Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Penyembuh Luka



Bima merebahkan tubuhnya di kasur empuk miliknya. Setelah bertemu Delia, tenaganya seakan terisi penuh.


Pekerjaannya sebagai CEO kini benar-benar menyita waktu. Hampir saja ia tak sempat bertemu dengan Delia. Tapi sebisa mungkin, ia akan menyempatkan diri untuk menemui Delia. Hanya untuk sekedar melepas rasa rindunya.


Bima sendiri masih tak percaya jika kini dirinya dan Delia sudah menjalin sebuah hubungan. Awalnya sulit untuk meyakinkan Delia, tapi akhirnya gadis itu luluh juga karena memang hati tak bisa berbohong.


#


#


#


-Flashback-


Bima mengurai pelukannya. Ia tatap wanita yang ada di depannya yang tengah tertunduk.


"Umm, aku akan buatkan teh." Delia kembali berbalik dan segera menyiapkan gelas dan juga air panas.


Bima paham. Pasti Delia masih agak kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba. Bima memilih untuk kembali duduk di sofa ruang tamu.


Sepuluh menit kemudian Delia menyusul dengan dengan membawa secangkir teh untuk Bima.


"Silakan diminum!" Delia duduk berhadapan dengan Bima.


"Bisakah kau duduk disini?" Bima menunjuk ke arah sampingnya.


Delia mengangguk. Ia berpindah tempat. Bima mengambil cangkir teh dan menyeruputnya perlahan.


"Terima kasih tehnya," ucapnya.


Delia kembali mengangguk. Jantungnya masih belum netral.


"Apa kau suka kejutan dariku?" tanya Bima.


"Kejutan?" Delia bingung. Namun setelahnya ia mulai paham.


"Ah, yang mengirimkan semua itu..."


"Iya! Itu aku!" tegas Bima.


"Terima kasih." Suasana masih terasa canggung. Delia kembali menunduk.


"Delia, kenapa kau tidak datang?"


Delia menoleh. Ditatapnya pria disampingnya ini.


"Ah, itu... Itu karena..." Delia bingung harus menjawab apa.


"Aku hanya merasa tak pantas saja. Dan gaunnya, aku akan mengembalikannya padamu."


Bima menghela napas. "Baiklah. Aku mengerti. Aku sudah memberikanmu waktu untuk berpikir. Jadi, sekarang sebaiknya kau menjawab."


Delia mengerutkan kening. "Jawab? Jawab apa?"


"Soal perasaanmu. Kita bukan lagi anak remaja, Delia. Semua yang terjadi dengan kita tentunya ada konsekuensi yang harus kita terima. Dan kurasa aku siap menanggung semua resikonya jika aku bersama denganmu."


"Tunggu! Apa harus ... secepat ini?" Delia memiringkan posisi duduknya agar bisa menatap Bima.


"Maaf jika aku memaksa." Bima tampak menyesal.


"Aku pernah gagal menikah. Dan aku juga pernah gagal menjalin hubungan. Ini ... terlalu sulit untukku." Delia menatap Bima dengan mata berkaca-kaca.


"Jika saja aku tidak dijodohkan, tentu aku akan memilih untuk tetap sendiri hingga sekarang. Aku ... belum siap mengalami patah hati lagi dan lagi."


Bima terdiam. Sekarang Bima bisa melihat jika ada luka yang masih menganga yang belum sembuh. Luka yang mungkin saja berasal dari masa lalu. Bima tahu betul luka itu dari siapa.


#


#


#


Bima mengguyur tubuhnya dibawah air dingin dari shower. Bayangan bagaimana Delia menceritakan kesedihan kisah masa lalunya membuatnya merasa bersalah.


Sebesar itukah luka yang diberikan Bisma pada Delia hingga gadis itu takut untuk memulai suatu hubungan lagi.


"Aku berjanji akan menyembuhkan luka yang ditorehkan oleh kakakku!" ucap Bima dalam hati.


Bima keluar dari kamar mandi. Ia memakai jubah mandinya dengan rambut yang masih basah. Ia menuju ke walk-in-closet miliknya dan menatap pantulan dirinya di cermin.


"Satu bulan! Berikan aku kesempatan selama satu bulan! Jika kau tidak bisa menerimaku selama itu, maka ... aku akan melepasmu."


Itulah yang Bima katakan pada Delia sebelum ia meninggalkan apartemen Delia malam itu. Kini Bima harus bisa mendapatkan kepercayaan Delia selama satu bulan ini.


"Semangat, Bima! Semangat!" serunya di depan cermin dengan mengangkat tangan.


"Kakak, doakan aku ya!" lanjutnya dengan menatap foto Bisma.


Di lain tempat, Delia juga baru saja merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Bayangan demi bayangan tentang Bima kembali muncul. Pria itu memang berbeda. Delia ingin sekali bisa percaya padanya, tapi rasanya ia masih ragu.


Delia memiringkan posisi tubuhnya. "Mungkin memang aku harus memberinya kesempatan," gumamnya sebelum ia memejamkan mata.


#


#


#


Delia sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Ia memang tidak terbiasa untuk sarapan berat. Ia memilih susu dan telur saja. Ia akan makan berat ketika memang pekerjaannya membuat sedikit tekanan.


Delia tiba di gedung MT Grup dan menyapa beberapa orang yang ditemuinya.


"Selamat pagi, Mbak Del. Ini ada titipan untuk Mbak!" Seorang OB menyerahkan sebuah paper bag pada Delia.


"Apa ini?"


"Terima sajalah!" Sebuah suara membuat Delia menolah.


"Arjuna?"


Arjuna menghampiri Delia. "Kau pasti tahu itu dari siapa kan? Jadi, terima saja!"


Delia tersenyum canggung.


"Ayo!" ajak Arjuna. Dan mereka pun berjalan bersama menuju ke ruangan mereka.


Delia membuka paperbag yang berisi dua buah sandwich. Ada sebuah catatan kecil di dalamnya.


"Aku tahu kau tidak terbiasa sarapan. Tapi, mulai sekarang aku akan pastikan kau mendapat gizi yang seimbang agar kau bersemangat menjalani harimu."


Delia menggeleng sambil tersenyum. Tiba-tiba Parjo masuk ke dalam ruangan Delia.


"Permisi, Mbak. Ini ternyata ada satu lagi titipan untuk Mbak Del."


Parjo menyerahkan secangkir kopi untuk Delia.


"Terima kasih ya, Mas."


Delia menghela napas. "Astaga! Apa-apaan sih dia? Kenapa harus mengirim semua ini coba?"


Ponsel Delia bergetar. Tertera nama Bima disana.


"Halo."


"Kau sudah menerima kirimanku?"


"Hmm."


"Jangan lupa menghabiskannya ya!"


"Hmm."


"Hei, jangan hanya menjawab hmm saja!"


"Iya. Apa ada lagi?"


"I miss you!"


"..........."


"Hari ini aku akan sangat sibuk. Mungkin aku tidak bisa menemuimu."


"Tidak apa. Ya sudah, aku tutup teleponnya ya!"


"Kenapa ditutup?"


Delia menghela napas berat. "Jika kau terus menelepon, kapan aku makan kirimanmu ini?"


"Hahaha, benar juga ya! Baiklah. Kau makanlah dulu. Love you!"


Delia senyam senyum sendiri layaknya anak ABG yang baru mengenal cinta.


"Astaga! Apa-apaan aku ini?" Delia memegangi wajahnya yang memerah. Ia sungguh malu pada dirinya sendiri.


Di lain tempat, Cassie mengepalkan tangan ketika mendapat laporan dari anak buahnya jika Delia dan Bima kini sudah menjalin hubungan. Entahlah apa yang ia rasakan saat ini.


Kemarin ia bilang tidak akan mengejar Bima lagi. Tapi kini ia merasa marah karena Bima sudah bersama Delia. Mungkin itu yang disebut mulut dan hati yang tak sejalan. Ketika bibir berucap tidak, tapi ternyata hati berkata iya.


Cassie meraih sesuatu di laci meja kerjanya. Benda yang sudah ia simpan selama lima tahun ini.


"Mungkin aku harus memulai semua ini sekarang."


"Nona!" Suara Collin membuyarkan lamunan Cassie.


Cassie baru sadar jika dirinya kini diawasi oleh Collin 24 jam penuh.


"Jangan ikut campur, Collin. Biarkan aku menyelesaikan apa yang harus kuselesaikan!"


Tatapan dingin dengan mata memerah mengarah pada Collin.


"Membalas dendam tidak akan menyelesaikan masalah, Nona!" ucap Collin.


Cassie hanya diam. Ia menghampiri Collin.


"Tugasmu hanya mengawasiku kan? Jadi, lakukan itu saja!" Cassie berjalan melewati Collin keluar dari ruangannya.


Collin menghela napas dengan berat. "Ternyata kau masih belum berubah, Nona. Kau hanya berpura-pura menutupinya saja. Apa yang harus kulakukan sekarang?"


B e r s a m b u n g