
Bima menatap nanar gedung-gedung yang menjulang tinggi di depannya. Bima menghargai kejujuran Delia padanya tentang masa lalunya bersama Bisma, kakak Bima. Justru Bima sendirilah yang belum bisa jujur kepada Delia.
Bima mengusap wajahnya kasar. Ia harus menyelidikiz siapa orang yang mengirim pesan kepada Delia dengan menggunakan nomor ponsel kakaknya.
Ya, orang yang mengirim pesan kepada Delia mengatasnamakan Bisma yang notabene sudah meninggal. Dan Bima sendiri belum bisa memberitahu Delia soal ini.
Bima menghubungi seseorang untuk menyelidiki masalah ini. Delia tak boleh berlarut dalam kecemasan karena tiba-tiba orang dari masa lalunya hadir.
#
#
#
Amy mondar mandir di dalam ruangannya. Ia menggigit ujung kukunya karena perasaannya sedang tak menentu.
Sebuah ketukan di pintu tak dihiraukan Amy. Delia pun masuk tanpa menunggu izin dari Amy.
"Kamu kenapa? Mondar mandir tidak jelas!" ucap Delia.
"Hah! Delia!" Amy menghambur memeluk Delia.
"Ada apa?"
"Kau tahu, papa berencana menjodohkanku!"
"Eh? Yang benar?"
Amy mengangguk. "Ini zaman apa coba? Sampai-sampai para orang tua masih saja menganut sistem siti nurbaya?"
Delia mengajak Amy duduk dan bicara dengan tenang.
"Ceritakan dengan jelas!" pinta Delia.
Amy bercerita panjang lebar tentang rencana ayahnya semalam bersama dengan pria bernama Boy Avicenna. Delia hanya diam dan mendengarkan cerita Amy.
"Aku dengar keluarga Avicenna itu sangat terpandang. Kurasa tidak ada salahnya jika kau mencoba," sahut Delia.
Amy mendelik. "Hello! Kau temanku atau bukan? Kenapa malah mendukung perjodohan konyol ini? Kau bahkan juga akhirnya gagal kan?"
Delia menatap jengah Amy. "Aku dan kamu berbeda. Siapa tahu pria itu adalah orang yang baik."
Amy menghentak kesal. "Tetap saja bukan seperti ini caranya!"
"Ya sudah! Kita bahas soal ini lain kali saja. Aku datang kesini ingin memberitahumu jika aku dan mbak Cassie akan mulai bekerjasama. Ini draft kerjasamanya. Kau periksa dan tanda tangani. Setelah itu serahkan pada Arjuna. Aku harus pergi ke outlet. Kau bisa kan mengurus yang disini?" Delia memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
Amy mengangguk.
"Bersemangatlah! Kita ini masih muda. Jangan sering mengerutkan dahi begitu, nanti kau cepat tua! Hahaha." Delia beranjak dari duduk dan keluar dari ruangan Amy.
#
#
#
Amy berjalan gontai menuju ruangan Arjuna. Kali ini Amy mengetuk pintu dan disambut oleh Arjuna yang sedang sibuk dengan berkas-berkas di mejanya.
Arjuna melihat gelagat aneh dari Amy. Entahlah, ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu.
"Ini! Itu draft kerjasama yang sudah kutandatangani. Lucia akan bergabung dengan Lynx. Kau uruslah sisanya!"
Arjuna masih membaca draft di depannya ketika melihat Amy keluar ruangan. Arjuna masih penasaran dengan cerita lengkapnya. Ia menghentikan langkah Amy.
"Tunggu! Kau kenapa?"
Amy menepis tangan Arjuna. "Bukan urusanmu!"
Amy melanjutkan langkahnya dan tak menggubris Arjuna lagi.
"Kenapa dia? Apa aku terlalu keterlaluan padanya?" Arjuna menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Di tempat berbeda, Bima berhasil menemukan orang yang sudah meneror Delia dengan menggunakan nama kakaknya. Bima mendatangi orang itu dengan santai.
"Bima! Silakan masuk! Aku cukup terkejut saat kau bilang akan datang," sambut seseorang yang tak lain adalah Cassie.
Bima mengulas senyumnya.
"Oh ya? Aku akan bekerja sama dengan Lucia. Kau pasti sudah tahu itu kan?"
Bima mengangguk. "Tentu saja. Delia bukan orang yang pandai menyembunyikan sesuatu. Aku sangat mengenalnya."
Cassie terlihat mengepalkan tangannya. Tergambar jelas jika Bima sangat mencintai Delia.
"Aku tidak menyangka kau akan jatuh cinta dengan wanita seperti Delia. Dia hanya gadis biasa."
Bima tersenyum seringai. "Justru karena dia biasa, makanya banyak hal luar biasa dalam dirinya."
Bima mengambil ponsel dan menghubungi nomor seseorang.
Cassie terkejut karena ponsel yang ia sembunyikan di dalam laci bergetar dengan cukup keras. Membuat ruangan itu dipenuhi getaran dari ponselnya.
Cassie berpamitan pada Bima dan mengambil ponsel di dalam laci kerjanya.
"Jadi kau rupanya!" ucap Bima.
"Kau sengaja melakukan ini untuk membuat Delia goyah?"
Cassie panik. Wajahnya mulai memucat.
"Aku tidak menyangka kau melakukan hal serendah ini! Kau bilang kau tidak akan mengejarku lagi, tapi apa yang kau lakukan sekarang, hah?! Delia akan sangat kecewa jika tahu kau yang melakukan semua ini padanya."
Cassie menelan ludah setelah mendengar ucapan Bima.
"Kenapa harus dia, Bim? Kenapa?!" teriak Cassie.
"Dari sekian banyak gadis, kenapa harus dia? Kau dan Bisma! Kenapa memilih dia?" Cassie mulai menggila.
Bima menggeleng. "Kau tidak akan mengerti karena kau seperti ini, Cassie. Maaf karena aku dan kakakku sudah menyakitimu. Tapi, tolong. Sayangilah dirimu sendiri. Kau perempuan yang hebat, jangan lagi mengharap seseorang yang jelas-jelas tidak menginginkanmu. Jika kau melakukan hal ini lagi pada Delia, aku tidak akan segan membuat perhitungan denganmu! Ingat itu!"
Bima melangkah keluar dari kantor Cassie. Rasanya ia lega karena sudah mengatakan semuanya pada Cassie. Satu kunci masalah selesai.
Kini Bima harus menyelesaikan kunci yang lainnya. Bima harus menyiapkan hati untuk bisa mengakui semuanya pada Delia.
#
#
#