
Bima tak bisa lagi menolak keinginan orang tuanya untuk bertunangan dengan Cassie. Sudah cukup selama ini dirinya hidup sesuai keinginannya. Kini saatnya Bima menunjukkan baktinya sebagai anak kepada Danu dan Luze.
Besok malam adalah hari pertunangan Bima dan Cassie. Saat ini mereka sedang sibuk berada di butik langganan Cassie. Gadis itu ingin tampil sempurna di hari pertunangannya nanti.
"Bim, apakah gaun ini cocok untukku?" Cassie memperlihatkan satu gaun tanpa lengan berwarna abu-abu di depan Bima.
"Kau kan pemilik brand pakaian, kenapa harus repot membeli gaun? Harusnya kau pilih saja salah satu gaun di tokomu itu."
Kalimat sarkas Bima membuat Cassie memutar bola mata malas. Cassie tahu jika Bima terpaksa menerima perjodohan ini. Tapi bukan berarti Cassie harus menyerah, bukan?
Cassie mendekati Bima yang sedang berdiri membelakanginya. Tanpa diduga oleh Bima, Cassie memeluk pria itu dari belakang.
"Bim, aku tahu kau belum bisa mencintaiku. Tapi apa salahnya jika kita saling terbuka. Aku tahu kau bukan orang awam dan hal begini." Cassie mengusap dada bidang Bima dengan jemari lentiknya.
"Tolong jangan begini! Ini tempat umum!" Bima menepis tangan Cassie.
"Oh, jadi jika di tempat lain aku boleh melakukan ini?" Cassie sengaja menempelkan dua asetnya di punggung Bima.
Bima mengepalkan tangan. Ingin sekali ia membentak Cassie yang sudah dianggapnya keterlaluan.
Namun Bima mengurungkan niatnya kala mendengar suara seorang perempuan yang juga memasuki area butik.
"Silakan Nona, Anda bisa memilih gaun pengantin di area sini!" Seorang pelayan mengarahkan seorang wanita yang baru saja masuk.
"Terima kasih."
Bima terbelalak ketika melihat siapa yang baru saja datang. Dia adalah Delia bersama dengan Daniel.
"Oh, hai Bim. Kau ada disini juga?" sapa Daniel.
Bima tersenyum kecut dan membalas sapaan Daniel.
"Hmm, iya begitulah." Bima menjawab malas.
"Halo, kenalkan. Aku Cassandra, calon tunangannya Bima. Kau pasti Daniel Hazar kan?" Cassie mengulurkan tangannya ke arah Daniel.
"Hai, iya benar, aku Daniel. Senang berkenalan denganmu. Jadi, kau adalah calon tunangannya Bima? Bim, kau tidak pernah bercerita kalau akan bertunangan." Daniel tersenyum lebar.
Sementara gadis di samping Daniel hanya diam dan menundukkan kepala.
"Tunangan? Kok secepat ini? Bukankah baru kemarin-kemarin dia memintaku untuk memutuskan hubungan dengan mas Daniel? Aku pikir dia serius dengan ucapannya." Delia hanya bisa bicara dalam hati.
Melihat Delia yang hanya diam, Cassie pun berinisiatif untuk menyapa lebih dulu.
"Daniel, siapa dia?" tanya Cassie.
"Oh, dia adalah calon istriku. Kami datang kemari karena ingin memilih baju pengantin. Iya kan, sayang?" Daniel memeluk pinggang Delia posesif. Seakan ingin menunjukkan jika Delia hanya miliknya.
"Eh? I-iya." Delia tetap menundukkan wajahnya.
Seorang pelayan kembali mendekati Delia dan Daniel dan memberikan beberapa rekomendasi gaun pengantin untuk Delia. Daniel berpamitan pada Bima dan Cassie.
#
#
#
Setelah beberapa saat berlalu, Delia telah menjatuhkan pilihan pada gaun pengantin yang tidak terlalu terbuka. Ia mencoba gaun itu di sebuah fitting room.
"Hmm, sepertinya yang ini cocok," gumam Delia.
Delia keluar dari fitting room tapi keadaan terlihat sepi.
"Lho? Kemana mas Daniel?" Delia celingukan mencari keberadaan Daniel.
Tiba-tiba sebuah tangan mencekal lengannya dan membawanya masuk kembali ke dalam ruang ganti.
"Kau! Mau apa lagi sih?" Delia menepis tangan siapa lagi kalau bukan Bima.
"Kita harus bicara!" tekan Bima dengan suara lirih. Pastinya ia tidak ingin Daniel atau Cassie tahu jika mereka sedang berduaan di dalam ruang ganti.
"Bicara apa? Kita tidak sedekat itu untuk saling bicara!" tegas Delia dengan suara lirih pula.
"Oh ya? Kau yakin tidak ada yang perlu kita bicarakan? Kau rela melihat aku bertunangan dengan orang lain?"
Delia tidak menjawab. Ia memalingkan wajahnya. Bohong jika Delia bilang ia rela Bima bersama orang lain. Entahlah, akhir-akhir ini hatinya sangat sulit ditebak.
"See? Kau tidak bisa menjawabnya kan? Itu artinya kau tidak rela jika aku bersama orang lain. Katakan saja, Delia."
Delia masih pada mode diamnya. Bima memegangi kedua bahu Delia. Ia ingin gadis itu berkata jika tidak rela melihat Bima dengan orang lain.
"Tolong tanyakan pada hatimu yang paling dalam. Apa benar kau mencintai Daniel? Apa benar kau menganggap malam bersama kita hanyalah sebatas malam biasa? Apa benar kau rela aku bertunangan dengan orang lain? Tanyakan itu!"
Suara lirih Bima membuat Delia dilema. Berada sedekat ini dengan pria yang membuat hatinya goyah mana bisa Delia berkata jujur. Semua terlalu sulit. Ia takut banyak orang terluka jika ia membatalkan perjodohannya dengan Daniel.
"Kau salah!" Delia menepis tangan Bima.
"Aku baik-baik saja dengan hubunganku dan mas Daniel. Aku juga tidak berhak memintamu berpisah dengan calon tunanganmu itu. Kalian tampak serasi kok. Jadi, mulai sekarang jangan ganggu hidupku lagi. Lupakan semua yang terjadi dengan kita di Paris. Itu hanya sebuah kesalahan satu malam."
Bima tersenyum getir mendengar penolakan Delia lagi. Gadis ini memang keras kepala. Bima tahu itu.
"Baiklah. Kau boleh terus menolakku! Tapi jangan pernah memintaku untuk melupakan apa yang terjadi malam itu. Karena itu adalah malam terindah yang pernah aku rasakan dalam hidupku! Dan kau tidak berhak memintaku untuk menghapusnya dari ingatanku!" Bima keluar dari ruang ganti usai bicara dengan Delia. Matanya memerah menandakan sebuah kemarahan dan kekecewaan.
Bima bahkan langsung keluar dari butik dan tidak mempedulikan Cassie yang masih sibuk memilih gaun untuk acara pertunangannya.
#tbc