
Delia mengirim pesan pada Cassie dan meminta bertemu. Tentu saja Cassie sangat bersemangat untuk bertemu dengan Delia.
Dengan begini rencananya untuk mendekati Delia akan semakin mudah. Cassie akan memilih tempat yang bagus untuk bertemu dengan Delia.
Di sisi lain, Amy masih menggerutu kesal karena ulah Arjuna tadi. Moodnya yang tadi berbunga-bunga kini berubah jadi buruk.
"Awas saja kau, Playboy tengik! Aku akan membalasmu esok hari."
Amy memarkirkan mobilnya di sebuah resto yang sudah disepakati bersama sang ayah. Amy turun dengan kaki yang menghentak.
"Amy sayang..." Erko menyambut kedatangan Amy.
"Papa? Untuk apa papa menyuruhku datang kesini? Ada acara apa sih?"
"Ayo, ikut saja! Mereka sudah menunggu kita."
"Mereka?" Amy bingung. Tapi ia tak bisa menolak kala tangan sang ayah merangkul bahunya.
Mereka berdua masuk ke sebuah ruangan privat yang cukup mewah.
"Maafkan putriku terlambat," ucap Erko.
"Ah tidak. Mari silakan duduk!"
Amy melihat ada tiga orang disana. Dua pria berbeda generasi yang ia yakini adalah ayah dan anak. Lalu satu orang wanita yang pastinya adalah si istri dari pria paruh baya itu.
"Sebaiknya kita makan malam dulu saja ya!" ucap si wanita paruh baya.
Amy hanya mengangguk dan menurut. Usai menyelesaikan makan malam mereka, Erko dan si pria paruh baya nampak berbincang ringan. Amy hanya diam dan menyimak. Amy menduga jika pria paruh baya itu adalah rekan bisnis ayahnya.
"Sayang, kenalkan. Ini Tuan Boy Avicenna. Dan ini istrinya, Nyonya Aleya. Lalu, ini adalah putra mereka, Nimo." Erko memperkenalkan ketiga orang yang berhadapan dengan mereka.
"Jadi, ini yang bernama Amy? Kamu sangat cantik, sayang," sahut Aleya.
"Terima kasih, Tante." Amy tertunduk malu.
"Nimo, ayo ucapkan sesuatu dong!" Boy menyenggol lengan putranya.
"Ah, iya. Hai, salam kenal. Namaku Geronimo. Tapi biasa dipanggil Nimo."
Gelak tawa terdengar karena kalimat perkenalan yang Nimo ucapkan. Amy hanya tersenyum kecut melihat tingkah aneh pria muda di depannya.
"Amy sayang, papa dan Om Boy sudah sepakat. Kami ingin hubungan kami ini tidak hanya sebatas rekan bisnis saja. Tapi kami ingin mempererat hubungan ini dengan sebuah pernikahan." Erko membuka percakapan kembali usai gelak tawa mereda.
"Maksudnya bagaimana, Pa?" tanya Amy tak mengerti.
"Kamu dan Nimo akan segera menikah."
"APA?!" Amy dan Nimo sama-sama terkejut. Mereka saling pandang dengan berbagai pertanyaan di dalam otak mereka.
#
#
#
Delia datang ke sebuah resto yang sudah disepakati dengan Cassie. Ternyata Cassie tidak ingin membuang banyak waktu dengan berlama-lama menunda rencananya.
"Delia!" seru Cassie ketika melihat Delia memasuki ruangan yang sudah ia pesan.
"Mbak Cassie! Maaf aku terlambat, Mbak."
"Ah tidak apa. Ayo duduk!"
Delia dan Cassie berbincang ringan mengenai bisnis yang akan mereka kerjakan. Delia nampak antusias.
"Terima kasih atas kedatanganmu ya! Aku sangat senang kau menerima tawaranku ini." Cassie bercipika cipiki dengan Delia.
"Iya, Mbak. Aku juga sangat senang bisa bekerjasama dengan Lynx. Kalau begitu aku permisi dulu, Mbak!" Delia membungkuk hormat kemudian berlalu.
Delia berjalan menuju tempat parkir resto menuju mobilnya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ponselnya bergetar.
Delia segera membuka pesan itu karena mengira itu pesan dari Bima. Bukan hanya ponsel itu saja yang bergetar, tapi tangan Delia juga ikut bergetar ketika membaca pesan yang ia terima.
"Hah?! Apa ini?" Delia memegangi dadanya. Pesan yang hanya menyapanya itu mampu membuat kaki Delia lemas seketika.
#
#
#
Semalaman Delia tak bisa memejamkan mata. Ia membaca berulang-ulang pesan yang dikirim seseorang dari masa lalunya.
Delia berusaha memejamkan matanya. "Tidak mungkin kan jika dia kembali? Untuk apa dia kembali?" gumam Delia.
Keesokan paginya, Delia meminta Bima untuk datang ke apartemennya.
"Maaf sudah mengganggu waktumu, Mas."
Bima tersenyum. "Sama sekali tidak mengganggu. Justru aku menunggu pesan darimu agar memintaku datang."
"Apa?!" Delia terkekeh. "Mas sudah sarapan?"
"Tentu saja belum. Kau masak?"
"Heem. Hanya nasi goreng saja."
Delia dan Bima makan dalam diam. Sesekali Delia melirik Bima yang nampak menikmati sarapannya.
"Apa ada masalah?" tanya Bima yang mengetahui gelagat aneh Delia.
Delia menggeleng. Bima menyudahi makannya dan menatap Delia.
"Sesibuk apapun diriku, aku akan meluangkan waktu untuk mendengarkan ceritamu."
Delia tersenyum. "Baiklah. Selesai sarapan kita bicara."
Sarapan pun usai, Delia dan Bima duduk bersebelahan di sofa. Delia mengatur napasnya terlebih dulu.
"Aku ... memutuskan untuk bekerjasama dengan mbak Cassie."
Bima hanya mengulas senyum. Sebenarnya ia sudah tahu tentang itu. Hanya saja ia menunggu Delia untuk bercerita sendiri kepadanya. Bima juga mengetes Delia apakah dia akan jujur atau tidak. Ternyata Delia memang jujur.
Bima membawa Delia dalam dekapannya. "Tidak apa. Aku mendukung apapun keinginanmu."
"Benarkah? Kau tidak marah karena aku tidak meminta izinmu dulu?"
Bima terkekeh. "Kenapa harus marah? Itu adalah pekerjaanmu. Dan setiap pekerjaan memiliki resiko tersendiri. Jadi, aku mendukungmu sepenuhnya jika itu adalah hal baik."
"Terima kasih." Delia mengeratkan tubuhnya menempel pada Bima.
"Lalu, apa ada lagi yang ingin kau ceritakan?" tanya Bima.
"Umm, sebenarnya..."
#tbc