
Satu minggu kemudian,
Pria muda usia 23 tahunan turun dari burung besi raksasa yang membawanya ke tanah air. Ia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, Bang. Aku sudah tiba di Jakarta. Abang sedang di kantor?"
"Iya, aku sedang di kantor. Aku sudah mengutus Allan untuk menjemputmu. Kamu bisa tinggal di apartemenku semaumu. Aku sudah menyiapkan semuanya."
"Oke, Bang. Terima kasih banyak."
Panggilan berakhir. Terlihat sosok Allan yang membungkuk hormat.
"Tuan Reinhard, Tuan Bima meminta saya untuk mengantar Tuan ke apartemen."
"Iya, Allan. Terima kasih." Pria muda bernama Reinhard itu menepuk pelan bahu Allan. Kemudian mereka berjalan bersama menuju parkiran.
Di tempat berbeda, Delia sedang duduk berhadapan dengan Amy di sebuah kafe. Mereka berbincang ringan disana.
"Bima semakin sibuk setelah ayahnya meninggal. Kalian masih baik-baik saja kan?" tanya Amy.
Delia mengulas senyumnya. "Iya, kami baik-baik saja. Aku mengerti dengan kondisi Mas Bima saat ini."
Amy menyeruput jus di depannya sedangkan Delia sibuk berselancar di dunia maya dengan gawainya.
"My! Lihat ini!" Tiba-tiba Delia berseru.
"Apaan sih?"
Delia memperlihatkan ponselnya. "Brand Mrs. Zie akan launching di Indonesia! Menurut kabar jika perancangnya berasal dari Indonesia dan akan kembali kemari. Wah, ini adalah kabar yang bagus!"
"Coba sini aku lihat!" Amy meminta ponsel Delia.
Amy mengerutkan kening melihat desain yang brand Mrs. Zie yang dimaksud Delia tadi.
"Hah? Desain begini kamu bilang bagus?" Amy mengembalikan ponsel Delia.
"Ini tuh simpel, My. Aku suka karya-karya dia. Dan aku akan sangat senang jika bisa bekerja sama dengannya."
"Monochrome begitu apanya yang bagus sih, Del?"
"Ck! Kamu sudah berapa lama di industri ini? Ini adalah desain simple yang elegan, My."
Amy memutar bola matanya malas. "Bagiku desain Lucia yang terbaik."
"Hmm, kamu tuh!" Delia melanjutkan membaca berita yang sedang trending di jagat maya.
Matanya kembali berbinar ketika membaca jika brand Mrs. Zie akan membuka cabang di Jakarta dan membuka lowongan pekerjaan.
"Aku akan melamar kerja disini, My." Delia kembali bercerita.
"Kamu serius? Memangnya kamu tahu desainernya pria atau perempuan?"
"Tentu saja perempuan, My. Brand-nya saja Mrs. Zie, tentu saja dia perempuan."
Amy mencebikkan bibir. "Bisa aja kan desainernya pria."
Sebenarnya Amy sedikit cemburu karena Delia akan bekerja di tempat lain dan bukan bersama dirinya.
#
#
#
"Kita harus adakan rapat pemegang saham! Bagaimana pun juga aku masih punya hak di perusahaan ini!" seru Dina dengan lantang ketika sedang rapat bersama Bima dan beberapa petinggi perusahaan.
Semenjak Danu meninggal, Dina sering bertandang ke kantor untuk sekedar mengecek kondisi perusahaan. Dina tahu jika Bima tidak memiliki basic bisnis karena Bima seorang pengacara.
Kini Dina mulai berani menyuarakan isi hatinya. Bukan bermaksud melengserkan kekuasaan keponakannya, tapi ia hanya ingin yang menjadi pemimpin Antara Grup sangatlah kompeten dalam pekerjaannya.
"Maaf ya, Bim. Bukannya Tante meragukan kapasitasmu, tapi kamu memang tidak berkecimpung di dunia bisnis ini selama hidupmu. Benar kan?"
Bima tersenyum. "Benar. Aku memilih menjadi pengacara dan meninggalkan perusahaan. Tapi karena sekarang kita kehilangan presdir, maka harus diadakan pergantian. Aku siap jika harus diuji."
Dina balik tersenyum. "Baiklah. Kita akan lihat siapa yang akan dipilih oleh dewan pemegang saham. Asal kamu tahu, selama Tante merantau Tante memiliki banyak bisnis."
Bima menelan ludahnya. Meski ia pesimis, tapi ia akan tetap berusaha agar menjadi layak.
#
#
#
"APA?! Bagaimana bisa Dina melakukan hal seperti ini? Jadi benar kan kedatangannya kesini hanya untuk mengambil perusahaan?" Luze nampak berapi-api mencela Dina yang dengan terang-terangan menginginkan Antara Grup.
Lily hanya diam. Selama ini mungkin saja dirinya sudah salah menilai putri dan menantunya. Lily menilai jika Luze malah lebih berambisi dibandingkan Dina.
"Mama tidak akan biarkan itu terjadi. Kamu tenang saja ya!"
"Ma, aku bisa mengurus ini sendiri. Mama tidak perlu khawatir."
"Apa yang Bima katakan itu benar, Luze. Jika Bima memang pantas menjadi presdir, pasti dewan pemegang saham akan memilihnya."
"Ibu! Jadi ibu lebih membela Dina? Apa Ibu lupa apa yang sudah ia lakukan hingga membuat keluarga ini malu?"
"Baik, Oma." Bima beranjak dari duduknya dan memapah Lily menuju kamarnya.
Setibanya di kamar, Lily merebahkan tubuhnya. Bima menyelimuti tubuh Lily.
"Oma istirahatlah!"
Lily mengangguk. "Nak! Oma tahu jika Tantemu tidak sepenuhnya salah."
Bima terdiam. Ia sendiri masih bingung dengan apa yang terjadi dengan ibu dan tantenya di masa lalu.
Bima hanya mengangguk lalu tersenyum. Bima keluar dari kamar Lily dan memilih pergi dari rumah itu.
Bima akan ke apartemennya dan menemui Reinhard. Pria muda itu adalah saudara jauh keluarga Antara. Reinhard sudah seperti adik kandung Bima.
Tiba di apartemen Bima disambut oleh Reinhard.
"Wah, Abang datang? Kupikir abang tidak akan datang malam ini."
Bima berpelukan sejenak dengan Rein.
"Bagaimana kabarmu? Kenapa tiba-tiba ingin kembali ke Indonesia? Karirmu di luar negeri sangatlah bagus."
Rein mengedikkan bahunya. "Entahlah. Mungkin aku hanya ingin suasana baru. Berada terus disana hanya akan mengingatkanku pada Zie."
Bima dan Rein duduk di sofa ruang tamu.
"Oh ya, bagaimana gedung yang akan menjadi tempat kerjaku? Apa sudah selesai di renovasi?"
Bima mengangguk. "Sudah hampir selesai. Kamu bisa melihatnya jika mau."
Rein manggut-manggut. "Berita mengenai kedatanganku sudah santer terdengar. Beberapa media online juga sudah merilis kabar jika aku akan mencari karyawan baru disini."
"Lalu?"
Rein tersenyum. "Dua hari lagi aku akan mulai melakukan seleksi."
Tiba-tiba saja Bima teringat akan Delia. "Rein, jika nanti ada pelamar yang bernama Dewi Mulia Agung, kamu harus menerimanya ya!"
Rein mengerutkan kening. "Haish! Mana bisa begitu. Dia harus mengikuti tahap seleksi dengan adil dong!"
Bima tertawa. "Tentu saja! Aku hanya merekomendasikannya saja. Dia juga seorang desainer."
Rein menatap Bima dengan curiga. "Siapa dia? Apa Abang mengenalnya? Jangan-jangan..."
Bima segera menepuk bahu Rein. "Sudah ya! Aku harus pergi! Sebaiknya kamu istirahat. Pasti lelah karena baru tiba disini." Bima beranjak dari duduknya dan berlalu.
"Hei, Bang! Siapa itu Dewi? Bang!"
Bima tak menggubris Rein dan berjalan membelakangi pria itu dengan melambaikan tangan.
Bima menghubungi Delia agar bisa menemui dirinya di taman dekat rumah Delia. Bima sangat merindukan Delia. Seminggu ini dirinya sangat sibuk mengurus perusahaan hingga melupakan Delia.
Beruntung Ciputra dan Retno sedang pergi ke luar kota hingga bisa membuat Bima datang ke rumah Delia.
"Mas? Sudah datang?"
Bima langsung memeluk Delia saat Delia membuka pintu.
"Mas! Jangan begini! Nanti dilihat tetangga bagaimana?"
Bima segera melepaa pelukannya. Bima masuk ke dalam rumah Delia. Ia langsung mendudukkan dirinya di sofa.
"Mas mau minum apa?"
Bima menggeleng dan malah menepuk sofa di sampingnya. Memberi tanda jika Delia harus duduk di sebelahnya.
"Ada apa sih, Mas?"
"Tidak ada. Aku hanya sangat merindukanmu."
Delia menatap wajah Bima yang terlihat lelah.
"Kamu pasti capek ya karena harus mengurus perusahaan."
Bima mengangguk. Secara spontan ia merebahkan kepalanya di pangkuan Delia. Ia memejamkan mata.
Delia tersenyum. Ia mengusap rambut Bima dengan lembut.
"Berjanjilah kamu tidak akan meninggalkan aku, Delia..."
Delia tersenyum. Ia terus melanjutkan usapannya di kepala Bima.
"Kenapa harus berjanji? Kita akan menjalani apa yang harus kita jalani."
Bima membuka mata dan menatap Delia lekat.
"Benar! Kita tidak perlu membuat janji. Teruslah berada di sisiku apapun yang terjadi. Mengerti? Ini perintah! Dan aku tidak mau dibantah."
Delia tertawa kecil. Ia membungkukkan tubuhnya dan merapatkan wajahnya mendekati Bima. Delia mengecup bibir Bima sekilas.
"Kita akan menghadapi kehidupan baru dalam hubungan kita. Aku akan berusaha agar bisa layak di mata ibumu."
"Aku juga," balas Bima.