Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Bekerja Bersama



Cassie memandangi mobil Bima yang mulai menjauhi halaman rumahnya. Tangannya terkepal sempurna setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Bima.


Meski dirinya tidak menjawab apapun pernyataan Bima, tapi semua hal mulai berputar dalam ingatannya. Cassie bukan lagi gadis yang mau mengalah. Dulu ia bisa menerima kegagalan karena memang kematian yang memisahkan, tapi untuk kali ini, Cassie tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.


Cassie memasuki rumahnya dan berjalan menuju kamar. Saat melewati ayah dan ibunya, Cassie sama sekali tak peduli. Panggilan sang ibu yang ingin mengetahui bagaimana makan malam berjalan di rumah Keluarga Antara, sama sekali tak Cassie gubris.


Hati Cassie sedang di penuhi kemarahan. Cassie menuju ke ruang kerjanya. Ruangan yang tidak seorang pun diperbolehkan masuk kecuali satu orang pelayan kepercayaannya yang bertugas bersih-bersih disana.


Ruangan itu memang penuh dengan gambar-gambar milik brand Lynx. Tapi di salah satu sudut ruangan, Cassie membuat sebuah pintu rahasia. Pintu yang tidak terlihat dan hanya dia saja yang bisa membukanya.


Ada sebuah tombol disana. Cassie menekan beberapa angka dan terbukalah pintu rahasia itu. Cassie menyalakan lampu di ruangan yang gelap itu.


Matanya mengedar menyusuri tiap dinding yang ada disana.


"Delia Agung..." gumam Cassie menatap satu persatu foto seorang gadis disana.


Foto itu adalah foto Delia dalam berbagai pose. Semua foto itu berjejer rapi di dinding. Tentunya foto itu diambil secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan sang objek foto.


Mata Cassie tertuju pada sebuah foto yang amat tidak ia sukai. Itu adalah foto Bima bersama dengan Delia saat berada di Paris. Terlihat jelas di dalam foto jika mereka berdua memasuki sebuah hotel dan tidak keluar selama hampir 12 jam. Semua orang bisa menebak apa yang dilakukan pria dan wanita dewasa di dalam kamar hotel.


Cassie menuju ke sebuah meja dan mengambil sebuah ponsel. Ponsel yang sudah lama ia simpan dan akan ia gunakan di waktu yang tepat. Dan Cassie rasa, sekarang adalah waktu yang tepat.


#


#


#


Pagi harinya, Delia berangkat ke kantor MT Grup dan menuju ke ruangannya. Saat akan memasuki ruangannya, Delia melirik sekilas ke ruang sebelahnya.


Delia melihat ada banyak berkas disana. Ditambah ada beberapa lemari buku yang sudah mengisi ruangan itu. Tapi, Delia tidak melihat siapapun ada disana.


Delia tak mau ambil pusing lagi. Delia segera menuju ke ruangannya. Baru saja ingin duduk di kursi kebesarannya, ponsel Delia berdering. Sebuah panggilan dari Amy.


"Halo, My. Ada apa?"


"Delia, kau sudah sampai kantor? Cepat ke ruanganku ya?"


Tanpa mengatakan apa tujuan menyuruh Delia ke ruangannya, Amy langsung mematikan sambungan telepon. Delia menghela napas. Sebagai kawan dan juga bawahan Amy, tentu saja Delia harus menuruti semua perintah Amy.


Delia berjalan menuju ruangan Amy. Ternyata Amy tidak sendirian disana. Ada seseorang yang sudah ada disana bersama dengan Amy.


"Hai, Del. Ayo sini!" panggil Amy.


Delia menatap sekilas pria yang tak lain adalah Bima. Lalu beralih menatap Amy.


"Ada apa ini?" tanya Delia.


"Hmm jadi begini, Del. Mulai hari ini Bima resmi menjadi pengacara brand Lucia." Amy bersorak gembira.


Delia malah mengerutkan kening. Ia melirik tajam kearah Bima.


"Oh ya, Bima juga sudah mengirimkan berkas somasi ke brand Lynx yang sudah mencuri desainmu," lanjut Amy.


"Apa?! Kenapa kau tidak membicarakannya dulu denganku?" Delia ingin marah. Tapi rasanya tidak mungkin.


"Kau tenang saja. Aku yang akan mengurus semuanya." Kini Bima ikut menyahut.


Delia menatap Amy yang mengangguk-anggukan kepalanya. Bima berpamitan pada Amy dan berlalu.


Delia mengajak Amy untuk bicara serius. "My, bukannya kemarin kamu patah hati karena dia? Kenapa sekarang malah mempekerjakan dia di brand kita?"


Amy mengedikkan bahu. "Papa yang memutuskan. Lagi pula kontrak kerjanya dibuat oleh Daniel, tunanganmu."


Delia melewati ruangan Bima dan melihat sebentar pada pria yang sedang membuka berkas-berkas di mejanya. Delia mengetuk pintu pelan lalu masuk.


"Oh, Nona Delia. Silakan!" ucap Bima.


"Kenapa kau melakukan ini?" Delia tak ingin berbasa basi.


"Apa maksudmu, Nona? Aku disini bekerja sebagai pengacara, apa yang salah dengan itu? Apa Nona tidak nyaman bekerja denganku? Kalau begitu silakan katakan itu pada Tuan Erko untuk membatalkan kontrak kerjaku. Dan jangan lupa kau harus punya alasan yang bagus untuk mengusirku dari sini."


"Kau!" Delia kesal. Tapi percuma saja berdebat. Delia memilih pergi dan mengabaikan panggilan Bima.


#


#


#


"Apa ini?" tanya Cassie ketika sekretarisnya membawa sebuah amplop berwarna coklat ke ruangannya.


Sekretaris bernama Carmen itu menjelaskan dengan singkat apa isi surat itu. Dengan cepat Cassie membuka dan membacanya.


"Apa-apaan ini? Jadi, Lucia ingin mengalahkan kita? Huh, jangan mimpi!" Cassie meremas kertas somasi itu dan membuangnya.


"Sekeras apapun kamu membuangnya, aku masih punya banyak salinannya!" Tiba-tiba Bima masuk ke ruangan Cassie.


"Bima! Apa-apaan kau ini? Berani sekali mengirimiku somasi seperti ini?"


Bima terkekeh kecil. "Apa yang kau lakukan itu melanggar hak cipta, Cassie. Harusnya kau sadar itu."


Cassie mengepalkan tangannya. Rasanya ia ingin meninju wajah Bima. Tapi tentu saja Cassie harus ingat jika Bima adalah tunangannya.


Cassie menghampiri Bima dan berdiri dengan jaral yang sangat dekat dengan Bima.


"Baiklah, apa maumu?" tanya Cassie dengan mengusap dada Bima.


"Permintaan maaf di depan publik pada brand Lucia. Akui kesalahanmu, Cassie."


Setelah bicara Bima segera pergi. Menyisakan Cassie yang masih mengepalkan tangannya.


#


#


#


Bima kembali ke MT Grup dan melihat Delia yang berbeda dengan para karyawan lain. Delia memakai sepatu flat dan bukannya heels yang biasanya dipakai para wanita. Ingatan Bima menyeruak ke kejadian yang amat ia sesali dalam hidupnya.


Ketika Delia mulai dekat dengan posisinya berdiri sekarang, perasaan Bima makin tak karuan.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Delia. Pasalnya semua orang mulai meninggalkan kantor karena jam kerja telah usai.


"Maafkan aku..."


"Maaf? Untuk apa?"


"Semuanya..."


Mata Bima berkaca-kaca, membuat Delia makin tak mengerti dengan pria yang ada di depannya.


#tbc