Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Dimana Bima?



Usai mengantar Delia, Arjuna mengantar Amy pulang ke rumahnya. Dalam perjalanan menuju rumah Amy, kembali mereka hanya terdiam.


"Hmm, aku harus membeli sesuatu di minimarket. Kau tidak keberatan kan jika aku mampir dulu ke minimarket?"


"Eh? Iya, tidak masalah. Lagi pula aku hanya menumpang, jadi sudah seharusnya aku ikut dengan supir," balas Amy dengan menunjukkan sederetan giginya.


Arjuna memutar bola matanya malas. Ia menghentikan mobilnya di sebuah minimarket.


"Kau mau ikut turun?" tawar Arjuna.


"Tidak. Aku menunggu di mobil saja."


"Baiklah."


Arjuna berjalan menuju ke minimarket. Sambil bersiul ia memilih beberapa merk alat pengaman untuk Arjuna kecilnya. Sejak pagi tadi, Arjuna kecil sudah meronta ingin keluar dari sarangnya dan masuk ke sarang hangat milik salah satu wanitanya. Ini semua karena Amy yang sejak pagi memberikan suguhan meresahkan untuknya.


Entah malam ini ia akan menghubungi siapa. Biasanya para wanita itu yang lebih dulu menghubungi Arjuna. Tak lupa Arjuna juga membeli beberapa kaleng minuman ringan dan camilan untuknya.


Sementara itu di dalam mobil, Amy memutar musik dan kembali bernyanyi. Meski lelah mendera, nyatanya ia sangat bahagia karena bisa melihat senyum Delia sepanjang hari ini. Ternyata kekhawatirannya tidaklah terbukti. Delia memang baik-baik saja seperti yang dikatakannya.


Saat sedang asik bernyanyi, tiba-tiba ponsel Arjuna yang ada di atas dashboard bergetar. Sebuah nama perempuan tertera disana.


"Hmm? Dasar playboy cap tikus!" gumam Amy dan kembali bernyanyi, mengabaikan ponsel Arjuna yang terus bergetar.


Namun ternyata perempuan bernama Angel itu tidak mudah menyerah. Hingga membuat Amy kesal dan akhirnya memutuskan untuk menjawab panggilan itu.


"Halo, Arjun sayang. Kenapa lama sekali mengangkat teleponku? Biasanya kamu langsung menjawab. Oh ya, katanya kamu mau datang ke apartemenku, aku sudah menunggumu." Perempuan bernama Angel itu langsung nyerocos begitu panggilan tersambung.


"Ehem! Maaf ya! Arjun sedang sibuk! Jadi jangan meneleponnya lagi!" ketus Amy.


"Apa?! Siapa kamu? Kenapa bisa ponsel Arjun ada padamu?!"


"Wah, memangnya Arjun tidak cerita padamu? Aku adalah calon istrinya Arjun. Jadi, mulai sekarang jangan pernah mengganggu calon suamiku lagi. Mengerti?!" Amy langsung mematikan sambungan telepon dan meletakkan ponsel Arjun ke posisi semula.


"Rasakan saja! Pasti setelah ini si playboy tengik itu akan kewalahan menghadapi si Angel Angel itu, hihihi." Amy terkekeh geli.


Tanpa Amy sadari, sejak tadi Arjun sudah mendengar semua kalimat Amy pada Angel. Arjun yang sudah selesai berbelanja menuju ke mobil dan membuka bagasi mobil tanpa disadari oleh Amy karena gadis itu masih asik bernyanyi. Hingga akhirnya Arjun melihat jika Amy mengangkat panggilan dari Angel di ponselnya. Entah kenapa Arjuna malah tersenyum mendengar Amy berkata jika Arjuna adalah calon suaminya.


Arjuna menutup bagasi dengan pelan kemudian menuju ke kursi kemudi. "Maaf ya kalau lama."


"Oh tidak apa. Lho, mana barang belanjaanmu?" tanya Amy bingung karena melihat Arjuna tidak membawa apapun.


"Oh, ada di belakang," jawab Arjuna santai.


"Hah?!" Amy malah terkejut. "Kapan dia membuka bagasi? Jangan-jangan dia mendengar pembicaraanku tadi dengan si Angel. Aduh! Mati aku!"


Amy melirik Arjuna yang masih tampak tenang dan kembali menyetir mobil. Hingga akhirnya mereka berdua tiba di depan rumah Amy.


"Terima kasih untuk hari ini. Maaf karena sudah merepotkanmu."


"Hmm, tidak masalah."


Amy mengangguk. Kemudian ia membuka pintu mobil.


"Tunggu!" cegat Arjuna.


"Ada ap...?" Ucapan Amy menggantung di udara, karena Arjuna tiba-tiba mengecup bibirnya singkat.


Mata Amy membola mendapat serangan dadakan dari Arjuna, si playboy cap tikus.


"Selamat malam, calon istri."


Kalimat Arjuna membuat Amy sangat malu. Ia segera turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah. Arjuna malah tertawa kecil melihat Amy yang malu-malu kucing.


"Aaaa! Dasar playboy sialan! Jadi dia mendengar percakapanku dengan Angel. Duh malunya!" gerutu Amy dalam hati.


#


#


#


"Argh! Sial!" Cassie membanting ponsel mahal miliknya. Sejak tadi ia mencoba menghubungi nomor ponsel Bima, tapi tak pernah tersambung.


Sudah dua hari Bima menghilang tanpa kabar. Bahkan ia mendapat info dari mata-mata yang disewanya jika Bima tidak masuk kantor dan pekerjaannya dilimpahkan kepada Arjuna.


"Aku harus menemui tante Luze dan om Danu. Aku yakin mereka pasti tahu kemana Bima."


Dengan membawa buah tangan untuk Luze, Cassie mendatangi kediaman orang tua Bima.


"Duh, kamu kok repot-repot bawa oleh-oleh segala. Kamu ini kan sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga kami." Luze sangat senang karena Cassie membawa gaun mewah edisi terbatas dari brand Lynx.


"Ah tidak repot sama sekali, Tante. Aku yakin gaun ini sesuai dengan selera Tante. Makanya aku menyimpannya satu untuk Tante."


Luze mengangguk dan terus mengembangkan senyumnya.


"Hmm, sebenarnya kedatanganku kemari karena ingin menanyakan tentang Bima, Tante. Apa tante tahu dimana Bima sekarang?"


"Eh?!" Pertanyaan Cassie membuat Luze tercengang.


"Bukankah Bima ada di apartemennya?" Luze malah balik bertanya.


"Tidak ada, Tante. Ponselnya juga tidak bisa di hubungi."


Luze berpikir sejenak. Putranya itu selalu saja menyusahkan dirinya dan sang suami. Luze mengulas senyum untuk tidak terlihat panik.


"Biasanya Bima suka berkunjung ke rumah neneknya di Bandung. Coba saja kamu datang ke sana. Tante akan berikan alamatnya!"


Luze menuliskan sesuatu ke sebuah kertas. "Ini alamatnya!"


Cassie menerimanya dengan hati yang gembira. "Terima kasih banyak, Tante. Kalau begitu aku permisi dulu."


Di tempat berbeda, Arjuna juga masih mencari keberadaan Bima. Berkali-kali menghubungi nomor ponsel Bima, tapi masih juga tidak aktif.


"Sebenarnya kemana perginya cecunguk itu? Pekerjaanku juga banyak, sekarang ditambah dengan pekerjaan dia! Huh!" Arjuna ngomel-ngomel sendiri di ruangannya.


Hari ini Arjuna memilih untuk tidak berangkat ke gedung MT Grup. Ia memilih untuk mengurus pekerjaannya sendiri di Firma hukum milik Hazar Grup.


Apalagi jika ia mengingat kejadian semalam dimana dirinya tiba-tiba mencium Amy, pastinya keadaan akan sangat canggung diantara mereka. Tidak mungkin Arjuna bisa bekerja dengan fokus. Baru kali ini ia merasa berdebar-debar setelah mencium seorang wanita. Padahal biasanya kegiatan itu sangatlah wajar ia lakukan bersama para wanitanya.


Arjuna kembali menghubungi ponsel Bima. Tetap sama. Ponselnya di nonaktifkan.


"Haaah! Kemarin Delia, sekarang Bima. Semoga saja bocah tengik itu tidak berbuat yang aneh-aneh!"


#


#


#


Hari ini Delia sudah kembali berangkat kerja. Beberapa orang ada yang membicarakannya di belakang, tapi Delia tidak peduli. Toh mereka tidak ada urusan dengan hidupnya.


Delia melewati ruangan Bima. Kosong. Tidak ada siapapun disana.


"Kemana perginya dia?" gumam Delia.


Delia melanjutkan langkahnya menuju ke ruangannya. Ia duduk sebentar lalu berpikir. Delia mengambil ponselnya.


Delia menimang-nimang apakah ia harus menghubungi Bima atau tidak. Dicarinya kontak bernama Bima Antara di ponselnya.


Meski ragu akhirnya Delia mendial nomor Bima juga.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar servis area. Cobalah beberapa saat lagi."


Delia menghela napas. "Ya Tuhan, kenapa tiba-tiba aku mengkhawatirkannya?"


#tbc