Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Meminta Restu (2)



Hari minggu pagi, Bima bersiap untuk berkunjung ke rumah utama keluarga Antara. Bima menemui sang papa di lapangan golf. Karena Danu memintanya datang kesana.


Sudah menjadi kegiatan rutin untuk Danu melatih ketangkasannya bermain golf. Biasanya Danu bermain golf bersama Erwin. Namun sejak hubungannya memanas dengan Erwin, Danu meminta Bima untuk bermain dengannya.


"Papa senang kamu sudah mau mengurus perusahaan. Jabatanmu sebagai direktur, bisa saja berubah menjadi presdir."


"Pa... Aku masih belum siap untuk itu. Aku mohon Papa mengerti. Aku akan melakukannya secara perlahan saja."


Danu mengangguk paham. "Hari sudah mulai siang. Ayo kita pulang. Mamamu sudah menunggu."


Danu berjalan mendahului Bima.


"Pa!"


"Iya, ada apa?"


Bima bingung harus bicara dari mana. "Umm, ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian."


"Iya, kita bicara di rumah saja." Danu melanjutkan langkahnya menuju ke parkiran mobil.


Sementara Bima menyiapkan hati untuk bicara dengan kedua orang tuanya mengenai hubungannya dengan Delia.


#


#


#


Tiba di rumah keluarga Antara, Luze menyambut kedatangan suami dan putranya dengan penuh rasa bahagia.


"Mama merindukanmu, Nak. Bisakah kau tinggal disini saja?" Luze mengusap lengan Bima usai memeluknya.


"Ma..." Bima memohon.


"Hah, ya sudah. Kita makan siang dulu ya! Mama masak makanan kesukaan kamu lho!"


Bima mengangguk lalu mengikuti langkah Luze.


"Ma, Pa. Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian," ucap Bima setelah makan siang berakhir.


Danu dan Luze tampak saling pandang. Sebenarnya Danu sudah tahu apa yang ingin Bima bicarakan. Meski tinggal terpisah dengannya, Danu selalu mengawasi gerak gerik Bima diluaran sana. Apalagi cap sebagai casanova yang melekat pada putranya, membuat Danu ingin menyelidiki sendiri tentang kebenarannya.


Rupanya hal itu tidaklah seperti yang orang-orang pikirkan. Bima bukanlah seorang pemain wanita. Danu tahu jika kini hati Bima sudah tertambat pada seorang gadis. Namun Danu tidak memberitahu Luze mengenai hal ini dan membiarkan Bima yang memberitahunya.


"Aku ingin memperkenalkan seseorang pada kalian." Bima membuka perbincangan di ruang keluarga itu.


"Seseorang? Siapa? Apa kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Luze antusias.


"Hmm, begitulah, Ma."


"Siapa orangnya? Apa dia putri dari rekan bisnismu atau papamu?" lanjut Luze.


"Bukan, Ma. Dia hanya gadis biasa."


Luze mengerutkan keningnya. "Siapa? Bagaimana kalian saling mengenal?"


"Namanya Delia Agung. Aku mencintainya dan dia juga mencintaiku."


Luze masih bingung. Ia berusaha mengingat nama yang disebutkan Bima.


"Delia? Sepertinya mama tidak asing dengan nama itu..."


"Iya, Ma. Kita memang tidak asing dengan nama itu. Mungkin mama dan papa sudah pernah mengenalnya meski hanya namanya saja."


Seketika wajah Luze berubah. "Maksudmu Delia yang itu?" tanyanya.


Bima mengangguk. "Benar, Ma. Delia yang itu."


Luze langsung berdiri dari duduknya. "Jika yang kau maksud adalah Delia yang sudah membuatku kehilangan putraku, maka aku tidak sudi bertemu dengannya!" tegasnya.


"Ma, bukan salah Delia jika kak Bisma harus pergi meninggalkan kita. Itu sudah takdirnya!"


"Tidak! Mama mohon carilah wanita lain, Bima. Jangan dia! Kenapa harus dia? Dari sekian banyaknya wanita di muka bumi ini kenapa harus dia?" Luze mulai tak bisa mengontrol dirinya. Luze merasa dadanya sesak. Memori saat Bisma berdebat dengannya dan pergi dari rumah, lalu kembali hanya tinggal nama membuat hatinya bergemuruh hebat.


"Kamu bisa bersama dengan wanita manapun tapi tolong jangan dia, Nak! Bisakah kamu mendengar Mama?"


"Ma, aku sudah dewasa. Aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri. Lagi pula mama belum bertemu dengan Delia. Aku yakin mama akan menyukainya."


"Tidak! Sampai kapanpun mama tidak akan menerima perempuan itu menjadi menantu mama!"


Bima memejamkan matanya. Rasanya sulit memilih diantara Delia dan orang tuanya.


"Pa, kenapa diam saja? Papa juga tidak setuju kan dengan hubungan mereka?"


"Ma, kita belum pernah mengenal Delia. Bagaimana jika kita bertemu dengannya dulu?"


Luze bertambah murka. "Papa ini! Bagaimana bisa papa menyetujui hubungan mereka?"


"Ma, papa tidak merestui. Papa hanya memberikan kesempatan pada Bima agar bisa menunjukkan kesungguhannya bersama Delia. Apa salahnya dengan itu?"


Luze memilih pergi meninggalkan suami dan putranya. Rasanya hatinya begitu sesak mengingat lagi-lagi dirinya harus kehilangan putranya gara-gara Delia.


#


#


#


Malam itu Delia memutuskan kembali ke apartemennya. Sebenarnya menawarkan diri untuk menjemput Delia, tapi gadis itu memilih menaiki taksi online saja. Akan lebih baik jika dirinya menyimpan semuanya sendiri dulu.


Tapi ternyata saat dirinya sedang menunggu kedatangan taksi online, malah mobil Bima yang berhenti di depannya.


"Masuklah!" ucap Bima dengan membuka kaca mobilnya.


Delia ragu. Tapi Bima meyakinkannya.


"Aku akan mengantarmu!" Bima mengulas senyumnya. Delia tidak bisa menolak setelah melihat senyum itu.


Delia masuk dan duduk di samping Bima. Mobil segera melaju. Dan keheningan akhirnya melanda.


Bima sudah bisa menebak apa yang menjadi kegundahan hati Delia. Karena dirinya juga merasakan hal yang sama.


Hingga akhirnya perjalanan harus berakhir karena sudah tiba di depan lobi apartemen Delia. Keduanya masih saling terdiam. Delia sendiri juga tidak segera turun.


"Sepertinya kita sama-sama melalui hari yang berat, Delia."


"Eh?" Delia menoleh. "Iya, mungkin."


Bima meraih tangan Delia dan menggenggamnya. "Bisakah kita menjalaninya bersama-sama?"


Delia ragu. Meski semalam ia bertekad untuk berjuang bersama Bima. Tapi mengetahui jika Bima juga tidak berhasil bicara dengan keluarganya, membuat Delia mulai bimbang.


"Sayang, aku tidak akan berhenti berjuang sampai mereka bisa merestui kita." Bima menatap manik hitam Delia lekat.


"Aku mohon, jangan tinggalkan aku..."


Delia mengangguk pelan.


"Bersemangatlah! Kita pasti bisa melalui ini."


Kata-kata penyemangat Bima membuat Delia juga mulai ikut percaya diri untuk menggapai restu keluarga masing-masing.


"Aku masuk dulu ya! Hati-hati menyetirnya, Mas!" Delia melepaa seat belt dan membuka pintu.


Ada rasa enggan ketika melihat Delia mulai pergi meninggalkannya. Bima takut jika Delia tidak mau berjuang bersamanya. Bima takut jika semua angannya tak seindah kenyataan yang terjadi.


Namun Bima juga tidak bisa menahan Delia. Biarlah kini ia pasrahkan semua kepada semesta.


Delia masuk ke dalam kamar dan merebahkan diri di tempat tidur. Menghela napas panjang dan mengingat kembali memori perdebatan dirinya dan Ciputra.


"Kenapa kisah cintaku selalu rumit? Apa aku memang harus terus menerus dikecewakan oleh cinta?" gumam Delia sambil memejamkan mata.


Tak jauh berbeda dengan Delia yang merasakan kegalauan, Bima pun sama. Ia langsung masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya. Bima butuh kesegaran untuk otaknya. Ia harus berpikir untuk mendamaikan kedua keluarga yang sudah lama berseteru.


Lima belas menit kemudian Bima keluar dari kamar mandi, memakai kaus oblong dan celana olahraga panjang. Ia mengecek ponselnya siapa tahu saja ada pesan dari Delia. Tapi ternyata nihil. Delia sama sekali tidak menghubunginya.


"Hah! Kurasa semua masih belum bisa berjalan dengan baik."


Tiba-tiba saja ponsel milik Bima bergetar. Ada sebuah panggilan masuk. Nomor yang tidak ia kenali.


"Halo, siapa ini?"


"Ish, abang melupakanku, hah?! Dasar!"


Suara di seberang telepon membuat Bima mengernyit.


"Kau...?"


"Tepat sekali! Sebentar lagi aku akan kembali ke Indonesia. Abang siapkan tempat untukku ya!"


"Ck! Bisanya hanya merepotkan saja! Baiklah! Kutunggu kehadiranmu!"


Telepon terputus. Bima memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya dari pada memikirkan seseorang yang menghubunginya.


"Bagus juga sih kalau bocah itu kembali," lirih Bima memejamkan mata.