
Delia kembali ke kantor dengan perasaan dongkol. Ia tak mengira jika hubungannya dengan Bima akan mendapat sandungan seperti ini.
Delia menghela napas kasar dan mengambil segelas air minum yang ada di meja kerjanya. Delia meneguknya habis.
"Kakak kenapa?" tanya Rein ketika melihat wajah Delia yang nampak kesal.
"Kau harus sering mengirimku ke kantor mas Bima. Aku tidak akan membiarkan ular betina itu mempengaruhi mas Bima."
Rein menatap Delia bingung.
"Kakak sedang membicarakan siapa? Apakah itu..."
"Benar. Sekretaris itu! Sepertinya dia sengaja ingin bermain-main denganku. Baiklah, aku akan meladeninya! Dia pikir aku takut?"
Rein melongo tak percaya. "Wah, aku tidak menyangka ternyata kakak cukup garang! Kenapa kakak tidak langsung menikah saja dengan bang Bima? Aku yakin bang Bima pasti sudah tidak sabar untuk mempersunting kakak."
Delia menatap Rein sedih. "Semua tidak semudah yang kamu kira, Rein. Aku masih harus meyakinkan kedua orang tuaku dan juga ibu mas Bima."
"Hmm, maksud kakak tante Luze?"
"Apa mas Bima punya ibu yang lain? Sudahlah, sekarang kita kembali bekerja saja. Ini draft perjanjian dari mas Bima. Kau teliti dulu sebelum menandatanganinya."
#
#
#
Keesokan harinya, Delia kembali ke kantor Bima. Tentu saja pertemuan dengan Iren tidak dapat Delia hindari.
"Wah, sepertinya Nona akan sering datang kemari ya! Apa Nona terlalu takut kehilangan Tuan Bima? Hingga harus mengekorinya kemanapun dia pergi?"
Kata-kata sarkas Iren membuat Delia naik darah.
"Kau?!" Delia menunjuk Iren. "Kau berniat menggoda mas Bima kan?"
Iren tersenyum seringai. "Jika iya, kenapa? Aku lebih dulu mengenal mas Bima dari pada dirimu, Nona. Lagi pula hubungan kalian tidak akan pernah mendapat restu dari nyonya Luze. Sebaiknya kau menyerah saja, Nona!"
"Kau ini..."
Belum sempat Delia melanjutkan kalimatnya, Iren sudah terjatuh duduk dan merintih kesakitan.
"Aw! Ampun, Nona. Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa salahku padamu?" Iren tiba-tiba terisak.
Delia bingung dengan sikap Iren yang mendadak berubah.
"Apa yang kau..."
"Ada apa ini?" Terdengar suara berat dari arah belakang Delia. Itu adalah milik Bima.
"Mas Bima?" Mata Delia membola.
"Apa yang kau lakukan pada Iren?" tanya Bima.
"Hah?! Aku... Aku tidak melakukan apapun terhadapnya. Dia sendiri yang..."
"Cukup, Delia! Iren ayo bangun!" Bima membantu Iren.
"Maaf, Tuan. Maafkan saya, Nona Delia. Maaf jika ada kata-kata saya yang menyakiti hati Nona. Tapi saya tidak bohong jika tadi Tuan Bima tidak ada di tempat. Sekali lagi maafkan saya, Nona." Iren membungkuk berkali-kali.
Delia hanya menganga melihat akting Iren yang begitu apik di depan Bima. Seolah-olah jika dirinya adalah korban, dan Delia adalah pelaku kejahatan.
"Mas, aku tidak melakukan apapun kepadanya. Dia sendiri yang..."
"Sudahlah! Ayo masuk ke ruanganku!" Bima segera membawa Delia masuk ke dalam ruangannya.
Sementara Iren tersenyum penuh kemenangan sambil menghapus sisa air mata buaya miliknya.
Di ruangan Bima, Delia kembali membela dirinya. Ia tak ingin terlihat bersalah di depan Bima.
"Iya, aku tahu. Mungkin Iren sudah kelewatan, tapi gak seharusnya kamu..."
"Mas! Aku tidak percaya kalau Mas masih saja membela wanita itu! Dia hanya berpura-pura, Mas." Delia amat kesal karena Bima tak mempercayainya.
"Iya, iya. Sudah ya! Jangan dibahas lagi. Lain kali jika kamu mau datang kesini, kamu hubungi aku dulu. Oke?"
Delia menghembuskan napas kasar. Kemudian ia mengangguk.
"Sekarang berikan draft kerjasamanya!"
Delia menghela napas kembali. Ia sampai lupa tujuannya datang ke kantor Bima. Delia meraih map dalam tas jinjing besar yang dibawanya.
Bima tersenyum. "Aku suka rancangan kalian berdua. Aku percaya padamu dan Rein."
Delia mengangguk. "Baiklah. Terima kasih karena Mas menyukai ide dari kami. Kalau begitu aku pamit dulu ya, Mas."
Sebelum Delia keluar dari ruangan, Bima mencegahnya.
"Tunggu, Del."
"Ada apa?"
"Nanti malam aku ingin mengajakmu bertemu dengan Bima kecil. Kamu bersedia kan?"
Meski rasanya enggan, tapi Delia tetap mengulas senyum dan menyetujuinya. Mungkin ini momen yang tepat untuk mengetahui apa rencana Iren sebenarnya.
#
#
#
Malam harinya, Delia dan Bima telah tiba di rumah sakit tempat Bima kecil dirawat. Bima membelikan beberapa mainan dan makanan ringan untuk Bima kecil.
"Sepertinya kamu sangat menyayangi bocah itu. Apa kamu juga menyayangi ibunya?" sarkas Delia.
"Sayang, sudah dong! Aku mengajakmu kemari agar kamu mengenal Bima kecil dan tidak berpikiran negatif terhadap diriku."
"Ya ya, terserah Mas saja."
Mereka berdua tiba di kamar rawat inap Bima kecil. Bocah itu sangat gembira melihat Bima mengunjunginya.
Dan ternyata pesona Bima kecil juga membuat Delia luluh terhadap bocah lelaki itu. Anak sekecil itu menjalani hari-harinya di rumah sakit dan penuh obat-obatan. Delia tidak bisa membayangkan jika itu terjadi pada dirinya atau orang yang ia sayangi.
Celoteh Bima kecil yang tetap bersemangat menjalani harinya membuat Delia jadi ikut rajin mengunjungi anak itu di rumah sakit. Delia mencoba untuk berdamai dengan egonya. Delia mengagumi sosok Bima kecil yang pantang menyerah melawan penyakitnya.
Meski tak menyukai Ibu Bima kecil, tapi bukan berarti Delia membenci Bima kecil. Delia membedakan porsi antara ibu dan anak itu.
Seusai pulang kantor malam itu, Delia bersama Rein datang ke rumah sakit. Dari kejauhan Delia melihat sosok Bima kecil yang sedang berjalan di area rumah sakit.
"Bima, kenapa ada di luar kamar?" tanya Delia yang menghampiri Bima kecil.
Bima kecil hanya diam.
"Ibu kamu dimana?" Delia celingukan mencari keberadaan Iren.
Bima kecil menggelengkan kepalanya. Delia dan Rein saling tatap.
"Tadi ibu keluar setelah mendapat telepon."
Delia mensejajarkan tubuhnya dengan Bima kecil.
"Ya sudah, sekarang Bima kembali ke kamar ya diantar sama Kak Rein. Biar Tante yang cari ibu kamu."
Bima kecil mengangguk. Sungguh Delia tak tega melihat kondisi Bima yang masih pucat itu.
"Tega sekali Iren meninggalkan anaknya sendirian," batin Delia.
Rein menggendong tubuh Bima kecil dan membawanya kembali ke kamar rawatnya. Sementara Delia akan mencari keberadaan Iren.
Delia berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Tiba di sebuah area yang agak sepi, sayup-sayup Delia mendengar suara dua orang yang sedang berbincang.
Delia mengenali suara itu. "Itu sepertinya suara Iren. Dia sedang bicara dengan siapa?"
Delia makin mendekat dan ingin tahu dengan siapa Iren berbicara. Mata Delia membola melihat sosok yang ia kenali ada disana.
"Itu kan... Tante Luze? Sedang apa dia disini bersama Iren?" gumam Delia dalam hati.
Delia tidak langsung menghampiri mereka berdua melainkan menguping pembicaraan mereka.
"Nyonya tenang saja! Cepat atau lambat Tuan Bima akan segera membenci Delia. Dan setelahnya, Tuan Bima pasti akan memutuskan hubungan dengannya."
Jantung Delia berdegup kencang mendengar pernyataan yang keluar dari mulut Iren.
"Sebenarnya aku sudah tidak percaya lagi denganmu. Gerakanmu ini sangat lelet, Iren. Kau hanya mengucap janji padaku tapi tidak membuktikannya."
"Jika kali ini kau gagal lagi, maka kau akan tahu akibatnya. Biaya pengobatan anakmu akan segera kuhentikan!"
"Hah?! Jangan, Nyonya! Saya janji saya akan melakukan tugas dari Nyonya dengan baik. Saya mohon percayalah!"
Tangan Delia mengepal kuat. "Apa-apaan ini? Jadi, yang melakukan semua ini adalah Tante Luze? Tega sekali dia melakukan ini pada kami?"