
Di sebuah rumah dua lantai yang sederhana, Daniel beserta kedua orang tuanya datang menemui keluarga Delia. Senyum sumringah selalu Daniel tampilkan dihadapan keluarga Delia. Bahkan Daniel sengaja mengabaikan tatapan tajam Delia yang menusuk ke arahnya.
"Daniel ingin mempercepat rencana pernikahan. Sepertinya dia sudah tidak sabar ingin segera memiliki Delia," ungkap Ayaz Hazar, ayah Daniel.
Tentu saja pernyataan Ayaz disambut gelak tawa oleh Ciputra dan Retno, kedua orang tua Delia.
"Lagipula selama setahun ini, mereka kelihatannya sangat cocok. Mungkin mereka bisa bertunangan lebih dulu sebelum lanjut ke pernikahan," sahut Ceren Hazar, ibunda Daniel.
Delia benar-benar tidak mengerti dengan maksud Daniel. Delia muak. Delia menatap kedua orang tuanya yang akan memutuskan tentang jawaban selanjutnya.
"Hmm, saya rasa jika memang Nak Daniel menginginkan begitu, tidak ada salahnya jika kita melakukan pertunangan saja dulu. Iya kan, Delia?" Ciputra bertanya pada Delia.
Gadis itu hanya diam. Menerima saja dan mencoba pasrah. Dia tidak akan bisa lari dari semua ini. Daniel tersenyum penuh kemenangan karena kediaman Delia.
Usai makan malam, Delia mengajak Daniel bicara empat mata di taman belakang rumahnya. Delia marah, tapi ia tak bisa menunjukkannya.
"Apa maksud Mas melakukan semua ini? Pertunangan? Apa Mas sudah tidak waras?" kesal Delia.
Daniel hanya tertawa. "Delia, cepat atau lambat kita memang akan menikah. Jadi, tidak ada salahnya kan kita bertunangan dulu. Toh sama saja."
"Tapi kenapa harus secepat ini? Apa Mas sengaja?"
Ya, Daniel memang sengaja melakukan ini untuk mengikat Delia. Setelah kembali dari Paris beberapa waktu lalu, sikap Delia berubah pada Daniel. Tentu saja berubah. Delia memergoki Daniel selingkuh dan itu membuatnya murka.
Namun setelah itu, Daniel merasa ada yang kurang dalam hidupnya. Delia yang hangat dan selalu tersenyum manis padanya sudah hilang. Berganti dengan Delia yang menatapnya dingin. Daniel resah. Ia tidak ingin kehilangan tatapan hangat gadis itu.
Ditambah lagi hubungannya dan Selina mulai hambar. Mungkin karena sudah terlalu lama dan tidak memakai hati, makanya Daniel mulai merasa bosan.
Ya selama ini Daniel memang membentengi dirinya dengan kokoh agar tidak jatuh cinta sebelum tujuannya tercapai, yaitu mendapatkan Grup Hazar. Makanya selama tiga tahun ini Daniel fokus untuk mengembangkan karir dan perusahaan. Agar ia dianggap mampu oleh sang ayah dan menjadi pewaris Grup Hazar.
Setahun ini bersama Delia rasanya menyenangkan. Delia adalah gadis yang baik dan ceria. Daniel baru menyadari sesuatu ketika gadis itu mulai berubah. Semua memang tidak akan lagi sama. Tapi, Daniel akan berusaha mengubah keadaan. Ia yakin bisa. Karena dulu Delia terlihat sangat mencintai Daniel.
"Kau masih mencintaiku kan?" tanya Daniel dengan menatap Delia lekat.
"Apa Mas pikir setelah semua yang Mas lakukan padaku, aku akan tetap menjadi gadis bodoh yang mencintaimu? Sejak dulu aku tidak mencintaimu, aku hanya menerima apa yang menjadi takdirku. Tapi kamu sudah merusak semuanya, Mas. Harapanku padamu terlalu tinggi. Sehingga saat kau menjatuhkanku, terlalu sakit untuk bisa kembali."
Daniel berlutut di depan Delia yang duduk di bangku taman. "Delia, berikan aku kesempatan untuk berubah. Aku bisa menjadi lebih baik. Aku bisa melakukan apapun untukmu."
Suara lembut Daniel kembali. Suara yang begitu menenangkan dan menghanyutkan Delia selama satu tahun ini. Bulir bening itu mengalir begitu saja di pipi Delia.
"Jangan menangis!" Dengan cepat Daniel mengusapnya dengan lembut.
"Aku janji akan memperbaiki diriku. Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Selina."
Delia menatap manik Daniel. Tatapan yang Delia rasakan setahun yang lalu telah kembali. Daniel yang selalu perhatian. Daniel yang menunjukkan kasih kepadanya, kini kembali.
"Aku akan memikirkannya. Sebaiknya sekarang Mas pergi. Aku ingin sendiri. Dan aku tidak butuh janji darimu, Mas. Aku tidak butuh itu!" Delia beranjak dari duduknya dan bersiap pergi.
Namun dengan cepat Daniel menarik tubuh Delia hingga membentur tubuhnya. Daniel memeluk Delia dengan erat.
"Mas! Apa yang kau lakukan?" pekik Delia.
"Sssttt! Diamlah! Para orang tua sedang memperhatikan kita. Biarkan begini sejenak!" bisik Daniel.
Delia akhirnya pasrah. Ia tidak ingin membuat para orang tua kecewa. Hanya itu yang bisa ia lakukan sebagai bakti pada orang tuanya.
Daniel mulai merenggangkan pelukan. Ia lihat para orang tua mulai pergi.
"Jangan lupa janjimu! Kau berjanji akan menceraikanku setelah kita menikah selama 3 bulan!" ucap Delia sebelum berlalu meninggalkan Daniel.
Daniel melongo mendengar kata-kata terakhir Delia. Janji? Daniel mengusap kepalanya kasar. Ternyata Delia masih ingat dengan kata-kata Daniel di hotel waktu itu. Daniel harus bekerja lebih keras lagi untuk bisa meluluhkan hati Delia.
#
#
#
Delia tidak fokus bekerja setelah kedatangan keluarga Daniel semalam. Bertunangan? Rasanya ia tidak percaya jika Daniel ingin mempercepat rencana pernikahan mereka.
Apakah ini hal yang bagus? Apakah dengan begitu Daniel akan melepaskan Delia setelah pria itu mewarisi Grup Hazar?
Delia memejamkan mata dan memijat keningnya yang sedikit pening.
"Del, kau baik-baik saja?" tanya Amy, sahabat sekaligus bosnya di kantor.
"Hmm, aku baik. Bagaimana pemotretannya?"
"Bagus, sebentar lagi hasilnya akan dikirim kemari."
"Baiklah, aku akan ke bagian produksi dulu ya!" Delia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya dari pada terus memikirkan hubungannya dengan Daniel.
Delia adalah seorang perancang busana. Ia bekerja di perusahaan milik ayah Amy. Nama Lucia dipilih sebagai nama brand dari produk yang ia rancang.
Delia menyukai nama itu karena seseorang. Ia mempertahankannya hingga sekarang.
Pukul tujuh malam, Delia keluar dari kantor, ia melihat Daniel sudah berdiri di lobi kantornya.
"Untuk apa Mas kemari?" tanya Delia masih dengan nada ketus.
"Tentu saja menjemputmu, ayo!"
"Tapi aku bawa mobil sendiri, Mas!"
"Gampang! Aku akan suruh orang untuk membawanya!"
"Tapi, Mas..."
Delia tidak bisa menolak lagi karena Daniel menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. Delia sudah malas dan memilih pasrah. Ia tidak mau ada keributan di kantornya. Semua orang tahu jika Daniel adalah kekasihnya.
Tak jauh dari sana, seseorang tengah memperhatikan gerak gerik Daniel dan Delia. Siapa lagi kalau bukan Selina. Ia marah karena Daniel menolaknya untuk pergi bersama. Alhasil Selina membuntuti Daniel kemana pria itu pergi.
"Baiklah, rupanya kau datang kemari Tuan Daniel. Kau tidak akan bisa lepas dariku begitu saja, Daniel!" ucap Selina dengan tatapan yang menyeringai.
#tbc