Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Permintaan Maaf



Daniel keluar dari mobilnya dan berjalan menuju ke gedung firma hukum Hazar. Setelah tiga hari tidak menampakkan batang hidungnya, kini Daniel bersiap menerima banyak pertanyaan dari para wartawan yang sudah menunggu di depan kantornya.


Para security langsung sigap menghalau para wartawan yang ingin menanyai Daniel. Tanpa menjawab satu pertanyaan pun, Daniel masuk ke dalam kantor.


Daniel tahu jika gagalnya pernikahannya dengan Delia akan menjadi pertanyaan banyak pihak. Apalagi kini dirinya sudah menikah dengan Selina meski karena terpaksa.


Daniel menemui Arjuna dan meminta bantuan darinya untuk mengurus para wartawan itu. Tentu saja Arjuna sudah menyiapkan hal ini. Mengingat keluarga Hazar adalah keluarga yang cukup terpandang di kota ini.


Tidak sampai disitu, ternyata para wartawan juga datang ke tempat kerja Delia yang notabene mantan calon istri Daniel. Delia yang baru tiba di kantor dikejutkan dengan banyaknya orang berkumpul di lobi. Beruntung Delia mengendarai mobilnya sendiri dan langsung masuk ke parkiran basement.


Delia langsung menuju ke ruangannya dan disambut oleh Amy.


"Delia! Akhirnya kamu datang juga!"


"Ada apa, Amy? Kenapa ada banyak wartawan di luar gedung?" Delia masih saja tidak paham.


"Kamu masih belum paham juga? Mereka mencarimu!"


"Eh? Mencariku? Untuk apa?" Delia langsung menepuk jidatnya sendiri. "Pernikahanku dengan mas Daniel?"


Amy mengangguk. "Ayo sekarang ikut denganku! Papa menunggu kita di ruangannya."


"Eh?!" Delia makin bingung karena bosnya kini memanggil dirinya. Ia hanya bisa pasrah ketika Amy menarik tangannya menuju ke ruangan Erko.


Tiba disana, Erko menatap kedua sahabat ini.


"Maafkan saya, Tuan. Karena saya...kantor kita jadi didatangi banyak wartawan." Delia menundukkan kepala.


"Papa, ini bukan salah Delia. Lagi pula Delia gagal menikah karena Daniel yang mengkhianatinya. Ini bukan keinginan Delia!" Amy membela sahabatnya.


"Hah! Baiklah! Kalian urus saja dengan Bima," ucap Erko sambil menghela napas.


"Umm, Bima sedang cuti, Pa."


"Kalau begitu suruh temannya saja yang mengurus. Siapa namanya kemarin?"


"Arjuna maksud papa?" tanya Amy.


Erko hanya mengangguk dan menyuruh mereka berdua keluar. Delia bernapas lega karena Erko tidak menghukumnya. Dan memang Delia tidak bersalah disini.


Amy dan Delia berjalan kembali ke ruangan mereka.


"Hmm, My. Sebenarnya tuan Bima kemana?" Akhirnya Delia bertanya juga tentang Bima.


Amy mengedikkan bahunya. "Aku tidak tahu. Bahkan Arjuna pun tidak tahu kemana perginya Bima. Mungkin saja sedang liburan bersama tunangannya."


Jawaban Amy membuat Delia terdiam. Delia baru ingat jika Bima sudah memiliki tunangan. Tidak seharusnya Delia mengkhawatirkan kondisi Bima. Bisa saja kan apa yang dikatakan oleh Amy itu benar.


#


#


#


Malam harinya, Delia keluar dari kantor. Sudah tidak ada lagi wartawan yang mencari dirinya. Rupanya Arjuna sudah mengurus semuanya.


Delia menuju ke parkiran dan membuka pintu mobilnya. Baru saja duduk, Delia dikejutkan dengan panggilan telepon dari sang ayah.


"Iya, Ayah."


"Delia, datanglah ke rumah. Ada nak Daniel disini."


Delia mengerutkan dahi. Untuk apa Daniel datang ke rumah orang tuanya?


Tak ingin banyak bertanya, Delia segera mengiyakan permintaan sang ayah. Delia melajukan mobilnya menuju kediaman orang tuanya.


Tiba di rumah, Delia langsung disambut oleh Retno. Delia melihat Daniel sedang berbincang dengan Ciputra di ruang tamu.


"Kalian bicaralah berdua. Ayah dan ibu akan ke dalam." Ciputra meninggalkan Delia dan Daniel berdua di ruang tamu.


"Delia..." Daniel langsung bersimpuh di depan Delia.


"Aku minta maaf atas semua yang sudah kulakukan padamu. Aku tahu kata maaf saja tidak cukup. Tapi aku ingin kamu bisa memaafkanku meski itu mustahil."


"Bangunlah, Mas! Aku sudah memaafkanmu." Delia meminta Daniel bangun. Delia duduk di salah satu sofa.


"Maaf jika aku mengganggu kalian. Tapi, aku benar-benar ingin meminta maaf dengan tulus padamu."


Delia menghela napas sejenak. Sebenarnya ia tidak mengharapkan Daniel datang malam ini, tapi cepat atau lambat mereka memang harus menyelesaikan semuanya.


"Terima kasih karena mas Daniel sudah bersedia datang dan meminta maaf pada kami. Aku baik-baik saja, Mas. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Aku harap Mas bisa bertanggung jawab pada mbak Selina. Apalagi mbak Selina sedang mengandung anak Mas. Mas harus bisa menerima takdir ini."


Daniel hanya tersenyum kecut mendengar pernyataan Delia. Hatinya masih tidak rela kehilangan Delia. Tapi kecerobohannya juga tidak bisa ditolerir lagi oleh Delia. Daniel lah yang bersalah karena sudah bermain api. Kini ia terbakar dan harus menanggung resikonya.


#


#


#


Keesokan harinya, Arjuna datang menemui Delia di kantor MT Grup. Ini mengenai surat somasi yang Bima layangkan ke pihak Lynx.


"Pihak Lynx ingin bertemu denganmu," ucap Arjuna.


"Eh? Denganku? Tapi aku tidak merasa melayangkan surat somasi pada mereka. Ini semua adalah ulah temanmu itu."


Arjuna menghela napas. "Aku tahu. Makanya lebih baik kau selesaikan masalah ini dengan mereka."


Delia menganggukkan kepala. Mungkin apa yang dikatakan Arjuna ada benarnya juga. Delia harus berdamai dengan pihak Lynx.


Siang itu, Delia mendatangi sebuah resto yang sudah dipesan oleh pihak Lynx. Delia menyebutkan ruangan yang akan membawanya bertemu dengan Cassandra Dinata, pemilik brand Lynx.


Delia membuka pintu ruangan itu. Betapa terkejutnya Delia ketika melihat Cassie. Delia ingat pernah bertemu dengan Cassie.


"Anda?" Delia bingung.


"Hai, kamu adalah..." Cassie berpura-pura tidak mengenali Delia.


"Delia! Delia Agung." Delia mengulurkan tangannya.


"Aku Cassandra, panggil saja Cassie. Kau adalah mantan calon istrinya Daniel ya? Waktu itu kita belum berkenalan dengan baik. Silakan duduk!"


Delia duduk berhadapan dengan Cassie. Rasanya sangat canggung. Delia baru menyadari jika Cassie adalah tunangan Bima. Dan yang membuat Delia bingung, bagaimana bisa Bima memberikan surat somasi ke perusahaan tunangannya sendiri?


"Jadi, Anda adalah pemilik brand Lynx?" tanya Delia.


"Benar sekali. Maaf ya karena harus bertemu begini. Aku rasa tunanganku telah melakukan kesalahan. Dia mengirimiku surat somasi tentang desain Lucia yang diambil oleh Lynx."


Delia mengulas senyum. "Ah soal itu... Sebenarnya saya juga kurang setuju dengan apa yang dilakukan tuan Bima, saya sudah memaafkan pelakunya. Dan saya rasa kita tidak perlu memperpanjang masalah ini."


"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, aku rasa aku sangat menyukai rancangan yang kau buat. Kalau kau bersedia, kita bisa bekerjasama. Bagaimana?"


Delia tersenyum getir. Takdir apa lagi yang kini sedang ia jalani? Tunangan Bima memintanya untuk bekerjasama? Apa tidak salah? Kenapa dunia Delia seakan berkutat dengan satu pria bernama Bima?


"Saya akan memikirkannya. Saya rasa Lynx juga memiliki desainer terbaik di kelasnya," jawab Delia.


"Hmm, baiklah. Kalau begitu mari kita makan dulu!" Cassie mempersilakan Delia untuk menyantap hidangan makan siang mereka.


Cassie menatap Delia intens. Setelah menunggu bertahun-tahun, akhirnya Cassie bisa berhadapan dengan Delia juga. Wanita yang sudah banyak mengubah takdir cinta Cassie.


"Kali ini aku tidak akan membiarkan kamu kembali merusak kisah cintaku bersama Bima. Akan kupastikan kamu akan menyesal karena telah masuk kedalam kehidupan Bima dan Bisma."