Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Kericuhan



Ponsel Delia terus bergetar kala dirinya sedang melakukan presentasi di depan klien penting dari luar negeri. Delia melirik sekilas ponsel yang ada di atas meja. Tertera nama ibunya disana.


Delia mengernyitkan dahi lalu meneruskan presentasinya. Ini adalah kesempatan emas untuk brand Lucia bisa go-internasional. Itu adalah impian Delia sejak lama.


Namun sepertinya Delia harus menyingkirkan egonya ketika sang ibu kembali menghubunginya. Tak ingin terus diabaikan oleh Delia, Retno pun mengirim pesan pada putrinya itu.


"Tolong angkat teleponnya! Ibu ingin bicara hal penting. Ini mengenai ayahmu!"


Mata Delia membola ketika membaca pesan yang tanpa dibukapun notifikasi di ponselnya muncul.


"Maaf, Tuan Garcia. Bisakah saya menjawab panggilan ini? Ibu saya menelepon." Delia meminta izin dengan sangat sopan.


"Silakan, Nona Delia."


Delia segera beranjak keluar dari ruang meeting. Membuat Amy dan Arjuna saling pandang.


"Halo, Bu. Ada apa? Aku sedang rapat dengan klien penting," ucap Delia ketika telepon tersambung.


"Maaf jika Ibu mengganggumu, Nak. Tapi ini tentang ayahmu."


"Ada apa dengan ayah, Bu?"


"Ayahmu pergi ke kantor Antara Grup. Ayahmu bilang ingin bicara dengan ayah Bima. Bagaimana ini, Nak? Cepat kau cegah ayahmu itu sebelum dirinya membuat kekacauan!"


Delia hanya bisa melongo mendengar penjelasan Retno. Hingga sosok Amy dan Arjuna mendekat dan mengejutkan Delia.


"Del, apa yang terjadi?" tanya Amy yang melihat ketidakberesan di wajah Delia.


"My, aku harus pergi sekarang. Bisakah kau menggantikan aku untuk melanjutkan presentasinya?" pinta Delia.


"Ya ampun, Del. Kau tahu sendiri jika itu tidak mungkin. Lagi pula ini adalah meeting penting untuk karirmu, Del."


Delia bimbang. "Aku tahu. Tapi ada hal penting yang harus aku lakukan sekarang."


"Siapa yang meneleponmu tadi?" cecar Amy.


"Ibuku. Aku harus pergi, My." Delia akan pergi melangkah tapi Amy mencekal lengannya.


"Kau berhutang penjelasan padaku!" tegas Amy.


"Iya, aku akan ceritakan semuanya nanti. Sekarang aku harus pergi!"


Amy tak bisa menahan Delia lebih lama lagi. Amy pun akhirnya membiarkan Delia pergi.


"Ada apa?" Arjuna menghampiri Amy.


"Delia pergi."


Arjuna merangkul bahu Amy. "Siapa sih yang menghubunginya?"


"Delia bilang itu adalah ibunya. Hubungan mereka baru mencair kembali setelah insiden gagalnya pernikahan Delia dan Daniel. Kuharap tidak ada sesuatu yang gawat terjadi."


#


#


#


Ciputra turun dari taksi online yang ditumpanginya dan berjalan masuk menuju gedung Antara Grup. Gedung bertingkat itu membuat Ciputra sedikit gentar. Karena dirinya akan berhadapan dengan orang yang berkuasa.


Ciputra mengukuhkan tekadnya. Sudah cukup dirinya menahan semuanya selama ini. Sudah saatnya ia mengakhiri masalah diantara keluarga mereka.


"Permisi, dimana ruangan presdir kantor ini?" tanya Ciputra pada salah seorang resepsionis.


"Maksud bapak Tuan Danu?"


"Benar. Dimana ruangannya?"


"Apa bapak sudah ada janji dengan beliau?"


"Hmm, belum. Tapi saya harus bertemu dengannya."


"Maaf, Pak. Jika belum memiliki janji sebaiknya Anda membuat janji terlebih dahulu. Anda bisa ke ruangan itu dulu untuk membuat janji."


Ciputra manggut-manggut. "Oh begitu ya! Baiklah. Saya akan kesana. Terima kasih."


"Sama-sama, Pak."


Ciputra berjalan menuju ruangan yang ditunjuk oleh si resepsionis. Tapi ternyata Ciputra mengurungkan niatnya. Ia malah masuk ke dalam lift dan menuju ke ruangan CEO sendiri. Ia melihat ada peta yang tertempel di dinding lift.


"Ruangan presdir lantai 15. Oke! Aku akan mendatangimu, Danu!" gumam Ciputra.


Tiba di lantai 15, Ciputra keluar dari lift dan celingukan mencari ruangan presdir. Ia mengikuti tanda petunjuk yang ada di lantai itu.


Ciputra tiba di depan ruangan Danu. Ia langsung masuk dan bertemu dengan seorang wanita yang adalah sekretaris Danu.


"Eh, Pak. Mau kemana?"


"Saya mau bertemu dengan Danu Antara!" seru Ciputra.


"Apa bapak sudah ada janji dengan beliau?"


"Halah! Saya tidak perlu membuat janji dengan si brengsek itu!"


"Eh, Pak!" seru si sekretaris bernama Iren itu.


"Danu Antara, dimana kamu?" Suara menggelegar Ciputra membuat Danu yang sedang duduk di kursi kebesarannya sontak terperanjat kaget.


"Ada apa ini?" tanyanya.


"Maaf, Tuan. Bapak ini memaksa masuk!" ucap Iren.


"Tidak apa, Iren. Kau boleh keluar."


Iren mengangguk lalu keluar dari ruangan Danu. "Aku harus menghubungi security. Aku takut orang itu melukai tuan Danu," batinnya.


"Putra? Apa kabar? Lama tidak berjumpa." Danu mencoba menyapa Ciputra.


"Tidak usah bersikap sok baik padaku! Kau dan keluargamu memang tidak pernah berubah! Selalu saja menganggu keluargaku!" seru Ciputra.


"Putra, duduklah dulu! Jika ini menyangkut putra putri kita, mari kita bicarakan dengan baik-baik!" ucap Danu dengan tenang.


"Tidak! Kau pikir aku akan menyerahkan putriku untuk putramu itu? Tidak! Sudah cukup dulu putramu memberikan harapan palsu kepada putriku, dan sekarang putra bungsumu yang sudah melukainya malah berkata mencintainya. Apa ini tidak konyol? Kalian memang keluarga yang aneh! Dulu adikmu yang tidak waras itu mengusik keluargaku, dan kini putramu! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"


Napas Ciputra tersengal usai mengatakan banyak hal kepada Danu. Tangan Danu mengepal mendengar Ciputra membahas masa lalu keluarga mereka.


Di luar ruangan, Iren mondar mandir sambil menghubungi security kantor agar menuju ke ruangan Danu.


"Iren, ada apa?" Suara seseorang membuat Iren menoleh.


"Tuan Bima? Umm, itu Tuan. Ada seseorang yang datang ke ruangan Tuan Danu. Sepertinya orang itu akan membuat keributan disini. Makanya saya menghubungi security untuk mengamankan orang itu."


Bima mengernyit. "Siapa orang itu?"


"Saya tidak tahu, Tuan."


"Nanti kalau security datang, langsung masuk ke ruangan papa saja. Aku akan kesana dulu!"


Iren mengangguk. Iren bisa melihat kecemasan di wajah Bima.


"Papa!" Bima langsung masuk ke ruangan Danu tanpa mengetuk pintu. Bima tercengang melihat ayahnya sedang bersama Ciputra, ayah Delia.


"Om Putra...?" lirih Bima.


Ciputra langsung menyeringai melihat kedatangan Bima.


"Rupanya kau telah membohongi kami, hah? Kau bilang kau seorang pengacara, tapi ternyata kau bekerja pada ayahmu ini!" Ciputra menunjuk Danu dengan penuh emosi.


"Om, aku bisa jelaskan semuanya!" ucap Bima.


"Cukup! Sudah cukup kalian mempermainkan keluargaku! Kali ini tidak akan kubiarkan kau menyakiti putriku lagi!"


"Aku mencintai Delia, Om! Tidak mungkin aku menyakitinya!" tegas Bima.


Ciputra mencebikkan bibir. "Cinta? Aku tidak akan sudi menerimamu sebagai menantuku! Jangan pernah lagi mengganggu keluargaku, Danu! Dan kau! Putuskan hubunganmu dengan Delia!"


Bima ingin kembali menjawab, tapi ternyata dua orang security datang bersama dengan Iren.


"Pak, tangkap orang ini!" perintah Iren.


"Baik, Mbak!" Dua orang bertubuh besar itu memegangi kedua lengan Ciputra.


"Lepaskan! Aku bisa pergi sendiri dari sini!" Ciputra meronta.


Kedua security menatap Danu dan Bima yang masih terdiam. Rupanya mereka masih syok dengan kedatangan Ciputra di tempat itu. Alhasil, Bima juga diam ketika Ciputra dibawa keluar oleh dua orang security.


Bima masih syok mendengar penolakan Ciputra terhadap dirinya. Bahkan Ciputra meminta Bima meninggalkan Delia. Sungguh Bima tidak akan sanggup melakukan itu.


Lamunan Bima buyar ketika Danu menepuk bahunya.


"Nak..."


"Papa...?" Bima baru sadar jika Ciputra sudah tidak ada disana. Bima langsung bergegas keluar dari ruangan ayahnya.


Sementara Danu memegangi dadanya yang terasa nyeri. "Ya Tuhan, kenapa dia masih tidak bisa melupakan apa yang dulu Dina lakukan?" lirihnya.


Di lantai bawah, Ciputra masih meronta meminta dilepaskan. Tapi kedua security itu sama sekali tak menggubris Ciputra yang dianggap telah membuat keributan di kantor Antara Grup.


"Ayah!" Delia yang baru saja tiba dikejutkan dengan pemandangan tak mengenakkan hatinya.


"Lepaskan ayah saya!" seru Delia.


Bima yang baru datang bertemu pandang dengan Delia. Delia menatapnya dengan tatapan tak percaya.


"Ayah tidak apa-apa?" tanya Delia dengan memegangi lengan ayahnya.


Ciputra mengangguk. Delia amat sedih karena ayahnya diperlakukan dengan tidak baik di kantor kekasihnya sendiri.


"Delia..." panggil Bima.


Delia menatap Bima dengan penuh rasa kecewa. Ia tak menyangka jika Bima akan membiarkan ayahnya diperlakukan seperti ini.


"Ayah, ayo kita pulang!" Delia memapah Ciputra keluar dari gedung bertingkat itu.


Sementara Bima hanya menatap nanar kepergian Delia dan Ciputra. Setelah ini hubungan mereka akan terasa lebih rumit dari sebelumnya.