Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Mengundurkan Diri



Bima merutuki kebodohannya yang hanya bisa menatap kepergian Delia dan ayahnya. Sebenarnya ia memang tak pernah mengira jika Delia akan datang menjemput ayahnya. Hanya saja sikap Bima pastinya akan dinilai buruk oleh Delia setelah insiden ini.


"Akh, sial!"


Ingin rasanya langsung menemui Delia dan ayahnya, tapi pastinya Ciputra masih diselimuti emosi dan kebencian terhadap dirinya.


"Sebaiknya aku biarkan dulu hingga situasi tenang." Bima berbalik badan dan kembali ke ruangan kerjanya.


Tiba di depan ruangannya, Bima melihat Iren berlari kearahnya.


"Tuan Bima!" seru Iren dengan napas terengah.


"Ada apa, Iren?"


"Tuan, Tuan Danu...?"


Mata Bima membola. "Ada apa dengan Papa?"


"Tuan Danu tidak sadarkan diri, Tuan."


Tanpa pikir panjang Bima berjalan cepat ke ruangan ayahnya. Benar saja, Bima melihat tubuh Danu terbaring di sofa dengan mata terpejam.


"Papa! Bangun, Pa! Papa!" Bima menoleh kearah Iren.


"Cepat panggilkan ambulans!" teriak Bima panik.


#


#


#


Delia dan Ciputra tiba di rumah. Kini mereka ditambah Retno sedang duduk bersama di ruang tamu. Ciputra menatap putrinya yang terus menundukkan kepala.


"Kamu sudah lihat sendiri kan? Bagaimana perlakuan mereka terhadap ayah?" tanya Ciputra. Ia ingin membuka mata Delia tentang siapa keluarga Antara sebenarnya.


Retno harap-harap cemas melihat wajah penuh amarah suaminya.


"Ayah... Maafkan Ibu karena sudah menghubungi Delia..."


Ciputra menatap istrinya sekilas, lalu kembali menatap Delia.


"Bahkan pria yang katanya mencintaimu itu hanya terdiam ketika ayah diseret keluar seperti hewan! Harusnya sekarang kamu bisa mengambil keputusan. Kamu harus segera mengakhiri hubunganmu dengannya!" tegas Ciputra.


Delia mendongakkan kepala dan menatap kedua orang tuanya.


"Ayah... Maafkan Delia karena sudah membuat ayah dipermalukan seperti itu. Aku juga kecewa dengan sikap mas Bima yang tidak melakukan apapun untuk membela Ayah. Tapi... Kumohon biarkan aku berpikir sendiri tentang masa depanku. Aku sudah dewasa, Ayah, Ibu. Aku bisa menentukan jalan hidupku sendiri."


Ciputra menghela napas. Ia sadar jika putrinya memang keras kepala seperti dirinya.


"Baiklah! Pikirkan semuanya dengan baik!"


Delia pamit undur diri dari rumah orang tuanya. Berkali-kali ia mengatur napasnya yang terasa berat.


Ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari Amy.


"Halo, My."


"Del, kamu ada dimana?"


"Aku akan kembali ke kantor."


"Oh, baiklah. Tuan Garcia sudah pergi. Kita akan jadwalkan ulang untuk bertemu dengannya lagi."


"Hmm, baiklah. Terima kasih, My."


Delia menghela napas untuk kesekian kalinya. Lalu ia mulai melajukan mobilnya menuju kantor.


#


#


#


Keesokan harinya, Delia berangkat ke kantor dengan hati yang tak tenang. Entah apa yang akan menimpanya hari ini.


Saat melintasi lobi kantor, Delia melihat berita di televisi mengenai Antara Grup. Delia syok saat mengetahui jika Danu Antara kini sedang dirawat di rumah sakit.


Delia memegangi dadanya yang mulai sesak. "Ya Tuhan! Apa ini karena kedatangan ayah kemarin menemui Tuan Danu?"


Delia tak ingin mendengar berita itu lebih lama lagi. Ia segera berjalan menuju ke ruangannya. Ternyata dari kejauhan, Amy sudah menunggunya.


"Del, apapun yang akan papa katakan padamu, tolong jangan terpengaruh ya!" Amy memegangi kedua bahu Delia.


"Ada apa ini, Amy? Apa terjadi sesuatu?" tanya Delia bingung.


"Nona Amy, Nona Delia. Tuan Erko memanggil kalian ke ruangannya!" Sekretaris Erko menghampiri Delia dan Amy.


Delia saling pandang dengan Amy.


"Del, kau tenang saja! Ada aku disini!"


Delia merasa ada yang tidak beres disini. Dan semua memang terbukti ketika Delia tiba di ruangan Erko.


"Kamu sudah membuat nama baik perusahaan menjadi tercoreng, Delia. Bagaimana bisa kamu meninggalkan meeting yang penting kemarin karena urusan pribadi yang tidak jelas!"


"Pa, Delia mendapa telepon dari..."


Erko langsung mengangkat tangannya pertanda jika Amy harus berhenti bicara.


"Apa kepergianmu lebih penting dari meeting kemarin? Dengan susah payah aku mengatur pertemuan dengan Tuan Garcia karena aku tahu tekadmu sangat besar untuk bisa go-internasional. Tapi kau sudah mengacaukan semuanya!" Erko terlihat sangat marah saat ini.


"Pa, kita kan masih bisa mengatur ulang pertemuan dengan Tuan Garcia." Amy berusaha membela Delia.


"Tuan Garcia sudah kembali ke negaranya. Sudah tidak ada kesempatan lagi untukmu menggapai mimpimu, Delia."


"Pa!"


"Cukup, Amy! Papa sedang bicara dengan Delia, bukan denganmu!"


Erko menatap tajam Delia. "Jangan karena kamu berteman dengan putriku lalu kau bisa seenaknya melakukan hal yang menurutmu benar. Aku tidak bisa lagi mentolerir itu, Delia."


"Papa!" protes Amy dengan suara lebih keras.


"Sekarang pilihan ada ditanganmu, Delia. Kau memilih untuk dipecat atau mengundurkan diri?"


Amy melotot kearah ayahnya. Sungguh ia tak menyangka jika ayahnya akan sekejam ini pada Delia.


"Pa, tidak bisakah Delia diberi kesempatan lagi? Delia adalah desainer Lucia, mana mungkin Lucia berjalan tanpa dirinya?" Amy mulai menurunkan egonya dan memohon.


"Kita bicara bisnis, Amy. Apa kau masih tidak paham juga?"


"Baiklah!" Delia mengeluarkan suaranya.


Amy dan Erko menatap kearahnya.


"Saya akan mengundurkan diri dari Grup MT."


"Apa?! Delia, jangan gila! Kau tidak boleh pergi dari sini!"


Delia mengulas senyumnya. "Ini adalah murni kesalahanku, My. Aku akan menanggung akibat dari perbuatanku sendiri. Kalau begitud saya permisi, Tuan. Terima kasih karena sudah memberikan saya kesempatan bergabung dengan Grup MT."


Delia membungkuk hormat kemudian keluar dari ruangan Erko.


"Delia!" panggil Amy. Tapi Delia tetap melangkah pergi tanpa mempedulikan Amy.


Hari itu juga Delia membereskan barang-barangnya yang ada di ruangan yang selama tiga tahun ini dihuni olehnya. Hatinya amat sesak karena harus meninggalkan ruangan itu. Semua kenangan indah terputar diotaknya.


Dengan cepat Delia menghapus air matanya. Ia harus tegar menghadapi hari ini.


#


#


#


Pagi hari ini Delia terbangun dari tidur panjangnya. Sejak memutuskan untuk mengundurkan diri dari Grup MT, Delia langsung membereskan barang di apartemennya juga. Rasanya ia juga harus pindah dari apartemen yang diberikan Amy ini. Meski ada sebagian uang yang Delia gunakan, tapi tetap saja lebih banyak uang Amy yang membeli apartemen ini untuk dirinya.


Delia duduk di tepi ranjang. Malam tadi adalah malam terakhir dirinya tidur di kasur empuk yang selama ini menemaninya.


Delia menatap nanar barang-barangnya yang sudah tertata rapi di koper dan kardus. Tiba-tiba saja Delia teringat dengan Bima.


Sejak insiden kemarin, mereka sama sekali tak berkomunikasi. Delia meraih ponselnya dan menatap nama Bima di layar ponselnya.


"Jarak yang berusaha kutepis akhirnya semakin merekat. Tapi kini semua seakan kembali merenggang. Apakah aku masih bisa menggapaimu? Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk bisa mengulang masa indah itu?"


Delia hanya menatap nama itu di layar ponselnya tanpa melakukan apapun.


Di sisi lain, Bima yang terjaga di rumah sakit juga sedang memikirkan Delia. Bima membasuh wajahnya di wastafel. Ia menatap pantulan dirinya dicermin.


"Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku berada di tepian jurang dan tak tahu arah mana yang bisa menyelamatkanku. Aku ingin menggapaimu, meraih impian bersamamu. Tapi kenapa langkahku terasa berat? Tolong berikan aku jawaban, Delia..."