Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Season Finale



Luze sudah sadarkan diri. Meski kondisinya masih lemah, tapi Luze berhasil memberikan keterangan pada polisi jika pelaku yang telah memukulnya adalah Iren dan bukan Delia.


Bima sangat senang karena keluarga Delia sudah bisa menerima hubungan mereka. Kini Bima tinggal berjuang meyakinkan Luze jika Delia adalah labuhan cintanya yang terakhir.


"Berikan restumu untuk mereka, Luze. Kasihan cucuku nanti dia jadi perjaka tua!" ledek Lily.


Sontak saja ucapan Lily membuat tawa riuh di kamar rawat Luze. Luze menatap putranya.


"Baiklah. Jika Delia adalah wanita yang bisa membuatmu bahagia, maka mama akan merestui kalian. Yang terpenting kalian bahagia."


Bima tersenyum lebar. "Terima kasih banyak, Ma!" Bima memeluk Luze.


Tak lama setelahnya, Delia datang bersama Rein dan juga kedua orang tua Delia. Hubungan Dina dan Ciputra juga sudah mencair. Tak ada lagi salah paham diantara mereka.


Luze menatap Dina dan Ciputra penuh rasa menyesal.


"Maafkan aku karena telah membuat hubungan kalian memburuk. Maafkan aku, Dina..." Luze menitikkan air mata karena penyesalannya.


"Sudahlah! Tidak ada yang perlu di sesali. Aku sudah memaafkanmu." Dina memeluk Luze.


"Kami sudah memaafkan kalian!" ucap Ciputra.


Lily sangat terharu mendengar kata maaf dari Ciputra.


"Terima kasih, Putra. Terima kasih, Retno."


Bima dan Delia saling pandang. Mereka berdua lega karena perseteruan dua keluarga yang berlangsung selama bertahun-tahun akhirnya selesai juga.


"Kurasa karena mereka kita semua jadi bisa berbaikan," celetuk Rein menatap Delia dan Bima yang wajahnya kini bersemu merah.


"Benar! Ini semua karena mereka! Terima kasih ya cucu-cucu Oma!" Lily mencium pipi Bima kemudian beralih mencium pipi Delia.


"Oma doakan kalian langgeng sampai jadi kakek nenek nantinya."


"Aamiin!" Delia dan Bima menjawab serempak.


...****************...


Pesta pernikahan Bima Dan Delia digelar dengan cukup meriah di sebuah hotel berbintang. Tamu-tamu penting kolega bisnis Bima turut hadir di pesta itu, termasuk juga ketiga sahabat Bima.


"Hai, kalian datang juga!" sapa Bima pada Daniel dan Arjuna, juga Aron yang jauh-jauh datang dari Paris.


"Aku tidak sangka ternyata jodohmu itu adalah sahabat istriku!" ucap Aron.


Setelahnya terdengar gelak tawa diantara keempat pria itu. Di sisi berbeda, para wanita juga sedang bernostalgia.


"Wah, jadi ternyata kau bertemu Bima saat pesta lajang pernikahanku?" tanya Vivian tak percaya.


"Oh My God! Delia! Kamu tidak pernah cerita padaku!" protes Amy.


Delia terkekeh. "Ya iyalah. Untuk apa aku cerita ke kalian. Cerita itu cukup aku dan Mas Bima saja yang tahu."


Amy dan Vivian menatap curiga pada Delia.


"Jangan-jangan telah terjadi sesuatu dengan kalian berdua?" selidik Amy.


"Betul, Amy. Sepertinya mereka punya rahasia yang tidak tertebak!" sahut Vivian.


"R A H A S I A." Delia menjulurkan lidahnya kearah Amy dan Vivian.


Gelak tawa kembali menggema di ruangan itu.


...****************...


Meski pertemuan kami tidak berjalan sebagai mana mestinya... Tapi kami memaknai semuanya dengan baik.


Hubungan yang baik, harusnya bisa terbina dengan baik jika diawali dengan baik pula.


Aku dan Mas Bima membuktikannya. Menyatukan cinta dan dua hati tidaklah mudah. Tapi semua akan terasa makin sulit jika tidak dicoba.


Jadi, jangan takut untuk jatuh hati meski nanti kamu juga bisa jatuh dan sakit hati.


Tak kusangka, pria satu malamku kini menjadi pria sepanjang malamku...


...****************...


"Haah! Rasanya lelah sekali!" Delia meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal. Seharian menerima tamu dan bersenang-senang, nyatanya tetap saja terasa lelah ketika memasuki kamar.


"Sini aku pijit!" Tangan Bima menyentuh pundak Delia.


"Eh? Tidak usah, Mas. Lagian kan harusnya aku yang mijitin Mas. Kok jadi kebalik sih?"


Bima tersenyum. "Tidak apa. Buat istriku yang tercinta, apa sih yang enggak?"


Delia terkekeh. "Apaan sih? Gombal! Sudah bukan jamannya aku digombalin, Mas. Usiaku tak semuda itu!"


"Bagiku kamu tetap Deliaku tersayang dan tercantik."


Bima memeluk Delia dari belakang dengan erat.


"Kalau kamu masih capek, terus kapan kita mau..." Bima menunjuk ranjang dengan dagunya.


Delia mencubit tangan Bima yang melingkar di pinggangnya.


"Sabar dong! Kita kan masih punya banyak waktu lain!" Delia berbalik badan dan menghadap Bima.


Bima menggeleng. "Buat kamu aku tidak akan pernah lelah."


"Tapi sekarang aku yang lelah, gimana dong?"


Delia berlari menuju tempat tidur dan menyelimuti tubuhnya.


"Apa?! Awas saja kamu ya! Kamu berani meledekku!" Bima ikut naik ke atas tempat tidur dan menggelitiki pinggang Delia.


"Aaaa! Ampun, Mas. Geliiiii!"


...****************...


Di belahan bumi lain, Cassie sedang menatap deburan ombak yang menemaninya selama berlayar dengan kapal pesiar milik ayahnya. Selama di asingkan, Cassie mulai menjalani hidupnya dengan hal-hal yang ia sukai dan tak pernah ia lakukan sebelumnya.


Sang bodyguard, Collin, selalu setia menemani Cassie. Meski hubungan mereka kembali sebatas majikan dan bawahan, tapi hati Collin tetap terpatri pada sosok Cassie dan berharap suatu saat Cassie bisa membuka hatinya untuk Collin.


"Ada kabar apa dari Indonesia?" tanya Cassie.


"Tuan Bima dan Nona Delia menikah hari ini."


"Oh ya? Jadi, akhirnya mereka bersatu juga. Seperti apapun orang-orang ingin memisahkan mereka. Nyatanya cinta membawa mereka kembali bersama. Syukurlah!"


Cassie masuk ke dalam kapal karena udara malam mulai menusuk kulitnya.


"Nona sendiri bagaimana? Apa Nona sudah bisa menerima takdir Nona?"


Pertanyaan Collin membuat Cassie menoleh dan menatap pengawalnya lekat.


"Apa kau... Mau berjuang bersamaku, Collin?"


Collin tersenyum. "Tentu saja, Nona!"


...****************...


Amy dan Arjuna sedang duduk berhadapan dengan Erko. Mereka berdua sedang harap-harap cemas menantikan restu dari Erko untuk hubungan mereka.


"Ehem!" Erko berdeham untuk menetralkan suasana tegang itu.


"Arjuna! Apa kamu berjanji akan menjaga putriku dengan baik dan tidak akan pernah menyakitinya?"


"Sa-saya tidak bisa berjanji, Tuan. Tapi saya akan melakukan yang terbaik untuk membahagiakan Amy."


Jawaban Arjuna membuat Erko manggut-manggut. "Baiklah. Kalau begitu minggu depan kalian akan menikah!"


"Heh?! Secepat itu, Pa? Tapi aku dan Arjuna..."


Erko mengangkat tangannya. "Mau menikah tidak? Kalian jangan terlalu lama bersama tanpa ikatan yang tidak jelas. Papa tidak suka!"


"Mau, Pa!" Amy menatap Arjuna. "Mau kan, sayang?"


Arjuna ragu untuk menjawab iya. Pasalnya menikah itu kan tidak mudah. Banyak hal yang harus dipersiapkan.


"Jangan khawatir! Papa yang akan mengatur semuanya! Kalian tinggal menikah saja!"


Amy menatap ayahnya dengan penuh haru. "Papaaaa!" Amy menghambur memeluk Erko.


Arjuna ikut terharu dengan apa yang terjadi hari ini. Rasanya perjuangannya selama ini tidaklah sia-sia.


...****************...


Sementara itu, disebuah rumah tahanan wanita. Iren meringkuk di sudut ruangan dengan buku gambarnya.


Sejak vonis hukuman untuknya sudah dijatuhkan, Iren meminta sebuah buku gambar dan pensil. Ia bilang jika dirinya suka sekali menggambar dan ingin menghabiskan waktunya dengan menggambar.


"Hei, anak baru! Bersihin toilet noh!" bentak seorang senior satu sel dengan Iren.


"Hei, jangan pura-pure budek lo!" geram senior itu.


Tak terima karena dicuekin Iren, maka senior itu merebut buku gambar yang sedang dipegang Iren.


"Sialan lo! Gambar apaan sih lo?" Senior itu membuka lembar demi lembar buku gambar milik Iren.


"Jangan ambil! Itu punyaku! Bima hanyalah milikku!" teriak Iren.


"Dasar tidak waras! Gara-gara mencintai seorang pria kau jadi tidak waras!"


Para senior di sel itu mentertawakan Iren dan gambarnya. Ternyata Iren hanya menggambar satu macam gambar saja. Yaitu sketsa wajah Bima, pria yang sangat dicintainya namun membawanya ke titik terendah dalam hidupnya.


"Hei, teman-teman! Bagaimana kalau kita bakar saja gambar milik si Iren ini?"


"Setuju! Bakar saja! Dasar tidak waras! Dia ingin merebut pria milik orang lain!"


"Iya, bakar saja!"


Suara riuh kini terdengar karena salah satu senior membakar buku gambar milik Iren. Dan wanita itu hanya berteriak histeris melihat satu-satunya kenangan Bima terbakar habis.


...****************...


...T A M A T...


...****************...