
Hari ini Bima sangat bersemangat untuk menjalani harinya. Sejak bangun tidur tadi Bima selalu bersiul gembira.
Bahkan saat waktunya untuk berangkat kerja, Bima malah bingung harus mengenakan pakaian yang mana. Ia bagaikan seorang anak ABG yang ingin bertemu dengan kekasihnya. Sambil bersiap, Bima menghubungi Allan untuk bisa menghandle semua klien miliknya. Karena mulai hari ini, Bima mengubah haluannya.
Bima sudah bertekad ingin mendekati Delia. Bima ingin mengambil hati gadis yang sudah mengisi relung hatinya. Gadis sederhana yang mampu menjungkirbalikkan seorang Bima.
Sebenarnya agak terdengar kejam, karena Bima akan menusuk Daniel dari belakang. Tapi keyakinan Bima sangat kuat jika Delia tidak bahagia bersama Daniel. Delia hanya terpaksa bertunangan dengan Daniel.
Lalu Daniel, Bima yakin Daniel masih memiliki hubungan dengan sekretarisnya. Buktinya hingga sekarang mereka masih bekerja bersama.
"Haaah! Maafkan aku, Dan! Tapi kau sendiri yang membuatku kembali berjumpa dengan Delia. Padahal aku ingin melupakannya, tapi malah sekarang aku harus berurusan dengannya," gumam Bima sambil memasang dasi.
Sekarang dirinya sudah rapi dan siap berangkat ke kantor Grup MT. Bima menyemprotkan parfum aroma maskulin di beberapa bagian tubuh. Bima ingin terlihat sempurna di mata Delia nanti.
Begitu tiba di gedung Grup MT, Bima berjalan dengan gagahnya melewati para petugas keamanan yang menyapanya dengan ramah. Saat melewati lobi, Bima dikejutkan dengan sosok Arjuna yang juga ada disana.
"Hai, Bim. Akhirnya datang juga," sapa Arjuna sambil merangkul bahu Bima.
"Kau? Kau disini juga?" Bima mengerutkan dahi bingung.
"Iya, Daniel memintaku untuk mendampingimu. Karena kau kan baru menjadi lawyer di sebuah perusahaan."
Bima hanya mengangguk saja. Memang benar ia belum berpengalaman dalam hal ini. Tapi Bima cukup cerdas dan cepat dalam mempelajari sesuatu.
Bima dan Arjuna kembali berjalan menuju kantor brand Lucia. Di tengah perjalanan, Bima bertemu dengan Amy yang sangat senang begitu melihatnya.
"Bima! Kau sudah datang!" Senyum merekah Amy seketika hilang saat melihat Arjuna bersama Bima.
"Kau! Kenapa kau kemari?" ketus Amy.
"Hei, Nona. Aku adalah mentor Bima disini. Dia masih belum berpengalaman dalam hal ini. Jadi, kau cukup diam saja. Mengerti?!"
"Oh, astaga! Lihat siapa yang bicara disini! Si playboy cap badak sok pintar dan berkuasa!" cibir Amy.
"Sudah, hentikan! Nona Amy, sekarang tunjukkan dimana kantor Lucia!" Bima menghentikan perdebatan diantara Amy dan Arjuna.
"Ah, ada disana! Ayo ikut denganku!" Amy melangkah lebih dulu diikuti Arjuna dan Bima.
Sungguh saat ini jantung Bima sudah berdebar tak karuan. Rasanya ia sangat berbunga-bunga bisa bertemu lagi dengan Delia. Ia mencoba untuk tetap tenang di depan semua orang, termasuk Delia. Bima tak ingin menampakkan jika dirinya sangat bahagia bisa bertemu dengan Delia.
Begitu memasuki sebuah ruangan, mata Bima langsung tertuju pada sosok yang sedang berdiri di depan beberapa orang dan menjelaskan tentang detil sebuah desain yang ada di layar proyektor. Bibir Bima mengulas senyum kekaguman pada gadis yang ada disana.
Delia sama sekali tidak tampak sedih dan terbebani dengan masalah yang ada. Ia tampak biasa saja meski sekarang sedang dilanda masalah besar.
Apakah memang Delia sudah terbiasa untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya?
"Delia!" Panggilan Amy membuat Delia menghentikan presentasinya.
Delia mengerutkan dahi melihat dua orang pria yang tentunya dia kenal.
Sementara Bima hanya diam dan bersikap sok cool di depan Delia. Delia hanya menatap Bima sekilas lalu menatap Amy.
"Ada apa ini, Amy?" tanya Delia.
"Begini, Del. Mereka ini adalah pengacara yang akan menangani kasus plagiat karyamu itu," jelas Amy.
"Harus 2 orang?" Delia menyipitkan mata.
"Tidak! Si playboy...maksudku Arjuna hanya membantu Bima saja. Karena Bima masih baru dalam hal ini."
"Aku tidak membutuhkan jasa pangacara, aku bisa menangani masalahku sendiri," jawab Delia ketus.
Bima tak percaya dengan reaksi Delia yang terkesan sombong di matanya.
"Sombong sekali dia! Apa benar dia bisa menyelesaikan semuanya sendiri? Dari raut wajahnya ia terlihat cemas, tapi berusaha menutupi masalahnya dengan bersikap ketus." Bima membatin dalam hati.
Amy berusaha membujuk Delia. Masalah yang mereka hadapi sekarang bukanlah hal yang mudah. Akan mungkin terjadi hal seperti ini lagi jika Delia lengah sekali lagi. Orang-orang akan dengan mudah memanfaatkan kebaikan yang Delia berikan.
Karena Amy terus memaksa, akhirnya Delia mengalah. Delia menerima pengacara untuk membantu kasusnya.
"Aku tahu siapa orangnya, jadi biarkan aku sendiri yang bicara padanya," putus Delia.
"Tidak masalah!" sahut Bima.
Amy segera menyambut kehadiran Bima dengan senang hati. Bahkan Amy akan membuatkan ruangan khusus untuk Bima bekerja.
Delia hanya bisa menghela napas kasar. Delia menghubungi Daniel dan menanyakan soal kedatangan kedua temannya.
"Amy menghubungiku dan meminta tolong. Tentu saja aku tidak bisa menolaknya. Dia adalah sahabatmu. Dan saat ini kau butuh bantuan pengacara. Terima sajalah, sayang..."
Delia mengakhiri pembicaraan di telepon dengan Daniel. Ia memejamkan mata. Di satu sisi ia ingin menghindari Bima, tapi di sisi lain ia juga membutuhkan bantuan pria itu.
Brand Lynx bukankah brand sembarangan. Jika Delia bertindak gegabah bisa saja karirnya akan terancam dalam industri ini.
Delia membalikkan badan dan hendak menuju ke ruangannya. Tapi langkahnya terhenti karena Bima ada di depannya.
"Hai, kita berjumpa lagi, Nona Delia Agung..." Bima tersenyum manis pada Delia.
Delia memalingkan wajahnya. Delia harus ingat jika statusnya sekarang adalah tunangan Daniel Hazar.
"Lakukan saja pekerjaanmu dan jangan menggangguku!" Delia kembali melangkah. Hidupnya sudah rumit karena wasiat sang kakek dan hutang budi pada keluarga Daniel. Sekarang ditambah dengan kemunculan Bima yang seakan menginginkan sesuatu darinya.
"Kita akan sering bertemu setelah ini, Nona. Tolong bersikaplah baik padaku!" ucap Bima dengan mencekal lengan Delia.
#tbc