
Malam itu di sebuah ballroom Diamond Hotel, akan diadakan sebuah acara pertunangan yang berbalut kemewahan khas para pesohor negeri ini. Dua keluarga konglomerat akan bersatu untuk memulai sebuah hubungan yang baru. Yang tadinya hanya rekan bisnis akan berubah menjadi keluarga.
Tawa renyah selalu terdengar dari bibir Danu Antara dan juga Luze. Mereka sangat bahagia akhirnya mereka bisa menjalin ikatan dengan keluarga Erwin Dinata.
Hanya satu orang yang nampak tidak menikmati acara malam hari ini. Dialah Bima Antara. Senyum yang ia kembangkan malam ini adalah senyum palsu. Sama sekali Bima tidak merasakan kebahagiaan seperti gadis yang berdiri di sampingnya.
Mata Bima terus mengedar mencari seseorang yang sebenarnya tidak ia nantikan kehadirannya. Dan benar saja. Tidak ada Delia disana. Daniel hanya datang seorang diri bersama dengan Arjuna.
"Kemana Delia? Apa dia sebenarnya berbohong tidak menginginkanku? Apa sebenarnya dia..." Batin Bima terus mempertanyakan ketidakhadiran Delia di acara pertunangannya.
Sementara itu, Delia duduk berdiam diri di balkon kamarnya. Sebenarnya Daniel mengajaknya untuk datang ke acara pertunangan Bima, tapi Delia menolak. Ia beralasan sedang tidak enak badan.
Meski sebenarnya ia baik-baik saja. Hanya saja hatinya sedang tidak baik-baik saja. Entahlah. Rasa apa yang sedang Delia rasakan saat ini.
Delia membuka sosial medianya yang ramai dengan berita pertunangan Bima. Delia menghela napas. Mereka tidaklah berjodoh, begitulah pikirnya.
Tiba-tiba saja terdengar bel pintu apartemennya berbunyi.
"Siapa yang datang?" gumam Delia lalu menuju ke luar kamarnya.
Delia mengernyit heran ketika melihat Amy datang dan langsung memeluk dirinya sambil menangis.
"Huhuhuhu, Delia. Aku sangat sedih. Aku patah hati..."
Delia mengusap punggung Amy. "Duduklah dulu dan katakan ada apa?"
Delia menuntun Amy untuk duduk di sofa.
"Del, apa kau tahu malam ini Bima bertunangan?" tanya Amy dengan masih sesenggukan.
Delia hanya mengangguk. Tidak mungkin juga ia menjawab tidak. Sementara Bima adalah sahabat Daniel, tunangannya.
"Aku patah hati, Del. Belum juga aku mendekatinya, eh ternyata dia sudah memiliki tunangan, huhuhuhu."
Delia memutar bola matanya. Ia sendiri bingung harus berkata apa. Sebenarnya Delia tahu jika Amy menaruh hati pada Bima. Maka dari itu Delia berusaha menghindari Bima karena tidak ingin merusak persahabatannya dengan Amy.
Bagi Delia, Amy dan ayahnya sudah sangat berjasa untuknya. Delia bisa bekerja di tempat mereka dan mendapatkan penghasilan yang cukup tinggi. Itu semua berkat Amy. Lagi dan lagi Delia harus dihadapkan dengan balas budi.
"Sudahlah! Mungkin memang kalian tidak berjodoh." Delia mencoba menenangkan Amy.
"Del, malam ini aku menginap disini ya? Aku butuh seorang teman untuk menemaniku." Amy mengusap air matanya yang sudah mulai mengering. Tidak ada gunanya ia menangis sampai pagi, toh Bima tetap tidak akan menjadi miliknya.
"Iya, boleh saja. Apartemen ini adalah milikmu juga. Aku bisa membelinya berkat kamu."
"Terima kasih, Delia. Kau memang sahabat terbaikku!" Amy memeluk Delia.
Delia merasa tidak enak hati dengan Amy. Jika saja Amy dan Bima benar bersatu, Delia tidak memiliki muka lagi di depan Amy. Bagaimana reaksi Amy jika tahu dirinya sudah tidur bersama Bima. Pasti Amy akan sangat membencinya.
Tak lama setelah itu, Amy terlihat memasuki kamar tidur Delia dan merebahkan diri disana. Kemudian Amy akhirnya terlelap dan terbuai dalam mimpi.
"Mungkin memang aku tidak beruntung dalam soal cinta," gumam Delia.
#
#
#
Malam semakin larut. Pesta pertunangan Bima dan Cassandra telah usai. Untuk malam ini Bima kembali ke rumah utama orang tuanya.
Bima merebahkan tubuh lelahnya di ranjang empuk miliknya. Terasa dingin sedingin hatinya malam ini.
Bima tak bisa memejamkan matanya. Tubuhnya terus bergulang guling ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba saja ia merindukan sosok mendiang sang kakak.
Meski sering berseteru, tapi Bisma adalah sosok kakak yang baik. Bima sangat iri pada Bisma yang selalu mendapat perhatian dari sang ayah.
Bima yang ingin mendapat perhatian juga malah mengalihkan perhatian sang ayah dengan melakukan hal-hal liar di luaran sana. Bima malah melakukan kenakalan remaja. Bahkan dulu Bima pernah sengaja menabrak seorang gadis kecil hanya karena cemburu pada sang kakak.
"Bagaimana kabarnya gadis itu ya?" gumam Bima lalu terbangun dari tempat tidur.
Bima pun keluar kamar dan menuju ke kamar sang kakak. Kamar Bisma masih terlihat rapi meski pemiliknya sudah pergi lima tahun yang lalu.
Bima mengingat kembali kegilaan yang dia lakukan hanya karena cemburu pada Bisma yang sedang jatuh cinta pada seorang gadis. Bima tersenyum getir mengingat hal itu.
"Maafkan aku, Kak. Andai saja aku tidak egois, mungkin saat ini kau masih hidup..."
Bima mengusap bingkai foto Bisma yang ada di meja kerjanya. Foto Bisma dan Bima ketika masih remaja juga ada disana.
"Aku merindukanmu, Kak..." Bima mengambil bingkai foto itu dan memeluknya.
Namun secara tidak sengaja, Bima melepaskan bingkai foto itu hingga terjatuh ke lantai. Bingkai foto itu pecah. Tapi bukan hal itu yang menjadi perhatian Bima. Ada sebuah foto lain di dalam foto kebersamaan Bisma dan Bima.
"Foto apa ini? Kenapa kakak menyembunyikannya?"
Bima membalik foto itu dan...
"Hah?! Gadis ini? Bukankah dia..."
Ada sebuah tulisan di belakang foto itu.
"Dewi Mulia Agung?" gumam Bima.
Otaknya bekerja keras mengingat memori sepuluh tahun yang lalu. "Jadi, nama gadis itu adalah Dewi Mulia Agung? Gadis yang aku tabrak itu ... apakah dia masih hidup?"
#tbc