
Delia kembali menemui Rein yang sudah membawa Bima kecil ke kamar rawat inapnya.
"Bagaiman, Kak? Apa kakak menemukan Iren?" tanya Rein.
Delia menggeleng. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Rein. Delia akan memberitahu Bima saja mengenai hal yang baru saja ia dengar tadi.
"Bagaimana Bima?" Delia malah balik bertanya. Rupanya Delia mengkhawatirkan Bima kecil. Ia merasa kasihan pada bocah itu. Karena harus memiliki ibu yang licik seperti Iren.
"Dia sudah ditangani perawat. Apa kita akan menunggu hingga Iren kembali? Sebenarnya dia kemana sih?"
Tak lama setelahnya, Iren datang menghampiri Delia dan Rein.
"Nona Delia?" Iren cukup terkejut dengan kehadiran Delia dan Rein.
"Kalian kapan datang?" Meski gugup, Iren berusaha bersikap biasa dan tenang.
"Kami baru saja datang," jawab Delia.
"Bima mencarimu. Sebaiknya kau temui dia," sahut Rein.
"Ah iya. Kalau begitu saya tinggal ke dalam sebentar." Iren bergegas masuk ke dalam kamar inap Bima.
"Apa ada yang kakak sembunyikan?" Sepertinya Rein tahu jika Delia merahasiakan sesuatu.
Delia mengulas senyumnya. "Tidak ada. Ayo kita pulang saja! Kurasa Iren juga tidak membutuhkan kita."
Rein menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ada apa lagi dengannya?" gumam Rein.
Rein mengantarkan Delia pulang ke rumahnya lebih dulu. Setelahnya ia kembali ke apartemen milik Bima yang ditempati olehnya.
Tiba di apartemen, Rein melihat Bima sudah ada disana.
"Dari mana saja kau? Aku menunggumu sejak tadi," tanya Bima sambil menyorot tajam kearah Rein.
"Eits, santai mas Bro. Aku tidak kemana mana. Tadi kak Delia ingin menjenguk Bima kecil. Dan aku hanya mengantarnya saja."
"Apa?! Delia ingin menjenguk Bima?"
"Heem, kak Delia sangat menyayangi anak itu. Sudah ya, aku lelah. Aku mau mandi dan tidur." Rein melambaikan tangan dan berlalu.
Sementara Bima masih mematung dan mencerna kata kata Rein barusan.
...***...
Keesokan harinya, Bima sengaja menjemput Delia agar mereka bisa berangkat bersama. Beruntung Ciputra dan Retno sudah berangkat ke resto miliknya. Sejak pensiun, Ciputra memang ingin membuka usaha kecil-kecilan sendiri. Hingga akhirnya baru bisa terwujud dengan sedikit bantuan dari Delia.
"Tumben Mas mau menjemputku," ucap Delia ketika sudah berada di dalam mobil Bima.
"Hmm, aku merindukanmu."
"Ck, ada ada saja." Delia menggeleng.
"Kudengar kemarin kamu dan Rein pergi ke rumah sakit. Menjenguk Bima."
Delia mengangguk. "Iya. Apa Rein cerita padamu?"
"Iya, aku bertanya karena dia pulang terlambat."
"Kami hanya sebentar disana. Umm, oh ya Mas. Kapan mas ada waktu senggang? Aku ingin bicara sesuatu."
"Sekarang saja! Kamu tahu kan kalau aku sekarang sangat sibuk."
Delia menatap Bima tak percaya. Rasa rasanya Delia tidak mengenal Bima yang ada di sampingnya.
"Ada apa? Bicara saja! Aku akan dengarkan!"
Delia menghela napas kasar. "Tidak jadi."
Bima menghentikan mobilnya di tepi jalan.
"Sayang, aku tidak akan tenang berangkat kerja jika kamu masih merajuk begini. Oke, maafkan aku. Aku akan dengarkan semua cerita kamu."
Meski sempat ragu, tapi akhirnya Delia menceritakan semuanya pada Bima.
"Mama bicara begitu dengan Iren?" Bima rasanya tak percaya.
"Kamu tidak percaya denganku?" Delia terlihat kesal.
"Bu-bukan begitu. Tapi..."
"Mas, aku serius! Aku mendengarnya sendiri. Sayang sekali aku tidak merekamnya. Mungkin dengan begitu kamu akan percaya padaku."
Delia memalingkan wajahnya. Bima jadi serba salah. Di satu sisi adalah ibunya, dan sisi yang lain adalah kekasihnya.
Bima mengusap wajahnya. "Kapan semua ini berakhir? Aku ingin mama merestui hubunganku dengan Delia. Tapi, kenapa sesulit ini?" batin Bima gusar.
Setelah mengantar Delia ke kantornya, Bima melaju menuju kantor miliknya. Tanpa mereka sadari, diam-diam seseorang mengambil gambar di saat Delia turun dari mobil Bima.
Dan tentu saja foto itu langsung terkirim ke ponsel milik Luze. Lagi dan lagi Luze harus kalah dengan Delia.
"Apa yang dilihat Bima dari perempuan itu? Dia sudah membuatku kehilangan Bisma. Dan sekarang dia ingin merebut Bima juga. Tidak! Tidak akan kubiarkan!"
"Dan kau Iren! Kenapa tugasmu masih belum beres juga?!" Dengan kesal Luze menghubungi Iren.
Di seberang sana, Iren memejamkan mata karena mendengar omelan Luze melalui ponselnya. Iren berusaha sabar karena tak ingin membuat Luze makin marah. Hingga akhirnya Luze memutus panggilan.
Iren bisa bernapas lega. "Sialan! Wanita tua itu sepertinya harus diberi pelajaran!" batin Iren dengan menyeringai.
...***...
Setelah kemarin Luze merasa kecewa dengan hasil kerja Iren, kini Iren malah meminta Luze untuk bertemu.
"Mau apa kau memintaku kemari?" Tanpa basa basi Luze bertanya pada Iren.
Iren tersenyum sinis. "Nyonya, jangan bersikap arogan padaku. Jika aku membongkar semua kebusukanmu di depan Bima, maka tamatlah riwayatmu!"
"Kau!" Luze menunjuk Iren dengan jarinya.
"Dengar Nyonya. Jika kau mau rahasiamu aman, maka kau harus ikuti permainanku."
"Hei! Disini aku adalah bosnya. Dan kau! Kau hanya perempuan rendahan yang rela melakukan apa saja demi uang!"
"Ckckck, jangan bicara kasar Nyonya. Atau Tuan Bima akan tahu seperti sifat mamanya yang sebenarnya. Baiklah, sekarang aku ingin membuat kesepakatan dengan Anda, Nyonya."
Luze berusaha mendengarkan apa yang ingin dikatakan Iren padanya.
"Jika aku berhasil memisahkan Tuan Bima dan Delia, maka... Nyonya harus mau menerimaku sebagai menantu Nyonya. Bagaimana? Jika tidak, semua rekaman pembicaraan kita, akan sampai ditangan Tuan Bima." Iren menunjukkan sebuah alat rekam yang selama ini ia gunakan untuk merekam percakapannya dengan Luze. Rupanya Iren mempersiapkan semuanya dengan matang.
"APA?! Berani sekali kau bicara begini! Sampai kapanpun aku tidak akan sudi menerimamu sebagai menantuku!" Luze berbalik badan dan bersiap meninggalkan Iren.
Namun tiba-tiba dari arah belakang Iren memukul kepala Luze dengan besi yang sudah ia siapkan di tangannya. Luze langsung ambruk dengan kepala yang bercucuran darah.
"Jangan pernah bermain-main denganku, Nyonya. Kau belum tahu siapa aku sebenarnya..."
Iren tertawa menyeringai melihat Luze yang sudah terkapar. Iren ingin pergi dari sana. Namun tangan Luze tiba-tiba mencengkram kaki Iren.
"Da...sar wa...ni...ta ja...hat..." Setelah mengucapkan itu, Luze terpejam tak sadarkan diri. Entah nyawanya masih bisa diselamatkan atau tidak.
Sebelum pergi, Iren mengambil ponsel Luze dan mengirim pesan pada Delia.
Delia cukup terkejut karena menerima pesan dari Luze. Ia diminta datang ke suatu tempat. Luze bilang ada yang ingin ia bicarakan dengan Delia.
Tanpa curiga sedikitpun, Delia mendatangi tempat Luze meminta bertemu. Delia terkejut melihat Luze yang sudah terkapar di tanah.
"Tante! Tante Luze, bangun!" Delia mencoba menyadarkan Luze tapi usahanya sia-sia saja.
Delia menghubungi ambulans dan membawa Luze ke rumah sakit.