Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Cassie and Collin



Cassie terus meronta ketika Collin membawanya masuk ke dalam mobil. Sudah cukup nona mudanya ini mempermalukan dirinya di depan orang banyak. Collin tidak ingin Cassie memiliki predikat buruk di mata orang lain.


Collin sudah lama bekerja di keluarga Dinata. Dulu ayahnya adalah orang kepercayaan Erwin. Kini Collin menggantikan posisi ayahnya yang sudah pensiun.


Collin membawa Cassie kembali ke apartemennya. Meski terus meronta, tapi akhirnya Cassie sampai juga di kamarnya. Tentu saja karena Collin membawa tubuh Cassie di punggungnya layaknya membawa sekarung beras.


"Lepaskan aku! Aku mau Bima! Lepaskan!" Cassie memukul punggung Collin. Pria itu bergeming dan tetap melakukan tugasnya dengan baik yaitu menjaga Cassie.


"Nona! Tolong jangan begini!"


Collin merebahkan tubuh Cassie keatas kasur empuk milik gadis itu. Racauan kata-kata tak jelas masih terdengar di telinga Collin.


"Nona..." Collin duduk di tepi ranjang dan merapikan rambut Cassie yang menutupi wajahnya.


"Aku sedih melihatmu begini. Kau memaksakan pria yang jelas-jelas bukan menjadi jodohmu."


Usai berucap lirih Collin pun bangkit dari duduknya. Tugasnya malam ini sudah selesai.


Namun tiba-tiba tangannya dicekal oleh Cassie. "Jangan pergi!"


Collin berbalik menatap Cassie yang memejamkan matanya.


"Apa semua orang akan meninggalkanku? Bisma, Bima lalu kau. Apa aku tidak pantas untuk kalian?" lirih Cassie dengan suara tercekat.


"Nona..."


"Tolong jangan pergi, Collin."


Collin kembali duduk ditepi ranjang. Ditatapnya gadis yang sudah ia jaga selama 13 tahun. Ternyata gadis kecil itu kini sudah tumbuh dewasa. Collin sadar jika dirinya merasakan sesuatu yang lebih dari sekedar menjaga Cassie sebagai kakak.


Cassie memposisikan dirinya untuk duduk. Ia memeluk tubuh Collin. "Apa kau juga akan pergi meninggalkan aku?"


Collin bingung. Tiba-tiba saja ia gagap karena mendapat pelukan dari Cassie. Selama ini mereka tidak pernah sedekat ini. Meski Collin kerap menyeret Cassie atau menggendongnya seperti tadi, tapi sentuhan pelukan jelaslah berbeda.


"Jawab, Collin! Apa kau akan meninggalkan aku?" Cassie melepas pelukannya dan menatap manik kecoklatan Collin.


Collin bukanlah pria sembarangan. Wajah bulenya cukup tampan dan mempesona. Ibunya orang Italia dan ayahnya memang pribumi. Collin memiliki tubuh kekar khas para pengawal.


Entah kenapa Cassie baru menyadari jika pengawalnya ini sangat tampan. Cassie tersenyum. Meski masih dalam pengaruh alkohol tentu saja Cassie bisa membedakan mana yang tampan dan tidak.


"Karena kau tidak menjawab, itu artinya kau juga akan meninggalkan aku. Benar kan?"


Collin mengerutkan dahi. Tentu saja ia tidak akan pergi. Karena ia sudah terikat kontrak kerja dengan Erwin dalam waktu yang sangat lama. Ia tidak akan semudah itu pergi begitu saja.


"Kalau begitu aku akan membuatmu tidak akan pernah pergi dariku!" Dengan berani Cassie lebih dulu memulai permainan.


Cassie mencium bibir Collin dengan berhasrat. Entah apa yang merasukinya saat ini. Mungkin saja ia menganggap jika Collin adalah pelampiasan karena dirinya tak bisa meraih Bima.


Cassie menarik tubuh Collin hingga mereka terjerembab di tempat tidur. Cassie tak peduli lagi soal harga diri. Selama ini terus ditolak oleh dua pria. Kali ini ia yang akan membuat pria tak bisa menolaknya.


Collin tak bisa menolak sentuhan Cassie. Ia membalas ciuman panas yang diberikan Cassie padanya. Collin mengabsen setiap inci rongga mulut Cassie dengan lidahnya.


Cassie tak mau kalah. Ia memeluk tubuh Collin yang berada diatas tubuhnya. Napas yang terengah membuat mereka terhenti sejenak.


"Nona, tolong jangan lakukan ini! Aku tidak akan bisa berhenti jika kau terus memancingku."


Cassie tersenyum smirk. "Kalau begitu jangan berhenti!"


Collin menatap masuk ke dalam manik Cassie. Ada kesungguhan yang tersirat disana. Ya, Collin memantapkan hati sebelum melangkah jauh.


"Baiklah, Nona. Jika itu maumu!"


Kini giliran Collin yang menyerang Cassie. Ia menuju ke leher jenjang Cassie lebih dulu. Mengecupnya dalam hingga memberikan sebuah tanda kepemilikan disana.


Tangannya bergerak lincah meremas sesuatu yang masih terbungkus rapi dengan kain. Cassie terengah. Ternyata begini rasanya merasakan sentuhan dari seorang pria.


Tangan Cassie dengan cepat melepas jas yang melekat pada tubuh Collin. Membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan pria itu. Collin memang selalu berpenampilan rapi saat bekerja.


Cassie menatap penuh damba tubuh liat dan berotot itu. Ya, sebagai seorang pengawal pastilah Collin harus menjaga tubuhnya untuk selalu bugar.


"Sentuh aku, Collin! Jangan berhenti!" Cassie memohon.


Collin tak bisa berpikir jernih lagi. Keindahan yang terpampang jelas di depan matanya membuatnya gelap mata. Ia lupa jika gadis yang ada di bawah kungkungannya ini adalah putri majikannya yang harusnya ia jaga. Bukan malah ia rusak segel mahkotanya.


Cassie menjerit dan mengerang kala merasakan sesuatu merobek pertahanan terakhirnya sebagai seorang gadis. Rasa sakit itu akhirnya melebur ketika Collin memperlakukannya dengan sangat lembut.


Cassie memeluk tubuh Collin dan menghirup aroma maskulin pria itu. Cassie sangat menikmati malam ini. Malam yang akan ia lupakan esok hari. Karena hubungannya dan Collin tidak akan lebih dari sekedar majikan dan bawahan. Cassie sadar itu.


"Nona, aku mau sampai..."


Cassie mengangguk. Sebenarnya Cassie sudah merasakan pelepasannya beberapa kali. Sejak Collin menyentuh area terlarangnya dengan lidah dan jarinya. Lalu setelah senjata Collin bekerja, Cassie hanya terus mengerang nikmat tanpa bisa berkata-kata.


Napas mereka terengah ketika aktifitas panas mereka telah berakhir. Collin terbaring lemas di samping Cassie. Ia memeluk Cassie yang mulai memejamkan mata karena mengantuk.


"Tidurlah, Nona. Aku tidak akan meninggalkanmu." Collin menyelimuti tubuh polos mereka berdua. Ia memeluk Cassie posesif. Bibirnya melengkung membentuk senyuman kala mengingat adegan demi adegan yang mereka lakukan tadi. Ia janji mulai malam ini ia akan benar-benar menjaga Cassie dengan segenap hati dan jiwanya.


"Selamat malam, Nona. Aku menyayangimu..." Collin mengecup puncak kepala Cassie dengan penuh cinta. Tak pernah ia sangka jika malam ini akan terjadi dalam hidupnya.


B e r s a m b u n g


*genks tanya dong, kisah Cassie-Collin ini enaknya lanjut disini atau dibikin karya terpisah saja? 😁😁 serius nanya loh ya, soalnya kisah mereka agak menarik nih, hehehe