
Bima dan Delia disambut dengan baik oleh Lily. Meski begitu, Lily terlihat mengkhawatirkan kondisi putranya yang dirawat di rumah sakit. Alhasil, Lily meminta Bima untuk segera kembali ke Jakarta.
Siang menjelang sore Bima, Lily dan Delia tiba di rumah sakit.
"Umm, Mas, Oma, aku tunggu di lobi saja ya!" ucap Delia karena merasa tak enak hati jika sampai bertemu dengan orang tua Bima.
Lily menatap Delia. "Ikut saja, Nak. Ada Oma disini. Oma pastikan Luze tidak akan berbuat apapun terhadapmu."
Delia melirik Bima. Bima mengangguk sebagai tanda setuju dengan pernyataan Lily. Akhirnya Delia ikut bersama Lily dan Bima menuju ke kamar rawat Danu.
Tiba disana, Bima dan Lily dikejutkan dengan pemandangan tak biasa. Luze tampak menarik paksa seorang wanita paruh baya seusianya keluar dari kamar Danu.
"Mama? Ada apa?" Bima bertanya dengan raut wajah bingung.
Sementara ekspresi tak biasa kini terlihat di wajah Lily. Bagaimana tidak? Lily sangat mengenali wanita paruh baya yang bersama Luze saat ini.
"Dina...?" Suara Lily tercekat. Tubuhnya hampir saja ambruk jika Delia tak segera memeganginya.
"Oma? Oma baik-baik saja?"
Bima menatap Luze karena mendengar neneknya memanggil nama Dina, tantenya yang sudah menghilang selama 20 tahun. Bukan Bima tak mengenali Dina, tapi Dina pergi ketika Bima masih berusia 10 tahun, tentu saja Bima tak begitu mengingat rupa wajah Dina. Ditambah usia Dina yang sudah makin bertambah, meski masih terlihat cantik dan anggun.
Tiba-tiba terdengar suara dari alat-alat medis yang terpasang di tubuh Danu. Bima segera mengajak Luze masuk dan menitipkan Lily kepada Delia.
Luze histeris karena melihat tubuh suaminya yang mengejang.
"Bima, tolong panggilkan dokter!" seru Luze.
"Baik, Ma!" Bima menekan tombol nurse call.
Luze terisak dengan memanggil nama Danu. Ia bahkan menggoyang-goyangkan tubuh Danu agar segera bangun.
Tak lama perawat datang bersama dokter untuk memeriksa kondisi Danu. Bima memegangi lengan Luze yang terlihat rapuh. Pastinya Luze sangat terpukul jika sampai terjadi sesuatu dengan Danu.
Dokter menatap Luze dan Bima bergantian.
"Maaf, Nyonya. Tuan Danu... Sudah meninggal."
"TIDAK!" Teriakan Luze membuat Lily dan Delia terkejut dan ikut masuk ke dalam kamar, meninggalkan Dina yang masih mematung di depan kamar.
#
#
#
Pemakaman Danu dilakukan hari itu juga. Karena tidak ingin kesedihan Luze bertambah, makanya Bima memutuskan hal itu.
Bima sendiri berusaha tegar di depan semua orang yang melayat dan menyalaminya. Bima terus memeluk Luze yang masih terus menangis. Sementara Lily duduk di kursi roda karena memang tubuh rentanya tak sanggup menahan kesedihan kehilangan putra kebanggaannya.
Dan Delia, berdiri jauh di belakang para pelayat yang mengantar jenazah Danu ke peristirahatannya yang terakhir. Nampak Arjuna dan Amy datang untuk melayat.
"Kenapa ada disini?" tanya Amy.
Delia menggeleng. Delia hanya tidak ingin merusak suasana duka keluarga Antara. Terlebih lagi Delia tahu diri jika Luze tidak menyukai dirinya.
"Tidak apa. Aku disini saja."
Mengerti akan situasi yang terjadi, Amy menyuruh Arjuna untuk menemui Bima. Sedangkan dirinya akan mengantarkan Delia pulang ke rumah.
"Arjun, kamu temui saja Bima. Aku akan antar Delia pulang."
Arjuna mengangguk setuju. Ia segera menghampiri Bima yang masih berdiri di depan pusara sang ayah.
#
#
#
Luze dan Lily istirahat di kamar masing-masing. Sementara Dina duduk diam di ruang keluarga.
Malam semakin larut. Bima sudah tidak menerima tamu lagi. Tubuhnya terasa sangat lelah. Hari ini adalah hari yang cukup berat untuknya. Bahkan ia tidak ingat tentang Delia.
Saat akan menuju kamarnya, Bima melihat Dina sedang duduk diam di ruang keluarga. Bima segera menghampiri Dina.
"Tante Dina..."
Dina menoleh lalu tersenyum. "Rupanya kau masih mengingatku."
"Aku tidak tahu jika Tante kembali."
"Maaf ya, Tante hanya ingin menjenguk ayahmu saja. Tapi ternyata, aku bertemu dengannya untuk yang terakhir kali." Dina nampak bersedih.
Sebenarnya kedatangan Dina bukan untuk mencari masalah, tapi ingin memperbaiki hubungannya dengan keluarganya. Meski akhirnya berakhir buruk dan Luze malah menyalahkannya karena berpikir Dina lah yang sudah membuat Danu meninggal.
"Pergi dari sini! Dasar pembunuh!" Luze datang dan berteriak meminta Dina pergi.
"Ma! Tenangkan diri Mama!" Bima memegangi kedua lengan Luze.
"Sejak dulu kamu itu memang selalu saja membuat masalah! Seharusnya kamu tidak perlu kembali jika membuat mas Danu meninggal!" Tangis Luze kembali pecah.
"Ada apa ini?" Suara Luze membuat Lily keluar dari kamar. Ia menatap Dina yang menatap Luze tajam dengan mengepalkan tangan.
"Dina... Tolong jangan buat keributan disini. Kita sedang berduka, Nak..."
Nasihat Lily malah membuat Dina naik pitam.
"Apa Ibu bilang? Membuat keributan? Sejak tadi aku datang aku hanya diam dan duduk disini. Tapi kakak iparku ini datang dan menuduhku yang bukan-bukan! Selama ini aku diam dan memilih pergi, itu karena apa? Karena aku tidak mau dia terus menyudutkanku!" Dina menunjuk Luze dengan emosi membuncah.
"Selama ini yang sudah membuatku menjadi orang yang paling bersalah adalah menantu kesayangan ibu ini! Dia yang sudah membuatku jadi begini!" Dina tak kalah histeris menceritakan semua hal yang dialaminya selama ini.
"Dia yang sudah membuatku pergi selama bertahun-tahun! Apa Ibu tahu itu?!" Dina terduduk lemas.
Bima hanya diam melihat drama yang sedang dimainkan tante dan ibunya. Bima malah iba terhadap Lily yang kembali di terpa masalah di usia senjanya.
"Oma, sebaiknya kita ke kamar saja!" Bima mengajak Lily untuk kembali ke kamar.
Sepeninggal Lily dan Bima, baik Luze maupun Dina hanya diam. Mereka masih terisak dengan kesedihan masing-masing.
"Sebegitu bencinya kau terhadapku, Luze? Kau sudah merebut semuanya dariku, apalagi yang kau inginkan?" Dina memukuli dadanya yang terasa sesak.
"Tante! Sebaiknya tante juga istirahat." Bima kembali ke ruang keluarga.
Dina mengangguk. Ia beranjak dari duduknya dan menuju ke kamar tamu yang sudah disiapkan.
Bima menatap Luze yang masih tertunduk.
"Ma..." panggil Bima.
"Mama juga harus istirahat. Kita harus menjalani masa depan, Ma. Jangan terus bersedih. Papa tidak akan suka jika mama begini."
Kalimat Bima menyadarkan Luze. Wanita paruh baya itu juga beranjak dari ruang keluarga dan akan menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti dan kembali menatap Bima.
"Bisakah mama tidur di kamarmu, Bim? Mama akan teringat papamu jika mama tidur di kamar mama."
Bima mengangguk. Ia mengusap kasar wajahnya. Hari ini tubuhnya begitu lelah. Ia merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga itu.
Di tempat berbeda, Delia menatap layar ponselnya. Delia ragu apakah harus menghubungi Bima atau tidak.
"Mas, kamu baik-baik saja kan?"
Delia menimbang-nimbang apakah akan mengirim pesan pada Bima atau tidak. Hingga akhirnya ia hanya mengirim pesan penyemangat saja untuk Bima.
"Mas, ada aku yang akan selalu di sisimu. Jangan merasa sendiri. Kamu bisa berbagi denganku. Selamat istirahat, Mas..."
Pesan singkat itu sampai di ponsel Bima tanpa dibaca oleh siempunya. Karena ternyata Bima telah terlelap dan sedang dibuai oleh alam mimpi.