
Terjadi kehebohan di rumah sakit ketika Bima bersimpuh di hadapan sang nenek dan meraung-raung menangis memohon maaf. Lily tak kuasa menahan tangis juga ketika melihat cucunya menyesali seluruh perbuatannya kali ini.
"Maafkan aku, Oma. Aku tidak bermaksud mencelakai gadis itu. Aku hanya tidak suka melihat kedekatannya dengan kak Bisma. Aku hanya ingin menggertak saja. Maafkan aku, Oma..."
Suara raungan Bima terdengar oleh keluarga Delia yang baru saja datang. Sontak saja Ciputra sangat marah. Ia langsung menarik baju Bima agar pemuda itu menghadap dirinya.
"Apa kau bilang? Jadi kau sengaja melukai putriku? Apa salah putriku padamu, hah?!" Hati yang sudah terlanjur geram akhirnya tangan pun ikut bicara.
Ciputra melayangkan bogem mentahnya untuk Bima. Melihat hal itu Retno langsung melerai sang suami, begitu juga dengan Lily.
"Putra, hentikan! Jangan sakiti cucuku!" seru Lily.
Beberapa orang perawat dan petugas keamanan juga memegangi lengan Ciputra agar tidak memukuli Bima lagi.
"Dengar, Nyonya. Hanya karena kalian orang kaya bukan berarti kalian bisa berbuat seenak hati kalian. Sebaiknya jaga cucu nyonya itu! Jika tidak aku akan membawa kasus ini ke jalur hukum!" tegas Ciputra.
Lily mengangguk sambil masih terisak. Ia memeluk Bima yang babak belur karena dihajar ayah Delia.
"Tolong maafkan cucuku, Putra! Dia sudah mengakui kesalahannya. Aku benar-benar minta maaf..."
Ciputra menghela napas. "Aku sangat menghormati nyonya seperti ibuku sendiri. Tapi apa yang sudah cucu nyonya lakukan sangat menyakiti hatiku. Sebaiknya ajari cucumu itu cara bersikap yang baik!"
Setelah mengatakan semuanya, Ciputra meninggalkan Bima dan Lily yang masih terisak.
*
*
*
Hari itu juga, Danu menjemput Bima untuk kembali ke rumah. Tentu saja amarah Danu membuncah melihat kelakuan Bima yang tak pernah dari dulu. Selalu saja membuat ulah.
Namun di balik kemarahan Danu, ada sosok Bisma yang selalu membela Bima. Bisma merangkul Bima agar tidak berbuat yang lebih parah dari ini.
"Bisma akan membawa Bima ke psikiater. Aku yakin Bima bisa berubah." Bisma bicara pada Danu dan Luze.
"Bisma! Adikmu tidak gila, bagaimana bisa kamu membawanya ke psikiater?" Luze tidak setuju dengan ide Bisma.
"Ma, pergi ke psikiater bukan berarti kita gila. Kita bisa bicara dengan dokter terpercaya. Dan siapa tahu Bima bisa berubah karena bertemu dengan psikiater. Bukankah sepupu jauh papa ada yang menjadi psikiater? Bisma akan membawa Bima kesana."
Danu dan Luze tidak bisa membantah lagi. Sejak dulu Bismalah yang selalu bertanggung jawab atas sikap Bima.
Ternyata benar, Bima menuruti keinginan Bisma. Bima bersedia menemui psikiater untuk mengobati rasa bersalah dan juga sifat terlalu posesifnya terhadap sang kakak.
Usai mengantar Bima menemui seoranh psikiater, Bisma menuju ke kota kembang untuk bertemu Delia dan meminta maaf pada keluarga gadis itu. Namun sayang, Bisma harus menelan kekecewaan karena Delia sudah tidak ada disana.
"Keluarga pasien memindahkan pasien ke rumah sakit lagi, Pak." Seorang perawat memberitahu Bisma.
Sejak saat itu, Bisma tidak lagi bertemu dengan Delia. Ia bahkan tidak tahu kemana gadis itu pindah.
#
#
#
Masa sekarang...
Bima berjalan gontai ke sebuah tempat yang sudah lama tak dikunjunginya. Tempat bernuansa putih dan dipenuhi pepohonan rindang di beberapa sudut tempat.
Bima mengetuk pintu sebuah ruangan. Setelahnya ia masuk tanpa menunggu perintah dari si pemilik ruangan.
"Bima! Silakan duduk!" Seorang wanita paruh baya menyapa Bima dengan senyuman khasnya yang ramah.
"Apa kabarmu, Bima?" tanyanya.
"Aku baik, Dok."
Dia adalah dokter Diana. Psikiater yang dulu menangani Bima di masa kelam remaja menuju dewasa.
"Sudah lama sekali ya kamu tidak kesini."
"Ada apa? Apa ada yang ingin kamu ceritakan?"
Sejak kematian Bisma, orang yang menjadi tempat curahan hati Bima adalah dokter Diana. Karena dia adalah sepupu jauh sang ayah, membuat Bima merasa nyaman untuk bercerita dengan keluarga sendiri yang pastinya bukan keluarga inti. Karena bagi Bima, keluarga intinya adalah orang yang sudah membuatnya pernah berada di titik terendah dalam hidup. Meski begitu, Bima sudah tidak menyalahkan mereka lagi.
"Aku... Aku... Bertemu dengannya lagi, Dok."
Dokter Diana mengerutkan dahi. "Dia?"
"Gadis kecil itu..."
Dokter Diana tersenyum.
"Gadis yang pernah aku lukai. Gadis yang bisa saja terbunuh karena aku. Aku bertemu lagi dengannya. Bahkan mungkin aku akan menyakitinya lagi jika aku terus berada di sampingnya."
Dokter Diana menggenggam tangan Bima. "Hei, jangan terus menyalahkan dirimu. Bima yang sekarang sudah berbeda dengan Bima yang dulu. Apa kamu ... menyukainya?"
Bima menjawab dengan sebuah anggukan.
"Syukurlah. Dia yang akan menjadi penawar untukmu. Percayalah padaku!"
Usai berbincang ringan, Dokter Diana mengantar Bima hingga menuju ke lobi klinik pengobatan miliknya. Saat tiba di lobi, sayup-sayup terdengar suara televisi yang sedang menayangkan berita tentang kabar pernikahan Daniel dan Delia.
Terlihat juga beberapa foto pre-wedding Daniel dan Delia di layar televisi itu. Dokter Diana memperhatikan gelagat Bima yang mulai berubah. Tangan terkepal dengan napas yang mulai tak beraturan. Bima mengalami gejala yang dulu pernah terjadi lagi.
"Dokter, aku pergi dulu!" pamit Bima.
Dokter Diana mengangguk. Kali ini ia tidak bisa mencegah sifat lama Bima kembali muncul. Obsesif-posesif berlebihan yang dulu sempat ia rasakan terhadap Bisma, kini mengulang pada Delia. Tapi Dokter Diana tidak bisa berbuat apa-apa, karena menurutnya Delia sendiri yang akan menjadi obat untuk Bima.
#
#
#
Bima melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia segera menuju kantor MT Grup. Ia ingin menemui Delia dan memintanya berpisah dengan Delia. Sudah barang pasti Delia menolak tapi bukan Bima namanya jika harus menyerah sebelum titik darah penghabisan.
Begitu tiba di MT Grup, Bima memarkirkan asal mobilnya di depan kantor. Ia hendak berlari masuk. Namun ternyata mobil Delia baru saja keluar dari gedung MT Grup. Tentu saja Bima kembali masuk ke dalam mobil dan mengikuti arah mobil Delia.
Bima tersenyum karena ternyata Delia menuju ke sebuah apartemen.
"Jadi, kau tinggal disini?" Bima menyeringai. Ternyata tempat tinggal Delia tidak terlalu jauh dari apartemennya.
Bima mengendap pelan di belakang Delia. Ia tidak ingin Delia mengetahui jika dirinya sedang diikuti.
Sampai akhirnya Delia tiba di unit apartemennya dan menekan kode kunci 4 digit angka. Delia segera melangkah masuk.
Namun saat hendak menutup pintu, sebuah tangan mencekal pintu itu.
"Kau!" Delia kaget.
"Hai, maaf karena aku mengikutimu. Izinkan aku masuk!"
"Tidak!" Delia mendorong pintu apartemennya.
Tak mau kalah Bima juga ikut mendorongnya. Siapa yang menang? Tentu saja Bima.
Delia terdorong ke belakang dan hampir terjatuh. Beruntung Bima langsung menangkap dan mendekapnya.
"Akh!" seru Delia yang mengira dirinya akan jatuh. Ternyata jatuh di pelukan Bima, hehehe.
"Kau! Lepaskan aku!" berontak Delia.
"Tidak akan! Aku tidak akan melepaskanmu lagi!" tegas Bima yang membuat jarak semakin menipis.
#tbc
"I fall in love like crazy. I'm crazy because of you. Just you"
...-Bima Antara-...