Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
New Job, New Life



Bima menemui Rein di apartemen miliknya yang kini ditempati oleh pria muda itu. Sebenarnya Bima ingin menemui Delia dan berbincang mengenai wawancaranya hari ini.


Namun sebisa mungkin Bima menekan egonya karena tak ingin membuat perseteruannya dengan keluarga Delia semakin rumit. Bima memilih bertanya pada Rein saja.


"Kopi, Bang?" Rein menawari Bima secangkir kopi saat Bima sudah duduk di sofa.


"Terima kasih."


"Abang kelihatan lelah. Kenapa tidak langsung pulang ke rumah saja?"


Bima menghela napas sejenak. "Kau sendiri tahu jika situasi di rumah masih tak kondusif. Mama dan Tante Dina selalu saja berdebat." Bima memijat keningnya yang terasa pening.


"Jadi, tante Dina masih belum menyerah untuk mendapatkan perusahaan?" Rein bersedekap.


"Ya begitulah. Oh ya, aku datang kesini karena ingin bertanya soal Delia."


"Delia? Siapa Delia?" Rein tak paham dengan maksud Bima.


Bima menepuk jidatnya sendiri. "Dewi Mulia Agung. Bagaimana? Kau sudah menerima dia jadi karyawanmu kan?"


Rein mengedikkan bahu. "Namanya Dewi, Bang. Kenapa jadi Delia?"


Bima terkekeh. "Ya terserah kau saja lah. Bagaimana? Apa kau menerimanya?"


Rein tampak berpikir sejenak. "Sebenarnya abang ada hubungan apa dengannya? Sepertinya sesuatu yang spesial ya?"


Rein menaikturunkan alisnya.


"Bukan urusanmu! Jawab saja pertanyaanku!"


Rein menghela napas. "Aku menerimanya karena kupikir dia orang yang tepat untuk pekerjaan ini. Besok dia akan mulai bekerja."


Bima mengangguk paham. Bima berharap semoga saja Delia menyukai pekerjaannya yang baru.


#


#


#


Pagi harinya Delia berangkat ke kantor barunya dengan semangat membara. Ternyata langsung diadakan rapat untuk saling berkenalan satu dengan yang lain sesama karyawan.


Delia mengagumi sosok Rein yang walaupun masih muda tapi jiwa kepemimpinannya sangat bagus.


"Selamat bekerja semuanya!" ucap Rein menutup rapat perkenalan hari itu.


Delia akan menuju ke ruangannya, tapi di tengah jalan Rein menghentikan langkah Delia.


"Tunggu! Bisa kita bicara sebentar?"


Delia mengangguk. Delia mengikuti langkah Rein menuju ke ruangannya.


"Silakan duduk, Nona Delia."


Delia mengerutkan dahi. Setahunya ia belum memberitahu jika nama panggilannya adalah Delia.


"Ada apa ya, Pak?"


"Saya lihat kinerja kamu di perusahaan sebelum ini lumayan bagus. Makanya saya ingin memberikan tanggung jawab padamu sebagai supervisor disini."


Mata Delia membola. "Benarkah, Pak?"


Rein mengangguk. "Saya mendapatkan rekomendasi dari seseorang untuk menerima kamu bekerja disini."


Delia kaget. "Seseorang? Tapi, saya tidak pernah mengenal siapapun di perusahaan ini."


"Saya tahu. Bukan orang dalam, tapi orang luar."


"Apa saya boleh tahu siapa orangnya?"


"Bima Antara."


Delia menghela napas. Ternyata ia mendapatkan pekerjaan ini bukan karena kemampuannya yang tinggi, tapi karena Bima membantunya.


"Jika bapak ingin saya mengundurkan diri, maka..."


"Hei, santai saja! Saya tidak masalah dengan itu. Saya hanya penasaran saja. Ada hubungan apa kamu dengan kakak saya?"


"Iya, Bang Bima adalah kakakku. Tapi kamu tenang saja. Saya tidak akan mencampuradukkan masalah pekerjaan dan pribadi. Kamu bekerjalah dengan baik dan tunjukkan kemampuanmu. Brand Mrs. Zie sangat membutuhkan orang sepertimu."


Delia terdiam. Rasa percaya dirinya mendadak sirna. Ingin rasanya menemui Bima dan menanyakan semua hal pada pria itu.


"Silakan kembali bekerja! Saya menunggu konsep-konsep unik yang kamu miliki."


Delia mengangguk paham. Ia pamit undur diri dari ruangan Rein.


Tiba di ruangannya, Delia membuka ponselnya dan mengirim pesan pada Bima. Delia meminta bertemu usai pulang bekerja.


#


#


#


Malam harinya, Bima menemui Delia di sebuah kafe. Bima melihat raut wajah Delia yang bermuram durja menatap kearahnya.


"Kenapa Mas harus melakukan ini? Kenapa Mas membantuku?"


Bima langsung tahu kemana arah pembicaraan Delia


"Baiklah. Kamu boleh marah padaku, tapi berikan aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya lebih dulu. Oke? Itu baru adil."


Delia mengedikkan bahunya. Ia mendengarkan dengan seksama seluruh penjelasan Bima. Termasuk memberitahu Delia tentang siapa Rein sebenarnya.


"Sekarang sudah mengerti?" tanya Bima.


Delia mengangguk.


"Reinhard tidak akan mempekerjakan sembarang orang. Meski dia masih muda tapi jiwa pebisnis nya sangat kental. Kamu bisa maju bersamanya."


Delia mengangguk.


"Sudah, jangan marah lagi. Sekarang kamu akan menapaki kehidupan baru. Jadi, kita harus semangat."


Delia mengulas senyumnya. "Aku akan berusaha memantaskan diri untuk bersanding denganmu, Mas..."


#


#


#


Keesokan harinya, Delia berangkat dengan hati yang cukup hangat dan bahagia. Sempat kecewa terhadap Bima tapi akhirnya Delia memahami posisi Bima yang hanya ingin membantunya.


Tiba di ruangannya, Delia dikejutkan dengan satu cup kopi yang ada di atas mejanya.


"Kopi siapa ini?" gumam Delia.


Tok tok


Delia menoleh kearah pintu.


"Itu kopi untukmu!" ucap Reinhard yang berada di ambang pintu.


"Tapi untuk apa?"


"Hei, Nona! Tinggal bilang terima kasih saja apa susahnya? Tidak perlu bertanya untuk apa!" kesal Rein.


"Maaf! Terima kasih, Pak. Tapi lain kali bapak tidak perlu melakukan ini untukku."


"Hei, aku bosnya disini! Jadi terserah aku dong mau melakukan apa! Kau siapa mengaturku?"


Delia memejamkan matanya. "Astaga! Ternyata keluarga mereka memang sulit untuk dimengerti," batin Delia.


"Maaf, Pak. Saya sangat berterimakasih bapak mau mengirimkan kopi untuk saya." Delia mengulas senyumnya yang termanis.


Rein mengangguk kemudian berlalu. Tanpa Delia sadari, Rein menarik sudut bibirnya keatas membentuk sebuah senyuman.


"Dia benar-benar gadis yang unik."


#tbc