
Pagi di hari minggu, Delia mengikat tali sepatunya dan bersiap untuk melakukan olahraga pagi di taman dekat apartemennya. Kali ini ia hanya sendiri tanpa ditemani Amy.
Semalam adalah pesta pengangkatan Bima sebagai CEO Antara Grup. Delia hanya melihat di internet tentang berita semalam. Delia ingin membatasi diri dengan hubungan bersama pria. Entah itu Bima atau siapapun.
Tiba di gelanggang olahraga, Delia melakukan pemanasan lebih dulu sebelum jogging. Hari ini cukup ramai karena tetangga Delia juga banyak yang melakukan olahraga. Seperti yang dilakukan oleh seorang ibu yang menghampiri Delia.
"Eh, Mbak Delia. Mau joging juga ya?" tanya seorang wanita paruh baya bernama Mardiyah dengan logat jawanya yang kental.
"Iya, Bu." Delia menjawab sekenanya saja.
"Hmm, ternyata benar ya apa kata Mbak Delia. Disini tuh kita bisa cuci mata. Banyak sekali cowok-cowok guanteng. Pantas saja Mbak Delia betah ya tiap minggu kesini."
Delia hanya tersenyum kecut. Niatnya berolahraga tentunya berbeda dengan niat Bu Mar yang hanya ingin cuci mata.
"Kalau begitu saya joging dulu, Bu. Permisi!" Delia meninggalkan Bu Mar yang mencebikkan bibirnya.
"Eh, Bu Mar. Itu yang namanya Delia ya?" Seorang wanita paruh baya lain menghampiri Bu Mar. Dialah Bu Tuti, tetangga jauh apartemen Delia.
"Iya, Bu. Itu namanya Delia. Tetangga saya! Mesakke yo, cantik-cantik gitu kok ditinggal nikah karena calonnya bikin mblendung cewek lain."
"Heh? Kasihan sekali. Kalau begitu apa coba saya jodohkan saja dengan anak saya saja?" timpal Bu Tuti.
"Ojo, Bu! Perempuan kalau sudah pernah gagal menikah itu nanti bikin sial. Jangan sampai sampeyan kena sial gara-gara dia!"
Sontak saja Bu Tuti ikut bergidik ngeri mendengar pernyataan Bu Mar. Bu Tuti langsung kembali berlari kecil mengelilingi lapangan. Sementara Bu Mar masih mencebik.
"Ehem!" Terdengar suara dehaman dari arah belakang Bu Mar.
"Kalau punya mulut itu harusnya dijaga! Jangan asal bunyi saja tuh mulut!" kesal orang itu yang ternyata adalah Bima.
Ya, sejak Delia keluar dari apartemennya, Bima selalu mengikuti langkah Delia dan memperhatikannya dari kejauhan. Bima hanya ingin memberi jeda bagi Delia untuk berpikir. Bima ingin membuat Delia akan terngiang-ngiang tentang dirinya.
"Sampeyan iki sopo? Melu nyahut wae!" kesal Bu Mar lalu pergi meninggalkan Bima.
Bima melihat Delia sudah selesai joging dan sedang duduk di tepi lapangan sambil mengatur napas. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di benak Bima.
Delia mengusap pelipisnya yang berkeringat dengan handuk kecil yang ia bawa.
"Kakak!" Suara anak kecil membuat Delia menoleh.
"Iya, Dek. Ada yang bisa kakak bantu?"
"Ini! Minumlah!" Anak kecil itu menyerahkan sebotol air mineral untuk Delia.
"Ini... Untuk kakak?" tanya Delia sambil menunjuk dirinya sendiri.
Anak kecil itu mengangguk. Rasanya terlalu aneh jika seorang anak kecil tiba-tiba memberinya air minum.
"Siapa yang menyuruhmu?" selidik Delia.
"Itu!" Anak kecil itu menunjuk kearah kerumunan orang-orang.
Delia celingukan mencari sosok yang bisa saja ia kenali. Tapi ternyata ia tidak menemukan siapapun.
Anak kecil itu langsung pergi ketika tugasnya telah selesai. Tanpa berpikir panjang, Delia langsung meneguk air mineral botol itu. Lagi pula sekarang ia sangat membutuhkan minum.
Usai meneguk setengah botol, Delia melihat sekelebatan sebuah mobil yang melintas. Ia seperti mengenali mobil itu.
"Bukankah itu mobil..." Lagi-lagi Delia menggeleng.
"Mungkin hanya kebetulan saja mobilnya sama. Iya kan? Fokus, Delia! Sebaiknya kau jangan memikirkan hal apapun dulu!"
#
#
#
Collin segera bangkit dari tempat tidur. Ia bangun dengan sangat hati-hati karena tak ingin Cassie terbangun. Entah apa yang akan terjadi dengan kehidupan mereka berdua setelah ini.
"Maafkan aku, Nona. Aku harus meninggalkanmu. Tapi, aku janji. Aku akan selalu bersamamu kapanpun kau membutuhkanku." Collin mencium puncak kepala Cassie sebelum pergi dari apartemen gadis itu.
Collin pulang ke rumah dan disambut oleh sang ayah, Surya.
"Kau baru pulang, Nak?"
"Iya, Ayah. Maaf aku tidak mengabari ayah kalau tidak pulang."
"Tidak apa. Oh ya, kudengar Nona Cassie membuat masalah lagi di pesta Tuan Danu? Sepertinya Tuan Erwin akan membutuhkan bantuanmu."
Collin mengangguk. Tentu saja ia harus menyelesaikan apa yang Cassie perbuat. Entah itu hal baik atau buruk.
"Kalau begitu aku ke kamar dulu!"
Surya mengangguk. Surya adalah ayah tunggal. Ibu kandung Collin menitipkan Collin saat ia masih bayi. Kesalahan yang Surya perbuat bersama Maria membuatnya harus menjadi ayah tunggal tanpa adanya pernikahan.
Kejadiannya sama sekali tidak terduga. Surya yang sedang menemani Erwin ke luar negeri bertemu dengan Maria Antonietta secara tidak sengaja. Hubungan satu malam yang mereka jalin menumbuhkan benih di rahim Maria.
Hingga akhirnya Maria melahirkan Collin dan mencari keberadaan Surya karena posisi Maria yang akan menikah dengan pria pilihan orang tuanya. Maria berhasil menemukan keberadaan Surya yang tinggal di Indonesia.
Maria tidak bisa merawat Collin karena takut keluarganya akan menyakiti Collin. Meski awalnya Surya tidak percaya dengan pengakuan Maria, tapi setelah Erwin membantu Surya untuk melakukan tes DNA, akhirnya Surya percaya jika Collin memanglah putra kandungnya.
Surya tidak menyesali semuanya karena kehadiran Collin memberikan semangat tersendiri untuk hidupnya yang hampa. Kehidupan Surya yang dulu hampir mirip dengan kehidupan Collin sekarang, yang hanya dipenuhi dengan tanggung jawab pekerjaan untuk mengabdi pada keluarga Dinata.
"Sarapan dulu, Nak!" ucap Surya saat melihat Collin sudah keluar dari kamarnya.
"Iya, Ayah." Collin menatap ayahnya yang sudah berusia senja. Entah apa yang akan dirasakan sang ayah jika tahu tentang perbuatannya semalam bersama Cassie.
"Nak, apa kau tidak memiliki kekasih?"
Pertanyaan Surya membuat Collin tersedak. "Ayah!" Collin segera meneguk segelas air.
"Apa yang salah dari pertanyaan Ayah? Usiamu sudah sangat cukup untuk menikah. Jangan sampai kau bernasib seperti ayahmu ini. Ayah ingin kau hidup bahagia bersama wanita yang kau sayangi."
Collin terdiam. Apakah ayahnya bisa menerima jika ia berkata bahwa dirinya mencintai Cassie? Anak majikannya sendiri.
"Aku akan menikah jika memang waktunya sudah tepat, Yah."
Surya tersenyum penuh kelegaan. Setidaknya Collin berniat untuk menikah, meski masih belum tahu kapan waktunya. Usia Collin sudah menginjak 33 tahun. Surya hanya berharap putranya segera menemukan sang tambatan hati.
Baru saja Collin memulai sarapan, ponselnya berdering dan itu panggilan dari Erwin. Collin langsung menjawabnya.
Ternyata Erwin meminta Collin untuk menjemput Cassie di apartemennya. Collin menelan salivanya dengan susah payah. Ia masih belum siap bertemu dengan Cassie. Bagaimana reaksi gadis itu ketika mereka bertemu nanti? Pastinya Collin khawatir jika Cassie membenci dirinya.
Namun bukan Collin namanya jika menolak keinginan tuannya meski sekarang adalah hari libur. Kini Collin sudah berada di depan pintu apartemen Cassie.
Dengan mengatur napas terlebih dulu, Collin menekan bel pintu apartemen Cassie. Setelah menunggu beberapa saat, muncullah gadis yang semalam berbagi peluh dengannya.
"Selamat pagi, Nona!" sapa Collin dengan suara gugup.
B e r s a m b u n g
*Okey genks, kuputuskan kisah Cassie-Collin juga Arjuna-Amy akan digabung disini saja menyelingi kisah Bima-Delia. Bagaimana kehidupan rumah tangga Daniel-Selina? Kita kupas sekalian ya genks, setajaaaamm sileet 🤣🤣🤣canda bestie
Terima kasih untuk yang sudah mendukung karya ini😘😘