Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Dukungan Sahabat



Hari-hari Bima mulai berjalan seperti biasa. Meski rasa kecewa masih sering menghantui hatinya, tapi Bima harus tetap melangkah ke depan. Toh bila berjodoh dengan Delia, mereka akan tetap bersatu bagaimanapun caranya.


Ponsel Bima bergetar. Sebuah pesan dari Arjuna.


"Bim, kumpul yuk di klub. Aku merindukanmu, Tuan CEO."


Pesan dari Arjuna membuat Bima tersenyum. Ternyata Arjuna memang sengaja mengajak Bima bertemu.


"Bagaimana? Apa Bima sudah menjawab?" tanya Amy yang sedang bersama Arjuna.


Kini mereka sudah menjalin hubungan meski masih disembunyikan dari publik. Mereka ingin tetap menjaga profesionalitas pekerjaan jika berada di kantor.


"Belum, sepertinya dia sedang sibuk. Kau tahu kan, Bima sekarang pemimpin perusahaan. Dia tidak bisa bersantai seperti dulu lagi."


Amy mengangguk paham.


"Lalu bagaimana dengan Delia? Apa kau sudah bicara dengannya?"


Amy menghela napas. "Kau tahu seperti apa dia kan? Dia terlalu keras kepala. Tapi, aku yakin jika Delia masih mencintai Bima. Kita harus bisa menyatukan mereka kembali." Amy bersemangat untuk mendukung hubungan Delia dan Bima.


"Kau terus saja bujuk dia dengan sedikit memanas-manasi dirinya. Aku yakin dia akan luluh." Amy manggut-manggut tanda mengerti.


#


#


#


Malam itu, Bima menemui Arjuna di klub langganan mereka. Bima mengernyit karena tak seperti biasanya. Arjuna sama sekali tidak ditemani satu wanita pun.


Tentu saja Amy sudah mewanti-wanti Arjuna untuk jangan berhubungan dengan wanita manapun selain dirinya. Dan sepertinya Arjuna serius dengan ucapannya yang ingin berubah menjadi pria yang lebih baik.


"Tumben kau hanya sendiri disini."


"Sialan! Memang kenapa kalau aku sendiri? Sekarang kau sudah datang kan?" Arjuna memukul lengan Bima.


"Hahaha, tidak apa. Hanya saja tidak seperti dirimu saja."


"Aku sudah tobat, Bung. Aku ingin menjadi pria yang baik sekarang."


Bima mencibir. "Yakin?"


"Yakin lah!"


"Wanita mana yang berhasil membuatmu berubah begini?"


Arjuna tersenyum penuh arti. Pastinya ia tak ingin menyembuntikan apapun dari sahabatnya. Sekarang Arjuna hanya memiliki Bima sebagai teman dekat. Daniel sudah semakin sibuk dengan kehamilan Selina.


"Sahabat dari wanita yang kau cintai," bisik Arjuna.


Bima termenung membisu. Masih berpikir tentang hal yang dikatakan Arjuna barusan.


"Maksudmu..." Bima tak melanjutkan kalimatnya.


"Tepat sekali!" Arjuna berseru.


Bima berdecak kesal. Bahkan ia belum mengatakan lanjutan kalimatnya.


"Iya, kau benar, Bim. Aku dan Amy kini memiliki hubungan yang lebih dari sekedar rekan kerja."


Bima menggeleng. "Jangan sampai kau mempermainkan Amy, Arjun. Atau Delia akan sangat marah padamu. Begitu juga ayahnya dan juga aku!" Bima menepuk dadanya.


"Jangan khawatir. Aku sudah mulai meninggalkan kebiasaan lamaku. Kau lihat sendiri kan, aku tidak ditemani wanita penghibur malam ini."


Bima mengangguk. "Ya baiklah. Aku percaya. Tapi, kau harus benar-benar berubah. Oke?"


"Siap, Tuan CEO!" Arjuna memberi hormat.


"Haish, kau ini!" Bima menyenggol lengan Arjuna. Ia mengambil gelas dan meneguk segelas wine hingga tandas.


"Lantas bagaimana hubunganmu dengan Delia?"


Bima tersedak mendengar pertanyaan Arjuna.


"Kalem, Bro. Santai saja!" Arjuna menepuk pelan punggung Bima.


Bima menghela napas setelahnya.


"Aku tahu kalian saling mencintai. Sebaiknya kau perjuangkan lagi Delia."


Bima kembali membisu. Inginnya memang seperti yang Arjuna katakan. Tapi untuk saat ini, Bima sedang memberi Delia waktu untuk berpikir. Masa lalu mereka tidak bisa dikatakan baik. Karena Bima yang lebih dulu menoreh luka pada Delia.


Kecelakaan yang dialami Delia saat itu membuat keluarga Delia menjauhi keluarga Bima. Bagaimana dirinya akan memulai hubungan lagi dengan Delia. Ditambah keluarga Bima yang belum tentu bisa menerima Delia karena masa lalu Delia bersama Bisma.


Bima mengusap wajahnya kasar.


"Bim, are you okay?" Arjuna merasa bersalah karena sudah membuat Bima bersedih.


"Yeah, I'm okay."


Bima menatap Arjuna. "Jika kami memang ditakdirkan bersama, aku yakin Delia akan kembali padaku, bagaimanapun caranya."


Arjuna tidak berani membahas soal Delia lagi. Ia tak enak hati karena membuat suasana menjadi kurang nyaman untuk Bima.


#


#


#


Sudah satu bulan Delia tidak berkomunikasi dengan Bima. Bahkan melihat sosoknya pun tidak.


Delia masih menganggap semuanya berjalan normal. Kini hubungannya dengan kedua orang tuanya juga sudah mencair.


Delia sering berkunjung ke rumah orang tuanya. Baik Ciputra maupun Retno tidak ada yang memaksakan kehendak mereka lagi pada Delia. Mereka membiarkan Delia untuk hidup sesuai keinginannya.


Delia lebih banyak tersenyum sekarang. Di kantor dirinya juga lebih bisa membuka diri dengan bercanda. Padahal dulu Delia selalu membatasi diri dalam pergaulan.


"Del..." panggil Amy dengan menepuk bahu Delia.


"Hmm." Delia yang sedang memilih bahan untuk rancangan pakaiannya musim nanti hanya bisa berdeham.


"Kau baik-baik saja?"


Delia mendadak diam. Perubahan sikap Delia yang signifikan membuat Amy cukup khawatir.


"Del... Aku mengenalmu sejak dulu. Kau tidak akan bersikap begini jika tidak ada apa-apa. Apa ini ... tentang Bima?"


Delia masih bungkam. Sudah lama ia memendam semuanya sendiri. Delia mengakui jika selama ini dirinya membohongi diri sendiri.


"Aku tidak baik-baik saja, My. Awalnya kupikir aku akan baik-baik saja. Tapi ternyata tidak! Aku tidak baik-baik saja!" Tangis Delia pecah. Sudah saatnya ia mengakui perasaannya pada Bima.


Meski masa lalu mereka tidak semulus jalan tol, tapi Delia ingin memperbaiki semuanya. Amy memeluk Delia untuk menenangkannya.


"Jika kau merasa Bima adalah yang terbaik untuk hatimu, maka akuilah. Aku yakin Bima juga sedang menunggu kabar darimu."


#


#


#


Pukul tujuh malam, Bima keluar dari gedung Antara Grup. Langkahnya yang akan memasuki mobil terhenti karena ponselnya bergetar.


Mata Bima membola sempurna. Mencoba meyakinkan diri jika apa yang dilihatnya tidaklah salah. Nama Delia tertera di layar ponselnya.


"Halo..." Dengan menahan gemuruh di hatinya Bima berusaha tetap tenang.


"Mas Bima, bisa kita bertemu?"


Satu kalimat yang membuat hati Bima seakan melayang ke angkasa. Ia masih tak percaya jika Delia meneleponnya, bahkan mengajaknya bertemu.


"Bisa! Kapan?"


"Malam ini di taman kota."


Bibir Bima melengkung membentuk sebuah senyuman. Rupanya takdir masih berpihak kepadanya dan Delia. Bima tak ingin menyiakan waktu lebih lama lagi. Ia segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kecepatan cukup tinggi.