Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Persekongkolan



Karena ingin mendukung putranya, hari itu Luze datang ke Antara Grup untuk melihat hasil pemilihan suara siapakah yang akan menjadi presdir selanjutnya. Luze bertemu dengan sekretaris Bima yang dulunya adalah sekretaris mendiang suaminya.


"Kamu ... Iren kan?"


"Iya, Nyonya. Saya Iren. Ada yang bisa saya bantu?"


"Bisa kita bicara sebentar?"


Iren mengikuti langkah Luze menuju ke sebuah lorong sepi.


"Apa kau butuh uang?" tanya Luze tanpa basa basi.


"Maksud Nyonya?" Iren tak mengerti.


"Aku ingin kau menjadi mata-mata untukku dan mengawasi gerak gerik putraku."


"Eh?" Iren terkejut dengan permintaan Luze.


"Bagaimana? Jangan takut, kau akan mendapatkan bayaran yang setimpal dengan pekerjaanmu."


Iren menautkan kedua tangannya. Sungguh ia butuh biaya untuk pengobatan Bima, putranya.


"Baiklah, Nyonya."


Luze tersenyum puas. "Bagus sekali. Laporkan setiap hal yang berkaitan dengan kegiatan putraku. Yang paling penting adalah orang-orang yang berada di dekatnya. Termasuk wanita."


Iren tersenyum. "Baik, Nyonya."


Kesepakatan telah dibuat. Iren tersenyum penuh kemenangan. Dengan begini ia akan mengambil hati Luze agar bisa menerimanya menjadi menantu di keluarga Antara.


#


#


#


Rapat pemegang saham telah usai dengan perolehan suara terbanyak di raih oleh Bima. Semua orang bertepuk tangan termasuk juga Luze yang sudah merasa menang dari Dina.


Dina yang mengalami kekalahan justru memeluk Bima dan memberi selamat pada keponakannya itu.


"Selamat ya! Tante percaya jika kamu bisa membawa perusahaan ini lebih baik dari sebelumnya. Dan ingat! Jangan terpengaruh oleh siapapun termasuk ibumu sendiri. Tante akan selalu mendukungmu!" bisik Dina di telinga Bima.


Luze yang melihat hal itu menjadi tak suka dan langsung mendekat.


"Nak! Selamat ya!" Luze menarik tubuh Bima dari Dina dan memeluknya.


Dina hanya tersenyum sinis melihat posesifnya Luze terhadap putranya. Dina pamit undur diri dari ruangan rapat itu.


Hari ini Dina memiliki rencana untuk menemui seseorang. Dina meminta Ramon untuk menyiapkan mobil untuknya.


Tiba di sebuah tempat yang dituju, Dina turun dari mobil dan masuk ke dalam gedung yang bertuliskan Mrs. Zie Corp. Dina berjalan menuju resepsionis dan bertanya.


"Selamat siang, apa saya bisa bertemu dengan Nona Delia?" tanya Dina.


"Oh, mohon maaf dengan ibu siapa?"


"Bilang saja Dina Antara."


Tak lama setelahnya muncullah Delia dari balik lift dan menuju ke ruang tunggu dimana Dina duduk menunggunya.


"Selamat siang, Tante," sapa Delia ramah. Meski agak sedikit risih dengan kedatangan Dina, tapi Delia harus menyambutnya dengan baik.


"Selamat siang, Delia. Duduklah!" Dina menyambut kehadiran Delia dengan senyum sumringah.


"Delia, apa kau ada waktu?"


"Eh?"


"Tante ingin mengajakmu makan siang."


Delia berpikir sejenak.


"Ayolah! Ada yang ingin Tante bicarakan denganmu. Aku tahu selama ini kalian salah paham denganku. Makanya... Aku ingin menjelaskan semuanya padamu."


"Baiklah, Tante. Aku bersedia."


Dina tersenyum lebar. "Terima kasih ya!"


"Saya ambil tas saya dulu, Tante."


"Iya, Tante tunggu disini ya!"


Delia kembali ke ruangan kerjanya dan mengambil tas slempang miliknya. Kebetulan sekali jam makan siang telah tiba.


"Kak Del, mau kemana?" tanya Rein yang melihat Delia pergi.


"Aku ada janji makan siang."


"Oh ya? Dengan siapa?" Tiba-tiba Rein kepo dengan kehidupan Delia.


"Seseorang," jawab Delia singkat.


"Ck, siapa?"


"Astaga, Tuan Bos. Anda perhatian atau memang kepo tingkat dewa?" gurau Delia yang membuat Rein mengerucutkan bibirnya.


"Sudah ya, aku pergi dulu. Bye!"


Setelah kepergian Delia, diam-diam Rei mn mengikuti Delia dari belakang. Ia masih penasaran dengan siapa yang akan makan siang dengan Delia.


"Tante Dina?" Mata Rein membola melihat Delia pergi bersama Dina.


"Hmm, ada apa ini sebenarnya? Kenapa Tante Dina menemui Delia?" gumam Rein dengan tatapan masih tertuju ke dua wanita berbeda generasi itu.


#


#


#


Tiba di sebuah resto, Dina membawa Delia masuk ke sebuah private room. Mereka duduk berhadapan.


"Terima kasih ya, karena sudah bersedia makan siang dengan tante."


"Sama-sama, Tante."


"Kita pesan dulu saja ya!"


Delia mengangguk. Mereka berdua sibuk membaca buku menu dan memilih makanan yang akan mereka makan.


"Jadi, apa kamu tidak penasaran dengan siapa yang mewarisi Antara Grup?"


"Eh?"


"Tante tidak menyangka jika kekasih Bima adalah putri dari Ciputra. Dan ya, takdir seolah terus mempermainkanku meski aku sudah pergi puluhan tahun."


"Kamu harus ucapkan selamat pada Bima. Dia berhasil mendapatkan suara terbanyak para pemegang saham."


Delia terkejut. "Benarkah?"


"Iya."


Delia langsung berinisiatif ingin mengirim pesan pada Bima, tapi ia ingat jika sekarang Bima pasti masih sibuk mengurus pengangkatannya.


"Lalu, kenapa tante malah ada disini?"


"Hmm, aku merasa aku harus meluruskan sesuatu disini."


Delia mulai mendengarkan cerita Dina.


"Memang benar aku dan ayahmu bersahabat sejak dulu. Tapi, apa yang kau dengar tidak sama dengan kenyataannya. Aku dijebak!"


"Hah?! Dijebak?"