
Delia menepis tangan Bima dengan kasar.
"Ini di kantor! Tolong jangan bersikap kurang ajar!" tegas Delia.
Bima akhirnya mengalah. Ia membiarkan Delia pergi. Bima akan mendekati gadis itu secara perlahan saja. Toh sekarang dirinya akan bertemu Delia setiap hari.
Waktu jam makan siang akhirnya tiba. Sejak tadi Bima sibuk mempelajari berkas yang dimiliki oleh Lucia. Ia harus jeli untuk menangani kasus ini.
Nama besarnya sebagai pengacara sedang dipertaruhkan. Ia juga tidak ingin terlihat buruk di depan Delia.
"Jadi, kau sudah paham kan, Bim? Aku tahu kau cukup pintar mempelajari semua ini. Ini pasal-pasal yang bisa kau gunakan untuk menjerat orang yang sudah berkhianat pada Lucia dan juga untuk Lynx yang sudah berani memplagiat karya orang lain," jelas Arjuna.
Bima mengangguk paham. "Tapi, bagaimana jika Lynx menolak untuk mengakui hal ini? Apalagi Lucia tidak punya bukti kuat jika itu adalah miliknya."
Arjuna mulai bingung. Selama ini Delia memang sangat mempercayai kerja timnya. Dan setelah berkecimpung selama hampir lima tahunan di industri ini, baru kali ini Delia dikhianati dengan begitu telaknya. Ini mengingatkan tentang kisah cintanya dengan Daniel, yang berakhir dengan pengkhianatan.
"Baiklah, aku akan mencari tahu sendiri buktinya. Aku yakin nona Delia bukan desainer sembarangan yang tidak memiliki bukti kuat mengenai kecurangan ini."
Arjuna mengangguk lalu melirik jam tangannya. "Bim, sudah waktunya makan siang. Kau mau makan denganku atau..."
"Nanti saja! Aku akan mempelajari berkas ini dulu. Aku juga belum terlalu lapar. Kau duluan saja!"
"Baiklah! Aku pergi ya! Setelah ini kau harus bisa bekerja sendiri. Aku harus kembali ke kantor."
Sepeninggal Arjuna, Bima kembali teringat pada Delia. Sudah hampir pukul satu siang. Bima ingin melihat kondisi Delia. Dengan maksud mengajaknya makan siang bersama.
Bima beranjak dari duduknya. Saat ini Bima berada di ruangan milik Amy. Karena Bima memang tidak memiliki ruangan di kantor ini. Beruntung Amy tidak selalu mengekorinya. Amy sedang ada rapat dengan sang ayah.
Bima berjalan menuju ke ruangan Delia. Ternyata benar dugaannya, Delia masih sibuk bekerja.
Bima menghela napas. "Sepertinya dia memang terlalu keras pada dirinya sendiri."
Bima mengambil ponsel dan mengetikkan sesuatu disana. Bima memesan makanan lewat online saja. Rasanya tidak mungkin mengajak Delia pergi. Yang ada gadis itu akan semakin menghindarinya.
Dua puluh menit kemudian, seorang kurir datang dan menemui Bima. Tapi pria itu malah meminta si kurir untuk mengantarnya ke ruangan Delia.
"Permisi, Nona..."
Delia menoleh dan berjalan menuju pintu ruangannya.
"Iya, ada apa?"
"Ini ada pesanan makanan untuk Nona Delia."
"Eh?" Delia bingung. "Saya tidak memesan makanan apapun."
"Tolong terima saja, Nona. Semuanya sudah dibayar kok. Saya bisa kena masalah kalau Nona tidak menerimanya."
Delia berdecih. "Baiklah. Terima kasih banyak!"
Delia menerima papaer bag itu dan kembali duduk di mejanya. "Siapa yang memesan ini?"
Delia membuka paper bag yang berisi makanan laut. Aromanya membuat Delia menelan air liurnya.
"Hmm, udah goreng tepung. Siapa yang memesannya?" gumam Delia.
"Selamat makan! Sesibuk apapun pekerjaanmu, kau harus tetap makan."
Delia mendengus kesal. Ia tahu siapa pengirim makanan itu. Ingin rasanya mengabaikan saja. Tapi, suara perutnya yang meminta di isi membuat gengsi Delia seakan runtuh. Tentu saja Delia harus menghabiskan makanan yang sudah memanggilnya itu.
Tanpa ragu lagi, Delia mengambil rice bowl yang ada di dalam paper bag dan memakannya. Anggap saja dia sedang beruntung karena bisa makan siang dengan menu yang enak.
Sementara dari luar ruangan, Bima tersenyum puas karena Delia menerima pemberian darinya. Setidaknya ini adalah langkah awal untuk meraih hati Delia.
#
#
#
Pukul empat sore, Delia keluar dari ruangannya. Ia menemui Bima yang masih sibuk dengan berkas-berkasnya.
"Begini, Tuan Bima. Aku sendiri yang akan menemui orang itu. Jadi, kurasa kau tidak perlu memperpanjang masalah ini."
Bima mengerutkan kening. Bingung? Tentu saja. Bima tidak mengerti dengan pemikiran gadis di depannya ini.
"Aku akan bicara dengannya dulu. Jika memang aku perlu bantuan pengacara, maka...aku akan meminta bantuanmu."
Delia pergi begitu saja usai bicara pada Bima. Bima yang baru menyadari apa yang akan dilakukan Delia segera mengejarnya.
"Tunggu, Nona! Aku akan ikut denganmu!" ucap Bima.
"Tidak perlu!"
"Jangan membantah! Kau adalah klienku, semua hal yang kau lakukan harusnya mendapat persetujuan dulu dariku!"
Delia menyilangkan tangannya. "Aku tidak merasa menyewa pengacara untuk membantuku!"
"Apa?"
"Jangan buang-buang waktumu, Tuan Bima. Sebaiknya kau pergi saja dari sini. Aku tidak butuh bantuanmu!" ketus Delia.
Bima tersenyum getir. "Jadi, inilah wajah aslimu, Nona Delia! Kau yang berkata manis saat pertama kali bertemu adalah palsu?"
"Kau!" Delia menunjuk Bima dengan jarinya.
"Kenapa? Apa kau lupa, siapa yang mengajakku lebih dulu untuk menghabiskan malam bersama? Apa kau juga lupa siapa yang memintaku untuk tidak meninggalkanmu? Siapa juga yang memintaku untuk segera memasuki..."
Delia segera menutup mulut Bima dengan tangannya. "Kau! Jangan bicara sembarangan! Ini kantor!" desis Delia pelan.
Bima rasanya sangat ingin tertawa. Bima sengaja memancing Delia dengan kenangan malam panas mereka. Malam yang penuh dengan gairah. Dan Delia mendesah dengan sangat indah di bawah kungkungannya.
"Baiklah! Kau boleh ikut denganku!" putus Delia.
Bima bersorak gembira dalam hati.
"Tapi jangan bicara macam-macam dengannya. Dia sudah lama bekerja denganku. Aku yakin dia punya alasan kenapa dia mengkhianatiku." Entah kenapa Delia secara tak sadar berkeluh kesah kepada Bima.
#tbc