
Pagi harinya, Danu sangat senang karena pada akhirnya sang putra bungsu mau menuruti keinginannya. Begitu pula dengan Luze yang sedang menyiapkan sarapan untuk sang putra. Ia memasak makanan kesukaan Bima.
"Ma, apa Bima sudah bangun? Kenapa dia belum turun juga dari kamarnya?" Danu bertanya seraya duduk di kursi meja makan.
"Oh, mungkin sedang mandi. Sebentar mama panggilkan ya!" Luze segera bergegas menuju ke kamar Bima di lantai dua. Namun langkahnya terhenti ketika Bik Sum bicara padanya.
"Maaf, Nyonya, Tuan. Den Bima pagi-pagi sekali sudah pergi."
Sontak saja penuturan Bik Sum membuat Danu murka. Baru saja ia dibuat senang dengan sikap penurut Bima, kini harus dibuat kesal.
"Yang benar, Bik? Jam berapa Bima pergi?" Luze masih tidak percaya jika sang putra tidak ada di rumah.
"Benar, Nyonya. Den Bima bilang katanya ada urusan mendadak, makanya Den Bima pergi pagi-pagi sekali. Mungkin selepas subuh."
Luze menatap suaminya. Danu sudah tidak berniat untuk sarapan. Rencananya hari ini Danu akan mengajak Bima bermain golf bersama dengan Erwin. Sekedar untuk mendekatkan putranya dengan Cassie yang baru saja semalam bertunangan.
"Anakmu itu memang selalu saja membuat ulah! Selalu saja berbuat seenaknya!" kesal Danu lalu meninggalkan ruang makan.
Bik Sum menjadi serba salah. Tidak cerita artinya ia berbohong, bicara jujur juga sepertinya salah. Luze menatap Bik Sum dengan tatapan sedih. Luze mengekori suaminya yang pergi ke kamar. Makanan yang sudah terhidang dengan rapi di meja makan, sepertinya akan dianggurkan begitu saja oleh sang majikan. Beruntung sebelum Luze benar-benar pergi ke kamar, ia berpesan pada Bik Sum.
"Makanannya bibi bagi saja dengan yang lainnya ya! Saya dan Tuan sudah tidak selera makan."
Bik Sum hanya mengangguk patuh. Kapan lagi bisa kebagian makanan enak milik sang majikan.
Di tempat berbeda, di sebuah apartemen, Daniel terbangun dengan kepala yang berdengung. Semalam usai menghadiri pesta pertunangan Bima, Arjuna mengajaknya berpesta di sebuah klub malam.
Suasana malam minggu membuat Daniel larut dan lupa dengan janjinya pada Delia yang akan berubah. Daniel kembali mabuk dan kini ia berada entah dimana.
Begitu tersadar sempurna, Daniel mencoba menelisik dengan seksama. Daniel mengenal tempat itu. Itu adalah tempat tinggal Selina.
Daniel memakai kemejanya yang berserakan di lantai.
"Oh, sial! Apa semalam aku dan Selina..."
Daniel merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa dirinya berada di tempat tinggal Selina? Seingatnya ia bersama Arjuna. Tak ingin terus bertanya sendiri, Daniel keluar dari kamar dan menemui Selina.
"Selamat pagi, Tuan. Sudah bangun?" tanya Selina sambil menyiapkan sarapan di meja makan.
"Kenapa aku bisa ada disini?" Daniel balik tanya dengan suara geram.
"Tuan Arjuna menghubungi saya semalam. Katanya Tuan mabuk, makanya saya membawa Tuan kemari. Tidak mungkin juga saya membawa Tuan ke rumah utama, bukan?" Suara Selina dibuat selembut mungkin. Ia tidak ingin Daniel pergi darinya. Sebisa mungkin ia akan menjerat Daniel dengan benang yang tak terlihat.
Daniel mengusap wajahnya kasar. "Kau masih meminum obat pencegah kehamilan kan?"
"Hmm, iya masih Tuan."
"Aku sudah berjanji pada Delia akan berubah. Aku tidak mungkin ada disini bersamamu."
Wajah Selina seketika berubah. "Tuan tidak akan bisa berubah secepat itu. Semua butuh proses. Sekarang sebaiknya Tuan makan saja dulu. Aku sudah memasak untuk Tuan."
"Kau makan saja sendiri!" Daniel malah berlalu pergi meninggalkan apartemen Selina.
"Sialan! Kita lihat saja nanti! Kau tidak akan bisa lepas dariku, Tuan. Aku akan menjeratmu dengan sesuatu yang tidak bisa kau lepas!"
Sementara itu di tempat berbeda, Delia dan Amy sedang melakukan lari pagi di taman dekat apartemen Delia. Delia sengaja mengajak Amy berolahraga agar ia bisa mengalihkan perhatian dari kesedihan kehilangan Bima.
"Ternyata kau benar, olahraga bisa mengalihkan pikiran negatif kita ke sesuatu yang positif. Dan lihat itu, ternyata banyak pria tampan juga disini. Pantas saja kau sangat suka olahraga disini," ucap Amy di saat lari beriringan dengan Delia.
Delia mencebik. "Bukan karena itu. Olahraga itu untuk kesehatan mental dan tubuh kita. Bukan untuk mencari pria tampan."
Delia berlari mendahului Amy, tapi tiba-tiba Delia merasakan nyeri di kaki bagian kirinya.
"Akh!" Delia berhenti dan mengurut kakinya perlahan.
"Aku tidak apa-apa. Hanya nyeri saja." Delia memilih mencari tempat duduk untuk menselonjorkan kakinya.
"Apa itu karena kecelakaan beberapa tahun lalu?"
Delia mengangguk.
"Apa masih terasa hingga sekarang?"
"Tidak sering. Tapi mungkin karena aku terlalu keras tadi berlari."
"Ya sudah, kita pulang saja. Lagi pula matahari sudah mulai meninggi." Amy memapah tubuh Delia kembali ke apartemen milik Delia.
Di sisi lain, Bima baru saja tiba di rumah neneknya di daerah Bandung. Rasanya sudah lama sekali Bima tidak mengunjungi sang nenek.
"Siapa itu?" Sapaan wanita renta berusia 75 tahunan itu membuat Bima tersenyum.
"Oma! Ini Bima, Oma!" Bima segera memeluk wanita bernama Lily itu.
"Bima? Ya Tuhan, kau sudah bertambah besar dan ... Matang." Lily tertawa.
Bima pun menggaruk kepalanya. "Oma tidak mengajakku masuk?"
"Ayo masuk! Kamu ini! Dari dulu selalu saja usil!" Lily memukul pelan punggung Bima.
Bima memperhatikan nuansa rumah sang nenek. Dulu saat liburan sekolah, Bima sering berkunjung ke rumah sang nenek. Tapi semenjak kuliah di luar negeri dan memilih pekerjaan sebagai pengacara, Bima hampir tak memiliki waktu untuk mengunjungi sang nenek.
"Ada apa kok datang pagi-pagi sekali? Bagaimana kabar papa dan mamamu?" tanya Lily membawa secangkir teh untuk Bima.
"Kabar papa dan mama baik." Bima menyeruput teh buatan sang nenek.
Lily memperhatikan cucunya yang terlihat berbeda. Sebelum Bima datang, Danu sudah menghubungi dirinya kalau-kalau Bima mengunjungi dirinya. Danu akhirnya mengatakan yang sebenarnya pada Lily yang adalah ibu kandungnya.
"Kamu kabur dari papamu lagi, hmm?" tanya Lily
"Oma! Aku tidak kabur! Aku hanya ingin mencari tahu sesuatu saja." Bima mengeluarkan selembar foto yang ia ambil dari kamar Bisma.
"Oma masih ingat dengan gadis bernama Dewi Mulia Agung?" Bima menunjukkan foto gadis remaja usia 15 tahun pada Lily.
Lily adalah pemilik sanggar tari balet. Hingga sekarang sanggar itu masih berjalan dan dikelola oleh muridnya.
"Dia adalah salah satu murid di sanggar tari milik Oma." Bima mencoba mengorek ingatan Lily. Tentunya tidak mudah mengingat hal yang sudah lama berlalu.
"Dia gadis yang kamu tabrak itu?" tanya Lily menelisik.
Bima menggaruk kepalanya. Saat itu Bima memang banyak melakukan kenakalan remaja.
"Iya, Oma. Bagaimana kabarnya sekarang, Oma? Apa dia masih hidup?"
Lily menggeleng. "Entahlah. Oma tidak tahu dia sekarang tinggal dimana. Keluarganya membawa dia pindah setelah kecelakaan itu."
Bima tertunduk lesu. Entah kenapa dia yang baru bertunangan dengan Cassie, malah mencari tahu tentang gadis masa lalu kakaknya.
"Tapi... Seingat Oma tidak ada yang memanggil dia dengan nama Dewi. Nama panjangnya memang Dewi Mulia Agung, tapi orang-orang biasa memanggilnya dengan nama Delia."
Mata Bima seketika menatap sang nenek dengan membola.
"Apa, Oma? Delia?"
#tbc