Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Orang yang Sama?



Mata Bima membola mendengar nama Delia yang sekali lagi memenuhi otaknya. Apakah ini hanya sebuah kebetulan semata? Bima masih belum menemukan benang merahnya.


Bima segera menghubungi Allan untuk mencari tahu tentang sosok bernama Dewi Mulia Agung ini. Apakah sama dengan Delia Agung? Ataukah ada gadis yang berbeda.


Usai sarapan bersama sang nenek. Bima menuju ke sanggar tempat para anak-anak.berlatih balet. Karena ini hari minggu, maka kelas balet sedang libur.


Bima berkeliling ruangan dan melihat satu persatu foto yang terpajang disana. Foto dari murid yang mengikuti kelas balet. Beberapa piala juga terpajang rapi di sebuah lemari.


"Kalau kamu mau melihat Delia saat 15 tahun, ini fotonya." Lily menghampiri sang cucu dan membawanya ke sebuah bingkai foto yang berukuran cukup besar.


"Delia adalah anak yang berbakat. Dia banyak menjuarai lomba tari balet. Tapi..." Lily menatap sang cucu.


"Karena ulahmu dia jadi tidak bisa menari lagi." Lily menjewer telinga Bima.


"Aw aw! Sakit, Oma!" Bima merintih kesakitan. Ia mengusap telinganya.


"Apa kau masih jadi anak nakal, huh?"


Bima meringis. Memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


"Tidak, Oma. Aku bukan lagi anak nakal. Aku sudah jadi pria tulen seutuhnya!"


Ucapan Bima sontak membuat Lily mendelik tajam. "Apa katamu?!"


"Ampun, Oma! Aku tidak akan nakal lagi!" Bima berlarian mengitari ruang latihan yang biasa digunakan para murid sanggar.


Di lain tempat, siang ini keluarga Delia dan Daniel kembali berkumpul bersama. Pernikahan yang dalam waktu dekat akan digelar pastinya membuat kedua keluarga harus sering bertemu.


"Delia, apa kau sudah memilih gaun pengantin yang akan kau pakai di pernikahanmu nanti?" tanya Ceren dengan membelai lembut puncak kepala Delia. Ceren menyayangi Delia layaknya putrinya sendiri.


"Sudah, Tante."


"Baguslah. Pernikahan kalian sebentar lagi akan digelar. Itu artinya kita sudah memenuhi wasiat dari kedua mendiang kakek kalian," sahut Ayaz.


Daniel tersenyum lebar ke arah Delia. Sangat berbeda dengan Delia yang nampak masih bimbang dengan keputusannya.


"Sayang, kamu ingin aku memberi hadiah apa untuk pernikahan kita?" tanya Daniel sambil mengemudikan mobilnya. Kali ini Delia dan Daniel sedang menuju ke sebuah toko perhiasan untuk membeli cincin kawin mereka.


"Terserah Mas saja." Delia menjawab tanpa melihat Daniel. Ia sibuk melihat jalanan di sampingnya.


"Bagaimana kalau kalung berlian?" Daniel berusaha membuat Delia mau terus bicara dengannya.


"Terserah Mas saja."


Daniel mencengkeram kemudi dengan erat. Rasanya amat sulit menaklukkan hati Delia. Padahal dulu Delia yang dikenalnya adalah gadis yang penuh dengan tawa. Daniel sendirilah yang sudah mengubah Delia karena pengkhianatan yang dilakukannya.


"Sayang, kamu percaya kan kalau aku bisa berubah?"


Barulah pertanyaan itu yang mampu membuat Delia menoleh.


"Mas tidak perlu berubah. Bukankah kita akan tetap bercerai setelah 3 bulan?"


Daniel menginjak pedal rem secara mendadak.


"Tidak! Aku tidak akan melakukannya! Aku tidak akan rela kehilanganmu, Delia. Aku sadar aku punya banyak salah padamu. Tapi izinkan aku untuk memperbaiki semuanya. Please..."


Delia kembali memalingkan wajah. "Mas sendiri yang membuat kesepakatan itu. Jadi kenapa Mas menyesalinya?"


Delia mengatur napasnya. Rasanya benar-benar sesak jika membahas soal ini dengan Daniel.


"Jangan membahas soal ini lagi. Kita lakukan sesuai dengan kesepakatan awal atau kita tidak perlu menikah!" tegas Delia. Untuk saat ini ia tidak mau menjadi lemah. Meski hutang budinya terhadap keluarga Daniel belumlah lunas, Delia akan melunasinya hingga tidak ada lagi kata hutang budi disana.


#


#


#


Hari senin kembali menyapa. Bima bersiap untuk menemui Daniel hari ini. Sejenak dia akan mengesampingkan rasa kesalnya terhadap Daniel karena telah berselingkuh dari Delia.


Bima harus mendapatkan surat kontrak untuk bisa bekerja di MT Grup. Bima ingin lebih dekat dengan Delia.


Terlepas dari apakah Delia yang ini adalah Delia gadis masa lalu Bisma atau bukan. Bima memang sejak awal sudah melabuhkan hatinya pada Delia. Gadis yang sudah membuatnya membuka hati kembali setelah lama terasa mati.


Bima merapikan penampilan sebelum turun dari mobilnya. Bima berjalan tegap dan menuju ke lantai dimana ruangan Daniel berada. Well, saat ini Selina sedang duduk di kursinya. Itu artinya mereka sedang tidak enak-enak di kantor pastinya. Atau mungkin karena ini masih terlalu pagi untuk bercinta.


Bima memutar bola mata malas ketika mengingat hari itu. Dengan senyuman mautnya Selina mempersilakan Bima masuk.


"Hai, Bim. Kau datang? Sebentar ya!" Daniel menyelesaikan pembicaraan terlebih dulu lalu setelahnya mengajak Bima duduk di sofa.


"So, apa keperluanmu datang kemari?" tanya Daniel.


"Aku ingin menerima tawaran Amy untuk menjadi pengacara brand Lucia."


Daniel manggut-manggut. "Hmm, ya baiklah. Aku bisa tenang karena Lucia jadi lebih terjaga. Aku akan buatkan draft kerjasamannya."


Bima tersenyum penuh makna. Rencananya kali ini harus berhasil. Ia akan lebih berjuang dalam mendapatkan hati Delia.


#


#


#


Malam ini, Luze mengundang Bima dan Cassie untuk makan malam di rumah. Tentu saja setelah kejadian hari itu, Luze tidak mau mendengar penolakan lagi dari Bima. Apapun yang Luze minta, Bima harus menyetujuinya.


Jadilah sekarang Bima tidak bisa berkutik dan hanya duduk manis saat para wanita sibuk berbincang dengan fashion dan tren masa kini. Bima memainkan ponselnya untuk mengusir rasa bosan. Ia harus menunggu hingga Luze dan Cassie selesai bicara.


Luze ingin mendekatkan Bima dengan Cassie. Luze sengaja meminta Bima untuk mengantar jemput Cassie malam ini.


Saat sedang berselancar dengan ponselnya, tiba-tiba saja sebuah panggilan dari Allan menginterupsinya. Bima beranjak dari sofa ruang keluarga dan menuju ke taman belakang yang sepi.


"Halo, bagaimana Allan?"


"Tuan, Dewi Mulia Agung dan Delia Agung ... adalah orang yang sama."


"APA!" Suara Bima tertahan. Meski terkejut ia tidak ingin membuat orang lain curiga.


"Kau yakin?"


"Sangat yakin, Tuan. Saya akan kirimkan semua datanya ke ponsel Tuan."


"Baiklah." Bima segera menyudahi panggilan itu.


Bima mondar mandir tak jelas menunggu pesan dari Allan. Hatinya jelas bergemuruh jika memang benar Delia yang ia kenal sepuluh tahun lalu, adalah Delia yang sekarang mengisi relung hatinya. Bahkan Bima lebih tak tenang karena Bima sudah menyakiti Delia dengan pernah menabraknya.


"ARGH! Sial! Kau memang bodoh, Bim!" umpatanya pada diri sendiri.


Sebuah notifikasi pesan masuk. Bima segera membukanya. Beberapa foto dan biodata Delia tersedia lengkap disana.


Bima meraup wajahnya kasar. "Maafkan aku, Delia. Maafkan aku..."


"Bima, ternyata kamu disini? Ini lho Cassie sudah mau pulang. Ayo kamu antar dia!" Suara Luze membuat Bima langsung menyimpan ponselnya ke dalam saku celana.


"Iya, Ma." Bima menghampiri kedua wanita beda generasi itu.


Luze sangat bahagia karena Bima bersikap sangat penurut hari ini. Tidak ada bantahan sama sekali dari mulut Bima. Bahkan Bima tidak berusaha kabur.


Tidak tahu saja, sebenarnya Bima sedang galau tingkat dewa. Bima yang berninat bekerja bersama Delia akhirnya bisa mewujudkan hal itu. Tapi di satu sisi, ia merasakan sebuah penyesalan karena sudah banyak melakukan kesalahan terhadap Delia baik di masa lalu maupun masa sekarang.


Tiba di kediaman keluarga Cassie, Bima tidak segera pergi.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Raut wajah Bima terlihat serius.


"Ada apa sih, Bim? Kok kelihatannya serius sekali?" Cassie tersenyum sumringah. Ia mengira jika Bima pasti ingin membicarakan tentang masa depan mereka.


Bima mencengkeram kemudi dengan erat.


"Bagaimana jika..." Bima terlihat ragu untuk bicara.


Cassie sudah menunggu dengan tidak sabar.


"Bagaimana jika ... Perjodohan keluarga kita harus kembali batal karena orang yang sama?"


Cassie tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Bima. Dadanya mendadak sesak dan bergemuruh. Cassie memalingkan wajahnya.


"A-apa maksudmu?" tanya Cassie berpura tidak paham dengan yang Bima maksud.


"Apa yang aku katakan cukup jelas. Aku terpaksa menerima perjodohan ini. Aku tidak mencintaimu. Aku ... Mencintai wanita lain. Wanita yang sama yang dicintai kak Bisma. Wanita yang sama yang sudah membuat perjodohan kalian batal. Dan kini perjodohan kita juga akan batal karena dia..."


#tbc