Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Mengambil Keputusan (1)



Erko menatap tajam ke arah dua orang yang sedang berdiri tertunduk di depannya. Setelah insiden berpelukan tadi, Erko memanggil Amy dan Arjuna untuk datang ke ruangannya.


"Jelaskan apa yang kalian lakukan tadi!" perintah Erko dengan suara tegas dan lugas.


Baik Amy maupun Arjuna tak ada yang mampu bicara.


"Ayo jawab!" Suara Erko naik satu oktaf.


"Kalian sadar kalian ada dimana? Ini kantor! Bukan tempat untuk berbuat mesum!"


"Papa! Kami tidak berbuat hal mesum!" Akhirnya Amy menjawab.


"Kalau begitu jelaskan apa yang kalian lakukan tadi! Apa diam-diam kalian menjalin hubungan tanpa sepengetahuanku?"


"Tuan! Ini adalah kesalahan saya!" Arjuna mendongakkan wajahnya dan menjawab.


"Saya yang menyukai Amy lebih dulu dan menggodanya." Pengakuan Arjuna membuat netra Amy membola.


"Tidak, Pa! Aku duluan yang menggodanya!"


Arjuna menatap Amy bingung. Apa maksudnya Amy berkata begitu didepan ayahnya.


"Tidak, Tuan! Saya dulu yang menggoda Amy."


"No way! Aku duluan, Pa!"


"HENTIKAN! Kalian ini apa-apaan? Kenapa malah saling tuduh begini? Aku tidak peduli siapa yang lebih dulu menggoda atau apalah, yang ingin aku tahu apa kalian memiliki hubungan lebih dari sekedar rekan kerja?"


"Iya!" Keduanya menjawab kompak.


Erko tampak memegangi kepalanya. "Amy, apa kau masih tidak sadar jika papa sudah menjodohkanmu dengan keluarga Avicenna?"


"Aku tidak menginginkan perjodohan itu, Pa! Lagi pula si Nimo Nimo itu juga tidak tertarik untuk menerima perjodohan ini. Pa, apa papa tidak belajar dari kejadian yang menimpa Delia? Pernikahan mereka gagal dan hanya menyisakan luka dan malu untuk kedua keluarga. Harusnya Papa bisa lebih bijak soal ini! Jika soal bisnis aku bisa menerima papa memecat Delia. Tapi untuk perjodohan, aku tidak bisa menerimanya!"


Erko menghela napas. Ia sungguh tak tahu lagi harus bicara apa dengan putrinya ini.


"Aku mencintai Arjuna, dan begitu juga dengannya!" Amy meraih tangan Arjuna dan menggenggamnya.


"Aku tahu Arjuna memiliki masa lalu yang tidak baik. Tapi aku tahu jika ia sudah berubah. Bukankah itu yang terpenting?"


Erko melihat tangan Amy dan Arjuna yang saling bertautan. "Kita bicarakan lagi hal ini nanti! Sekarang kembalilah bekerja!"


Amy dan Arjuna saling pandang. Lalu memberi hormat sebelum meninggalkan ruangan Erko.


#


#


#


Delia hanya menatap layar ponselnya tanpa mau menjawab panggilan dari Bima. Ia harus memikirkan semua ini dengan matang sebelum mengambil keputusan. Ia ingin kedua keluarga menjalin hubungan baik seperti dulu.


Delia tak ingin ada dendam yang terus mengiringi langkahnya dan Bima kelak.


"Maafkan aku, Mas. Mungkin sebaiknya kita saling introspeksi diri lebih dulu. Bukankah ayahmu juga sedang sakit, jadi fokuslah dengan ayahmu dulu. Dan aku akan fokus dengan kedua orang tuaku dulu. Mungkin itu yang terbaik untuk saat ini," gumam Delia dengan memandangi layar ponselnya.


Getaran di ponselnya sudah berhenti. Tak ada lagi panggilan masuk dari Bima. Delia mendesah pelan.


Terdengar ketukan di pintu kamarnya.


"Del, ayo bantu ibu siapkan makan siang!" seru Retno dari balik pintu.


"Iya, Bu." Delia meletakkan ponselnya diatas nakas dan membenahi penampilannya sebelum keluar kamar.


Di tempat berbeda, Bima kembali kecewa karena Delia tidak menjawab panggilan darinya. Sudah lima kali Bima menelepon Delia, tapi tak ada satupun yang dijawab.


Ketika ponselnya tiba-tiba bergetar, Bima sudah berbinar senang karena mengira itu adalah Delia. Bima mendengus kecewa tapi ia tetap menjawab panggilan itu.


"Halo, Iren. Ada apa?"


"Tuan, apa hari ini Tuan bisa datang ke kantor? Ada beberapa hal yang harus Tuan urus berkaitan dengan pekerjaan Tuan Danu."


Bima menghela napas sejenak. "Baiklah, aku akan kesana."


Panggilan selesai. Bima membalikkan badan dan melihat sosok ibunya disana.


"Sebaiknya kamu pergi ke kantor. Takutnya ada hal penting mengenai pekerjaan papamu," ujar Luze.


Bima mengangguk. "Mama tidak apa kutinggal sendiri? Nanti aku akan suruh orang untuk menemani mama disini."


"Iya, pergilah. Urus dulu perusahaan! Lagi pula semalaman kamu sudah menjaga papamu."


"Aku pergi dulu ya, Ma!" Bima mencium punggung tangan Luze kemudian berlalu.


"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Pa? Kenapa selama ini kamu menutupi penyakitmu ini dariku? Apa kamu tidak percaya padaku, Pa?" Luze duduk di kursi samping brankar dengan isak tangis tertahan.


"Kumohon bangunlah, Pa! Aku tidak mau kehilangan orang-orang dalam hidupku!" Luze merebahkan kepalanya di samping tubuh Danu.


#


#


#


Seharian ini Bima mengurus pekerjaan ayahnya yang sempat tertunda. Beruntung Bima dibantu oleh Iren hingga memudahkan dirinya yang belum piawai mengurus perusahaan.


Pukul enam petang Bima masih berkutat di ruangan ayahnya. Sebenarnya harus diadakan rapat pemegang saham terlebih dulu sebelum Bima menggantikan ayahnya, tapi karena ini darurat akhirnya beberapa pemegang saham menyetujui itu untuk jangka waktu seminggu ke depan. Setelahnya akan diadakan rapat umum pemegang saham untuk menentukan apakah Bima layak atau tidak untuk menggantikan sang ayah.


"Tuan!" Iren masuk setelah mengetuk pintu.


"Iya, Iren. Ada apa?"


"Umm, saya mau izin pulang dulu, Tuan. Apakah boleh?"


Bima melirik jam tangannya. Ia sendiri tidak sadar jika hari sudah mulai gelap.


"Astaga! Ternyata sudah memasuki malam ya! Kalau begitu kau boleh pulang."


"Iya, Tuan. Maaf ya! Soalnya saya mendapat telepon dari rumah sakit jika keadaan Bima kembali memburuk."


"Eh? Bima?"


"Ah, itu anak saya, Tuan. Namanya Bima."


Bima mengangguk. "Anakmu sedang sakit? Di rawat dimana?"


"Di rumah sakit Avicenna, Tuan."


"Eh? Kalau begitu kita kesana bersama saja. Papa kan dirawat disana juga." Bima segera membereskan berkas di mejanya.


"Tapi jika Tuan masih sibuk saya pulang sendiri saja. Yang penting Tuan mengizinkan saya."


"Tidak! Tidak! Aku juga harus bergantian jaga dengan Mama. Ayo!" Bima mengambil kunci mobil dan segera pergi bersama Iren.


Selama perjalanan, Iren dan Bima mengobrol santai.


"Jadi, anakmu bernama Bima?" tanya Bima yang merasa nama miliknya sangat pasaran.


"Iya, Tuan. Saya menamainya begitu agar dia juga kuat seperti Bima dalam kisah Mahabarata. Sejak kecil Bima memang lemah, dokter sudah memvonis itu sejak ia dilahirkan."


"Aku turut prihatin ya. Aku malah tidak tahu jika kau sudah menikah dan punya anak."


Iren tersenyum. "Tidak apa, Tuan. Selama ini kan Tuan tidak pernah bekerja di Antara Grup."


"Aku pikir kamu memberi nama Bima karena terinspirasi dariku, hahaha. Aku hanya bercanda, Iren. Supaya kamu tidak tegang begitu." Bima menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Tiba di rumah sakit, Bima dan Iren segera berpisah karena harus ke ruangan yang berbeda.


"Lain kali aku akan menjenguk anakmu, Bima."


"Iya, Tuan. Sekali lagi terima kasih atas kebaikan hati Tuan."


"Ah, tidak. Jangan berlebihan. Titip salam untuk Bima ya!"


Bima melangkah menuju ke ruang rawat Danu. Dari kejauhan, Iren masih memperhatikan punggung Bima yang tegap dan kokoh itu.


"Aku memang memakai nama Bima sebagai nama anakku karena aku mengagumimu, Tuan. Bahkan sejak dulu sekali. Tidak bisakah kau mengingatku, Tuan?" lirih Iren kemudian berjalan menuju ruang rawat putranya.


Malam ini Bima kembali menginap di rumah sakit. Bima meminta Luze pulang ke rumah agar bisa beristirahat dengan nyaman di rumah.


Bima yang merebahkan tubuhnya di sofa meraih ponselnya dan mengecek apakah ada pesan dari Delia atau tidak. Nihil. Tidak ada apapun di ponselnya.


"Apa aku harus memberikan waktu untuknya? Tapi berapa lama? Satu hari? Dua hari? Atau tiga hari?"


Bima mengusak rambutnya gusar. "Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Delia."


Bima menatap foto Delia yang ada di layar ponselnya.



"Tidak! Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi! Aku harus segera bertemu denganmu, Delia!"


Bima beranjak dari posisi rebahannya dan meraih kunci mobil. Malam ini juga hubungannya dengan Delia harus segera membaik.