Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Kilas Masa Lalu



Delia tidak menjawab lagi pernyataan dari Bima. Baginya tidak ada guna berdebat dengan Bima. Delia memilih pergi meninggalkan Bima.


Selama perjalanan menuju ke apartemennya, Bima hanya diam dan memegangi kepalanya. Semua ingatan itu berputar kembali dalam benaknya.


#


#


#


Sepuluh tahun yang lalu...


"Oma!" seru Bima yang datang ke rumah Lily.


"Heh? Kamu disini? Bukannya sedang kuliah di luar negeri?" Lily langsung menyambut sang cucu bungsu.


"Iya, Oma. Aku sedang liburan. Oh ya, kak Bisma mana, Oma? Katanya kak Bisma datang kesini ya?"


"Oh, kakak kamu mungkin sedang ada di sanggar."


Bima mengerutkan keningnya. "Memangnya kak Bisma belajar tari balet ya? Kok ada di sanggar?"


Bima segera menuju ke sanggar tari balet milik sang nenek yang berada tak jauh dari rumah. Bima masuk ke dalam sanggar dan melihat kakaknya sedang bersama seorang gadis remaja. Mereka saling bersenda gurau dan berswafoto dengan ponsel Bisma.


Entah kenapa Bima tidak suka dengan kedekatan sang kakak dan gadis itu. Bima merasa kasih sayang kakaknya akan terbagi.


Sejak kecil Bima selalu bergantung pada sang kakak karena kesibukan kedua orang tuanya. Bisma menjadi sosok pelindung bagi Bima. Meski kini Bima sudah menginjak usia 20 tahun, Bima masih suka bergantung pada sang kakak.


Bahkan yang memilihkan jurusan untuk studi Bima adalah sang kakak yang memang ingin mengambil kuliah hukum tapi tidak disetujui oleh Danu. Akhirnya Bisma mengikuti keinginan sang ayah dan mengambil studi bisnis agar bisa menjadi pewaris Antara Grup nantinya.


Bima menggerutu ketika Bisma menghampirinya di kamar miliknya. Bisma kembali ke rumah neneknya dan sang nenek berkata jika Bima sepertinya marah dan mengurung diri di kamar.


Sikap merajuk Bima sungguh tidak cocok dengan tubuh besar jangkungnya. Bisma duduk di samping Bima.


"Maaf ya, kakak tidak tahu kalau kamu akan pulang ke Indonesia. Bagaimana kuliahmu? Lancar kan? Apa teman-temanmu baik? Siapa itu namanya? Arjuna, Daniel dan..." Bisma sengaja memancing Bima untuk bicara.


"Aron."


"Ah iya, Aron. Kau kenapa? Badan sebesar ini merajuk? Tidak pantas, Bim." Bisma malah terkekeh.


"Kakak!" Bima memeluk sang kakak. Meski beranjak dewasa, Bisma memang selalu menganggap Bima seakan adik kecil baginya yang harus dia lindungi.


Kenakalan demi kenakalan yang dilakukan Bima semasa remaja, Bisma menganggap itu adalah kesalahannya yang kurang memperhatikan Bima. Padahal itu sama sekali bukan salah Bisma.


Bima hanya mencari perhatian dengan selalu membuat Danu kesal dan marah. Hanya itu cara yang Bima tahu agar bisa mendapat perhatian dari sang ayah.


"Oh ya, itu diluar motor punya kamu?" tanya Bisma.


"Iya, Kak. Kenapa?"


"Bukankah berbahaya mengendarai motor kesini?"


"Tidak, Kak. Malah menyenangkan mengendarai motor."


"Huft! Tapi jangan kebut-kebutan di jalan. Jika terjadi sesuatu denganmu, bagaimana? Jangan lupa selalu gunakan helm dan pengaman lainnya, agar kamu terhindar dari bahaya, bla bla bla..."


Dan banyak lagi nasehat yang selalu Bisma katakan pada Bima. Ia bagaikan seorang ibu juga bagi Bima. Di saat Luze sibuk dengan yayasan-yayasan amal yang dikelolanya, Bisma menggantikan perannya untuk mengasuh Bima. Bisma ingin Bima tetap bisa merasakan kasih sayang dari seorang ayah dan ibu. Bisma tidak ingin adiknya mengalami hal yang sama seperti dirinya.


Satu hari sudah terlewati. Bima menginap di rumah sang nenek bersama Bisma.


"Oma, kak Bisma kemana?"


Bima menggeleng. Bima menuruti perintah sang nenek untuk sarapan terlebih dulu.


Kemudian Bima menyusul Bisma yang sepertinya ada di sanggar tari milik Lily. Disana pun Bima tidak menemukan sosok Bisma.


"Kemana sih kak Bisma?" gumam Bima gusar.


Saat sedang mengedarkan pandangan, ponsel Bima bergetar. Sebuah panggilan dari sang kakak.


"Bima, maafkan kakak. Kakak sudah kembali ke Jakarta karena papa menyuruh kakak mengurus pekerjaannya. Kalau kamu masih mau berlibur disana. Silakan saja. Sekalian temani Oma disana."


*


*


*


Sore harinya, saat kelas tari balet dimulai. Bima sengaja mengendap-endap menuju ruang tari. Disana ia melihat gadis remaja yang bersama kakaknya kemarin. Bima tidak tahu siapa nama gadia remaja itu.


Dari kejauhan, Bima melihat gadis yang adalah Delia itu menerima sebuah bingkisan dari mang Ujang, salah satu asisten rumah tangga Lily yang bekerja membersihkan sanggar.


"Apa ini Mang?" tanya Delia.


"Ini titipan dari Den Bisma."


Mata Delia berbinar senang. Ia langsung membuka kotak yang ternyata berisi sepatu balet.


"Wah, sepatu balet. Terima kasih banyak, Mang."


"Jangan berterimakasih sama saya, Neng. Berterimakasih sama den Bisma saja."


Delia mengangguk. Dengan gembira ia langsung memakai sepatu balet pemberian Bisma.


Hati Bima mendidih ketika mendapati kakaknya memberi hadiah pada Delia. Cemburu? Mungkin iya. Ia merasa perhatian kakaknya sudah tidak seperti dulu karena kehadiran Delia.


Mungkin sikap Bima ini dikarenakan perhatian Bisma yang berlebihan. Bisma tidak tahu dampak yang akan ditimbulkan dari semua kasih sayangnya pada Bima.


Bima sendiri belum memahami jika suatu saat sang kakak pastinya akan hidup dengan orang lain dan tidak bisa mengurus dirinya terus menerus. Namun amarah yang sudah terlanjur membuncah membuat Bima tak bisa berpikir jernih. Selama ini tidak ada yang merebut kasih sayang Bisma darinya. Selama ini hanya ia seorang adik yang selalu diperhatikan Bisma. Dan sekarang muncul sosok baru yang akan menggantikan sosok Bima di hati sang kakak. Bima tidak terima itu.


*


*


*


Bima memainkan gas motor besarnya. Dari kejauhan ia melihat Delia sedang berdiri di tepi jalan sedang menunggu angkutan umum untuk pulang ke rumah.


Bima tersenyum smirk dari balik helm cakil yang menutupi seluruh wajah dan kepalanya. Entah apa yang Bima pikirkan hingga ia berencana untuk menakuti Delia agar tidak lagi berhubungan dekat dengan sang kakak.


Bima mulai melajukan motornya dengan kecepatan pelan, kemudian menjadi sedang dan mulai menginjak pedal gas hingga melaju cukup kencang. Dari arah kirinya Delia melihat seseorang sedang memacu motor dengan kecepatan tinggi. Ia tidak pernah berpikir jika dirinya adalah objek yang akan dicelakai oleh motor besar itu.


Seketika Bima tersentak ketika pandangan matanya dan Delia beradu. Meski dalam jarak yang cukup jauh, Bima tahu jika tatapan gadis itu begitu teduh dan menenangkan. Sontak Bima menginjak pedal rem hingga sebuah bunyit decit menggema di jalanan yang sepi itu.


Namun nahas, dari arah berbeda sebuah mobil truk tiba-tiba datang ke arah Bima hingga membuat ia terlempar dari sepeda motornya. Dan sepeda motor besar itu tergelincir dan terseret hingga beberapa meter lalu...


"Akh!" Pekikan suara Delia membuat Bima sadar. Sepeda motor besarnya menabrak kaki Delia hingga membuat gadis itu tertimpa motor besarnya.


Bima segera berlari kearah gadis yang sedang menatapnya itu. Mata gadis itu mulai tertutup rapat diiringi gema suara Bima yang meminta tolong.


#tbc