Labuhan Cinta Tuan Bima

Labuhan Cinta Tuan Bima
Backstreet Rookie



Bima menggenggam tangan Delia dan membawanya keluar resto karena memang sudah akan tutup. Mereka saling tersenyum penuh kelegaan.


"Aku antar kamu pulang ya?"


Delia melihat sosok si abang ojek yang masih setia menantinya disana.


"Umm, tadi aku kesini naik ojek. Dan aku belum membayarnya, Mas. Tadinya kupikir aku hanya sebentar saja menemuimu..." Delia terlihat malu dan menundukkan wajahnya.


Bima langsung mengambil dompet dan mengeluarkan uang 2 lembar pecahan seratus ribu. Bima menghampiri si abang ojek yang masih setia menunggu Delia.


"Ini ongkosnya, Bang. Nona ini akan pulang dengan saya!" ucap Bima.


Tentu si abang ojek berbinar senang. "Wah, terima kasih banyak, Mas. Ini kebanyakan malah."


"Tidak apa. Ambil saja kembaliannya untuk Abang."


Bima kembali menghampiri Delia dan membuka pintu mobil untuknya. Selama perjalanan pulang, mereka tampak sedikit canggung.


"Umm, bagaimana kabar papamu?" tanya Delia hati-hati.


" Papa masih dirawat di ICU."


Delia mengerti. Ia merasa dirinya ikut andil dalam hal sakitnya Danu.


"Maafkan ayah ya, Mas. Maafkan aku juga."


Bima melirik Delia sekilas yang terlihat merasa bersalah. "Ini bukan salah kalian. Papa memang memiliki riwayat sakit jantung."


"Aku turut bersedih, Mas."


"Terima kasih." Bima mengulas senyum penuh kelegaan. "Lalu, kenapa kamu tidak pernah menjawab panggilan telepon dariku?"


Delia tersentak lalu menatap Bima. "Maaf... Aku hanya ingin menenangkan diri. Dan sekarang aku tinggal di rumah orang tuaku, jadi... Aku tidak mau hubungan kita memperumit semuanya."


"Lalu sekarang bagaimana? Kamu bersedia berjuang denganku kan?" Bima mulai ragu jika Delia serius ingin bersamanya.


"Untuk sementara kita jangan beritahukan siapapun dulu soal kita. Aku ingin kita menjalani hubungan kita secara sembunyi-sembunyi."


"Eh? Maksudmu backstreet?"


Delia mengangguk pelan. "Iya. Aku memutuskan ini untuk kebaikan bersama. Bukankah papa Mas masih sakit? Aku tidak mau semua semakin rumit. Jadi, kumohon kita sembunyikan dulu hubungan kita ini. Ya?" pinta Delia dengan wajah memelas.


Bima mendesah pelan. "Ya, baiklah jika itu maumu. Tapi jangan pernah melarangku untuk menemuimu. Karena aku tidak tahan bila harus berjauhan denganmu. Satu menit saja tak melihatmu, aku langsung merindukanmu." Bima meraih tangan Delia dan mengecupnya.


"Apaan sih, Mas? Kita ini bukan anak ABG lagi. Dan aku juga sudah tidak mempan dengan gombalan recehmu itu." Delia terkekeh geli.


Tiba di depan komplek rumah Delia, ia meminta Bima untuk menurunkannya di tempat yang agak jauh dari rumah. Ia tak ingin orang di rumahnya memergoki dirinya sedang bersama Bima.


"Aku turun disini saja ya, Mas. Aku takut kalau Ayah melihat kita, dia akan lebih membencimu."


Bima manggut-manggut. "Sayang!" Bima menahan Delia yang akan keluar dari mobil.


"Apa?"


"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?"


Delia tersenyum. "Mas tenang saja. Aku pasti akan dapat kerja secepatnya. Hati-hati menyetirnya ya!" Delia melambaikan tangannya.


Dengan langkah mengendap-endap Delia memasuki halaman rumahnya.


"Ehem! Dari mana saja kamu?"


Suara Ciputra mengejutkan Delia.


"Ayah...?"


"Kamu bilang hanya pergi sebentar, tapi jam berapa sekarang?" Ciputra tampak marah.


"Maaf, Ayah... Tadi aku... Aku... Pergi bersama Amy..." Delia terpaksa berbohong.


"Lalu dimana dia?"


"Dia... Dia sudah pulang." Delia mulai gelagapan menghadapi pertanyaan Ciputra.


Tak ingin mendapat pertanyaan yang menjebak dirinya, Delia segera melenggang masuk ke dalam rumah. Delia langsung menuju kamarnya karena tak ingin banyak pertanyaan mendera dirinya.


#


#


#


Keesokan harinya, Bima sedang berkirim pesan dengan Delia ketika Luze menepuk bahunya.


"Bim!"


"Iya. Oh ya, kamu sudah kabarin Oma kamu atau belum?"


Bima menepuk jidatnya sendiri. "Aku belum memberitahu Oma. Tapi, berita di televisi sudah memberitakan soal sakitnya papa. Pasti Oma melihat beritanya juga."


"Iya, mama juga akan menghubungi Omamu. Mama sampai lupa karena fokus dengan kesembuhan papamu."


"Akhir pekan ini aku akan menjemput Oma di Bandung."


Luze menyetujui ide Bima. "Sebaiknya kamu berangkat ke kantor saja. Biar mama yang menjaga papamu."


Bima mengangguk setuju kemudian bersiap untuk menuju kantor.


Akhir pekan telah tiba, seperti janjinya pada sang Oma, Bima akan datang kesana bersama dengan Delia. Bima terpaksa meminta bantuan Amy dan Arjuna agar rencananya ke Bandung tidak gagal.


Alhasil, Amy berpura-pura menjemput Delia di rumahnya dan berpamitan pada Ciputra dan Retno. Ternyata rencana Bima berhasil. Amy sedang dalam perjalanan menemui Bima dan Arjuna yang sudah menunggu mereka.


"Kalian berhutang budi pada kami!" ucap Arjuna.


"Iya, aku tidak akan melupakan hal itu. Lalu, kalian sendiri bagaimana? Apa Om Erko sudah memberi restu?" Bima balik bertanya.


Amy dan Arjuna saling pandang. "Kami sedang berjuang. Sama seperti kalian."


"Baiklah. Terima kasih sekali lagi. Kalau begitu kami pergi dulu!" pamit Bima dengan menggenggam tangan Delia.


Bima dan Delia masuk ke dalam mobil dan tak lama mobil pun mulai melaju. Delia masih diam selama perjalanan.


Bima sesekali hanya melirik saja kearah Delia.


"Ada apa?"


Delia menggeleng.


"Katakan saja!" Bima mencoba meyakinkan Delia. "Aku ingin kamu berbagi beban denganku."


Delia akhirnya bicara. "Aku merasa kita sudah melakukan kesalahan. Dengan membohongi orang tua kita. Terutama orang tuaku."


Bima paham dengan rasa bersalah Delia. Tapi tidak ada cara lain selain ini.


"Bersabarlah! Kita kan sedang berjuang untuk mendapat restu. Siapa tahu dengan kehadiran Oma, dia bisa membantu kita. Benar kan?"


Delia baru sadar jika ternyata ada tujuan yang ingin Bima capai ketika menjemput sang nenek di rumahnya. "Iya, semoga saja Oma Lily mau membantu kita."


#


#


#


Dina mendatangi rumah sakit dimana Danu di rawat. Dengan kekuasaan yang dimiliki Ramon, Dina bisa masuk ke dalam ruang rawat sang kakak.


Beruntung Ramon sudah mengecoh Luze agar keluar dari ruang perawatan Danu, sehingga Dina bisa leluasa masuk. Dina tersenyum seringai saat melihat kondisi kakaknya yang sedang sekarat.


Dina mendekati brankar sang kakak. Terlihat beberapa alat terpasang di tubuh Danu.


"Kakak, aku tidak menyangka jika kita akan bertemu dengan kondisimu yang seperti ini. Aku ikut bersedih dengan apa yang menimpamu..."


Dina lekat mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Ciputra.


"Kak, apa kau tahu? Aku datang kemari karena ingin merebut kembali semua hal yang seharusnya menjadi milikku. Tega sekali kalian mengasingkan aku selama 20 tahun. Sudah cukup semuanya!"


Suara bisikan yang diucapkan Dina membuat tubuh Danu bereaksi. Jari-jarinya mulai bergerak seiring matanya yang mulai terbuka.


Dina mengulas senyum menang. Akhirnya sang kakak mau bangun dari tidur panjangnya.


"Di...na..." ucap Danu terbata namun masih didengar oleh Dina.


Dina memdekatkan bibirmya ke telinga Danu. Tepat di saat bersamaan, Luze juga masuk kedalam kamar rawat milik Danu.


"Kau! Apa yang kau lakukan pada suamiku?!" Luze menarik tangan Dina agar menjauhi Danu.


"Santai dong, kakak ipar. Kita baru saja bertemu setelah sekian lama. Apa kau tidak ingin menyambutku?" Dina merentangkan tangannya.


"Bagaimana caranya kau bisa masuk kesini, hah?!" Luze marah.


Dina menyeringai. "Kau tidak juga berubah ya! Aku kasihan pada kakakku karena harus menikahi perempuan macam kamu!"


Luze sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia menarik tangan Dina agar keluar dari ruangan Danu.


Bersamaan dengan itu, Bima, Lily dan Delia datang dan menyaksikan pemandangan tak menyenangkan itu.


"Mama? Ada apa?" tanya Bima dengan raut wajah bingung.