Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Sang CEO Baru



Tiga hari kemudian,


Arjuna dan Amy sedang terlibat dalam sebuah perbincangan bersama dengan Erko. Pengunduran diri Bima menjadi pengacara brand Lucia membawa Arjuna untuk masuk dan menggantikan posisinya. Tentu saja Amy ingin protes, tapi ia tak bisa berkutik ketika sang ayah yang sudah memutuskan.


Amy dan Arjuna keluar dari ruangan Erko dan mulai berdebat.


"Malas sekali aku sekarang harus melihat wajahmu setiap hari," ucap Amy sambil terus berjalan menuju ruangannya.


"Hei, Nona. Harusnya aku yang berkata begitu. Karena kau, hubunganku dan Angel harus berakhir!"


Amy tersenyum meledek. "Syukurin! Siapa suruh jadi playboy cap tikus!"


"Wah, kau benar-benar ya!" Arjuna mulai kesal.


"Sebenarnya Bima pergi kemana? Kenapa dia mengundurkan diri dari Hazar Grup?" Amy mengalihkan pembicaraan. Ia juga penasaran kemana perginya Bima.


Arjuna mengedikkan bahu. "Kudengar dia akan meneruskan perusahaan keluarganya. Sejak dulu Bima menolak keputusan ayahnya. Tapi, entah kenapa sekarang dia menerimanya."


"Eh, eh, apa kabar mengenai putusnya pertunangan Bima dengan Cassandra itu benar?" selidik Amy.


Arjuna memicingkan matanya. "Kau terlalu banyak tanya, Nona. Tanyakan saja sendiri pada Bima!" Arjuna melengos pergi meninggalkan Amy.


Sementara itu, sejak tadi Delia mendengar perdebatan antara Amy dan Arjuna. Ada sedikit tanya di dalam hatinya. Kenapa Bima harus melepaskan pekerjaan yang selama ini dilakoninya?


Dan sudah tiga hari ini Delia juga tidak pernah melihat sosok Bima. Bahkan menghubungi dirinya saja tidak. Delia mulai dilema dengan perasaannya sendiri. Apa hatinya mulai memanggil Bima?


Delia menggeleng kuat. Saat ini bukan waktunya untuk memikirkan pria dan cinta. Begitulah pikirnya. Delia menuju ke ruangan Amy karena ada hal yang ingin ia bicarakan dengan sahabatnya itu.


#


#


#


Di tempat berbeda, setelah memilih untuk menjadi penerus sang ayah, Bima disibukkan dengan mempelajari tentang perusahaan yang akan dipimpinnya. Tentu saja Bima awam dengan hal ini. Tapi, ia adalah orang yang cepat belajar, jadi pastinya ia akan mulai memahami step by step.


Danu menepuk bahu Bima. "Malam ini pesta perayaan pengangkatanmu akan digelar."


"Sscepat ini, Pa?" tanya Bima sambil tersenyum kecut.


"Iya, lebih cepat lebih baik. Meski kau masih dibawah kendali Papa, setidaknya orang-orang akan mulai mengenalmu."


Bima hanya patuh dan menganggukkan kepala. Bima kembali berkutat dengan berkas-berkas yang harus ia pelajari. Ini adalah pilihanya, ia tak boleh menyerah.


Setidaknya sang ayah akan membebaskannya dari perjodohan-perjodohan bisnis yang lain. Setelah ini Bima akan fokus mengejar Delia saja. Bima yakin hati Delia luluh padanya.


Malam harinya, beberapa tamu penting datang dipesta perayaan yang dibuat oleh Danu. Ternyata siang tadi, undangan telah tersebar, termasuk kepada Arjuna dan Daniel sebagai sahabat Bima.


Arjuna datang sendiri. Amy yang juga diundang datang bersama ayahnya. Lalu Daniel datang bersama Selina. Wanita itu terlihat posesif terhadap Daniel.


Selina tidak akan membiarkan ada wanita-wanita lain melirik Daniel. Dengan erat Selina melingkarkan tangannya di lengan Daniel. Sudah susah payah menjerat Daniel, tentu saja Selina tidak akan melepas Daniel.


"Wah, kau datang sendiri? Dimana Delia?" tanya Arjuna saat melihat Amy.


"Aku datang bersama Papaku. Dan Delia... Dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Dia memang begitu."


Arjuna manggut-manggut. Pasalnya tadi ia tidak sengaja melihat Delia mendapatkan sebuah paket dari Bima. Arjuna agak terkejut karena ternyata Bima mengirimkan gaun pesta untuk Delia. Tapi, kenapa kini Delia malah tidak datang? Arjuna bertanya dalam hati.


Bima terlihat mengedarkan pandangan mencari seseorang. Tentu saja dia mencari Delia. Sore tadi ia mengirimkan sebuah gaun untuk Delia kenakan, tapi kini bahkan sosoknya tidak terlihat dimanapun.


"Bim!" Arjuna menepuk pundak Bima.


"Eh?" Bima bingung.


"Delia! Dia tidak datang!"


Bima mengerutkan kening. "Bagaimana kau tahu?"


"Kau sendiri ada hubungan apa dengan Delia?" Arjuna balik bertanya.


"Hmm, aku menyukainya!" jawab Bima jujur. Rasanya sudah tidak ada gunanya membohongi publik.


"Heh?! Kau gila? Apa karena dia kau membatalkan perjodohanmu?" Arjuna geleng-geleng kepala.


"Lebih dari yang kau tahu, aku menyukainya sejak lama. Sejak dia belum bertunangan dengan Daniel."


Arjuna hanya melongo. Ternyata sahabatnya ini menyimpan banyak rahasia.


"Bima!" panggil Danu.


Arjuna yang ingin bertanya lebih lanjut menjadi urung karena Danu memanggil Bima. Sudah saatnya acara inti malam ini dibuka.


Danu, Luze dan Bima naik ke atas podium yang sudah disediakan. Dengan bangganya Danu memperkenalkan pada tamu undangan yang hadir jika Bima adalah CEO baru Antara Grup. Bima akan menggantikan Danu yang sebentar lagi akan purna tugas.


Riuh tepukan tangan mengiringi ketika Danu selesai memberikan pengumuman. Ketidakhadiran keluarga Cassie menjadi bahan obrolan di beberapa meja tamu undangan. Bisik-bisik tetanggapun mulai terdengar.


Bima sendiri tidak mempedulikan itu. Toh dirinya memang sudah mengakhiri hubungannya dengan Cassie.


Namun siapa yang menyangka jika keributan terjadi ketika Cassie tiba-tiba datang dan berteriak.


"Bima! Bima adalah milikku!" Cassie berjalan sempoyongan. Sepertinya gadis itu mabuk.


"Bima!" teriak Cassie hingga membuat orang-orang kini melihat kearahnya.


"Bima sayang..." Cassie memeluk Bima.


Dengan tenang Bima melepas pelukan Cassie. "Jangan seperti ini, Cassie. Kau gadis bermartabat, kenapa harus melakukan seperti ini?" Bima bicara dengan cukup tenang.


"Jangan tinggalkan aku, Bim!" Isak tangis Cassie mulai terdengar.


"Aku tidak akan meninggalkanmu. Kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Jadi, tolong jangan rendahkan harga dirimu begini. Kau akan mendapatkan pria yang lebih baik dariku!"


Kalimat Bima membuat semua orang di ruangan itu tercengang. Bima begitu tenang menghadapi Cassie yang meraung-raung meneriakkan kata-kata yang tak jelas.


Tentu saja Bima harus menjaga imejnya di depan banyak orang. Kini ia adalah pemimpin perusahaan yang baru, ia harus menunjukkan sisi elegan seorang CEO meski sebenarnya hatinya dongkol dengan sikap Cassie yang datang dengan mabuk.


Dari kejauhan Danu tersenyum penuh bangga pada putranya. Ia pikir kedatangan Cassie akan membuat nama baiknya minus di mata para kolega. Nyatanya sikap Bima yang begitu lembut dan tenang mengalahkan argumen orang-orang yang berkata jika Bima sudah mencampakkan Cassie.


"Bima! Tidak!" Cassie menangis memegangi lengan Bima.


"Dengar! Kau gadis sempurna dan cantik. Dan aku? Aku bukan pria yang baik untukmu. Aku yakin kau akan mendapatkan jodoh yang terbaik."


Cassie menggeleng kuat. Terlebih ketika Collin akhirnya tiba dan membawa Cassie pergi dari sana. Meski meronta dan berteriak memanggil nama Bima, tapi Collin tetap membawa Cassie keluar dari ballroom itu.


#


#


#


B e r s a m b u n g