard sambil menatap berkas milik Delia.


#


#


#