
Bima masih tertegun di tempatnya setelah mengatakan seluruh kebenarannya di depan Delia. Hari ini tepat satu bulan waktu yang diberikan Bima untuk Delia berpikir apakah akan melanjutkan kisah mereka atau tidak.
"Bima..."
Sebuah suara membuyarkan lamunan Bima.
"Kapan kamu datang? Kenapa malah kesini? Bukannya langsung ke rumah Oma saja!"
Orang yang menegurnya adalah Lily, neneknya.
"Ish, anak ini! Kenapa malah diam saja?" Lily menepuk bahu Bima yang masih mematung di depan foto masa remaja Delia.
Bima berusaha tersenyum. "Tidak apa, Oma. Bagaimana kabar Oma?"
"Anak nakal! Setelah kau membatalkan perjodohanmu kau bahkan tidak menemui Oma, hem? Apa kau senang karena sudah terbebas dari gadis itu?"
Bima memeluk Lily. "Terima kasih, Oma. Berkat Oma aku bisa menjalani kehidupanku dengan bebas. Aku merasakan cinta yang selalu kuharapkan meski hanya sejenak."
Lily tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Bima. "Anak ini kenapa sebenarnya?"
#
#
#
Delia berjalan gontai menuju ke sebuah halte bus. Ia akan menuju ke stasiun dan kembali ke Jakarta. Baginya, semua hal tentang Bima terus berputar di otaknya. Delia masih belum mengerti kenapa nasib cintanya selalu berakhir tragis.
Delia menghela napas dalam. Ingin menangis tapi air mata tak mampu keluar.
Delia menatap jalanan yang sudah lama tidak ia lewati. Ingatannya tertuju pada beberapa jam yang lalu. Keputusannya untuk mengakhiri kisah yang sejenak itu bersama Bima.
Entahlah. Rasanya Delia belum siap jika harus dihadapkan dengan bayang-bayang masa lalu yang terus menghantui.
"Malam dimana Kak Bisma harusnya menemui dirimu... Di malam itu ia mengalami kecelakaan. Nyawanya tidak bisa diselamatkan."
Delia memejamkan mata ketika mengingat kalimat demi kalimat yang Bima sampaikan. Delia ingat pertama kalinya Bisma menemui dirinya usai terpisah jarak dan waktu.
"Del, ada yang mencarimu."
"Siapa?"
Teman satu kelas yang bicara dengan Delia hanya mengedikkan bahunya.
"Siapa sih?"
Dengan terpaksa Delia menemui orang yang mencarinya.
"Maaf, Anda siapa? Ada perlu apa mencari saya?"
Mata Delia membola menatap sosok yang ada di depannya.
"Apa kabar, Delia?"
Delia masih melongo tak percaya. "Kamu... Kak Bisma?"
"Iya, benar. Kau masih ingat ternyata."
Setelah pertemuan itu, Bisma dan Delia jadi sering bertemu. Entah kapan tepatnya mereka mulai menjalin sebuah hubungan. Meski menjalani hubungan jarak jauh, tapi Bisma selalu memberi kabar pada Delia.
Saat pekerjaannya tidak terlalu banyak, Bisma menyempatkan diri menemui Delia di Paris. Hubungan yang tidak diketahui banyak orang itu berlangsung selama hampir dua tahun lamanya.
"Delia! Aku akan pergi ke Paris. Aku ingin kita menikah disana!"
"Eh? Kak Bisma, ada apa sebenarnya? Kenapa suara kakak terdengar panik?"
"Tidak apa-apa. Pokoknya aku hanya ingin menikah denganmu. Mengerti? Tunggu aku disana ya!"
Panggilan telepon terputus. Dengan harap-harap cemas Delia menanti kedatangan Bisma.
Satu hari
Dua hari
Tiga hari
Bahkan hingga berminggu dan bertahun-tahun. Bisma tak kunjung datang menemuinya.
Hati Delia hancur. Bahkan tidak ada kata perpisahan yang Bisma ucapkan. Hanya sebuah janji yang terucap yang tak pernah ditepati.
#
#
#
Beberapa hari kemudian,
Delia mendapat pesan dari Cassie yang ingin bertemu dengannya empat mata. Delia yang sudah mengetahui semuanya dari Bima, merasa jika dirinya memang harus menyelesaikan masalah diantara mereka.
Delia menemui Cassie di sebuah cafe. Sudah beberapa saat berlalu. Tapi belum ada yang memulai bicara satu sama lain.
Mereka duduk saling berhadapan dalam diam. Cassie menghela napas lebih dulu. Tentunya ia harus mengatakan ini pada Delia.
"Kurasa kita tidak bisa melanjutkan kerjasama kita."
Delia mengangguk. "Mbak benar. Jika ternyata niat Mbak hanya untuk membalas dendam padaku, kurasa aku juga tidak bisa melakukannya." Delia berkata dengan tenang.
"Delia... Tentang Bisma... Aku minta maaf karena sudah menggunakan namanya untuk mengerjaimu. Aku hanya masih marah terhadap Bisma karena lebih memilihmu dari pada aku."
"Sudahlah, Mbak. Untuk apa membicarakan orang yang sudah meninggal?"
Cassie paham. Pastinya Delia juga kecewa karena ditinggal tanpa ada kepastian yang jelas.
"Aku ingin berpamitan denganmu."
Delia mengernyit.
"Aku akan tinggal di luar negeri. Mulai sekarang hiduplah dengan baik, Delia. Jika kau memang mencintai Bima maka lanjutkan saja hubungan kalian. Toh kalian saling mencintai bukan?"
Delia hanya diam.
"Baiklah. Aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik, Delia."
Cassie lebih dulu meninggalkan Delia. Sedangkan Delia masih mematung di tempatnya duduk. Hatinya berperang ingin tetap mempertahankan hubungannya dengan Bima.
Tapi di sisi lain, ia juga kecewa dengan semua hal yang ditutupi Bima darinya. Delia mengatur napasnya lebih dulu sebelum beranjak dari cafe itu.
Mulai hari ini, Delia akan menapaki kehidupannya dengan lebih baik. Meski tidak bersama dengan Bima, setidaknya ia ingin membahagiakan dirinya sendiri mulai dari sekarang.
Bersambung...