
Delia pulang ke rumah diantar oleh Rein. Secara kebetulan Ciputra dan Retno sedang berada di teras rumah sambil menikmati suasana malam.
"Ayah? Ibu?" Delia kaget karena ayah dan ibunya ada di luar rumah. Terlebih lagi, mereka memergoki Delia datang dengan seorang pria.
Senyum penuh makna ditunjukkan oleh Ciputra.
"Kamu sudah pulang, Nak?" tanya Ciputra sambil menatap Rein.
"Selamat malam Om, Tante. Saya Rein, teman kantor Kak Delia." Rein dengan sopan menyalami Ciputra dan Retno.
"Kak Delia?" Delia membatin sambil menggaruk tengkuknya. Tidak bisa dipungkiri jika usia Rein memang dua tahun lebih muda dari Delia.
"Ah, iya. Mari silakan masuk dulu, Nak Rein." Retno menyambut Rein dengan ramah.
"Terima kasih, Tante. Tapi saya harus segera kembali."
"Jangan sungkan, mampirlah sebentar!" Ciputra mengajak Rein masuk.
Rein melirik Delia meminta persetujuan. Delia mengedikkan bahunya. Pertanda semua ia serahkan pada Rein.
"Baiklah." Rein mengikuti langkah Ciputra.
Mereka duduk bersama di ruanh tamu. Delia dan Retno membuatkan minum dan camilan untuk tamunya.
"Siapa dia, Nak? Sepertinya dia baik."
Delia mendelik menatap ibunya. "Dia bosku di kantor, Bu."
"Hah? Benarkah? Kelihatannya masih sangat muda." Retno menganga tak percaya.
"Dia memang masih muda. Sudahlah, ibu dan ayah jangan berpikiran macam-macam."
Delia kembali ke ruang tamu membawa dua cangkir teh dan camilan. Delia melihat jika ayahnya sedang mengobrol santai dengan Rein.
Usai bercerita tentang banyak hal, Rein pamit undur diri karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Delia mengantar Rein hingga taksi online yang dipesannya datang.
Sebenarnya agak aneh karena Bima meminta Rein menemani Delia. Padahal sudah jelas-jelas Delia membawa mobil sendiri. Tapi Delia juga tak bisa menolak karena Rein sudah terlanjur datang. Mungkin Bima hanya bermaksud menghibur dengan mendatangkan Rein untuk menjemputnya.
Delia memeriksa ponselnya dan tak mendapati pesan apapun dari Bima.
"Sebenarnya kamu pergi kemana sih, Mas?"
Saat Delia ingin menghubungi Bima, Retno datang menghampiri Delia yang masih berdiri di depan rumah.
"Ayo masuk, Nak. Sudah malam."
"Ah, iya, Bu."
Delia mengikuti langkah ibunya. Ayahnya nampak tersenyum melihat Delia.
"Sepertinya dia pria yang baik, Del. Tapi, dia terlihat lebih muda darimu."
"Ayah! Apa maksud Ayah? Aku dan Rein tidak memiliki hubungan apapun. Kami hanya rekan kerja."
Retno ikut cekikikan bersama Ciputra. "Meski masih muda tapi kalau dia bertanggung jawan dan baik, tidak ada salahnya kok, Nak."
Delia mendengus kesal. Kenapa orang tuanya malah menyukai Rein? Padahal Delia sudah berencana jujur dengan hubungannya dan Bima yang kembali bersatu. Tapi sepertinya Delia harus menunda lagi rencananya memberitahu kedua orang tuanya. Delia memilih pergi ke kamarnya saja.
Retno dan Ciputra saling pandang dan tertawa bersama.
"Sepertinya dia sudah move-on dari pria itu, Bu."
"Iya, mungkin saja ya, Yah."
#
#
#
"Abang? Sejak kapan datang?" tanya Rein santai dan langsung menuju dapur lalu mengambil air minum.
"Kemana saja kamu? Kenapa jam segini baru pulang? Kamu mengantar Delia ke rumahnya dengan selamat kan?"
Rein mengangguk sambil meneguk air minum di gelas.
"Lalu kenapa lama sekali?"
"Abang sendiri kemana saja? Aku dan Kak Del makan malam dulu sebentar. Lalu setelahnya aku mengantarnya ke rumah."
Bima mengernyit. "Hanya itu?"
Rein mengangguk. "Apa lagi? Apa aku harus cerita ke abang kalau keluarga kak Del sangat hangat? Bahkan ayahnya terlihat menyukaiku."
Bima mendelik. "Apa katamu?!"
Rein mengerutkan kening. "Kenapa Bang? Kok kaget gitu?"
Bima memalingkan wajah. "Tidak ada."
Bima merasa sedikit iri dengan Rein yang bisa dekat dengan keluarga Delia. Bima bahkan tidak dibiarkan mendekat ke rumah Ciputra.
"Argh!" Tiba-tiba Bima berteriak marah.
"Abang kenapa sih? Apa ada yang menggangu pikiran abang?"
Bima menatap Rein. "Apa Delia marah karena aku tidak bisa datang?"
Rein mengedikkan bahu. "Abang tanya sendiri saja sama kak Del."
Bima bahkan lupa untuk menghubungi Delia lagi. Dirinya tadi terlarut dengan Bima kecil. Ia menaruh simpati pada anak kecil itu.
Bima menelepon Delia tapi tidak dijawab. Bima berdecak sebal.
"Mungkin kak Del sudah tidur. Dia nampak kelelahan tadi."
Bima menatap tajam Rein. "Sepertinya kau sangat perhatian dengan Delia."
"Tentu saja. Kak Del adalah wanita yang baik dan menyenangkan. Kurasa...aku menyukainya."
Pengakuan Rein membuat Bima mengepalkan tangannya.
"Apa kau sadar dengan ucapanmu? Apa kau tahu jika aku dan Delia..."
"Aku tahu. Kalian memang pasangan. Tapi jika abang terus menyakitinya, maka aku tidak segan merebutnya dari abang!"
"Kau!" Bima mencoba menahan emosi dalam dirinya. Tidak mungkin ia akan memukul pria muda yang adalah saudaranya. Cukup dulu Bima sudah menyakiti orang-orang disekitarnya hanya karena rasa cemburu.
Namun secara tiba-tiba...
"Hahahahahaha!" Rein tertawa keras. "Muka abang lucu sekali kalau sedang marah. Hahahahahah!"
Bima makin kesal dengan sikap Rein.
"Abang tenang saja! Aku hanya bercanda kok!" Rein menepuk bahu Bima.
Rein menggeleng pelan, lalu meninggalkan Bima yang masih mematung.