Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Let's Finish It



Cassie melemparkan barang-barang yang ada di atas meja kerjanya. Ia berteriak untuk meluapkan kekesalannya. Haruskah ia berakhir secepat ini?


Tidak!


Tentu Cassie tidak terima jika harus menyerah untuk mengerjai Delia. Niatnya hanya untuk menakuti Delia dengan menyamar menggunakan ponsel Bisma yang ia ambil lima tahun lalu setelah Bisma meninggal.


Cassie beruntung karena Luze tidak curiga ketika dirinya meminta ponsel milik Bisma. Cassie menyimpannya selama ini dan sudah merencanakan hal ini sejak lama. Sejak ia mengetahui jika Delia adalah penyebab penolakan Bisma terhadap perjodohan dengan dirinya.


Bahkan di hari seharusnya mereka bertunangan, Bisma malah pergi meninggalkannya. Tidak ada yang tahu kemana Bisma pergi saat itu.


Namun Cassie tahu persis kemana Bisma akan pergi malam itu. Bisma akan menemui Delia yang sedang menimba ilmu di Paris.


Cassie sendiri tidak tahu bagaimana bisa Bisma mendapatkan kontak Delia lagi, karena yang ia tahu mereka tidak pernah lagi berhubungan sejak Delia mengalami kecelakaan sepuluh tahun lalu.


Ternyata tiga tahun setelahnya, Bisma mendapatkan kontak Delia dan beberapa kali menemui gadis itu di Paris tanpa ada seorang pun yang tahu termasuk keluarga Bisma.


Cassie terengah usai meluapkan kekesalannya pada barang-barang di sekitarnya. Pintu ruangannya terbuka lebar.


Collin masuk ke dalam beserta ayah Cassie, Erwin. Mata Cassie membulat saat melihat Erwin yang menampakkan ekspresi marah kepadanya.


"Papa..."


"Sudah cukup, Cassie! Papa tidak akan memberikan ampunan lagi padamu! Collin! Bawa dia!" titah Erwin.


Collin dan satu orang pria bertubuh besar memegangi kedua lengan Cassie.


"Lepas! Apa yang kalian lakukan? Collin! Kau yang melaporkan ini pada papa?" tanya Cassie dengan sorot mata tajamnya.


"Sebaiknya Nona menurut saja. Kami tidak ingin menyakiti Nona," ucap Collin. Meski hatinya menolak untuk berbuat begini pada Cassie, tapi ia tak punya pilihan lain. Ia harus melaksanakan tugas yang diberikan Erwin padanya.


"Bawa dia ke rumah dan kurung dia di kamarnya. Aku sudah menyiapkan tempat di luar negeri untuknya tinggal. Dan kau Collin! Kau akan menemani Cassie selama dia diasingkan di luar negeri."


Ucapan Erwin tentu saja membuat Collin tergagap seketika. Bagaimana bisa Erwin menyuruhnya berdua saja dengan Cassie? Dan di luar negeri pula?


"Ba-baik, Tuan." Hanya itu kata yang bisa Collin ucapkan.


Sementara Cassie masih sibuk meronta meminta di lepaskan.


Malam ini Bima menemui Delia di apartemennya. Seperti biasa, mereka menghabiskan waktu dengan makan malam bersama lalu mengobrol.


Bima sangat suka saat mendengar Delia bercerita. Ia hanya menatap dan mendengarkan dengan seksama.


"Kenapa kau hanya diam? Coba kau cerita tentang kehidupanmu!"


"Hmm, tidak ada yang menarik dari hidupku. Sampai sekarang aku terus belajar."


Delia tertawa. "Bukankah hidup itu memang untuk belajar ya? Belajar menerima meski rasanya berat. Belajar mengikhlaskan meski hati kadang terasa sesak."


Bima meraih tangan Delia dan menggenggamnya. "Besok, ikutlah denganku!"


"Hmm?"


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Nanti juga kau tahu."


Delia mengangguk. "Kau yakin tidak ada acara?"


"Tentu saja tidak! Papa sudah membebaskanku karena aku mau mengurus perusahaan."


"Apa rasanya berat?"


"Tidak. Aku mulai menyukainya." Bima membawa Delia dalam dekapan. "Sama seperti aku yang sangat menyukaimu."


Delia terkekeh. "Gombal!"


Bima pun ikut tertawa. Hatinya harap-harap cemas menanti hari esok. Semoga saja Delia bisa menerima dirinya dengan segala masa lalu yang mengiringinya.


Sejak pagi Delia sudah menyiapkan banyak makanan untuk ia bawa sebagai bekal perjalanannya bersama Bima. Ia berpikir jika Bima pasti hanya mengajaknya berlibur di hari minggu ini.


Bunyi bel pintu membuat Delia langsung bergegas membukakan pintu. Bima dengan outfit casualnya berdiri di depan pintu sambil tersenyum.


"Masuklah! Aku sedang menyiapkan bekal untuk kita."


"Bekal?" Bima bingung.


"Iya, supaya kita tidak perlu membeli makanan. Akan lebih baik jika aku memasaknya sendiri. Selain lebih sehat, ini juga lebih irit."


Bima mengangguk patuh. Hari ini ia akan mengikuti semua keinginan Delia sebelum semua hal tentang masa lalunya akan ia bongkar sendiri.


Usai bersiap, Delia dan Bima berangkat menuju ke tempat yang tak pernah Delia duga. Perjalanan selama hampir dua jam itu membuat Delia sedikit mengernyit heran.


Pasalnya ia masih hapal jalanan yang ia lalui ini.


"Mas, kita mau kemana?" tanya Delia dengan raut wajah cemas.


Bima tak menyahut. Ia terus melajukan mobilnya menuju ke rumah Lily, sang nenek.


Ya, sejak awal Bima berencana mengungkapkan semuanya di depan Delia. Di tempat yang tidak pernah Delia duga sebelumnya. Tempat yang pastinya penuh kenangan di masa lalunya.


"Mas, tolong katakan kita mau kemana?" Delia mulai gelisah.


Ketika tiba di halaman rumah Lily, Bima meminta Delia turun.


"Turunlah dulu. Aku akan jelaskan semuanya nanti."


Hanya itu yang Bima katakan lalu berjalan menuju ke sanggar tari milik Lily.


Langkah Delia terasa berat ketika semakin maju ia mengikuti langkah Bima, maka semakin kuat pula ingatannya tentang tempat ini.


Tidak banyak perubahan dari tempat yang memberinya banyak kenangan. Delia melihat Bima yang kini berdiri di depan sebuah foto. Itu adalah foto dirinya saat memenangkan juara lomba tari balet di usianya yang baru menginjak 15 tahun.


"Katakan ada apa sebenarnya, Mas? Dari mana kamu tahu soal tempat ini?" Delia mulai bicara serius. Mimik wajahnya pun berubah menjadi penuh penekanan.


"Delia, apa kau mengenal Bisma Antara?" ucap Bima lirih.


Selama ini Delia memang bercerita tentang sosok Bisma, tapi Delia belum pernah memberitahu nama Bisma di depan Bima. Bagi Delia, menceritakan tentang masa lalu tidak harus menyebutkan nama di balik sosok itu. Yang terpenting ia sudah berusaha membagi bebannya dengan Bima.


"Eh? Bisma Antara?" gumam Delia. Rasanya semua kenangan berputar diotaknya.


"Dia adalah kakakku!"


Delia mendelik tak percaya. Bagaimana bisa dunianya berputar dengan orang-orang yang saling berkaitan?


"Itu benar, Delia. Bisma adalah kakakku. Dan dia ... sudah meninggal lima tahun yang lalu."


Pernyataan Bima membuat Delia tertegun.


"Dan aku adalah orang yang sudah mencelakaimu sepuluh tahun yang lalu. Aku menabrakmu dengan motorku."


Kaki Delia terasa lemas. Ia masih meyakinkan diri untuk tetap sadar jika ini bukanlah mimpi. Ini adalah nyata.


Terlalu nyata hingga ia tak bisa membedakan manakah yang sebenarnya mimpi?


"Tidak mungkin..." lirih Delia.


"Maaf karena aku baru bisa mengatakannya sekarang padamu. Aku minta maaf karena sudah membuatmu tak bisa menari lagi."


Mata Bima mulai berkaca-kaca. Bima bisa merasakan jika Delia sangat bingung dengan situasi ini.


"Maafkan aku, Delia. Maaf aku tidak mengatakannya sejak awal padamu." Bima mengatakannya dengan penuh penyesalan.


Delia hanya bisa menggeleng pelan. Sungguh semua hal yang terjadi hari ini, ia akan anggap sebagai sebuah mimpi. Delia berharap dirinya akan segera terbangun dari mimpi yang membingungkan ini.