Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Cerita Dina



"Hah?! Dijebak?"


Dina tersenyum penuh arti. "Aku menceritakan semua ini bukan karena ingin kau membelaku, Delia. Tapi aku hanya ingin kau dan keluargamu tidak menilaiku sebelum kalian tahu kebenarannya."


Delia memilih diam. Ia akan mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Dina.


"Aku tidak mengira jika kakakku akan menikahi wanita seperti Luze. Aku sudah lama mengenal Luze jauh sebelum mendiang kakakku mengenalnya."


Delia memasang telinga dengan baik. Dari awal cerita Delia mulai tahu jika Dina tidaklah seperti yang dipikirkan oleh orang-orang selama ini. Mereka hanya terjebak oleh persepsi yang digiring oleh seseorang.


"Aku menyebutnya sebagai sebuah penyakit. Ya, memiliki sifat yang terlalu posesif, itu cenderung mengarah pada gangguan mental, bukan?"


Delia cukup syok dengan pernyataan Dina.


"Aku memang bersalah karena sempat tak terima dengan pernikahan Ciputra dan ibumu. Tapi aku sungguh tidak menjebak ayahmu! Maksudku kami yang dijebak. Aku dan Ciputra dibuat seperti melakukan hubungan terlarang, padahal kami tidak melakukan apapun."


Dina terlihat sendu. Delia merasa iba lalu memegang tangan Dina.


"Apa kau tahu Delia, siapa yang sudah menjebak kami? Saat itu usiamu baru 5 tahun, kamu belum memahami masalah orang dewasa."


"Memangnya siapa yang sudah tega menjebak tante dan ayah?"


Dina mengatur napasnya. "Luze, ibunya Bima."


"APA?!"


Dina tertawa getir. "Kau tidak akan percaya ini kan? Tidak akan ada yang percaya padaku. Bahkan ayahmu jadi sangat membenciku. Padahal itu bukan kesalahanku sepenuhnya."


#


#


#


Usai makan siang dengan Dina, Delia kembali ke kantor. Rasanya masih tidak percaya jika Dina banyak mengalami kemalangan karena sebuah kesalahpahaman.


"Kak Del, kamu baik-baik saja?"


Delia mengerjapkan mata dan melihat sosok Rein ada di depannya.


"Rein? Aku baik-baik saja."


"Bagaimana makan siangnya?"


Delia mengulas senyum. "Ya begitulah." Delia memilih tidak membahas soal Dina, dan kembali bekerja.


Sepulang bekerja, Delia tak menyangka jika Bima datang menjemputnya.


"Mas Bima?" Delia celingukan menatap sekelilingnya. Ia tak ingin jika ada yang bergosip mengenai dirinya dan Bima.


"Iya, aku sengaja ingin menjemputmu. Apa kau sudah dengar berita hari ini?" tanya Bima dengan senyum mengembang.


"Iya, aku tahu. Selamat ya! Mas harus lebih bersemangat dalam bekerja."


"Pastinya! Ayo kita rayakan hari ini!"


"Hanya berdua?"


Bima bingung. "Iya, memang mau sama siapa lagi?"


Delia menoleh ke belakang. "Dia...?" Delia menunjuk Rein yang berdiri di belakangnya.


Bima tersenyum lalu melambaikan tangan pada Rein.


"Aku pergi dulu ya!" ucapnya.


Rein hanya mengangguk.


"Ayo!" ajak Bima sambil berjalan menuju mobilnya.


"Kita mau kemana, Mas?"


#


#


#


Bima mengajak Delia ke sebuah resto yang sudah ia pesan hanya untuk mereka berdua.


"Kok sepo banget, Mas. Pengunjung lain pada kemana?" Delia kembali menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan orang-orang di tempat itu.


Bima tersenyum penuh makna.


"Tempat ini sengaja kusewa hanya untuk kita berdua." Bima menaikturunkan alisnya.


"Hah?! Disewa? Kamu terlalu berlebihan, Mas!" Delia menggeleng.


"Aku ingin memiliki waktu hanya berdua denganmu." Bima memeluk pinggang Delia. Ia mengecup singkat bibir Delia.


"Mas, ih! Nanti ada yang lihat!"


"Hahaha, memangnya kalau tidak ada yang lihat aku boleh melakukan yang lebih?"


"Mas!" Delia mulai kesal tapi sekaligus malu. Hubungan yang diawali dengan cinta satu malam, ternyata bisa bertahan hingga sekarang. Meski badai masih terus saja menerjang.


"Ya sudah, ayo duduk!" Bima menarik lembut tangan Delia untuk duduk di kursi.


Dari kejauhan sepasang mata tengah memperhatikan mereka berdua.


"Sialan! Perempuan itu ternyata masih saja menggoda tuan Bima. Kita lihat saja, aku akan melaporkan ini pada nyonya Luze. Kau harus segera dibasmi, Delia Agung."


Dengan senyum menyeringai Iren meraih ponsel dan menghubungi Luze. Tak lupa Iren juga mengirimkan foto kebersamaan Bima dan Delia yang sedang makan malam romantis.


Di rumahnya, Luze amat syok setelah menerima pesan dari Iren. Luze mengepalkan tangannya karena amat kesal dengan kelakuan putranya. Terlebih lagi ia melihat jika Delia sangat bahagia bersama putranya.


"Perempuan ini! Jadi demi perempuan ini kamu menolak ajakan mama untuk makan malam di rumah, Bim. Kita lihat saja nanti, berapa lama kamu akan bertahan dengan perempuan ini!"


#


#


#


Bima mengantar Delia hingga di gang memasuki rumah. Hubungan yang masih sembunyi-sembunyi membuat mereka tak leluasa menunjukkan kedekatan mereka di depan publik.


"Aku sungguh tidak tahan jika harus begini terus. Aku ingin segera melamarmu saja!"


Delia menutup mulutnya tak percaya.


"Bagaimana bisa kamu bicara begitu, Mas? Kita tidak bisa melakukan itu tanpa restu kedua orang tua kita."


Bima meraih tangan Delia. "Del, sampai kapan? Apa kamu mau kita sembunyi-sembunyi terus seperti ini?"


Delia menggeleng.


"Lalu kamu ingin aku bagaimana?"


Delia mengedikkan bahu. "Aku juga tidak tahu."


Bima melepaskan genggaman tangannya. Ia mengusap kasar wajahnya.


"Kita akan meminta restu pada papaku dulu."


"Eh? Maksud Mas?"


"Kita ke makam Papa untuk meminta restu. Bagaimana? Setidaknya kita datang meski papa tidak bisa menjawabnya. Aku yakin papa ingin yang terbaik untukku. Dan yang terbaik bagiku adalah bersama denganmu."


Delia tersenyum. "Baiklah, besok kita ke makam papamu."


Bima mengangguk. Setelahnya Delia turun dari mobil dan melambaikan tangan kearah Bima.