
Bima meyakinkan Delia untuk tetap tenang. Bima akan bersembunyi di salah satu bilik toilet dan Delia membukakan pintu untuk Daniel. Sebenarnya Bima ingin Daniel memergoki mereka berdua. Biar saja semua orang tahu hubungan satu malam yang mereka jalin.
Namun melihat Delia terisak membuat Bima tidak tega. Bima merasa ada hal yang Delia sembunyikan hingga harus bertunangan dengan Daniel. Bima akan mencari tahu soal itu nanti.
Delia membenahi penampilannya terlebih dulu sebelum membuka pintu. Delia menarik napas dalam dan membuangnya perlahan.
"Delia!" seru Daniel begitu melihat Delia dalam keadaan baik-baik saja.
"Kau baik-baik saja? Kenapa pintunya terkunci dari dalam? Apa ada orang lain di dalam?" tanya Daniel beruntun.
"A-aku baik-baik saja, Mas. Mungkin tadi kuncinya macet. Aku tadi masih di dalam bilik saat Mas memanggilku."
Daniel merangkum wajah Delia dengan penuh kelegaan. "Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Ayo, para kolegaku ingin bertemu denganmu."
Daniel merangkul Delia dengan posesif. Daniel benar-benar ingin berubah demi Delia. Daniel tidak ingin pernikahan mereka nantinya hanya seumur jagung saja.
Bima keluar dari toilet dan menatap nanar gadis yang selama ini dirindukannya. Gadis yang selama ini dicarinya. Bima sangat penasaran dengan nama gadis itu. Sekarang semua sudah terjawab. Gadis itu bernama Delia Agung. Dan dia adalah tunangan dari sahabatnya sendiri.
#
#
#
Satu minggu kemudian,
Setelah acara pertunangan Delia dan Daniel, dunia Bima seakan runtuh. Tak ada lagi semangat dalam menjalani harinya. Bahkan pekerjaan pun banyak yang terbengkalai.
Bima yang biasanya sangat bersemangat melayani kasus perceraian, kini banyak berkas yang ia kembalikan dan meminta si klien untuk mencari pengacara lain saja, dan bukan dirinya.
"Ini! Kembalikan berkas yang ini! Ini juga! Dan yang itu juga! Suruh mereka cari saja pengacara yang lain!" Bima melemparkan berkas-berkas di depan Stella.
"Abang kenapa sih? Akhir-akhir ini abang gampang marah dan tidak mau menerima klien. Apa abang tidak butuh uang? Ingat bang, abang punya banyak karyawan yang harus di gaji. Jangan hanya memikirkan diri abang sendiri!" Stella mengambil berkas-berkas yang dilempar Bima dan berlalu keluar.
Bima menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kebesarannya. Ia memijat pangkal hidungnya. Hidupnya jadi kacau setelah bertemu dengan Delia.
Bima butuh sesuatu yang lain yang bisa membuatnya kembali bersemangat.
"Delia! Kenapa otakku hanya dipenuhi olehmu saja! Apa yang harus kulakukan?" Bima merutuki dirinya sendiri.
Ini memang bukan pertama kalinya Bima jatuh cinta. Tentu saja Bima pernah merasakan jatuh cinta. Tapi kisah percintaannya tidak semulus karirnya.
Bima di tinggal pergi oleh sang kekasih. Gadis itu memilih untuk menikahi pria lain dan bukan Bima.
Alasan klasik dari para casanova yang tidak percaya akan cinta. Yaitu pernah ditinggal pergi pas lagi sayang-sayangnya. Tapi alasan Bima bukan hanya itu saja. Bima memilih masih melajang karena belum menemukan orang yang cocok saja.
Saat sedang memikirkan nasibnya, ponsel Bima bergetar. Sebuah pesan masuk dari sang mama.
"Ingat ya, Bim. Waktumu hanya satu bulan! Jika tidak bisa membawa calon istri ke rumah, maka perjodohanmu dengan Cassandra akan tetap berjalan."
"Argh! Sial! Kenapa semua jadi begini sih?" Bima mengusap wajahnya kasar.
#
#
#
Di kantor, Delia sedang bersiap untuk rancangannya di Paris Fashion Week. Delia beruntung karena timnya sangatlah solid. Apalagi ada Amy yang akan selalu jadi pendukung pertama Delia.
"Ini adalah rancangan untuk acara nanti. Aku yakin Lucia bisa mendunia." Delia menyerahkan beberapa desainnya pada bagian produksi.
Wanita 40 tahunan itu menerima buku sketsa dari Delia. "Baik, Nona. Kami akan bekerja dengan baik."
Setelah seharian berkutat dengan pekerjaan, Delia keluar dari kantor dan langsung disambut oleh Daniel.
"Mas menjemputku?"
Dari kejauhan, Bima yang mulai penasaran dengan Delia kini memata-matai gadis itu. Bima ingin tahu apakah hubungan Delia dengan Daniel baik-baik saja atau tidak.
Ternyata Bima memang sudah terlambat. Delia dan Daniel terlihat baik-baik saja. Bima menghela napas kasar.
"Sudahlah, tidak perlu lagi mencari tahu tentangnya." Bima melajukan kembali mobilnya. Bima akan mulai menerima semua takdir yang terjadi padanya dan Delia.
Keesokan harinya, terjadi kehebohan di kantor brand Lucia. Produk rancangan yang harusnya menjadi milik Lucia malah sudah di pasarkan menjadi produk milik Lynx.
Delia yang baru saja datang ke kantor hanya bisa tertegun melihat berita yang ada di Fashion TV itu.
"Del!" Amy menghampiri Delia yang berdiri mematung dengan menyilangkan tangan.
"Kenapa mereka memiliki rancanganmu?" tanya Amy.
Ada rumor yang mengatakan jika Delia memang menjual hasil rancangannya itu demi uang. Entah dari mana sumber itu berasal. Yang jelas ayah Amy, Erko Patra, pemilik Grup MT tempat bernaungnya brand Lucia, murka begitu mendengar berita ini. Brand Lucia akan gagal menuju Paris Fashion Week jika begini.
Kini Delia dan Amy sudah berada di ruangan Erko. Pria paruh baya itu menatap Amy dan Delia bergantian.
"Pa, aku yakin ini bukan kesalahan Delia. Pasti ada yang ingin mencemari nama Delia. Papa tahu sendiri kan, Delia itu desainer berbakat. Dia tidak akan..."
Erko mengangkat tangannya. Ia meminta putrinya untuk keluar. Dengan pasrah Amy keluar dari ruangan ayahnya.
Delia hanya bisa menundukkan wajahnya.
"Bagaimana kau akan memperbaiki ini?" tanya Erko.
"Saya akan mencari jalan keluarnya, Tuan. Saya tidak tahu apa yang terjadi. Tapi saya akan bertanggung jawab." Delia menjawab dengan tenang. Meski hatinya sudah kalang kabut tidak karuan, tapi sebisa mungkin Delia akan menyikapi hal ini dengan tenang.
Di sisi lain, Amy mondar mandir di ruangannya dengan cemas.
"Kurang ajar! Siapa yang berani melakukan ini, hah? Memplagiat karya Lucia dan sudah memasarkan dengan cepat. Aku yakin mereka adalah orang dalam," gumam Amy.
Sesaat kemudian ia mengingat tentang sesuatu. "Aku harus minta bantuan Daniel. Dia adalah pengacara, pasti dia bisa membantu kami."
#
#
#
Malam itu, Bima mendapatkan pesan dari Daniel yang memintanya untuk datang ke private room sebuah resto mewah XYZ. Sebenarnya Bima malas untuk menyetujui datang. Tapi karena Daniel bilang ini adalah urusan pekerjaan, mau tidak mau Bima harus setuju.
Bima duduk berhadapan dengan Daniel. Sahabatnya ini memang sudah banyak berubah. Dulu Daniel sangat suka bermain wanita. Tapi setelah mengenal Delia, ada sedikit perubahan pada pria itu.
Bima mencoba mengikhlaskan Delia untuk bersama Daniel. Toh pada kenyataannya Bima dan Delia tidak saling mengenal dengan baik. Mungkin Bima akan pasrah menerima perjodohan dari orang tuanya.
"Ada apa? Sepertinya ada hal penting," ucap Bima mengawali pembicaraan.
"Begini, brand Lucia mengalami penjiplakan. Ada oknum yang sengaja mencuri desain Lucia dan sekarang brand Lynx mengakui jika itu adalah desain mereka."
Bima mendengarkan cerita Daniel dengan seksama.
"Aku dengar dari Stella, kau mulai bosan dengan rutinitasmu menjadi pengacara perceraian, maka dari itu aku ingin kau menangani kasus yang terjadi di Lucia. Ini berkasnya!" Daniel menyodorkan sebuah map ke hadapan Bima.
"Brand Lucia? Sepertinya aku pernah mendengarnya." Bima nampak berpikir sejenak.
"Iya, itu adalah brand milik Grup MT. Tunanganku adalah desainer disana. Dan karya yang di jiplak adalah karyanya. Aku harap kau bisa membantu."
Bola mata Bima melebar sempurna ketika mendengar pernyataan Daniel. Itu berarti yang sedang mengalami masalah adalah Delia, pikirnya.
Entah kenapa Bima merasa jika ini adalah pertanda yang bagus. Tentu saja Bima akan menerima tawaran ini.
"Baiklah, aku menerimanya!" ucap Bima dengan senyum sumringah.
#tbc