Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Siasat Iren



Hari ini Delia dan Bima sudah sepakat ingin mengunjungi makam Danu bersama-sama. Delia sengaja menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat karena tak ingin terlambat.


Pukul tiga sore Delia keluar dari kantor mengendarai mobilnya. Delia berhenti di toko bunga untuk membeli bunga terlebih dahulu untuk ia letakkan di makam Danu.


Tiba di area pemakaman, Delia menunggu kedatangan Bima. Karena mereka sudah sepakat akan masuk ke makam bersama.


Di lain tempat, Bima baru saja keluar dari ruangannya. Bima bertemu Iren yang juga ingin pergi.


"Kamu mau pulang, Ren?" tanya Bima.


"Ah, iya Tuan. Saya akan ke rumah sakit. Kondisi Bima mulai tidak stabil lagi." Iren menunjukkan wajah sendunya untuk menarik simpati Bima.


"Kalau begitu ikut saja denganku. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit."


"Tidak, Tuan. Terima kasih. Saya naik taksi saja."


"Jangan menolak. Aku hanya ingin membantumu saja."


Bima merasa iba dengan kondisi Iren yang seorang ibu tunggal.


"Baiklah, saya ikut dengan Tuan." Senyuman tipis menyeringai di bibir Iren.


Bima dan Iren keluar dari kantor menaiki mobil Bima. Di tengah perjalanan, ponsel Bima mendapat panggilan telepon.


Iren melirik sekilas dan melihat nama 'Delia Kekasihku' di layar tab mobil Bima.


Bima segera memakai earphone di telinganya. "Halo, Del."


"Mas, kamu dimana?"


"Aku sedang dalam perjalanan. Kamu sudah sampai?"


"Iya, Mas."


"Ya sudah. Tunggu sebentar ya!"


Delia mematikan sambungan telepon.


"Hmm, Iren. Tidak apa kan kalau aku mengantarmu sampai lobi depan saja?"


"Ah, tidak apa Tuan. Saya sangat berterimakasih karena Tuan sudah membantu saya."


Tiba di depan lobi rumah sakit, Iren turun dari dalam mobil. Sekali lagi ia mengucapkan terima kasih pada Bima.


Namun tiba-tiba merasakan tubuhnya ingin ambruk. Bima yang melihat itu segera menolong Iren.


"Kamu baik-baik saja, Ren?" Bima memegangi kedua lengan Iren.


Iren memelas. "Saya sedang tidak enak badan, Tuan. Mungkin karena setiap hari saya bolak balik ke rumah sakit. Apa Tuan bisa antarkan saya ke dalam?"


Bima berpikir sejenak. Ia ingat jika Delia sedang menunggunya.


"Hmm, ayo aku antar. Sebaiknya kamu periksakan diri kamu juga. Kamu harus jaga kondisi tubuh kamu. Karena ada Bima yang membutuhkanmu."


"Iya, Tuan." Iren tersenyum senang karena Bima telah berhasil masuk ke dalam perangkapnya.


Di sisi lain, Delia masih menanti kehadiran Bima. Delia kembali menghubungi Bima tapi tidak ada jawaban dari Bima.


"Ck, kemana sih dia? Jarak dari kantornya kesini kan tidak selama ini." Delia mulai kesal sendiri.


Delia memutuskan masuk sendiri ke dalam area pemakaman dan meninggalkan ponselnya di mobil.


Kembali pada Bima, ia mengantar Iren hingga ke depan ruang rawat Bima kecil.


"Apa Tuan ingin melihatnya?" tanya Iren penuh harap.


"Eh?" Bima ragu. Karena dirinya memiliki janji dengan Delia.


"Bima pasti sangat senang jika Tuan bersedia menjenguknya." Iren berusaha membujuk Bima menggunakan nama putranya.


Bujukan Iren kembali berhasil. Bima segera melangkah menuju ke sebuah ruangan yang tertutup sekat. Di sana Bima melihat tubuh kecil yang terbaring disana.


Sebelum masuk ke dalam ruangan Bima kecil, Bima meraih ponselnya untuk menghubungi Delia. Namun sayangnya tak ada jawaban dari Delia.


Bima memutuskan menghubungi Rein dan meminta Rein menemui Delia di tempat pemakaman ayahnya. Bima merasa bersalah pada Delia, tapi ia juga tak bisa pergi begitu saja dari rumah sakit.


"Halo, Bima."


"Halo, Om. Om siapa?"


"Om teman mama kamu, Nak."


Bima mengusap lembut puncak kepala Bima kecil. Wajah pucatnya membuat Bima iba.


"Iren pasti kesulitan membesarkan anak sendirian seperti ini," batinnya.


Dari kejauhan Iren tersenyum penuh kemenangan. Ia yakin perlahan bisa mendapatkan hati Bima melalui putranya.


Sementara itu, Delia menatap nisan bertuliskan Danu Antara. Delia berdoa dalam hati kemudian kembali keluar.


Delia kaget melihat Rein ada di depan area pemakaman.


"Kamu? Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Delia dengan nada malas. Rupanya ia masih kesal dengan Bima.


"Bang Bima menyuruhku kemari untuk menjemputmu. Aku akan antar kamu pulang."


"Tidak perlu! Aku bawa mobil sendiri."


"Sudah, jangan membantah! Kemarikan kuncinya, biar aku yang menyetir. Ayo masuk!" Rein merebut kunci mobil dari tangan Delia.


Dengan wajah yang masih kesal Delia masuk ke dalam mobil. Rein membawa Delia ke suatu tempat dulu sebelum pulang.


"Kenapa kesini?" tanya Delia.


"Iya, aku lapar. Kakak temani aku makan ya!" pinta Rein dengan wajah dibuay seimut mungkin.


Delia memutar bola mata malas. "Ya ya, baiklah."


Delia dan Rein duduk saling berhadapan.


"Kakak mau pesan apa?"


"Hmm, ini saja. Tenderloin steak."


"Kalau begitu samakan saja!" ucap Rein pada pelayan.


Delia memeriksa ponselnya. Ada panggilan tak terjawab dari Bima dan sebuah pesan. Bima berkata jika dirinya sedang ada urusan yang tak bisa ditinggal.


"Huft!" Delia menghela napas.


"Sudah berapa kakak berhubungan dengan Bang Bima?"


"Eh?"


"Sudahlah! Aku tahu kalian berusaha menyembunyikan hubungan kalian, tapi kalian jangan sungkan padaku. Aku bisa dipercaya kok!"


Sungguh saat ini Delia tidak ingin membahas soal hubungannya dan Bima.


"Bisa tidak jangan bahas hal ini?"


Rein mengangkat tangan. "Baiklah."


"Oh ya, ada satu hal yang ingin aku ketahui tentang brand Mrs. Zie."


Rein mengangguk. "Soal apa?"


"Kenapa kau menamakan brandnya dengan nama wanita?"


"Karena ini memang milik Zie."


Tiba-tiba wajah Rein berubah sendu.


"Jadi, Zie adalah nama orang?"


Rein mengangguk. "Dia adalah orang yang dekat denganku. Aku tidak mengganti namanya meski dia sudah tiada, karena ini adalah impiannya."


Delia menjadi tak enak hati. "Maaf ya! Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih."


"Tidak apa, kakak berhak tahu soal ini. Karena aku menganggap kakak juga penting dalam hidupku..."