
Arjuna sedang berselancar di dunia maya ketika Amy mengetuk pintu ruangannya. Tidak mendapat sahutan, Amy masuk begitu saja.
Amy menyilangkan tangan sambil menggeleng pelan melihat Arjuna yang malah asyik memainkan ponselnya. Terkadang pria itu malah senyam senyum tidak jelas.
"Hei, kami menggajimu bukan untuk bermain ponsel!" seru Amy dengan menggebrak meja.
"Astaga! Apa-apaan kau, Nona! Masuk sembarangan tanpa permisi!" kesal Arjuna.
"Kau yang tidak sopan! Aku sudah mengetuk pintu berkali-kali. Dasar playboy cap tikus!" balas Amy tak kalah sengit.
Arjuna memejamkan mata. Tidak ada gunanya berdebat dengan nona muda di depannya ini.
"Baiklah. Aku minta maaf. Ada apa kau mencariku?"
Amy melemparkan sebuah berkas ke atas meja. "Ini kontrak kerjasama baru milik Lucia. Coba kau periksa dan urus sisanya."
Arjuna mencoba mengulas senyumnya.
"Baiklah, Nona Amy."
Amy langsung berbalik dan melengos pergi dari ruangan Arjuna. Mata pria itu menatap lekukan tubuh Amy yang menggodanya. Bagian belakang tubuhnya sangatlah menggoda iman.
"Sial! Apa dia sengaja menggodaku?" Arjuna menelan salivanya dengan susah payah.
Sementara Amy terkekeh setelah mendengar gumaman dari Arjuna tadi.
"Hahaha, dasar playboy cap tikus! Baru ngelihat b0kong seksi saja sudah gelagapan. Bagaimana kalau melihat yang lain? Hahaha, aku jamin dia tidak akan bisa tidur tiga hari tiga malam. Rasakan tuh!"
Amy masih saja terkekeh tanpa menyadari kehadiran Delia di ruangannya.
"Amy, kamu kenapa? Apa ada yang lucu?"
"Eh? Hai, Del. Tidak! Tidak ada yang lucu kok. Kenapa, Del?"
"Hmm, begini. Aku mendapat tawaran kerjasama dengan pihak Lynx. Menurutmu bagaimana?"
"Lynx mengajakmu bekerja sama?" Amy meminta Delia untuk duduk dan menjelaskan detailnya.
"Iya, ini surat penawarannya." Delia menyerahkan sebuah surat yang baru diterimanya hari ini.
"Hmm, jadi si Cassandra itu menawarkan kerjasama desain denganmu? Apa kau yakin?"
Delia berdecak. "Maka dari itu aku bertanya padamu. Kenapa malah tanya balik?"
Amy berpikir sejenak. "Bukankah Cassandra adalah mantan tunangannya Bima? Kau tidak masalah dengan itu?"
Delia mengedikkan bahu. Jujur saja ia masih bingung untuk mengambil keputusan. "Ini kan urusan bisnis, My. Ini berbeda dengan urusan pribadi."
Amy menatap sahabatnya lekat. "Coba kau tanyakan dulu saja pada Bima. Kurasa dia juga perlu tahu masalah ini."
Delia memang tidak bisa menutupi apapun dari Amy. Sejak hari pertama dirinya bersama Bima, Delia sudah bercerita pada Amy. Dan ternyata sang sahabat mendukung hubungan Bima dan Delia. Meski Amy sempat mengagumi Bima, tapi ia bukan tipe orang yang obsesif untuk merebut milik orang lain.
"Tidak perlu, My. Mas Bima saat ini sedang sibuk dengan perusahaan. Kurasa kita bisa menangani ini sendiri."
"Kalau begitu terserah kau saja. Lucia adalah brand milikmu meski kau bekerja untuk Grup MT."
Delia memeluk Amy. "Terima kasih, My. Kalau begitu aku akan menghubungi mbak Cassie untuk memberitahu kabar ini."
Amy mengangguk. Ia hanya menatap tubuh Delia yang mulai menghilang dari pandangannya.
#
#
#
Amy pun merapikan penampilannya di depan cermin. Saat ini ia berada di toilet wanita.
Dering ponsel menggema di ruangan itu. Tentu saja itu adalah ponsel Amy.
"Halo, Pa."
"Iya-iya. Ini sebentar lagi aku keluar. Papa dimana?"
"Oh, okey. Bye, Pa."
Amy menatap penampilannya sekali lagi. "Tumben papa menyuruhku untuk berdandan yang cantik. Ada acara apa ya?" gumam Amy lalu keluar dari toilet.
Di depan toilet ia bertemu dengan Arjuna yang juga baru keluar dari toilet pria.
"Hah! Apa dunia ini terlalu sempit hingga aku terus bertemu denganmu?" gerutu Amy.
"Duniamu mungkin yang sempit. Duniaku tidak tuh!" sahut Arjuna.
Amy melengos pergi tanpa mempedulikan Arjuna lagi. Namun tiba-tiba Arjuna menarik tangan Amy dan membawanya pergi dari sana.
"Hei, lepaskan! Dasar tidak waras! Kau mau bawa aku kemana hah?!" Amy meronta tapi Arjuna tidak peduli.
Ketika tiba di sebuah lorong yang sepi, Arjuna merapatkan tubuh Amy ke dinding.
"Kau mau apa? Jangan macam-macam!" ucap Amy mulai panik.
"Rasakan pembalasanku, Nona Muda!" batin Arjuna.
"Dengar, aku mau bicara serius denganmu!" ucap Arjuna.
Amy mengerutkan dahi. "Bicara apa? Tinggal bicara saja kenapa harus membawaku kemari?"
"Aku ingin bicara serius!" tegas Arjuna dengan sorot mata tajam yang tidak dibuat-buat.
"Apa sih maunya dia?" Amy membatin.
"Kalau begitu katakan saja!" tekan Amy.
Amy begitu terkejut ketika Arjuna memajukan wajahnya dan menuju ke telinga Amy. Hembusan napas Arjuna terasa hangat di wajah Amy.
Tak mampu menolak, Amy pun memejamkan mata. Rasanya ia pasrah dengan apa yang akan Arjuna lakukan terhadapnya.
"S e r i u s..." bisik Arjuna tepat di telinga Amy.
Amy membuka matanya. "Apa itu barusan? Dia berkata apa tadi?"
Arjuna langsung pergi usai melakukan pembalasan terhadap Amy. Sementara Amy masih mematung tidak paham dengan maksud Arjuna.
Namun setelahnya ia sadar jika Arjuna memang berniat mengerjainya saja.
"Kyaaaa! Dasar playboy tengik! Playboy busuk! Apa maksudnya itu tadi? Dia bilang mau bicara serius dan dia hanya membisikkan kata 'serius'. ARGH! Sial! Aku benar-benar bodoh karena berhasil dikerjai olehnya!" Amy terus mengomel tak jelas dan mengumpati Arjuna.
Dari kejauhan Arjuna tersenyum puas karena sudah berhasil mengerjai Amy.
#tbc