
Seharian ini Delia hanya rebahan di atas tempat tidur empuknya. Ia sudah mengirim pesan pada Amy jika dalam beberapa hari ini ia akan mengambil cuti. Mungkin sekitar dua hari. Dan ternyata Amy sangat mengerti bagaimana perasaan Delia.
Pastinya Amy berpikir Delia sedang bersedih karena pernikahannya dengan Daniel harus gagal karena kehadiran Selina. Ditambah lagi, Amy juga mendengar jika Daniel sudah menikah dengan Selina.
Padahal sebenarnya, Delia hanya ingin menenangkan diri sejenak dari hiruk pikuk pekerjaan yang selalu menyita waktunya. Ia ingin mengambil waktunya sendiri dan beristirahat.
Di saat Delia tidak kelihatan batang hidungnya di kantor, Bima pun juga sama. Dia juga mengambil cuti dan meminta Arjuna yang mengurus seluruh pekerjaannya di MT Grup.
Alhasil, Amy harus bekerja dengan Arjuna yang notabene pria yang tidak ia sukai. Kepopuleran Arjuna sebagai pria playboy kelas kakap membuat Amy malas berdekatan dengan pria semacam itu.
"Hah, sepertinya aku akan terjebak denganmu selama beberapa hari ini!" keluh Amy tepat di depan Arjuna.
"Permisi, Nona! Sepertinya aku yang malas karena harus terjebak dengan gadis sepertimu. Dilihat dari sisi manapun, kau sama sekali tidak menarik di mataku!" balas Arjuna.
"Apa kau bilang?! Berani sekali bicara begitu padaku! Playboy cap tikus saja, bangga!"
Tiada hari tanpa adanya perdebatan dari Amy dan Arjuna. Hingga tanpa sadar Amy memperhatikan penampilannya saat berada di toilet.
Amy memandangi lekuk tubuh dan juga wajahnya.
"Dasar playboy sialan! Apa yang kurang dari tubuhku? Aku cantik, dan tubuhku juga bagus. Sepertinya matanya memang harus diperiksa oleh dokter mata. Lihatlah saja! Aku akan membalasmu nanti!" seringai Amy bicara di depan cermin.
Keesokan harinya, Amy datang ke kantor dengan tampilan yang berbeda. Rok diatas lutut dan kemeja yang melekat pas di badannya. Tak lupa Amy membuka beberapa kancing bagian atas hingga tersembul sedikit belahan dadanya yang menggoda iman.
Amy berjalan menuju ke ruangan Bima yang kini di tempati Arjuna.
"Arjun! Hari ini kau sibuk, tidak?" tanya Amy dengan suara yang dibuat-buat.
Arjuna sama sekali tidak menoleh kearah Amy. Ia masih fokus dengan berkas yang ada di depannya. Pekerjaannya bertambah berat karena harus mengurus milik Bima juga.
"Aku sedang sibuk, sebaiknya kau jangan mengganggu!" balas Arjuna.
Amy mencondongkan badannya ke arah Arjuna. "Benarkah? Kau sibuk apa?"
"Tentu saja aku si..." Arjuna tak dapat melanjutkan kalimatnya begitu kepalanya mendongak. Matanya disuguhi dengan pemandangan indah dari belahan dada Amy yang membuatnya menelan saliva.
"Pergilah! Aku sedang sibuk!" Arjuna memalingkan wajahnya. Tentu saja ia tak ingin terpancing dengan apa yang disuguhkan Amy dihadapannya.
"Ayolah, Arjun! Hari ini kau tidak perlu bekerja. Aku ingin mengajakmu ke tempat Delia. Aku cemas dengan kondisinya. Ponselnya bahkan tidak bisa dihubungi. Aku takut dia berbuat hal yang nekat."
Suara rajukan Amy membuat Arjuna goyah. Meski tidak mengenal baik Delia, tapi tetap saja ini semua terjadi karena ulah sahabatnya sendiri, Daniel. Arjuna merasa tak enak hati dengan Delia.
Selama ini Arjuna malah menyembunyikan fakta tentang hubungan Daniel dan Selina. Kini ia mulai merasa bersalah.
"Huft! Baiklah. Apa yang ingin kau lakukan?" Arjuna mengalah.
"Aku ingin menghibur Delia. Ayo kita ajak dia kemana kek!" usul Amy.
Arjuna mengangguk. Kemudian mereka berdua pergi ke apartemen Delia dengan mengendarai mobil Arjuna.
Selama perjalanan, Arjuna tidak bisa fokus menyetir karena melihat paha putih mulus Amy yang terpampang nyata di depannya. Berkali-kali Arjuna meneguk salivanya sendiri.
Amy sendiri malah asyik berdendang dan berjoget mengikuti alunan musik yang terdengar di mobil Arjuna.
"Bisakah kau berhenti bernyanyi?"
"Kenapa? Memangnya suaraku jelek ya? Delia bilang suaraku bagus kok! Tidak kalah dengan penyanyi Tiara Andini." Amy menjulurkan lidahnya kearah Arjuna. Amy tak peduli dengan perintah Arjuna dan malah terus bernyanyi.
Setibanya di apartemen Delia, Amy menekan bel berkali-kali. Amy sudah panik dan takut terjadi sesuatu dengan Delia.
"Haish! Jangan bicara sembarangan! Cepat tekan belnya lagi!" perintah Arjuna.
Setelah menunggu selama hampir lima belas menit, akhirnya pintu apartemen Delia terbuka juga. Amy sangat terkejut karena wajah bantal Delia yang menyambut kehadirannya.
"Delia! Syukurlah kau baik-baik saja!" Amy langsung memeluk Delia.
"Iya, aku baik-baik saja. Bukankah aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja?" balas Delia dengan suara serak khas bangun tidur.
"Astaga! Jadi dua hari ini kau hanya tidur?" kesal Amy.
"Hmm, mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak jika sudah memikirkan pekerjaan. Mumpung aku bisa cuti, kenapa tidak kuhabiskan saja dengan tidur?"
Amy bernapas lega. Begitu juga dengan Arjuna.
"Eh? Kalian kenapa datang kemari?" tanya Delia yang baru sadar jika Amy datang dengan Arjuna.
"Aku dan Arjun memutuskan untuk mengambil cuti hari ini. Dan kita akan pergi bersenang-senang seharian ini. Bagaimana?" Amy menaikturunkan alisnya menatap Delia.
"Hmm, bagaimana ya?" Delia menggaruk kepalanya.
"Kami ingin menghiburmu, Del." Arjuna ikut menyahut.
Delia tersenyum. "Sudah kubilang aku baik-baik saja. Soal mas Daniel... Aku sudah tahu tentang hubungannya dan mbak Selina."
Arjuna dan Amy saling pandang. Ternyata Delia selama ini menyembunyikan perasaannya.
"Hubungan kami sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Jadi, mungkin ini yang terbaik. Setelah berpisah, aku merasa jika ini adalah hari terbaik dalam hidupku. Aku tidak terikat lagi dengan wasiat kakek dan juga hutang budi pada keluarga mas Daniel."
Amy dan Arjuna tertegun mendengar pernyataan Delia.
"Jadi, kalian ingin mengajakku kemana?"
Pertanyaan Delia membuat kedua orang di depannya langsung tersadar dari lamunan.
"Hmm, terserah kau saja. Hari ini kami akan mengabulkan apapun permintaanmu!" jawab Arjuna.
Delia tersenyum penuh arti. Ia segera masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri.
Delia meminta Amy untuk mengganti pakaiannya yang dinilai terlalu seksi. Delia meminjamkan celana jeans dan kaus santainya. Hari ini Delia ingin bermain di taman hiburan untuk mengenang masa-masa indah di masa kecilnya.
Pukul sembilan malam, Delia kembali ke apartemen. Rasanya menyenangkan setelah seharian pergi dengan Amy dan Arjuna.
Ternyata Arjuna adalah pria yang menyenangkan. Selama ini ia tidak pernah mengenal teman-teman Daniel dengan baik.
Namun ada satu hal yang mengganjal di hati Delia. Jika Arjuna menggantikan pekerjaan Bima, lalu dimana pria itu berada?
Delia mulai diliputi rasa bersalah. Pastinya Bima sedang patah hati karena ditinggal menikah oleh Delia.
"Tapi, aku kan tidak jadi menikah dengan mas Daniel. Apa dia tidak tahu soal ini?" gumam Delia.
Entah kenapa hatinya mulai mencemaskan Bima yang tidak ada kabarnya. Ingin bertanya pada Arjuna, rasanya Delia malu.
Delia memilih merebahkan dirinya di tempat tidur usai membersihkan diri.
"Semoga kau baik-baik saja," lirih Delia sebelum memejamkan mata.
#tbc